Penolakan Sang Mama

1414 Kata
“Dengar, mulai malam ini kita akan tinggal bersama di kediaman mama. Tidak ada yang boleh tahu kalau kita menikah kontrak. Kamu harus berpura-pura menjadi istriku yang sesungguhnya di depan mama dan adikku.” Ethan memberi wejangan serta peringatan pada Serra sebelum turun dari mobilnya ketika sudah sampai di pekarangan rumah sang mama. Ethan tahu pasti akan terjadi keributan karena ia telah memilih seorang wanita yang tidak dikenal, bahkan tidak memiliki status sosial di mata masyarakat sebagai istrinya. Tentunya sang mama yang memang gila hormat serta sang adik yang materialistis akan sangat marah jika mengetahui dirinya sudah menikah dengan seorang gadis muda yang menyewakan rahimnya demi pengobatan sang ayah. Semua rahasia itu akan disimpan sendirian oleh Ethan karena yang dia butuhkan dari Serra hanya seorang anak dan ia akan meyakinkan sang mama untuk menerima Serra menjadi menantunya. “Baik, Om,” sahut Serra. “Kamu harus memanggilku degan panggilan sayang di depan mama dan adikku. Aku tidak mau mereka sampai curiga kalau kita sedang bersandiwara.” “Siap, Om. Saya akan memanggil Om hanya ketika berdua saja.” Ethan jengah dengan bahasa formal istrinya padanya. “Ubah juga bahasa kamu agar lebih santai! Aku bukan atasan kamu.” “Baik, Om.” “Sekarang kita turun. Berusahalah untuk tersenyum! Buang semua kesedihan soal ayah kamu karena ayah kamu akan baik-baik saja! Aku sudah membayar fasilitas VIP untuknya, bukan fasilitas biasa.” Ethan menekankan. “Terima kasih banyak telah menyelamatkan nyawa ayahku,” ucap Serra penuh syukur. Perih di hatinya atas hilangnya kesuciannya sedikit terobati kala mendengar penuturan suaminya tentang fasilitas yang didapatkan sang ayah di rumah sakit. “Sebagai gantinya kamu harus benar-benar melayaniku selama sembilan bulan sampai kamu melahirkan anakku.” Serra mengangguk pelan. “Aku akan selalu melayani Om dan tidak akan membantah semua perintah Om karena Om adalah penyelamat ayahku. Aku tidak akan melupakan kebaikan Om.” “Tidak perlu membalas budi. Lahirkan saja anakku dengan selamat ke dunia! Setelah itu enyahlah dari hidupku! Dan satu lagi, jangan pernah terbawa perasaan, apalagi sampai mencintaiku! Ingat, kamu hanyalah istri di atas kertas! Aku membutuhkan kehangatan dari tubuhmu karena kamu adalah istriku. Setidaknya selama sembilan bulan aku tidak perlu menyewa wanita jalang seperti yang biasa aku lakukan untuk melampiaskan hasratku.” “Iya, Om,” sahut Serra menahan kepedihan di hatinya. Ternyata suaminya seorang maniak wanita. Wajar juga karena ia berkenalan di klub malam. Sudah bisa dipastikan suaminya bukan laki-laki baik-baik. Rasanya jijik membayangkan berapa puluh wanita yang telah ditiduri suaminya sebelum akhirnya menyentuhnya yang masih murni. Namun, Serra tak bisa menyesalinya lagi karena ia tak punya pilihan sama sekali. “Jangan pernah bermain perasaan di sini! Kamu harus tahu posisimu,” lanjut Ethan lagi. Serra kembali menganggukkan kepalanya. “Aku mengerti, Om.” Tentu saja Serra tahu Ethan tidak akan mungkin menganggapnya seorang istri yang sesungguhnya karena status mereka jauh berbeda. Serra juga juga tidak menyangka laki-laki dewasa itu akan memanfaatkan keadaannya dengan menjadikannya teman ranjangnya selama sembilan bulan penuh. Tadinya Serra berpikir hanya akan disentuh sampai hamil saja, tapi nyatanya? Om tampan itu akan melampiaskan hasratnya sampai ia melahirkan. Membayangkannya saja Serra sudah merasa tersiksa. Namun, apa yang bisa ia lakukan selain menjalani semuanya. Laki-laki dewasa itulah yang sudah menyelamatkan nyawa ayahnya. Serra harus menahan semua penderitaan sampai melahirkan, baru bisa hidup bahagia bersama ayahnya. “Sekarang kita turun! Gandeng tanganku dan bersiap-siaplah mendengar omelan dari adik dan juga mamaku! Mereka pasti akan terkejut melihatku membawa seorang istri.” Serra sedikit ngeri. Apakah dirinya akan disiksa oleh mertua dan juga adik iparnya? Entahlah, apa pun itu ia tetap harus berjuang menyelesaikan semua tugasnya selama kurang lebih setahun sebelum benar-benar berpisah dari suaminya. Ethan segera mengajak Serra masuk ke dalam rumah dan benar saja sang mama juga sang adik langsung menatap tajam ke arah mereka berdua. “Siapa yang kamu bawa ke sini, Ethan?” tanya Feni penuh selidik. Ethan mendekati mama dan adiknya lalu memperkenalkan istrinya. “Dia istriku. Perkenalkan, dia Serra Anastasia. Dia akan tinggal di sini bersama kita mulai malam ini.” Mata Feni membelalak lebar. “Apa kamu sudah gila?” “Kak, jangan bercanda, ya! Masa bocah ingusan ini istri Kakak? Kakak nggak buta, kan?” seloroh Viona. “Kakak tidak gila. Bukankah ini yang mama kita inginkan? Mama ‘kan yang terus-terusan mendesakku, memintaku untuk menikah dan memberikan cucu? Wanita inilah yang akan memberikan mama cucu. Makanya aku menikahinya tadi pagi.” Ethan menjelaskan panjang lebar. Feni seketika naik darah. “Apa kamu sudah tidak waras? Mama memang menginginkan kamu menikah, tapi bukan dengan wanita sembarangan. Dia siapa? Kamu pasti tidak tahu asal-usulnya, kan?” “Dia memang bukan siapa-siapa, tapi setidaknya dia adalah seorang gadis murni yang belum tersentuh oleh luasnya pergaulan dunia.” Ethan menjelaskan sekilas soal keperawanan sang istri. “Bagaimana kamu bisa kenal dengannya?” “Kami bertemu di klub malam. Dia masih muda dan dia masih perawan. Sekarang dia sudah jadi milikku. Jadi, Mama tidak usah mengomel lagi. Terimalah dia menjadi menantu Mama!” tegas Ethan lalu menoleh pada adiknya. “Kamu juga, terima dia menjadi kakak ipar kamu dan perlakukan dia dengan baik. Kami tidak akan menunda untuk memiliki anak karena ingin segera mewujudkan keinginan mama mendapatkan seorang cucu.” “Aku tidak terima, Kak,” tandas Viona menolak. “Mama juga tidak terima, Ethan,” sambung Feni. “Mama sudah memiliki jodoh yang cocok untukmu. Kenapa kamu langsung mengambil keputusan sepihak tanpa memberitahu Mama?” “Ma, ini adalah hidupku. Jadi Mama tidak berhak mengaturku. Terima saja Serra karena dia memang sudah menjadi bagian dari keluarga ini! Aku juga akan segera mewujudkan keinginan Mama untuk mendapatkan seorang cucu,” geram Ethan kesal. Kenapa mamanya selalu membuat semuanya makin rumit? Sejak dulu sang mama memang selalu mengaturnya dan selalu saja membuatnya kesal. Tidak pernah ia merasa tenteram saat berada di rumah karena selalu diomeli oleh wanita yang melahirkannya tersebut. Sementara hati Serra ketar-ketir. Sudah dapat dibayangkan penderitaan yang akan ia alami selama tinggal di rumah itu. Seorang mertua dan adik ipar jahat pasti akan mempersulit, bahkan bisa menyiksanya. “K-kamu keterlaluan, Ethan.” Feni benar-benar murka. Bagaimana mungkin putranya mengambil keputusan menikah tanpa melibatkannya? Bagaimana mungkin juga ia bisa menerima seorang menantu yang bukan dari keluarga terpandang yang tidak tahu asal-usulnya, apalagi wanita itu masih terlalu muda. Jangan-jangan wanita itu sengaja menjebak putranya agar bisa menumpang hidup dan menguras harta dari putranya. Wanita muda itu pasti tahu kalau Ethan adalah laki-laki kaya sehingga merayunya dan berhasil meyakinkan putranya tersebut untuk menikahinya. “Kakak benar-benar keterlaluan. Urusan pernikahan itu tidak bisa hanya antara Kakak dan wanita ini saja. Harusnya semuanya dikompromikan secara kekeluargaan bersama kami. Bukankah kami adalah anggota keluarga Kakak? Kenapa Kakak tidak menganggap kami. Pasti wanita ini telah mencuci otak Kakak.” Viona menyatakan kekecewaannya. “Tidak usah banyak membantah. Apa kamu mau fasilitasmu kusita? Pikirkan saja kuliahmu yang tak selesai-selesai itu, jangan mengurusi hidupku! Ini adalah wujud baktiku pada mama yang tak henti-hentinya mendesakku untuk memberikan keturunan padanya.” “Kak, kenapa Kakak jadi begini, sih?” Viona tak habis pikir. “Diam!? Masuk ke kamar kamu sana!” bentak Ethan emosi, membuat Viona dengan sangat terpaksa meninggalkan ruang tamu, segera masuk ke dalam kamar sesuai yang diperintahkan karena ancaman kakaknya bukan main-main. Semua fasilitas yang sudah ia miliki pasti akan langsung dihentikan oleh kakaknya kalau sampai membantah. Namun, jujur saja ia tidak menyukai istri dari kakaknya tersebut. Wanita itu terlalu muda untuk kakaknya. Tampaknya ia harus segera bekerja sama dengan sang mama untuk menyingkirkan wanita itu. “Otak kamu benar-benar sudah dirusak oleh wanita ini. Pokoknya Mama tidak bisa menerima pernikahan ini. Selain terlalu cepat dan terlalu mendadak, dia juga bukan pilihan Mama.” Feni mati-matian menentang pernikahan Ethan. “Terserah, Ma. Yang Mama harus tahu, dia sudah menjadi istriku yang sah di mata hukum dan negara. Tidak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. Lebih baik Mama pelan-pelan menerimanya karena aku menginginkan seorang anak lahir dari rahimnya.” Ethan bersikeras. Feni tahu persis bagaimana sifat anaknya yang keras dan tidak akan pernah terpatahkan meski ia berpuluh kali mengatakan membenci menantunya. Tak ada yang bisa dilakukan Feni saat ini selain menerima Serra sambil pelan-pelan menjalankan rencananya. “Baiklah, Mama tidak akan berdebat denganmu, Ethan,” ujar Feni mengalah. “Tapi Mama pastikan menantuku ini tidak akan betah berada di sini dan akan pergi meninggalkanmu tanpa kata. Sampai mati pun Mama tidak akan setuju kamu menikah dengan seorang wanita miskin seperti dia dan Mama pastikan wanita ini akan segera enyah dari hidup kamu, Ethan,” sambung Feni dalam hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN