“Maara ….”
“MAARA!!!”
Panggilan itu menghentak masuk ke telinga seorang gadis yang terkesiap di mejanya, dia langsung duduk tegap dan menatap seorang wanita paruh baya yang baru saja memanggilnya dengan sangat mesra itu. Saking mesranya, sampai dia tersentak keluar dari pulau mimpinya secara paksa. Diam-diam dia merasa lega, sangat lega sekali karena tidak ada hal baik di dunia mimpinya. Dia baru saja bermimpi buruk, mimpi yang sangat mengerikan dan mustahil akan dia lupakan.
“Madam Vogh ….” Tak ada yang bisa diucapkan oleh Maara selain nama guru kelasnya itu. Sementara teman satu kelasnya mentertawakan Maara.
“Bagus kau masih ingat namaku,” ucap Madam Vogh dengan suara rendah tapi sangat tajam. “Pergi ke ruanganku setelah kelas berakhir, apa kau mengerti?”
Maara tak memiliki pilihan yang lain kecuali menurut pada ucapan Madam Vogh, dia mengangguk pelan sembari melirik teman-temannya yang selalu mentertawakannya seolah dia ini adalah badut kelas.
Mungkin memang seperti itulah kehidupannya di kelas, sejak ibunya meninggal tiga tahun yang lalu, hidupnya yang susah menjadi lebih parah. Karena tak memiliki kerabat lain, Maara juga terpaksa harus tinggal bersama dengan keluarga paman satu-satunya yang sangat membencinya, dia masuk ke sekolah ternama karena beasiswa. Maara yang naif, berpikir kehidupan sekolah akan menolongnya. Namun, dia salah! semua siswa di sekolah ini adalah anak-anak dari orang kaya, mereka menganggap Maara adalah sampah, selalu mengganggunya setiap kali ada kesempatan dan tak ada yang menyalahkan mereka atas hal itu.
Sebuah gumpalan kertas yang diremas melayang ke meja Maara, dia mencari siapa pelemparnya. Itu adalah seorang pemuda yang duduk berjarak tiga bangku darinya, Michael Zurich, anak wakil ketua yayasan tempat sekolahnya saat ini. Michael dan gengnya selalu mengganggu Maara, tak pernah membiarkan Maara hidup tenang selama di sekolah.
Maara membuka kertas itu, dan tertulis, APA KAU LELAH KARENA MELAYANI TAMU SEMALAM? Dan lagi-lagi tawa menghiasi kelas Madam Vogh. Kertas itu lantas diremas oleh Maara dan dia masukan ke dalam saku bajunya. “Berandalan sialan!” dongkolnya dalam hati.
“Diam kalian semua, atau aku akan memberi hukuman!” Madam Vogh memperingatkan.
“Tenanglah, Madam Vogh, kami bukannya sedang membakar kelas,” sahut Michael setelah berhenti tertawa. Madam Vogh hanya menghela nafasnya, dia tak bisa berbuat banyak kepada Michael. Bisa dikatakan jika Michael adalah bos di sekolah ini.
Pelajaran kembali dilanjutkan, Maara berusaha sangat keras agar matanya tak lagi tertutup. Dia sangat mengantuk sekali, semenjak bekerja paruh waktu dia selalu pulang larut malam, dan itu membuat jam tidurnya banyak terganggu. Hanya saja, hari ini rasa lelahnya sangat luar biasa, dia bahkan merasakan nyeri di beberapa bagian yang dia pikir mungkin terlalu lelah bekerja paruh waktu.
Seperti yang telah diperintahkan oleh Madam Vogh sebelumnya, Maara segera pergi bergegas menuju ruangan Madam Vogh. Tidak fokus berjalan, Maara tak sengaja menabrak seseorang yang baru saja keluar dari ruangan kepala sekolah hingga dia pun terjatuh keras ke lantai.
“Sialan!!” Mara bergumam kesal, “Benar-benar hari yang sial,” ujarnya lagi dengan setengah berbisik.
“Apa sekolah ini mengajari muridnya untuk mengumpat di depan orang yang mereka tabrak?” Suara itu sangat berat, mendengarnya saja membuat tubuh Maara merinding tanpa alasan.
“Maaf, aku tidak sengaja.”
“Permintaan maaf itu harus tulus, jika tidak maka jangan repot-repot mengatakannya, hanya membuang tenaga saja.”
“Orang ini banyak sekali maunya!” batin Maara, dia memaksakan senyumannya sembari mendongak pada pria yang dia tabrak itu. Perlahan, senyuman Maara memudar dari wajah cantiknya ketika matanya menangkap wajah pria itu.
Wajah tampan pria itu seperti menyihir Maara, dia sampai lupa bernafas hanya karena menatap wajah yang sangat tampan bagaikan wajah dewa itu. Maara bahkan belum pernah bertemu dengan seorang dewa, tapi setidaknya dia tahu jika seorang dewa kemungkinan besar memiliki wajah yang sangat tampan.
“Maara?” Sebuah panggilan mengoyak sihir yang membuat Maara terpesona oleh ketampanan seorang pria yang baru dia temui itu. Maara melihat Madam Vogh sedang berdiri sambil melipat tangan di dadanya.
“Maa-,” Maara ingin meminta maaf sekali lagi dengan setulus-tulusnya. Namun, pria yang sedetik lalu membuatnya terpesona itu sudah lenyap bagai hilang ditelan bumi. Walau menyisir seluruh lorong, Maara tak melihat sosok itu ada di sekitarnya. “Jalannya cepat sekali.”
“Maara, jangan membuang waktuku lagi!” Madam Vogh kembali memberinya peringatan. Maara dengan berat hati pun segera menuju ke ruangan Madam Vogh untuk menerima hukumannya karena telah tertidur di kelas.
***
Cairan berwarna merah kental itu menyembur dari bibirnya ketika dia baru saja menginjakkan kaki di ambang pintu. Dia terbatuk lagi dan mengeluarkan lebih banyak darah, tubuhnya berkeringat sangat banyak sampai kemejanya tak hanya berlumur darah tapi juga basah oleh keringat. Tak berapa lama kemudian, seorang pria paruh baya berlari ke arahnya, menangkap tubuh lemah pria itu dan membantunya berdiri dengan tegak.
“Tuan Mazen, mengapa anda memaksakan diri?”
“Aku harus memastikannya sendiri, Hogaz,” balasnya dengan suara yang sangat lirih.
Prok
Prok
Prok
Terdengar suara tepukan tangan yang menggema di seluruh ruang tamu yang megah itu. Mazen menghela nafasnya, dia kenal betul dengan aroma busuk yang megganggu hidungnya itu. Segera dia menatap lurus tepat pada seorang pria yang sedang berdiri di tengah – tengah ruang tamu rumahnya.
“Pangeran Lokra, bagaimana anda bisa–” ucapan Hogaz tersela oleh Lokra yang melangkah maju dengan perlahan-lahan sambil tersenyum aneh.
“Hebat sekali kau masih bertahan sampai detik ini … Adik,” ucap Pria itu dengan tatapan tajam dan senyuman yang lebih mirip dengan seringaian orang yang kehilangan akalnya.
Mazen segera mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, menahan rasa sesak yang membakar dadanya. Keberadaan Lokra di sini adalah ancaman yang lebih besar. Ada Lokra berarti ada sesuatu yang buruk pasti terjadi.
“Apa yang kau inginkan dariku, aku sudah pergi dan meninggalkan semuanya seperti yang diinginkan olehmu, jadi kenapa kau datang ke mari?”
Mazen tahu dengan pasti, Lokra tak akan mendatanginya hanya sekedar untuk mengganggunya saja. Namun, Mazen tak tahu dengan pasti apa yang diinginkan oleh kakak semata wayangnya ini.
“Mazen … Mazen … Mazen … aku sangat kesal setiap kali mendengar namamu selalu saja disebut-sebut, aku ingin membunuhmu tapi tidak bisa, apa kau tahu bagaimana rasanya?”
Kening Mazen berkerut dalam melihat kakaknya yang bertingkah sangat aneh, apalagi mengungkapkan isi hatinya yang sudah menjadi rahasia umum itu. Namun, sebagai putera sulung Lokra tak seharusnya benci pada Mazen. Hanya saja, darah yang mengalir pada tubuh Mazen membuat Lokra sangat membencinya. Darah manusia.
“Kau tidak datang kemari hanya untuk mencurahkan isi hatimu, ‘kan?” tanya Mazen setengah mengejek.
“Tidak … tentu saja tidak, aku kemari untuk melihatmu mati sebagai manusia, pasti rasanya menyenangkan.”
“Pangeran Lokra!”
“Diamlah, Hogaz! Atau aku akan membuatmu tak akan bisa b******a lagi!” hardik Lokra. Suaranya menggema dan seketika membuat tubuh Hogaz menjadi lemah tak berdaya.
Mazen menghela nafasnya, sifat kekanakan Lokra benar-benar tak pernah berakhir. Mazen berjalan pergi mengabaikan keberadaan kakaknya. Setidaknya Lokra sama sekali bukan ancaman untuk saat ini.
“Gadis itu sangat harum sekali, dia masih sangat murni, belum terjamah sama sekali, bagaimana jika aku mencicipinya untukmu … Adik?” Lokra paling tak tahan diabaikan oleh Mazen, dia tahu kelemahan Mazen dan akan memanfaatkan itu untuk mengusik hidupnya.
Grreebb.
Mazen bergerak secepat kilat mencengkram leher Lokra dan menghimpitnya ke dinding, mata keemasannya berkilau penuh amarah, tangannya berubah mengerikan dan kuku tangannya yang panjang siap untuk menusuk tenggorokan Lokra.
“Haha ….” Lokra tertawa dengan susah payah, “ Hahaha,”
“Jika kau berani mendekatinya ….” Nafas Mazen terengah-engah, tatapannya penuh dengan gairah untuk membunuh, “Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, Lokra!” Mazen menggeram, cengkramannya pun semakin kuat.
“Hahaha!” Lokra dengan tertawa membalik keadaan, dia mencengkram tangan Mazen yang mencekiknya kemudian mendorong Mazen dan menghantamkannya ke lantai rumah itu. “Kau pikir aku takut padamu? Kau hanyalah makhluk hina! Kau setengah iblis yang hina!!”
“Tidak, kau bukan lagi setengah iblis! Kau hanya manusia biasa tanpa jantung itu!”
“Pangeran ….” Seseorang memanggil Lokra, berharap perhatian Lokra akan teralihkan dan membebaskan Mazen yang hampir mati dibawah himpitannya. Akan tetapi, Lokra sama sekali tak mendengarkannya, dia telah tertutupi oleh amarah dan ingin menghabisi Mazen saat itu juga.
“Pangeran Lokra, jika kau membunuhnya dengan tanganmu sendiri maka Raja tidak akan tinggal diam!”
Mendengar ayahnya disebut-sebut, Lokra melepaskan Mazen. Wajahnya yang mengerikan pun kembali seperti sedia kala, menjadi pemuda tampan yang sangat mempesona. Tapi kebencian di matanya terhadap Mazen tak hilang dari matanya yang keemasan itu.
“Kita harus kembali,” kata pria itu.
“Kenapa kau suka sekali mengganggu majikanmu, Galaen?”
Galaen hanya tersenyum, seandainya dia tidak mengganggu kesenangan Lokra mungkin saja Lokra tidak akan pernah membuka matanya ketika matahari terbit esok hari. Jadi daripada hal itu terjadi, Galaen memilih untuk mengganggu Lokra.
Lokra dan pengawal pribadinya itu pun segera meninggalkan rumah Mazen begitu saja, menghilang seolah-olah tak pernah ada sebelumnya. Sementara itu, Mazen berusaha untuk bangkit dibantu ole Hogaz.
“Kenapa anda tidak mengambil kembali jantung anda, Tuan?”
Mazen tak menjawab, dia memilih berjalan pergi walau langkahnya harus tertatih-tatih menuju ke kamarnya. Di sisi lain, seseorang mengintip apa yang baru saja terjadi di ruang tamu rumah mewah Mazen itu.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu mati sia-sia,” ucapnya dengan bergumam pelan.
***
Kaleng bekas melayang setelah mendapatkan sebuah tendangan dari kaki Maara, wajahnya kusut, harinya tak berjalan dengan baik. Apalagi setelah dia masuk ke dalam ruangan Madam Vogh. Sungguh, Mara menyesalinya, dan akan terus begitu hingga beberapa saat. Jika dia tahu, masuk ke dalam ruangan Madam Vogh sama saja dengan masuk ke dalam ruangan berisikan bom, maka Maara lebih baik mendapatkan detensi.
“Beasiswamu kami cabut.” Itulah yang keluar dari mulut Madam Vogh dan terus terngiang-ngiang di telingan Maara.
Rasanya seperti baru saja keruntuhan sesuatu yang sangat menyakitkan, ini tahun terakhirnya dan beasiswanya dicabut. Maara bahkan tak tahu masalah pastinya, karena Madam Vogh hanya mengatakan bahwa Maara tak berkelakukan baik dan tak memiliki penjamin yang bisa memastikan jika perilakunya akan berubah. Ini lebih mengejutkan lagi, karena setiap perbuatan Maara bukan dia yang memulai, tapi anak-anak orang kaya itu yang selalu mengganggunya.
Selain itu, dia masih memiliki paman. Maara pikir pamannya yang menjadi jaminan bagi Maara. Rupanya dia keliru, sangat keliru.
“Nah bawa dia saja! Kau bisa bawa dia sebagai ganti hutangku!”
Langkah Maara yang baru saja memasuki pelataran rumah pun terhenti setelah mendengar suara yang familiar itu mengatakan hal yang tak masuk akal. Kepalanya yang sedari tadi tertunduk pun mendongak, dia menatap pamannya berlutut dengan wajah babak belur seperti baru dihajar dan ada tiga orang bertubuh tinggi kekar yang mengelilinginya.
Tiga orang itu menoleh ke arah Maara, menatapnya dengan tajam seperti Maara adalah mangsa mereka. Lalu tak lama kemudian, seorang pemuda yang sangat tampan keluar dari rumah dan berjalan mendekati Maara.
“Kau tahu hutangmu jauh lebih besar dar harga gadis ini?” tanya pemuda yang tampan itu.
“Apa? Apa maksudnya ini?!”
“Maara ….” Pamannya beranjak, tapi seorang pria bertubuh kekar dengan tato di sekitar lehernya itu menginjak tubuh si paman sampai tak bisa berkutik lagi. “Maara … tolong … jika kau ikut dengan mereka … paman akan sangat berhutang budi padamu ….”
Maara menatap pamannya dengan kesal, selama ini keluarga pamannya selalu membencinya, bersikap kasar padanya, memperlakukan Maara seperti pembantu dan sekarang pamannya meminta tolong pada Maara, benar- benar menggelikan.
“Kau hanya perlu ikut denganku, dan aku akan membebaskan si tua itu, bagaimana?” tanya pemuda itu, dia sudah berdiri di samping Maara.
Kedua tangan Maara terkepal di sisi tubuhnya. Marah pada keadaannya yang tak kunjung membaik. Seolah-olah dunia ini sangat membencinya dan terus membuat hidupnya menderita karena telah berani hidup. Maara lelah, dia lelah setiap tiga tahun sekali harus berpindah tempat, dia lelah selalu ada kejadian buruk yang menimpa dia dan ibunya, sampai ibunya meninggal, dia lelah hidup dengan keluarga pamannya yang menjengkelkan, dia lelah menjadi sasaran kenakalan teman-teman sekolahnya, dan kini dia harus ikut menanggung hutang pamannya? Yang benar saja!
“Aku tidak mau.” Maara menjawab dengan tegas tanpa mengedipkan matanya.
“Wah, sungguh reaksi yang tak pernah aku bayangkan.”
“Dia yang berhutang, kenapa aku yang harus menebusnya?” Maara bertanya sambil mendongak, menatap wajah tampan itu dengan mata bulatnya.
Pemuda itu linglung untuk sesaat ketika Maara menatapnya seperti itu, dia berdeham untuk mengendalikan dirinya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya, “ Kau benar sekali, kenapa kau harus menebusnya, ‘kan?”
“Maara … kumohon …,” pinta paman dengan suara merintih kesakitan.
Pemuda itu mendekati paman, dia menjambak rambut paman dan memaksanya mendongak. “Dengar, Pak Tua, aku sama sekali tak suka memaksa, jika kau tidak membayar hutangmu, aku akan menghabisi anak dan puteramu.”
“Maara … apa kau tidak ingin tahu apa yang ibumu tinggalkan untukmu?”
Maara pun terpengaruh, kepalan tangannya melonggar dan tanpa sadar bergerak mendekai tempat pamannya yang diinjak itu.
“Berani-beraninya paman membawa nama ibuku?!” Maara lebih marah dari sebelumnya. Dia tak tahan lagi karena nama ibunya disangkut-pautkan pada masalah pamannya.
“Aku … aku akan memberikannya padamu, tapi kumohon.”
“Cepatlah, Pak Tua! Kau telah membuang banyak waktuku!”
“To-long, Tuan, lepaskan aku!”
Pemuda itu pun melepaskannya, dan meminta anak buahnya untuk melepaskannya juga. “Kalian awasi dia!”
Dengan secepat mungkin diikuti oleh anak buah pemuda itu, paman segera mengambil barang peninggalan Ibunya Maara yang telah dia janjikan. Paman mengambil barang tersebut di dalam kamarnya. itu berupa sebuah kotak kuno dengan banyak ukiran di sekitarnya. Kotak itu telah tersimpan sejak kematian Kakak perempuannya, kotak yang harus segera diserahkan kepada Maara tapi tak pernah dia berikan.
“Cepatlah!!” hardik anak buah si pemuda itu. Paman yang ketakutan segera kembali ke luar dan menyerahkan kotak tersebut kepada Maara, berharap dengan menyerahkan kotak itu maka Maara bersedia untuk menjadi jaminan hutangnya.
“Ini … ini kotak yang diberikan oleh ibumu sebelum dia meninggal, katanya hanya kau yang bisa membuka kotak ini.” Paman menyerahkan kotak tersebut pada Maara.
“Kenapa paman menyembunyikannya?!” Maara tak bisa lagi membendung amarahnya. Pamannya tak hanya jahat, tapi dia sangat kejam dan lebih kejam dari pada iblis sekalipun.
“Paman pikir kau akan pergi jika mengetahui wasiat ibumu ini.”
“Tetap saja! Ini milik ibuku!!!”
“CUKUP!!” Si pemuda itu sudah bosan dengan drama keluarga yang sedang berlangsung di hadapannya ini. Maara dan Pamannya terdiam, teriakan pemuda itu cukup membuat tubuh mereka bereaksi seperti orang yang ketakutan. “Aku muak dengan drama sialan ini, sekarang kau ikut denganku!” katanya kemudian berjalan pergi mendahului.
“Aku tidak bilang jika aku mau ikut denganmu!” Maara bersikeras, dia bergeming di tempatnya sambil memeluk kotak peninggalan ibunya.
Desahan keluar dari mulut pemuda itu, dia tak ingin rencananya gagal hanya karena satu gadis kecil ini. Sesaat kemudian dia pun berbalik dengan tatapan matanya yang berkilat aneh. Bibirnya mengucap sesuatu dengan lirih, dan matanya berfokus pada mata Maara, dia mengucapkan mantra untuk menyihir Maara.
“Kau akan ikut bersamaku dengan patuh,” katanya.
“Tidak.” Maara menjawab. Sihir itu tak mampu mempengaruhinya.
Kenapa?! Pemuda itu sangat terkejut dengan reaksi Maara. Pertama kali dalam hidupnya sihir miliknya ini tak bekerja dengan baik. Akan tetapi dia tak kehabisan akalnya, pemuda itu bergerak dengan cepat dan merebut kotak yang dipeluk Maara tanpa disadari oleh Maara.
“Jika kau tidak ikut denganku, aku akan menghancurkan semuanya termasuk dengan kotak ini.”
“Ba-bagaimana bi-bisa?”
“Ikut atau tidak?”
Melihat kotak itu berpindah tangan membuat Maara bingung, namun sesaat kemudian Maara berdecak kesal, mengapa dia harus jatuh pada kekacauan seperti ini. Saat ini dia tidak memiliki pilihan yang lain. Mungkin ini adalah akhir dari kehidupannya.
“Tapi lebih baik begitu, lebih baik hidupku berakhir!”
___