"Emm, a-aku bilang—" "Aku tidak percaya kalau kamu jatuh dan apa pun itu." Tidak lagi mendapat jawaban atau bahkan sangkalan dari Anandini, Dastan akhirnya meneruskan langkahnya. "Ayo Anandini, semakin kau lambat kita juga tidak akan sampai rumah dengan cepat!" Anandini memberungut kesal, dia mengikuti Dastan yang berjalan ke ruangan dokter yang dari namanya pun, lelaki. Setelah mengetuk pintu, lelaki itu masuk begitu saja. "Ada apa kau datang jam segini, membawa cewek pula?" tanya Galih teman Dastan yang berfofesi sebagai dokter umum itu. "Aku ada waktunya sekarang, besok jadwal pertemuanku padat. Jadi, aku datang di jam begini," jawab Dastan. Tatapan Galih tertuju pada Anandini yang berdiri di sisi kanan Dastan. Dari penampilan dan cara menatap orang, lelaki itu berpikir wanita it

