Kegilaan Om Ethan

1348 Kata
Ethan tak habis pikir dengan yang ia lakukan di mana ia menuruti kata-kata temannya untuk membelikan istrinya sebuah ponsel dengan harga puluhan juta. Ponsel tersebut sudah ada di sampingnya saat ini dan sebentar lagi akan ia serahkan pada istrinya. Ia tidak sayang membuang uang sebanyak itu untuk wanita yang memberikannya kenikmatan, kepuasan, serta ketenangan batin. Ponsel itu bisa ia gunakan untuk memantau apa saja kegiatan istrinya di rumah juga untuk mengetahui apakah mama dan adiknya menganiayanya atau tidak. Selain itu ia juga ingin mendengar kabar dari istrinya, ingin mengetahui apa saja yang dia lakukan di rumah saat ia sedang bekerja. “Kenapa aku jadi begini? Kenapa aku jadi terlalu perhatian padanya? Bukannya nanti dia akan besar kepala kalau aku belikan dia hadiah semahal ini?” batin Ethan terus memandangi paperbag berisi ponsel yang ada di sampingnya. “Ada yang mengganggu pikiran Anda, Pak?” Farel tidak bisa tidak bertanya saat melihat atasannya terus menoleh ke arah paperbag berisi kotak ponsel keluaran terbaru berlambangkan sebuah apel yang sudah digigit untuk dihadiahkan pada sang istri. Keinginannya yang besar adalah ingin mengetahui apakah Ethan sudah memiliki perasaan pada istrinya atau belum, tapi ia tidak berani menanyakannya dengan gamblang. Bisa-bisa atasannya akan marah padanya ataupun menyangkal semua yang ia rasakan sehingga Farel menahan serta memendam kecurigaannya. “Tidak usah kepo! Fokus saja menyetir! Aku tidak mau terjadi kecelakaan.” “Baik, Pak. Saya hanya heran Anda selalu menatap ke arah ponsel yang Anda beli. Apa Anda menyesal membelikan ponsel itu untuk istri Anda?” tanya Farel lagi. Mata Ethan melotot. “Tidak usah ikut campur. Kamu mau kupecat?” “Saya hanya ingin tahu, Pak.” “Keingintahuanmu itu bisa membuat kamu kehilangan posisimu sebagai sekretaris di perusahaanku. Lebih baik kamu diam,” omel Ethan tegas. Farel tidak ingin melanjutkan pertanyaannya lagi karena yang terjadi saat ini tidak mencelakakan atau mengancam perusahaan sehingga Farel tidak mau ambil pusing. Jika atasannya melakukan kesalahan ataupun melakukan hal yang melenceng yang akan membahayakan perusahaan, tentu sebagai sekretaris, ia akan menegur atasannya. Karena ini hanya masalah sepele, Farel tidak ingin memperpanjangnya. Ia kembali fokus menyetir dengan tenang sambil terus memperhatikan atasannya sambil menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan olehnya. Ethan kembali menatap paperbag di sampingnya sambil bermonolog dalam hati. “Ponsel itu sudah kubeli. Aku tidak seharusnya menyesalinya. Malah ini bisa aku jadikan sebuah alat untuk meminta istriku lebih baik lagi melayaniku. Aku harus melakukan itu agar istriku mulai belajar menerima semua perlakuanku." Karena ia tidak ingin melihat sorot keterpaksaan lagi di mata sang istri. Biar bagaimanapun juga dirinya adalah seorang penyelamat yang menyelamatkan jiwa sang ayah. Sudah sepatutnya Serra menyenangkan hatinya karena kalau bukan dirinya yang memberi pertolongan, tentu ayah Serra sudah meninggalkan dunia ini sejak beberapa hari lalu. Tak lama kemudian Ethan pun sampai di kediamannya. Tanpa banyak suara, ia segera meraih paperbag di sampingnya, kemudian masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh mama dan adiknya. “Tumben pulangnya cepat?” tanya Feni menahan gugup. “Aku tidak ada urusan lagi di kantor. Setelah meeting aku langsung pulang. Ini juga tidak terlalu cepat. Ini baru setengah lima, Ma,” terang Ethan heran ditanyai demikian. Feni dan Viona berusaha menutupi kegugupan mereka berdua. Untung saja mereka segera berhenti menyuruh Serra untuk bekerja tepat pukul 4.00 tadi sore. Kalau tidak, Ethan pasti mengetahui dan melihat istrinya sedang membersihkan seluruh rumah hari ini dan itu akan membahayakan rekening mereka. Tiba-tiba Viona tak sengaja menatap ke arah paperbag yang ada di tangan kakaknya lalu iseng bertanya. “Itu apa, Kak?” “Ini ponsel!” sahut Ethan cepat. “Untukku, ya, Kak?” seru Viona riang lalu merampas paperbag dari tangan kakaknya. Ethan buru-buru merebutnya dari tangan adiknya sambil mengomel kesal. “Ini untuk istriku, bukan untukmu. Kamu ‘kan bisa beli sendiri?” Viona seketika cemberut, merasa iri pada kakak iparnya. “Kakak enggak pernah menghadiahku ponsel? Kakak enggak pernah memberikan hadiah apa pun untukku. Kenapa Kakak memberikan hadiah pada istri Kakak?” “Sebelum kamu ngomong kayak gitu, mikir dulu! Gunakan otak kamu! Makanya selesaikan kuliahmu, jangan cuma bisa bersenang-senang saja!” seru Ethan kasar. “Aku sebentar lagi selesai, Kak. Tinggal skripsi doang.” “Buruan selesaikan dan bekerja di perusahaan! Gunakan Ijazah kamu sebaik-baiknya, jangan cuma jadi anak manja!” omel Ethan lagi. “Lho, kok, jadi melebar ke mana-mana? Aku ‘kan hanya nanya soal ponsel? Kenapa Kakak tidak pernah menghadiahiku ponsel dan hadiah lainnya? Kakak baru menikah dengannya dua hari, tapi Kakak sudah memberikan hadiah mahal itu untuknya. Itu ponsel keluaran terbaru, kan?” protes Viona iri. “Ini memang ponsel keluaran terbaru. Apa salah kalau aku memberikan ponsel untuk istriku sendiri? Ini yang aku bilang tadi. Mikir dulu sebelum kamu protes! Uang bulanan kamu itu berapa? Itu bisa membeli 10 ponsel ini. Jadi, untuk apa lagi aku memberikan kamu hadiah?” Ethan menegaskan. “Kakak memang benar-benar enggak pengertian. Kebahagiaan seorang adik adalah ketika sang kakak membelikan hadiah untuknya dan Kakak tidak pernah melakukan itu untukku.” “Dahlah, aku capek dan tidak mau berdebat! Kalau pengen beli ponsel baru, gunakan uang yang selalu kukirim setiap bulan. Jangan banyak protes!” Ethan pun segera meninggalkan sang mama dan sang adik yang cemberut kesal. “Tuh ‘kan, Ma? Kakak benar-benar sudah berubah. Baru dua hari menikah, Kakak sudah beliin ponsel puluhan juta buat istrinya,” rutuk Viona kesal. “Memang kakak kamu keterlaluan. Kita harus membuat istrinya bekerja keras di rumah ini agar kelelahan, bahkan menyerah. Mulai besok Mama tidak akan memberikannya makan siang. Dia akan bekerja seharian sampai jam 4.00 sore. Mama rasa satu minggu saja dia pasti akan menyerah.” “Aku setuju, Ma. Secepatnya kita harus mengusir wanita itu dari rumah ini. Kalau tidak, bukan tidak mungkin besok atau lusa, Kakak akan membelikannya sebuah mobil. Aku tidak terima uang perusahaan papa difoya-foyakan untuk wanita itu, Ma,” ujar Viona tak rela. “Apalagi Mama. Mama juga enggak rela uang perusahaan dihabiskan untuk wanita itu. Sudah cukup ayahnya dibiayai ratusan juta oleh kakak kamu. Masa harus diberikan kemewahan juga? Mama akan terus menyengsarakannya di rumah ini. Lihat saja, minggu depan dia pasti akan pergi dari sini!” Feni yakin ia bisa menyingkirkan menantunya dalam waktu satu minggu. Sementara Ethan yang sudah berada di dalam kamar langsung mencari keberadaan sang istri, tapi tidak menemukannya. “Ke mana dia? Apa dia di kamar mandi?” gumam Ethan tak sabar ingin memberikan ponsel untuk istrinya, berharap istri cantiknya itu akan mulai melayaninya dengan baik malam ini. Ethan terus mencari sang istri dan sebelum ia sempat melangkahkan kakinya ke depan pintu kamar mandi, sang istri pun sudah keluar dari sana hanya berbalut bathrobe saja, membuat hati Ethan berdebar-debar. Sang istri tampak begitu segar, cantik berseri, membuatnya tergila-gila. Hasrat yang sudah ia pendam seharian langsung bangkit saat melihat tubuh segar, rambut setengah basah, serta paha mulus yang menyembul dari bathrobe yang cukup pendek tersebut, membuatnya tanpa aba-aba segera mendorong istrinya ke tempat tidur. “Om, sudah pulang? Aku baru saja mandi, Om.” “Kenapa memangnya kalau sudah mandi?” tanya Ethan tak sabar mereguk madu di tubuh istrinya. Kegilaannya tak bisa dibendung lagi. Betapa rindunya Ethan pada istrinya, ingin segera bermain panas dengannya. Serra tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Tidak mungkin ia mengatakan pada suaminya kalau ia sudah benar-benar lelah menyapu, mengepel, serta mengelap kaca di rumah besar itu seharian penuh. Itu pasti akan membuat keluarga suaminya pecah dan ayahnya akan meregang nyawa karena ancaman mama mertuanya tidak main-main. Ethan tak sanggup lagi menunggu jawaban istrinya. Ia segera meraup bibir sang istri, melumatnya dengan buas lalu tanpa aba-aba segera menarik jubah mandi sang istri, melemparnya sembarangan, kemudian melampiaskan semua hasrat yang ia pendam hingga tuntas. Serra tidak bisa berkata-kata. Tubuhnya sudah benar-benar letih, kini bertambah lelah karena ulah suaminya. Sia-sia saja ia mandi kalau harus kembali ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan ia juga harus bersiap menerima serangan sang suami kurang lebih 4 kali lagi setelah makan malam nanti. Serra mulai menyeret langkahnya kembali ke kamar mandi, meninggalkan suaminya yang sedang terpejam, terlihat puas menikmati tubuhnya lalu membatin frustrasi. “Tuhan! Apakah kira-kira aku sanggup bertahan kalau begini terus setiap malam?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN