Permintaan Ethan

1231 Kata
Ethan sungguh benar-benar tidak kuasa menahan kegilaannya menyentuh tubuh istrinya berkali-kali malam itu. Tanpa suara, tanpa kata, dikarenakan hatinya yang begitu kesal sejak makan malam, membuatnya tidak memberi aba-aba pada sang istri lagi ketika sampai di kamarnya. Ia langsung mendorong tubuh istrinya lalu menarik semua pakaiannya hingga polos, menyerang sang istri begitu buas dan ajaibnya kemarahannya sirna seketika. Lagi-lagi ia mendapatkan sebuah kenikmatan yang tidak pernah ia dapatkan dari para jalangnya selama ini. Sungguh Serra merupakan candu baginya. Meski Serra tidak melakukan apa pun, hanya berdiam diri sambil memejamkan matanya, tapi tetap saja ia bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa dari tubuh istrinya, tubuh seorang wanita yang tadi siang baru saja ia ambil keperawanannya. Sungguh Serra benar-benar membuatnya mabuk kepayang. “Kenapa bisa begini? Kenapa ada wanita yang bisa membuatku candu seperti ini?” batin Ethan yang untuk ke sekian kalinya melakukan penyatuan pada sang istri. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 pagi. Sudah beberapa putaran ia menyentuh sang istri, tapi tetap saja rasa haus itu tidak bisa hilang. Ini sungguh jauh berbeda dibanding yang sering ia lakukan dengan wanita sewaannya di mana ketika ia melakukannya sekali, maka semuanya akan selesai. Bahkan ia tidak berminat untuk mengulangi dengan wanita yang sama. Tapi kenapa sang istri berbeda. Ethan menepis semua kebingungannya dan kembali menikmati tubuh Serra, memacu tubuhnya secepat yang ia bisa hingga akhirnya ia lagi-lagi mengerang panjang dan menumpahkan benihnya ke rahim istrinya, berharap itu akan segera tumbuh menjadi seorang bayi yang sangat ia inginkan. “Apakah aku akan terus seperti ini setiap malam? Ini benar-benar keterlaluan. Kenapa dia terus-terusan menyentuhku sejak makan malam hingga jam 04.00 pagi? Sudah 4 kali dia menyentuh tubuhku malam ini. Aku benar-benar lelah,” batin Serra segera beranjak dari tempat tidur, ingin membersihkan tubuhnya yang diserang terus-terusan oleh sang suami. Ingin menjerit dan menangis, tapi itu tidak mungkin ia lakukan karena ia tidak mau suaminya marah padanya dan akan mempersulit urusan pengobatan ayahnya. Tapi, jujur saja hatinya hancur berkeping-keping seiring perasaan remuk redam di tubuhnya. Serra menoleh suaminya yang sedang terpejam, yang pastinya begitu mengantuk dan kelelahan karena terus-terusan menyentuhnya. Wanita cantik itu melilitkan selimutnya di tubuhnya, kemudian langsung melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Tangisnya pun kembali pecah di sana. Tidak mungkin ia menangis di depan suaminya. Hanya di kamar mandi ia bisa meluapkan semua kesedihannya. “Kenapa aku harus mengalami ini?” lirih Serra berdiri di bawah pancuran air, membersihkan seluruh anggota tubuhnya yang sudah terjamah sepenuhnya oleh sang suami. Ia begitu jijik melihat tubuhnya dari balik cermin yang penuh berhias tanda merah dari suaminya. “Apa aku bisa bertahan setahun ke depan seperti ini? Apa dia terus-terusan akan seperti ini padaku? Aku bisa mati kalau begini terus,” gumam Serra sedih. Namun, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah menjadi bubur. Ia tidak bisa mundur lagi. Yang bisa Serra lakukan saat ini adalah bertahan. “Aku ingin ketemu ayah. Aku rindu pada ayah,” gumam Serra beruraian air mata. Serra segera menyudahi aktivitas mandinya langsung mengenakan barhrobe-nya lalu kembali ke kamar. Ia ingin merayu suaminya agar diperbolehkan membesuk sang ayah. Ia penasaran apa yang terjadi pada ayahnya. Apa operasinya sudah selesai? Apa itu berhasil? Apa akan terjadi hal buruk pada sang ayah? Semua pertanyaan itu berputar di pikirannya, membuatnya tak ragu duduk di tepian ranjang, menunggu sang suami membuka matanya. Tak lama, Ethan mengerjapkan matanya dan langsung menatapnya dengan tatapan heran. “Kamu kenapa duduk di sana? Kamu kesal padaku?” tanya Ethan dingin. Serra menggelengkan kepalanya. “Aku tidak kesal, Om?” “Kenapa matamu merah? Kamu menangis? Kamu menyesali semuanya?” cecar Ethan tersinggung. Ethan seketika kesal melihat mata bengkak sang istri. Hatinya geram. Egonya terusik. Rasa tersinggungnya pun tersulut. Kenapa istrinya menangis? Apa permainannya cukup buruk sehingga Serra sepertinya tidak menikmatinya, malah menangis seperti itu? Sejak ia menyentuh istrinya seusai makan malam tadi, Ethan tahu sang istri sama sekali tidak berkenan, meskipun ia sudah mengeluarkan semua skill yang ia miliki selama menyentuh wanita malam di mana ia benar-benar sudah pro urusan ranjang, Serra tetap saja memejamkan matanya dengan alis yang berkerut, seolah menahan siksaan, padahal ia sedang memberikan kenikmatan di tubuh wanita yang sudah menjadi istrinya tersebut. Namun, Ethan menahan egonya dan emosinya karena ia tahu Serra masih harus menyesuaikan diri untuk menerima penyatuan yang ia lakukan. Namun, mata sembab yang diperlihatkan oleh Serra padanya saat ini sungguh membuatnya kesal hingga Ethan tak kuasa menahan kemarahannya lagi. “Apa kamu tidak berkenan aku sentuh?” cecar Ethan garang. Serra kembali menggeleng walau di hatinya mengiyakan. “Tentu saja aku keberatan karena aku pikir Om hanya akan melakukannya satu kali saja setiap malam. Nyatanya Om menyentuhku sebanyak empat kali semalaman penuh, membuatku kelelahan. Tapi bagaimana mungkin aku bisa memprotes Om?” seru Serra dalam hati. “Terus kenapa kamu menangis? Matamu sampai bengkak begitu,” geram Ethan. Ia paling kesal melihat wanita menangis. “A-aku hanya ... a-aku—” “Dengar, aku menikahi kamu bukan hanya ingin menyewa rahim kamu saja, tapi aku menginginkan seorang partner ranjang yang bisa memuaskan batin dan jiwaku. Aku harus bekerja setiap hari dan itu cukup melelahkan di mana aku harus ke sana kemari meeting dengan klien, meninjau aneka proyek untuk memajukan perusahaan dan aku butuh pelampiasan. Aku sudah membayarmu 150 juta. Harusnya kamu memberikan servis yang memuaskan untukku? Aku tidak pernah diperlakukan begini oleh partner ranjangku,” potong Ethan meluapkan kekesalannya. Serra tidak bisa berkata-kata. Niatnya untuk minta izin membesuk ayahnya sirna karena saat ini ia punya masalah baru. Suaminya menuntutnya untuk memuaskannya di ranjang. Bagaimana mungkin ia bisa menyervis suaminya kalau nyatanya ia tidak pernah melakukan yang hal seperti ini sebelumnya. Bagaimana mungkin ia tahu caranya memanjakan seorang laki-laki kalau pengalaman ini adalah pengalaman pertama baginya. Suaminya sudah gila meminta permintaan aneh seperti itu. “Aku ... a-ku—” “Aku, aku apa? Jawab yang jelas!" bentak Ethan lagi, membuat Serra ketakutan. Laki-laki yang menikahinya ternyata sosok yang dingin dan kasar. Apa ia tidak salah langkah memilih seorang laki-laki yang sepertinya bukan hanya akan menyiksa tubuhnya, tapi juga menyiksa batinnya? “Maaf, Om. Aku sungguh tidak mengerti bagaimana cara memperlakukan Om karena aku bukan w************n dan wanita nakal yang mengerti cara memanjakan pria. Ini pengalaman pertama bagiku, Om,” urai Serra lirih. Ethan mengerti dan sadar kalau istrinya adalah wanita polos. Sewajarnya ia yang mengajari istrinya agar bisa liar di ranjang sehingga bisa memuaskanya. “Oke, aku akan berusaha mengerti, tapi ingat baik-baik! Jangan pernah menunjukkan wajah tidak ikhlasmu ketika aku menyentuh kamu! Itu mengganggu mood-ku dan pada akhirnya akan mengacaukan semua bisnisku. Jangan pernah menangis di depanku karena aku benci tangisan seorang wanita! Aku bisa marah jika sampai melihatmu menangis lagi.” Itu karena ia pernah tertipu oleh tangisan kekasihnya, membuatnya menuruti semua kata-katanya, tapi nyatanya ia masih dikhianati juga. “Kamu sudah menjadi istriku dan rahimmu akan menjadi milikku selama kurang lebih 9 bulan ke depan. Jadi, kamu harus menuruti semua yang aku minta. Kalau tidak, aku akan meminta ganti rugi. Aku ingin kamu mengembalikan uang yang sudah aku berikan untuk pengobatan ayahmu,” lanjut Ethan mengancam Serra.” “Jangan, Om! Jangan lakukan itu! Aku akan menuruti semua kata-kata Om.” Serra mengatupkan kedua telapak tangannya, meminta suaminya agar tidak berubah pikiran dan meminta uang pengobatan ayahnya lagi. Ethan menatap Serra tajam lalu kembali mengultimatum istrinya. “Jadi mulai besok malam, nikmatilah semua permainanku di tubuhmu karena kita akan sering melakukannya, bahkan sesaat sebelum kamu melahirkan nanti. Apa kamu mengerti?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN