Niat Mengintimidasi Serra

1571 Kata
Suasana makan malam di kediaman Ethan sungguh mencekam di mana tidak ada suara sedikit pun ketika mereka berempat menyantap makanan di meja makan. Itu karena semua memendam pikiran masing-masing. Ethan harus benar-benar tegas pada mama dan adiknya untuk menjaga istrinya dengan baik sampai istrinya tersebut melahirkan. Sementara pikiran mama dan juga sang adik jauh bertentangan. Mereka berdua berencana untuk mencelakakan Serra, membuat hidupnya tidak nyaman di kediamannya agar wanita itu segera pergi dari rumah mereka tanpa pesan. Feni dan Viona tahu persis kalau Ethan tidak bisa dibantah. Sifatnya yang dingin dan kejam dan cenderung suka memberi hukuman pada mereka berdua, yaitu menghentikan fasilitas selama beberapa waktu jika mereka membuat kesalahan, mengakibatkan keduanya tidak bisa menentang Ethan secara terang-terangan. Yang bisa dilakukan oleh mereka berdua hanyalah membuat Serra tidak nyaman di rumah itu. Hanya itu. Mereka pun tidak bisa mencelakakan atau pun membuat tubuh Serra tergores, tapi mereka bisa menekan batin Serra agar tersiksa bak di neraka setiap kali Ethan pergi bekerja. “Jangan katakan mereka akan menyiksaku di sini!” batin Serra. Ia sudah membayangkan akan tersiksa bak seorang menantu yang ada di sinetron ikan terbang. Serra sudah bisa memprediksi itu. Andai pun itu terjadi, ia tidak akan membiarkan tubuhnya tergores sama sekali karena ia harus menjaga diri dengan baik terutama menjaga kandungannya jika hamil nanti karena bayi itu adalah penyambung hidup ayahnya sehingga ia tidak akan diam begitu saja. Berbagai pertanyaan seputar mertua dan adiknya terus terputar di pikiran Serra sambil terus menyantap makan malamnya. Feni pun menikmati santap malamnya dengan perasaan tidak tenang sambil melirik ke arah menantunya, membatin kesal di dalam hatinya. “Aku tidak akan menyiksa fisik kamu, tapi akan aku buat kamu mengerjakan semua urusan pekerjaan rumah hingga kamu kelelahan dan serasa ingin mati saja sehingga tidak betah di rumah ini.” Ethan memperhatikan mama dan adiknya yang terus-terusan melirik istrinya lalu memberikan ultimatum tegas pada keduanya. “Buang semua pikiran jahat kalian berdua!” Feni seketika tersinggung. “Apa maksud kamu ngomong begitu sama mama di depan istri kamu?” “Kalau Mama dan juga Viona berpikiran buruk ingin mencelakakan istriku, maka buanglah jauh-jauh niat itu! Sedikit saja istriku terluka, aku akan memutus semua fasilitas yang sudah aku berikan selama ini. Ingat, di sini aku adalah tulang punggung. Semua aset tidak ada yang atas sama kalian. Semuanya atas namaku karena aku yang menjalankan perusahaan papa, bukan kalian berdua.” “Kamu keterlaluan bicara begitu pada Mama. Tidak seharusnya kamu bicara begitu di depan istri kamu. Kalau kamu mau bicara soal ini, bicaranya di depan Mama, empat mata! Jangan di depan orang lain!” “Dia bukan orang lain, Ma. Dia sudah jadi menantu Mama dan akan melahirkan cucu Mama, cucu yang selama ini Mama selalu minta padaku.” “Dia juga belum hamil kok,” omel Feni sewot. “Justru itu, aku ingin menjaganya sampai dia hamil nanti hingga dia melahirkan anakku. Tidak ada yang boleh menyentuh istriku sama sekali.” Viona membela mamanya. “Kakak terlalu kejam menilai kami seperti itu. Apa Kakak pikir aku dan mama sekejam dan sejahat itu ingin melukai istri Kakak. Bagaimana aku tidak berpikir kalau Kakak sudah dicuci otaknya oleh istri Kakak kalau Kakak jadi berpikiran buruk pada keluarga sendiri.” “Aku hanya mengantisipasi semuanya. Bukan aku menuduh. Tapi kalau kalian sempat berpikiran demikian, maka berhentilah! Kalian sendiri yang akan rugi. Kalian berdua tidak bisa hidup tanpa kemewahan karena sudah biasa belanja, berfoya-foya. Bayangkan kalau aku menghentikan semua aliran dana ke rekening kalian berdua, apa yang akan kalian lakukan?” Feni mengalah. Ia tahu tak akan menang berdebat dengan putranya. “Sudahlah, Ethan! Berhentilah membahas soal itu. Kamu membuat Mama emosi.” “Karena itu dengarkan semua ultimatumku karena aku tidak main-main. Aku harus memiliki anak dari istriku dan aku tidak akan tinggal diam jika ada orang yang menyakitinya,” desis Ethan garang. “Karena akulah yang mengeluarkan uang ratusan juta untuknya dan dia akan menjadi sebuah alat bagiku selama kurang lebih 9 bulan. Aku sudah membayarnya sebagai teman tidurku sekaligus menyewa rahimnya untuk melahirkan keturunannku sehingga aku tidak perlu pergi ke klub malam lagi untuk tidur dengan para jalang seperti yang kulakukan selama ini,” sambung Ethan dalam hati. Tidak mungkin ia menyuarakan isi hatinya pada sang mama karena mamanya tidak tahu sepak terjangnya selama ini di klub malam untuk membunuh rasa cintanya dan sakit hatinya pada sang mantan kekasih yang tega-teganya berkhianat di depan matanya bahkan meninggalkannya menikah dengan laki-laki lain. Hanya wanita-wanita itu yang bisa membuang sakit hatinya dan kini ia sudah mendapatkan mainan baru. Tentu ia tidak akan mengizinkan mainannya diganggu oleh mama juga adiknya, apalagi mainan baru itu harus menghasilkan seorang anak yang akan menjadi penerusnya. Viona juga Feni menekan rasa kesal mereka terhadap Ethan. Satu yang mereka tahu Ethan berubah karena istrinya. Wanita muda itu memang benar-benar sudah membuat Ethan jadi jahat pada mereka. Mereka berdua akan bersekongkol untuk menyingkirkan Serra sebelum wanita itu hamil. Serra yang sejak tadi menyimak pembicaraan Ethan dan keluarganya, merasa tidak enak hati. Dengan sangat terpaksa ia menegur sang suami, berpura-pura mesra di depan adik ipar dan juga mama mertuanya, mencegah Ethan untuk berhenti menekan keluarganya sendiri. “Jangan gitu, Sayang! Kamu nggak usah terlalu membelaku di depan mama dan adikmu karena mereka belum tentu akan melakukan itu. Kamu tidak boleh jahat dan menuduh mereka.” Rasanya ingin membentak wanita muda itu karena mengajari dan mengguruinya. Namun, karena Ethan ingin menyukseskan sandiwaranya, dengan sangat terpaksa Ethan berpura-pura manis pada sang istri. “Aku hanya melindungi kamu karena aku akan pergi bekerja seharian sampai jam 05.00 sore. Aku ingin memastikan kamu baik-baik saja.” “Tapi kamu juga tidak boleh berpikiran negatif pada mama dan adik kamu. Aku tidak mau dianggap sudah mencuci otak kamu, Sayang,” sambung Serra lagi. “Aku tidak pernah merasa otakku dicuci olehmu. Aku hanya berpikir secara logika karena aku menginginkan kamu hanya melayaniku, menemaniku serta memberikan anak untukku. Karena itu aku menginginkan kamu sehat dan juga ceria. Aku hanya tidak mau ada bentrok antara mama dan juga Viona, adikku denganmu. Karena itu aku menegaskannya.” “Tapi—” “Sudah ... kamu nggak usah terlalu memikirkan itu. Fokuskan saja perhatianmu padaku, bukan pada yang lain! Aku, mama, serta adikku sudah biasa bicara kasar seperti ini karena kami bukan keluarga lembut. Jadi, kamu jangan kaget karena hal itu, ya!” pungkas Ethan tegas. Serra mengangguk pelan. Ia sadar dirinya bukan istri sungguhan. Jangan sampai perkataan-perkataannya memicu kemarahan Ethan dan membuat proses operasi ayahnya yang sudah berlangsung mulai hari ini akan terhambat. “Baiklah, aku akan menuruti semua kata-kata kamu, Sayang.” “Nah, itu yang aku inginkan. Ingat, fokuslah hanya padaku, ya!” tandas Ethan lagi. Mereka pun melanjutkan makan malam mereka sampai selesai hingga akhirnya Serra yang sudah terbiasa membereskan meja makan, segera beranjak dari tempat duduknya lalu mulai menumpuk piring-piring yang ada di depan mama mertua serta adik iparnya juga piring yang di depan suaminya, bersiap ingin membawanya ke belakang dan mencucinya seperti yang biasa ia lakukan di kediamannya dan itu membuat Ethan geram. “Kamu mau ke mana?” tanya Ethan mencekal tangan sang istri. Serra menoleh suaminya. “Aku mau mencuci piring.” “Kamu tidak boleh melakukan apa pun di rumah ini. Yang perlu kamu lakukan hanyalah menyenangkan dan melayaniku. Tinggalkan piring itu dan ikut aku ke kamar sekarang juga!” tegas Ethan tak mau dibantah. Dengan sangat terpaksa Serra meletakkan kembali piring-piring di atas meja lalu mengikuti langkah suaminya yang langsung menggandeng pinggangnya menuju ke kamar. Ia tahu sebentar lagi ia harus kembali melayani hasrat suaminya. Sementara Feni dan juga Viona menggeram kesal. “Bagaimana ini, Ma? Bagaimana kita bisa menyingkirkannya kalau begini caranya? Kakak sudah mengultimatum kita untuk tidak menyentuh istrinya sama sekali.” Feni menghela nafas panjang. “Kita tidak akan menyentuhnya, tapi kita akan memberikan intimidasi-intimidasi yang membuat wanita itu merasa tidak nyaman di rumah ini.” "Bagaimana caranya, Ma? Kakak sungguh melindunginya,” seru Viona kesal. “Kita akan menggunakan cara lain, Viona.” “Iya, cara apa?” tanya Viona tak sabar. Feni berpikir sejenak, mencari cara yang tepat untuk menyiksa Serra di rumahnya. “Ah, iya ... kakak kamu bilang kalau ayah mertuanya sedang dioperasi di rumah sakit, kan? Itu artinya wanita itu memiliki kelemahan, yaitu ayahnya.” “Maksud Mama?” “Mama akan mengancamnya untuk menghentikan dana yang mengalir ke rumah sakit karena Mama memiliki relasi di sana, sehingga semua tindakan di rumah sakit akan terhenti jika Mama memintanya.” Feni menyampaikan idenya. “Apa Mama beneran bisa melakukan itu?” seru Viona semangat. Feni mengerucut kesal. “Mana bisa Mama melakukan itu. Mama hanya akan menakut-nakutinya. Semua akses ‘kan dipegang Kakak kamu, jadi mana mungkin Mama bisa ikut campur soal rumah sakit? Mama hanya melihat peluang di mana sepertinya wanita itu cukup polos dan lemah. Usianya pun masih muda. Tentu kita bisa menyuruh-nyuruhnya untuk melakukan apa yang kita minta. Mama akan menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Kamu tahu sendiri betapa besarnya rumah kita. Bahkan Mama akan melakukan hal-hal jahat lainnya yang membuat dia tidak nyaman berada di sini lagi tanpa menyentuh kulitnya sehingga Kakak kamu tidak curiga.” “Wah, tak sabar ingin ikut Mama menyengsarakannya, Ma! Aku kesal mendapatkan kakak ipar ingusan penguras harta kayak dia.” Feni menyerigai jahat. “Mama tidak akan berhenti memberikan neraka pada wanita itu hingga dia pergi meninggalkan kediaman kita, bahkan meninggalkan kehidupan kakak kamu. Tunggu saja! Mulai besok, dia akan menyesal masuk ke dalam keluarga kita.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN