Langkah mereka kembali tergesa. Meski napas terengah, tidak ada satu pun yang mengeluh. Dari retakan yang tertutup sebagian, kabut tipis terus merembes, seperti sengaja menunjukkan bahwa mereka masih diburu. Lorong batu itu semakin curam. Suara langkah mereka bergema di dinding, berpadu dengan tetesan air yang jatuh dari atap gua. Aroma lembap menusuk hidung, bercampur dengan jejak samar bau besi berkarat dari kabut yang masih mencoba merayap. Selena berjalan di depan bersama Elias, matanya tajam meneliti setiap sudut. Aren berada di belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Elara berada di tengah, langkahnya tidak stabil namun tetap memaksa diri maju. “Seberapa jauh lagi gua ini?” tanya Aren dengan nada rendah, seolah takut suaranya mengundang sesuatu. “Tidak tahu,” jawab Elias t

