Ancaman Mama Mertua

1625 Kata
“Aku pergi dulu.” Ethan pamit pada adik, mama serta istrinya seusai sarapan pagi itu. Setelah mewejang istrinya, mengingatkannya untuk ikhlas menjalani rumah tangga dengannya sampai kontrak mereka berakhir, Ethan segera membersihkan tubuhnya dan berdandan rapi, kemudian mengajak istrinya untuk sarapan. Hatinya benar-benar bahagia karena mengalami malam yang begitu panas dan bergelora di mana tidak pernah selama ini ia meniduri wanita sampai 4 kali dalam semalam. Ethan tidak pernah melakukan itu dengan wanita mana pun. Begitu kuat dan besarnya magnet yang ada di tubuh istrinya, membuatnya tergila-gila, membuatnya begitu candu. Ethan juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya. Yang jelas ia akan memanfaatkan kebersamaannya dengan Serra sebaik-baiknya. “Hati-hati, Sayang,” ucap Serra ikut beranjak dari meja makan, berniat mengantar suaminya ke depan pintu, melaksanakan aktingnya sebaik-baiknya di depan mama mertua dan adik iparnya. “Tidak perlu mengantarku ke depan pintu. Kamu masuk ke kamar saja dan bersenang-senanglah di sana. Tunggu aku pulang, ya!” Serra mengambil kesempatan untuk memohon pada sang suami agar bisa dan diperbolehkan menjenguk ayahnya. “Aku akan mengantarmu, Sayang. Aku ingin membiasakan diri mengantarmu setiap pagi pergi bekerja dan akan menyambutmu saat pulang.” Ethan sebenarnya jengah melihat sandiwara Serra yang menurutnya berlebihan. Namun, mau bagaimana lagi. Di depan mama dan adiknya mereka harus terlihat sebagai pasangan suami istri yang harmonis sehingga tidak akan ada celah bagi mama dan juga adiknya untuk berbuat onar juga memisahkannya dari Serra sebelum wanita cantik itu melahirkan anaknya. “Baiklah, terserah kamu,” sahut Ethan mulai melangkah meninggalkan meja makan diiringi Serra. Feni dan Viona mencebik jijik melihat kelakuan Serra yang menurut mereka terlalu mencari muka, mencari perhatian Ethan. Tunggu saja, mereka akan melakukan hal yang akan membuat Serra tersiksa. “Kamu tidak perlu mengantarku. Kenapa kamu repot sendiri, sih?” rutuk Ethan setibanya di depan pintu. “Cukuplah kita berakting di depan mama dan adikku di meja makan saja! Jangan terlalu berlebihan! Kamu jangan menganggapku suami sungguhan!” Ethan kesal melihat tingkah laku istrinya. Ia harus memasang benteng yang tinggi terhadap sang istri karena ia tidak akan melibatkan perasaan di sini. Sudah cukup ia hancur kala wanita yang sangat ia cintai berselingkuh. Yang lebih menyakitkan, wanita yang sangat ia cintai memilih kekasihnya dan menikah, meninggalkannya begitu saja. Hatinya benar-benar hancur berkeping-keping, membuatnya tidak menginginkan romansa lagi seumur hidupnya. Ethan juga bahkan tidak berpikir bisa menikah. Kalau bukan karena desakan sang mama untuk memiliki cucu, mungkin ia tidak akan pernah melakukan kebodohan, yaitu menorehkan namanya bersanding dengan nama seorang wanita di sebuah sertifikat pernikahan. Itulah sebabnya, Ethan tidak mau bermain feeling di sini. “Maafkan aku, Om! Aku tidak bermaksud mencari muka atau semacamnya. Aku hanya ingin curi kesempatan untuk bicara sama Om karena tadi pagi aku tidak sempat menyampaikan apa yang aku inginkan.” Serra menjelaskan maksudnya mengantar suaminya ke depan pintu. “Kamu mau apa?” tanya Ethan dingin. “Bolehkah aku membesuk ayah, Om?” Ethan berdecak kesal. “Aku sudah bilang aku masih membutuhkan kamu dan aku tidak akan membiarkan kamu menemui ayahmu?” Serra tak mengerti. “Kenapa tidak boleh, Om? Aku merindukan ayahku. Ayah juga pasti akan mencariku.” “Dokter selalu melaporkan soal kesehatannya padaku, jadi kamu tidak usah khawatir. Lagi pula ayahmu sedang dalam proses penyembuhan. Jangan membuat batinnya terguncang! Apa yang akan kamu katakan pada ayah kamu soal kita, coba?” Serra sempat merasa bingung. Ia harus bicara apa pada ayahnya? Tak mungkin ia jujur soal sewa rahim yang sedang ia jalani. Ayahnya pasti akan terkena serangan jantung kalau tahu dirinya mengorbankan masa depannya demi biaya operasi sang ayah. “Nah, kamu belum tahu ‘kan apa yang akan kamu katakan? Kita kompromi dulu apa kira-kira yang bisa disampaikan pada ayahmu. Aku tidak mau kamu mengakuiku sebagai suamimu. Aku akan mengatakan pada pihak rumah sakit kalau kamu bekerja menjadi pembantuku dan jaminannya adalah kamu harus bekerja banting tulang di rumahku hingga setahun ke depan.” “Tapi aku ingin bertemu dengan ayah.” Serra berusaha membujuk Ethan agar mengizinkannya menemui ayahnya. “Tidak ... aku tak akan membiarkan kamu keceplosan bicara soal perjanjian kita, terlebih melihat kamu yang sedang mengandung nanti. Bukannya itu pasti akan membuat jantungnya bertambah parah? Orang tua mana yang mengizinkan putrinya untuk hamil anakku, menyerahkannya lalu pergi begitu saja. Hati ayahmu akan hancur. Kamu mau semua usaha kamu sia-sia?” “Jadi, apa yang harus aku lakukan, Om?” ucap Serra sedih. “Seperti yang aku katakan padamu tadi, aku akan menyampaikan kepada dokter kalau kamu mendapatkan uang dariku dan harus membayar uang itu sesegera mungkin. Biar dokter yang menyampaikan itu pada ayahmu.” Serra akhirnya tidak bisa membantah kata-kata suaminya lagi karena percuma. Ia juga takut suaminya akan membatalkan semuanya karena ia tahu temperamen suaminya setelah hidup bersamanya selama satu hari satu malam. “Jadi, ikuti semua kata-kataku! Kamu harus bertahan tidak bersua dengan ayahmu. Setelah kamu melahirkan anakku, kamu akan tinggal bersama ayah kamu dan aku tidak akan ikut campur soal kamu lagi. Tapi, selagi kamu masih menjadi istriku dan rahimmu masih menjadi milikku sampai periode kontrak kita berakhir, maka kamu harus menuruti semua kata-kataku, paham!” Ethan segera meninggalkan sang istri di depan pintu, sementara Serra merasa begitu perih. Bagaimana mungkin ia tidak bisa diperbolehkan untuk membesuk ayahnya sekalipun? Ini tidak masuk akal. Kenapa suaminya mengeksploitasi waktunya juga dirinya sepenuhnya? Namun, lagi-lagi Serra tidak memiliki pilihan apa pun selain mengikuti kata-kata suaminya. “Sudah selesa nge-dramanya?” sindir Feni berkacak pinggang sambil menatap tajam ke arah menantunya yang saat ini sedang melangkah kembali ke meja makan. “Maksud Mama apa?” “Jangan terlalu berlebihan! Norak, tahu nggak? Kamu tidak tahu watak putraku. Dia bukanlah laki-laki biasa. Dia adalah laki-laki dingin dan kasar. Jangan kamu begitu sok di depanku dan putriku menunjukkan kemesraanmu dengan suamimu! Itu sungguh membuatku muak, tahu kamu?” cetus Feni sadis. “Aku tidak bermaksud begitu, Ma. Aku hanya menjalankan tugasku sebagai seorang istri, membuat suamiku nyaman dan tenteram.” “Ah, berisik! Jangan kamu pikir aku akan menyetujui pernikahan kalian, ya! Kalaupun putraku melarangku untuk tidak mengganggu kamu, tapi aku juga tidak akan membiarkan kamu senang begitu saja,” desis Feni gamblang. “Ma, aku tidak mau ribut dengan Mama karena aku harus mempersiapkan kehamilanku. Kami tidak akan menunda untuk memiliki anak karena suamiku sangat menginginkan anak dan itu juga demi Mama,” urai Serra tenang. Ia tak mau meladeni mertua jahatnya dan akan berusaha berdamai agar kehidupannya tenteram selama kontrak sewa rahimnya berlangsung. Mata Feni melotot tajam. “Diam kamu! Aku tidak menginginkan cucu dari rahimmu. Aku menginginkan cucu dari rahim seorang wanita elegan nan terhormat.” “Terserah Mama! Namun, ingat lagi apa yang dikatakan suamiku. Apa Mama tidak takut aku akan melaporkan ini pada suamiku?” Serra berusaha balas mengintimidasi mertuanya. “Oh, kamu mengancamku?” sembur Feni marah. “Aku bukan mengancam Mama. Tapi ‘kan suamiku sudah bilang agar kita bertiga rukun di rumah ini dan tidak saling mengganggu? Bahkan suamiku tidak mengizinkan aku untuk bekerja.” “Heh, jangan sebut aku Feni kalau aku tidak bisa membuat kamu bekerja banting tulang di rumah ini!” Feni mengultimatum menantunya. “Maksud Mama apa, sih, Ma?” Serra tak mengerti. “Biaya pengobatan ayahmu itu memang ditanggung oleh putraku dan aku tidak bisa ikut campur, tapi bukan berarti aku tidak memiliki relasi di rumah sakit tersebut yang bisa membuat ayah kamu kehilangan nyawanya.” Serra menggeleng pelan. “Mama bercanda ‘kan?” “Aku tidak bercanda dan berhentilah memanggilku Mama! Aku tak sudi jadi mertuamu. Detik ini juga, aku bisa membuat ayahmu meninggal kalau aku mau karena aku memiliki orang dalam di sana yang bisa membuat ayahmu meregang nyawa.” Seketika Serra merasa ketakutan. Tak bisa ia bayangkan kalau ia sampai kehilangan ayahnya. “Jangan lakukan itu, Ma!” pinta Serra memelas. “Jangan panggil aku Mama!” bentak Feni tak sudi. “Jangan lakukan itu, Tante!” ralat Serra menghiba. “Ayahku tidak bersalah. Ayah baru selesai dioperasi. Jangan bunuh ayahku!” “Maka, segera tinggalkan putraku!” desak Feni memaksa. Serra menggeleng pelan, menjerit di dalam hatinya. “Aku tidak bisa melakukan itu karena aku sudah terikat dengan putramu selama satu tahun. Aku bisa masuk penjara dan ayahku akan meninggal jika aku melanggar kontrak itu.” Feni mencibir Serra. Ia tahu pasti berat meninggalkan putra tampannya yang kaya raya. “Oke, aku tahu kamu pasti akan menolak permintaanku. Kalau begitu bersiap-siaplah menerima siksaan demi siksaan yang akan aku gencarkan untukmu! Kamu harus mengerjakan semua urusan rumah karena aku akan memberhentikan semua asisten rumah tangga yang ada di rumah ini untuk penghematan. Bukankah putraku menghabiskan uang yang banyak untuk pengobatan ayahmu dan kamu yang harus membayarnya dengan tenaga kamu?” “Suamiku tidak akan mengizinkanku melakukan itu, Tante,” ucap Serra mengingatkan. “Suamimu tidak akan pernah tahu soal ini karena sedikit saja kamu membuka mulut, aku akan memerintahkan orang yang aku kenal untuk menghabisi ayah kamu tanpa jejak. Tak akan ada yang tahu kalau ayahmu mati di tanganku,” ujar Feni menyeringai jahat, berakting sebaik-baiknya agar menantunya percaya kalau ia memiliki kekuasaan untuk mengancam nyawa ayahnya. “Tidak ... jangan lakukan itu, Tante!” Serra mengatupkan kedua tangannya, meminta belas kasih dari mertuanya. Viona yang sejak tadi tersenyum bahagia melihat sang mama mengintimidasi Serra segera mengambilkan sapu serta alat pel lalu memberikannya pada Serra sambil menyeringai puas. “Mulailah membersihkan ruangan ini terlebih dahulu. Tidak ada vacuum cleaner dan alat pembersih lainnya karena kami akan mengeksploitasi tenaga kamu secara manual.” “Ini keterlaluan! Masa aku harus membersihkan rumah sebesar ini sendirian tanpa alat modern?” protes Serra keberatan. Feni menatap tajam Serra lalu kembali mengultimatumnya. “Pilihan kamu hanya dua. Bertahan mengerjakan semua urusan rumah tangga atau pergi meninggalkan putraku! Pilih salah satu atau nikmatilah kesengsaraan kamu mulai hari ini, Menantu sialan!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN