“Apa Anda tidak ingin mengadakan resepsi, Pak?”
Farel, sekretaris Ethan sungguh mengkhawatirkan reputasi perusahaan karena sejak awal ia tidak setuju atasannya menyembunyikan Serra, apalagi menginginkan anak darinya saja. Orang-orang akan berpikiran negatif pada atasannya dan akan memfitnahnya memiliki anak di luar pernikahan alias anak haram. Bukankah itu akan memperkeruh serta memperburuk citra perusahaan?
“Apa kamu sudah gila? Aku tidak mau pernikahanku tersebar di luar sana. Aku juga awalnya nggak mau menikahi dia. Aku hanya ingin anak saja darinya,” sembur Ethan garang.
“Kita tinggal di negara Timur, Pak. Meskipun Anda memiliki darah Inggris di tubuh Anda, tetap tidak pantas seorang pemilik perusahaan besar seperti Anda memiliki anak di luar nikah.”
“Tidak usah mengguruiku!” bentak Ethan geram.
Farrel yang sudah terbiasa mendengar bentakan Ethan, tak menggubris kemarahan CEO-nya lagi. Tugasnya adalah mengingatkan agar Ethan tidak menghancurkan perusahaannya sendiri.
“Saya bukan menggurui Anda, Pak. Saya hanya memikirkan reputasi perusahaan yang sudah didirikan oleh Papa Anda yang akan hancur begitu saja ketika relasi anda mengetahui Anda memiliki anak tanpa memiliki seorang istri.”
“Aku punya istri, kok.” Ethan mendengus kesal.
“Walaupun Anda memiliki istri, tapi orang lain tidak akan tahu kalau Anda punya istri karena anda tidak mempublikasikannya, Pak.”
“Aku tidak mau mengadakan resepsi apa pun karena dalam setahun aku akan bercerai. Ngapain diumumkan kalau nikahnya juga singkat?” tolak Ethan.
“Pikirkan lagi ide saya, Pak! Kalaupun Anda tidak mau mengadakan resepsi, setidaknya Anda harus mengumumkan kalau Anda sudah memiliki istri sehingga orang tidak akan berpikiran negatif ketika tiba-tiba mereka mengetahui Anda memiliki seorang bayi.”
Ethan mencerna lagi ucapan sekretarisnya. Itu benar, perusahaan yang sudah didirikan oleh sang papa yang sekarang sudah resmi menjadi miliknya, tentu akan hancur reputasinya jika sampai orang-orang tahu ia memiliki anak tanpa seorang istri. Namun, kenapa begitu berat mengakui itu di depan umum?
“Aku belum memikirkan itu. Lagi pula aku baru menikah dua hari.”
“Saya tidak akan memaksa, tapi ada baiknya Anda mempertimbangkan apa yang saya usulkan.” Farel berusaha membuka pikiran Ethan.
“Sudah, berhentilah mengoceh!” omel Ethan. “Apa agendaku hari ini?”
“Kita akan mengadakan pertemuan dengan klien kita untuk membahas proyek terbaru karena proyek yang lama sudah selesai, Pak.”
“Oh, dengan Pak Malvin, ya?”
“Iya, Pak.”
“Ya, sudah. Kita pergi sekarang.” Ethan dan Farel meninggalkan perusahaan langsung menuju ke sebuah restoran dan akan melakukan presentasi meeting di sana.
Dalam perjalanan menuju ke restoran, tak henti-hentinya Ethan memikirkan sang istri. Apa yang akan terjadi padanya di rumahnya? Apa dia akan disiksa oleh mama dan juga adiknya? Tapi itu tidak mungkin terjadi karena jika ia sedikit saja menemukan luka di tubuh istrinya, maka ia akan memberikan hukuman yang berat pada mama dan adiknya.
Namun, entah kenapa keinginan untuk berada dekat dengan istrinya tidak bisa Ethan bendung. Ini baru jam 09.00 pagi, tapi rasanya ia ingin segera pulang, ingin bermain panas kembali dengan istrinya. Ini benar-benar gila.
“Kenapa aku terus-terusan memikirkannya, ya? Kenapa aku terus ingin bermain dengannya? Apa aku sudah jadi maniak wanita?” Ethan bertanya-tanya dalam hati.
Itu karena sebelumnya ia tidak pernah mengalami hal ini. Ia juga tidak setiap malam pergi ke klub. Pria matang itu hanya akan pergi ke sana saat teringat akan mantan kekasihnya yang bernama Sarah.
“Aku harus fokus bekerja. Kenapa aku jadi gila? Kenapa aku jadi m***m dan ingin melakukan hubungan suami istri terus menerus dengannya? Aku tidak boleh seperti ini terus. Ini akan mengacaukan semua bisnisku.”
Ethan berusaha keras mengembalikan kewarasannya, tapi percuma. Bayangan-bayangan ketika ia mencumbu sang istri dan merasakan kenikmatan luar biasa dari tubuhnya, terus saja terputar di benaknya hingga tak sadar dirinya sudah sampai di restoran.
“Anda baik-baik saja ‘kan, Pak? Kenapa Anda terlihat begitu gelisah?” tanya Farel curiga sesampainya di dalam restoran.
Ethan menatap tajam sekretarisnya lalu duduk di depan meja yang telah direservasi. “Urus aja urusanmu! Persiapkan saja presentasi kita! Jangan bawel!”
Ethan berusaha menutupi kegundahannya alias kegilaannya. Bisa-bisanya ia berpikir ingin pulang sekarang juga dan bermain panas kembali dengan sang istri. Gila! Ini benar-benar gila. Sedang sibuk mengomeli dirinya sendiri di dalam hati, tiba-tiba Ethan dikejutkan oleh seseorang yang menepuk bahunya dan ketika ia menoleh ternyata sahabat nongkrongnya yang bernama Steve sedang tersenyum padanya.
“Lo di sini?” sapa Steve riang.
“Lo yang ngapain di sini?” balas Ethan balik bertanya.
“Eh, gue kerja juga,” sahut Steve sewot lalu menarik kursi di samping Ethan.
“Bukannya kerjaan lo di klub?”
“Klub ‘kan bukanya malam? Jadi bartender, bukan berarti nggak boleh kerja yang lain siangnya, kan?” dengus Steve sebal.
“Serah lo. Gue ada meeting penting sebentar lagi. Mending lo cabut, deh!” usir Ethan malas meladeni Steve.
“Bentaran doang, kok. Gue cuma mau nanya, kenapa nggak ke klub semalam?”
“Emang gue datang tiap malam selama ini?” Ethan balik bertanya.
Steve mengerucutkan bibirnya. Ini kekurangan Ethan. Dia selalu saja dingin dan kasar. Orang bertanya, dia malah balas bertanya, membuat Steve sebal.
“Jawab aja dulu pertanyaan gue, malah balik nanya!”
“Gue nggak akan ke klub lagi untuk sementara waktu.” Ethan menegaskan.
Steve terkekeh. “Kenapa? Lo udah tobat, ya?”
“Tobat, tobat ... tobat apaan? Emang gue orang jahat apa?”
Steve tergelak renyah. “Lo emang nggak jahat, tapi lo ‘kan sedikit nakal? Buktinya lo sering maen ama wanita klub.”
“Itu urusan gue, bukan urusan lo,” sembur Ethan kesal.
Entah kenapa ia tak mau dijuluki pria nakal karena pada dasarnya ia adalah laki-laki baik sebelum dikhianati oleh Sarah. Ia juga tak pernah merusak anak orang dan juga tak pernah pacaran dan main hati pada wanita mana pun karena sakit hatinya pada Sarah masih tersisa. Ia hanya melampiaskan kesedihannya dengan meniduri wanita malam, sehingga ia tak rela dicap sebagai laki-laki nakal.
“Padahal semalam ada barang baru, lho,” goda Steve, membujuk Ethan agar mau ke klub malam ini.
“Gue nggak minat. Gue udah punya mainan sendiri,” seloroh Ethan spontan.
“Mainan?” Mata Steve berbinar-binar. “Wah, pasti mainan lo cantik, makanya lo nggak tertarik lagi untuk ke klub malam.”
Ethan tak sadar menyunggingkan senyumnya. “Dia sangat cantik, muda, berseri dan membuatku begitu candu.”
“Wow, lo punya sugar baby, ya? Bagi-bagi, dong!” seru Steve semangat.
Ethan memukul kepala Steve yang berusia 10 tahun jauh lebih muda darinya. “Sembarangan! Gue nggak mau bagi-bagi.”
“Gue semakin yakin kalau mainan lo itu cantik jelita dan bisa benar-benar membuat lo mabuk kepayang. Bagi nomor teleponnya, boleh nggak? Setelah selesai sama lo, gue mau sewa dia juga,” ujar Steve nakal.
Ethan benar-benar geram mendengar kata-kata dari Steve. Dalam hati kecilnya ia tidak rela berbagi wanita yang memberikannya kenikmatan yang luar biasa.
“Dia nggak punya nomor telepon.”
Steve tertawa terpingkal-pingkal. “Hari gini nggak punya ponsel? Lo jangan bercanda! Kalau pelit, ya, bilang aja!” ledeknya.
“Gue serius?” Ethan kesal diledek bocah ingusan kurang ajar di sampingnya.
“Lo mungut dia di mana? Masa nggak punya ponsel? Lagian lo ‘kan kaya? Masa lo nggak kepikiran beliin dia ponsel?”
Ethan tertengun lalu membatin dalam hati. “Iya juga, ya? Aku seharusnya memberikan dia ponsel. Jadi, sewaktu-waktu aku bisa menghubunginya jika aku ingin pulang untuk bermain. Astaga! Bahkan aku kepikiran ingin pulang dan bermain panas dengannya lalu kembali lagi ke kantor. Aku benar-benar sudah gila!”
“Kenapa lo geleng-geleng? Lo kangen sama sugar baby lo?” ledek Steve lagi.
Ethan tak mau keanehannya ditangkap oleh sekretarisnya. Ia buru-buru mengusir Steve dari mejanya. “Berisik! Mendingan lo cabut dari sini! Sebentar lagi klien gue bakal datang.”
Steve mencebikkan bibirnya. “Gue belum mau pergi, apalagi lo bilang lo nggak mau ke klub malam lagi. Gue bener-bener penasaran sama wanita yang bikin lo nggak mau clubbing lagi. Gue nggak akan pergi sebelum lo kasih nomor teleponnya ke gue.”
“Udah gue bilang dia nggak punya ponsel,” sembur Ethan emosi.
“Oke, nanti pas lo beliin dia ponsel, kasih nomornya ke gue, ya! Gue yakin pilihan lo itu pasti bagus. Gue juga mau jadiin dia sugar baby gue,” ucap Steve gamblang.
Rasanya ingin memukul kepala sahabatnya ini sekali lagi, tapi Ethan tidak mau menimbulkan kecurigaan dari sekretarisnya yang sejak tadi menatapnya dengan sorot heran. Sekretarisnya adalah sosok yang cerdas. Sedikit saja gerak-geriknya lain dari biasanya, pasti diketahui olehnya dan herannya Farel tahu apa yang terjadi padanya.
Sekretarisnya bukan cenayang, tapi karena sekretarisnya sudah mendampinginya sekian lama, dia tahu apa yang terjadi padanya. Ethan tidak mau sekretarisnya mengetahui kalau dirinya sedang tergila-gila bermain nakal dengan istrinya.
“Kalau pun gue beliin dia ponsel, gue nggak bakalan kasih nomornya ke elo. Masih banyak sugar baby lain yang bisa lo sewa di luar sana. Gue nggak akan bakal kasih mainan gue ke elo. Sekarang pergilah, sebelum gue pukul lagi kepala lo!”