Bab 24

1190 Kata
di hari ke-212, hujan turun. bukan badai, bukan gerimis. hanya hujan yang datang seolah tahu dunia butuh bernapas lebih lambat. tak ada yang panik. tak ada yang berlindung. mereka yang tinggal di rumah itu, yang kini disebut beranda sunyi, hanya melanjutkan kegiatan mereka dalam diam, membiarkan hujan membasahi tubuh dan hati. elya duduk di bawah atap kecil yang ia buat dari daun kering dan ranting. di pangkuannya, ren menggambar di atas tanah basah dengan ujung ranting. "ini apa?" tanya elya lembut. "rumah," jawab ren tanpa menoleh. "tapi bukan yang punya pintu. rumah yang bisa bergerak. rumah yang ikut kalau aku pergi." elya mengangguk pelan. "jadi... rumah itu ada di dalam kamu?" ren berhenti menggambar. "di kamu juga." kael berdiri di pinggir danau, di mana akar-akar pohon ungu kini merambat lebih luas, membentuk lingkaran seperti pelukan. hujan membasahi pakaiannya, tapi ia tidak bergeser. hanya menatap permukaan air yang menari pelan. noct duduk di batang pohon tumbang sambil memainkan ukulele kecil yang ia buat sendiri. dawai-dawainya tak sempurna, tapi cukup untuk menciptakan nada-nada yang menenangkan. "kau tidak takut rusak kena hujan?" tanya seseorang. noct menoleh. gadis kecil berambut keriting berdiri di dekatnya, mengangkat alis. "kalau rusak, aku buat lagi," kata noct sambil tersenyum. "lagu-lagu yang baik tidak tinggal di benda. mereka tinggal di hati." gadis itu tampak berpikir, lalu duduk di sampingnya tanpa berkata apa-apa. hanya mendengarkan. dan itu cukup. di sore hari, setelah hujan reda, penduduk beranda sunyi berkumpul di sekitar api kecil yang dinyalakan noct. mereka tidak sedang merayakan apa-apa. tidak ada acara. hanya duduk bersama, berbagi kehangatan. kael meletakkan tangan di atas bara, tidak terlalu dekat. "kapan terakhir kita duduk tanpa tujuan?" elya tersenyum kecil. "bukankah itu yang kita lakukan setiap hari di sini?" "tidak. maksudku... duduk bukan karena lelah. bukan karena ingin memikirkan sesuatu. tapi karena memang ingin bersama." ren mengangkat kepalanya. "aku suka kalau kita duduk begini. rasanya... seperti waktu berhenti." noct menggenggam cangkir hangat dari tanah liat. "dan kalau waktu berhenti, kita bisa mendengar suara yang biasanya hilang." "suara siapa?" tanya seorang pria tua yang duduk agak jauh. "suara hati kita. suara dunia. suara yang tidak terbuat dari kata-kata," jawab noct. dan saat itu, tidak ada yang bicara lagi. hanya suara api yang meletup pelan. suara angin yang mengusap pohon. dan jantung dari tempat itu, bergetar lembut. malam turun perlahan, seperti tirai yang ditarik oleh tangan yang penuh kasih. dan dari kegelapan yang tidak menakutkan, cahaya-cahaya kecil mulai bermunculan. bukan dari langit, tapi dari bumi. bunga-bunga kecil mekar, mengeluarkan sinar lembut. kael tertegun. "aku tak pernah menanam ini." elya tersenyum sambil memandangi cahaya yang mengelilingi kaki mereka. "mungkin dunia yang menanamnya. mungkin... dunia sedang berterima kasih." ren menggenggam tangan elya. "ini seperti pelukan. tapi dari tanah." noct menatap langit. bintang-bintang tidak sebanyak biasanya, tapi itu tidak membuat malam kehilangan makna. "kadang," katanya pelan, "hal paling indah lahir ketika tidak ada yang melihatnya." dan malam itu, tidak ada pelajaran. tidak ada keputusan. hanya sebuah rasa yang mengendap pelan di dalam hati semua orang yang ada di sana. bahwa tempat itu, beranda sunyi, bukan sekadar tempat tinggal. ia adalah tempat pulang. tempat di mana dunia menyembuhkan dirinya perlahan. melalui mereka. melalui satu sama lain. dan esok hari, ketika matahari kembali terbit, mereka tahu... tidak ada hari yang harus luar biasa. cukup ada. cukup hidup. cukup bersama. pagi ke-221 datang dengan warna yang berbeda. bukan dari langit atau cuaca, tapi dari udara yang terasa… terlalu tenang. bukan damai, tapi seperti menahan sesuatu. elya menyadarinya pertama kali saat menyiram bunga di sisi utara beranda sunyi. biasanya bunga-bunga itu condong ke arah sinar matahari atau melambai pelan ketika disentuh angin. tapi pagi itu, mereka diam. lurus. kaku. kael sedang mengukir batu di dekat danau ketika seekor burung terbang rendah, lalu menabrak permukaan air dan tidak muncul lagi. ia berdiri cepat, menatap permukaan yang kembali tenang. noct sedang memperbaiki tempat duduk di tengah taman ketika ia melihat sesuatu di ujung jalan masuk: seseorang. berdiri diam. terlalu jauh untuk dikenali, tapi cukup dekat untuk dilihat sebagai manusia. ia mengenakan jubah panjang, kelabu. wajahnya tertutup tudung, tapi tubuhnya tegap, kokoh, dan tenang seperti patung yang terlalu lama menunggu. noct melangkah pelan. langkahnya tidak membawa ketakutan, tapi juga tidak sepenuhnya percaya. “kau datang karena apa?” tanyanya ketika cukup dekat. orang itu tidak menjawab. hanya menunduk sedikit. lalu sebuah suara terdengar. bukan dari mulut, tapi dari dalam kepala noct. “aku datang untuk melihat… apa yang telah kalian bangun.” “dan kau siapa?” “aku… ingatan terakhir.” kata-kata itu menggema di kepala noct, lalu menyebar. seolah seluruh tempat mendengarnya. elya yang ada di utara berhenti bergerak. kael yang masih di tepi danau menggenggam batu lebih erat. ren yang sedang menggambar, menoleh ke arah suara meski ia tak berada di sana. orang itu melangkah masuk. tidak ada yang bisa menghentikannya. bukan karena ia kuat. tapi karena dunia tidak ingin menolaknya. elya berjalan mendekat, menatap wajah di balik tudung itu. tapi yang ia lihat… adalah wajahnya sendiri. bukan seperti cermin. tapi seperti bayangan masa lalu yang belum selesai. “apa maksudmu… ingatan terakhir?” “aku adalah semua yang belum kalian hadapi. semua yang kalian pikir telah dilepaskan, tapi masih tinggal diam di sudut hati.” kael berdiri di depan barisan para penghuni beranda sunyi. anak-anak. orang tua. mereka semua menatap sosok asing itu dengan ketegangan yang tidak bisa dijelaskan. “apa yang kau inginkan?” “aku tidak datang untuk mengambil. aku datang untuk memberi pilihan.” “pilihan apa?” “untuk menghadapi… atau kembali menunggu.” noct melangkah maju. “maksudmu?” sosok itu melepaskan tudungnya perlahan. dan di baliknya, tidak ada wajah. hanya kabut. kabut yang perlahan membentuk potongan gambar. kael melihat ayahnya, duduk di meja makan dengan mata kosong. elya melihat dirinya kecil di ujung tempat tidur rumah sakit. noct melihat dirinya di malam yang sangat sepi, saat ia hampir menyerah. semua orang di sana mulai melihat sesuatu. sesuatu yang tidak mereka sadari masih tinggal di dalam. jerit. tangis. tawa yang terpotong. janji yang tidak ditepati. semua keluar. bukan untuk menyiksa. tapi untuk diakui. ren menggenggam tangan elya erat. “aku… takut.” elya berlutut, memeluknya. “aku juga.” kael berdiri diam, lalu berkata, “jadi ini bagian dari penyembuhan.” “ini adalah pintu terakhir,” jawab ingatan terakhir. “bukan ke luar. tapi ke dalam.” dan malam itu, tidak ada yang tidur. semua orang di beranda sunyi duduk dalam diam, menatap diri mereka sendiri. beberapa menangis. beberapa memeluk diri. beberapa hanya duduk. dan perlahan, ketika fajar datang, satu per satu cahaya muncul dari tubuh mereka. cahaya kecil. cahaya lembut. bukan cahaya kemenangan. tapi cahaya keberanian. ketika matahari naik, ingatan terakhir berdiri di gerbang. kael menghampirinya. “kau akan pergi?” “aku tidak pernah benar-benar datang. aku hanya bagian dari kalian. dan sekarang, kalian sudah cukup kuat untuk menghadapiku.” kael menunduk dalam. bukan sebagai hormat. tapi sebagai terima kasih. sosok itu menghilang, seperti kabut yang akhirnya menemukan pagi. dan beranda sunyi… tetap berdiri. tidak runtuh. tidak goyah. justru lebih hidup dari sebelumnya. karena mereka tahu, bahkan tempat yang damai pun perlu keberanian untuk dijaga. dan cinta… selalu dimulai dari keberanian untuk melihat luka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN