Serra berdebar, merasa gugup setengah mati. Bagaimana tidak, sebentar lagi ia akan menyerahkan kegadisannya pada pria yang lebih pantas menjadi ayahnya. Ia dan Ethan baru saja meresmikan pernikahan mereka dan mendaftarkannya secara hukum dan negara yang artinya ia sudah resmi menjadi istri dari Ethan Alexander yang ternyata berusia 38 tahun, jauh lebih tua 20 tahun dibanding dirinya.
Namun, bukan itu yang jadi soal. Serra tidak peduli apakah pasangannya muda ataupun tua karena yang ada di pikirannya saat ini adalah segera membayar biaya operasi ayahnya yang akan dilaksanakan hari ini. Jika hari ini Serra tidak membayar biaya operasi, maka operasi tersebut akan dibatalkan dan sudah dipastikan ayahnya akan meninggal dunia. Serra sekarang merasa gugup dan takut karena harus menyerahkan kesuciannya hari itu juga.
“Apa itu akan sakit?” gumam Serra yang saat itu sedang berada di kamar mandi di apartemen suaminya, baru saja mengenakan lingerie-nya, bersiap akan melayani suaminya.
Serra segera mengusir rasa takutnya. Mau sakit atau tidak, bukanlah masalah. Yang penting uang itu harus cair hari itu juga. Dengan mengejamkan hatinya, Serra segera membuka pintu kamar mandi lalu keluar dengan lingerie berwarna hitam yang tak bisa menutupi lekuk tubuhnya lalu mulai mendekati suaminya yang berdiri di dekat tempat tidur, sedang menatapnya nanar.
“Wow, dia begitu seksi! Aku tidak pernah menyangka wanita semuda dia ternyata memiliki tubuh yang luar biasa indah,” batin Ethan takjub.
Keseksian yang ia lihat di klub semalam tidak bisa mengalahkan keseksian yang ia lihat sekarang. Lingerie berwarna hitam transparan tersebut benar-benar mengekspos tubuh istrinya dan sungguh membuatnya tergoda. Biar bagaimana pun juga, Ethan adalah laki-laki normal. Kekesalan dan kemarahannya akan pengkhianatan yang dilakukan oleh mantan kekasihnya yang meninggalkannya sepuluh tahun lalu, Ethan lampiaskan dengan meniduri aneka wanita di klub malam untuk memupus rasa cintanya yang mendalam pada mantannya tersebut.
Kini disuguhi wanita yang begitu cantik dan seksi seperti istrinya, Ethan tidak akan menyia-nyiakannya begitu saja. Setidaknya wanita itu bisa menjadi alat pemuas hasratnya selama kurang lebih sembilan bulan. Ide menyewa rahim senilai 150 juta tidaklah buruk. Ethan lalu mendekati istrinya, kemudian menarik tangannya masuk ke dalam pelukannya.
“Kamu tahu apa yang harus kita lakukan untuk mengesahkan perjanjian kita, kan, Serra?”
Serra mengangguk pelan. “Saya tahu, Om. Lakukan saja! Semakin cepat Om membuktikan saya masih perawan, semakin cepat ayah saya bisa dioperasi.”
Serra benar-benar sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi sebentar lagi. Persetan dengan keperawanan! Tak ada yang lebih penting selain nyawa ayahnya.
Ethan menyeringai lebar. Hasratnya sudah terpantik sejak ia melihat istrinya keluar dari kamar mandi, hingga tanpa aba-aba ia segera merebahkan istrinya di tempat tidur lalu mulai melancarkan aksinya memagut bibir sang istri. Pria matang itu menggila kala bibirnya dan bibir istrinya mulai menyatu.
Rasa indah yang luar biasa yang tak pernah ia dapatkan dari bibir wanita jalang yang selama ini menemani malam-malamnya, kini ia rasakan dan itu membuatnya mabuk kepayang. Tangannya pun tak sabar ingin menari-nari di tubuh sang istri hingga lingerie hitam itu pun robek ditarik Ethan dengan tidak sabar, membuat tubuh polos Serra terpampang nyata.
“Dia benar-benar indah!” batin Ethan semakin bersemangat ingin menuntaskan permainan panasnya.
Ethan mengeksplorasi tubuh istrinya dengan sangat liar hingga tak sabar ingin segera melakukan penyatuan yang ternyata sangat sulit untuk dilakukan. Berapa kali Ethan berusaha menerobos Serra, tapi ia tetap merasa kesulitan.
“Dia tidak berbohong. Dia memang masih perawan,” batin Ethan yakin dan merasa lega karena wanita yang ia nikahi tadi pagi ternyata memang benar-benar wanita suci.
Artinya ia akan menanamkan benih pada wanita murni, bukan wanita nakal. Tak mau membuang waktu, Ethan kembali berusaha melakukan penyatuan hingga pada akhirnya ia berhasil merebut keperawanan istrinya bersamaan dengan suara ringisan dan rintihan sang istri yang sepertinya kesakitan karena penyatuan pertama mereka.
“Apa itu sangat perih?” tanya Ethan memastikan kondisi istrinya baik-baik saja.
Sambil meringis, menahan tangisnya akan hancurnya masa depannya karena sudah menyerahkan hal paling berharga dalam hidupnya, Serra buru-buru menggeleng lalu meminta suaminya untuk segera menuntaskan permainannya.
Rasa perih di area intimnya tidak sebanding dengan rasa perih di hatinya karena dengan sangat terpaksa ia harus menyerahkan harta satu-satunya. Namun, Serra berusaha menepis semua kesedihan di hatinya karena nyawa ayahnya ada di tangannya.
“Lakukan saja, Om! Tuntaskan semuanya! Setelah itu, saya mohon segera bayar biaya operasi jantung ayah saya!”
Hati Ethan trenyuh mendengar kata-kata Serra karena ia tahu persis wanita itu sama sekali tidak berkenan melakukan hubungan suami istri dengannya. Semuanya dilakukan demi nyawa ayahnya saja. Istrinya sungguh anak berbakti.
Berbeda dengannya yang benar-benar merasakan kenikmatan luar biasa karena untuk pertama kalinya ia merasakan nikmatnya seorang perawan. Selama ini ia meniduri wanita klub malam yang pastinya tidak ada yang semurni istrinya. Ethan mengusir rasa ibanya, kemudian kembali ke tujuan awalnya.
“Aku harus menyelesaikan dan menikmati permainan panas ini sampai tuntas,” batin Ethan lalu mulai memacu tubuh istrinya, membuatnya menggila.
Itu benar-benar luar biasa nikmat hingga akhirnya Ethan tidak sanggup membendung luapan hasrat yang meledak-ledak di dalam tubuhnya. Ia pun mengerang panjang, menumpahkan benihnya ke dalam rahim istrinya, kemudian tumbang di sampingnya.
Sementara Serra merasa benar-benar hancur berkeping-keping. Gadis yang saat ini tak lagi perawan itu terlihat menarik selimut, melilitkan pada tubuhnya sambil menahan tangis. Hatinya semakin remuk kala melihat bercak darah di atas sprei, terlebih yang melakukan itu adalah seorang laki-laki dewasa yang sama sekali tak dicintainya.
“Kamu tidak boleh menyesalinya, Serra. Ini semua demi ayah,” batin Serra menahan isak tangisnya.
Dengan tertatih-tatih sambil menahan perih di area sensitifnya, Serra pun melangkah menuju kamar mandi, meninggalkan suaminya yang terbaring dengan mata terpejam. Laki-laki itu terlihat mengatur nafasnya yang menderu, sepertinya begitu menikmati permainan panas yang baru saja terjadi.
Setibanya Serra di kamar mandi, tangisnya pun pecah. Sesungguhnya ia tidak rela memberikan keperawanannya pada om tampan itu. Dirinya kini telah hancur. Masa depannya pun sirna. Namun, ketika Serra mengingat tidak mempunyai siapa-siapa lagi kecuali ayahnya, wanita itu pun berusaha tegar.
Serra mulai membersihkan tubuhnya. Ia merasa benar-benar kotor dan jijik dengan tubuhnya sendiri. Sambil menyeka air matanya, ia bertekad di dalam hatinya.
“Kamu tidak boleh berpikir seperti ini lagi, Serra. Saat ini kamu sudah menjadi istri dari om Ethan dan kamu harus melayaninya hingga hamil dan melahirkan anaknya. Setelahnya baru kamu bisa hidup bersama ayah dan bahagia bersamanya.”
Serra meneruskan kegiatannya di kamar mandi sambil terus menguatkan hatinya supaya tetap tegar. Beberapa menit kemudian, Serra keluar dari kamar mandi dengan bathrobe-nya dan langsung disambut oleh sang suami yang sudah kembali memakai boxer-nya.
“Kamu sudah membuktikan kalau kamu masih perawan, Serra. Aku akan membantu ayahmu agar bisa segera dioperasi.”
Ethan menunjukkan layar ponselnya di mana ia sudah mentransfer sejumlah uang ke rumah sakit lalu memutarkan rekaman suara di mana ia sedang berbincang-bincang dengan dokter bedah yang akan mengoperasi ayah mertuanya.
Serra begitu bahagia mendengar semua itu. Ternyata suaminya tidak ingkar janji. Rasanya ingin menghambur ke rumah sakit sekarang juga, menahan rasa perih yang ia rasakan di area intimnya akibat pernyatuan pertamanya.
“Bolehkah saya menemui ayah saya, Om? Saya ingin mendampinginya.” Serra memohon pada suaminya.
“Kamu tidak bisa ke sana,” larang Ethan keberatan.
“Maksud, Om?” Serra tak mengerti kenapa ia dilarang menemui ayahnya.
“Kamu harus ikut aku ke rumah mama. Kamu akan tinggal bersamaku di sana. Kamu bisa membesuk ayah kamu lain hari. Aku juga sudah menyerahkan semuanya pada dokter ahli dan membayar di muka, jadi mereka tidak akan main-main dengan kesehatan ayah kamu.”
“Tapi, saya—”
“Tak ada tapi-tapi, Serra,” potong Ethan tegas. “Aku harus memperkenalkan kamu pada mama dan juga adikku karena kamu akan tinggal di sana bersamaku agar mama tidak terus-terusan mencarikan jodoh untukku.”