"Ciyeee-ciyeeeee," ledek Mba Eva yang masih menggodanya meski sambil menyetir. "Siapa tuuuh?" Dina terkekeh. Ia hanya masih terngiang-ngiang dengan perkataan Adit tadi. Tak menyangka saja kalau Adit akan mengucapkan hal itu. Dina kira, mereka akan memulai dengan obrolan gila lagi seperti dulu. Namun ternyata, tidak sama sekali. Adit bahkan bilang tak akan menghubunginya. Yaaah...tak apalah, pikirnya. Meski ia juga tak tahu akan bagaimana mereka ke depannya nanti. Sebab Adit pun hanya mengajak berteman lagi dan belum lebih dari itu. Haaah? Atau ia yang terlalu ge-er? Ohohoho! Ia tak mau terlalu percaya diri. Tapi lelaki itu memang seolah memberikan harapan bukan? Asal jangan harapan palsu saja. Kalau itu terjadi, sudah dipastikan ia akan membantainya. Urusan asmara menjadi kian sensitif

