Merayu Om Ethan

1633 Kata
“Aku benar-benar sudah jadi maniak wanita sekarang. Bisa-bisanya aku menginginkannya lagi. Ini tidak benar. Pelet apa yang ia gunakan sehingga aku begitu candu pada tubuhnya.” Ethan menepis semua pikiran-pikiran nakalnya saat menanti istrinya selesai mandi sambil bertanya dalam hati. Kenapa Serra begitu lama di kamar mandi? Sudah satu jam ia menunggu, tapi istrinya belum juga keluar dari sana. Sempat terbesit rasa takut kalau istrinya melakukan hal buruk di kamar mandi karena selalu tertekan sehingga membuatnya segera beranjak dari tempat tidur, berniat mendobrak pintu kamar mandi. Namun, belum sempat Ethan melakukan itu, Serra membuka pintu kamar mandi. Dengan bathrobe putihnya, wanita cantik itu melangkah keluar dan seketika hasratnya kembali berkobar. Baru satu jam lalu ia merengkuh nikmatnya surga dunia di tubuh sang istri, kini rasa itu kembali datang. Ethan menggeleng pelan, menekan perasaannya sambil mengomeli dirinya sendiri dalam hati, mencegahnya melakukan kegilaan yang lebih dari ini. Sudah cukup empat kali dalam satu malam, bahkan jadi lima kali karena putaran pertamanya sudah ia lakukan satu jam yang lalu. Tidak mungkin ia memintanya sekarang, sedangkan sebentar lagi waktunya makan malam. Ethan pun segera menepis jauh-jauh pikiran liarnya lalu fokus pada apa yang akan ia sampaikan terkait ponsel yang ia beli untuk istrinya tersebut. “Lama banget kamu di kamar mandi?” Rasanya Serra ingin menjawab kalau semua perlakuan suaminya tadilah yang membuatnya harus menghabiskan banyak waktu di kamar mandi. Setiap kali ia melakukan hubungan suami istri dengan om Ethan, ia merasakan tubuhnya begitu kotor sehingga ia butuh waktu untuk membersihkan sekujur tubuhnya, juga menguatkan mental dan batinnya untuk menerima perlakuan yang sama dalam beberapa jam ke depan. Rasanya ingin menjerit mengatakan pada om tampan itu kalau ia butuh me-time di kamar mandi untuk mengumpulkan kekuatan mentalnya agar bisa kembali menghadapi kegilaan suaminya di atas ranjang. “Aku ke toilet dulu, baru ke kamar mandi tadi. Perutku nggak enak, Om.” “Apa kamu sakit?” ujar Ethan buru-buru mendekati sang istri. Entah kenapa ada perasaan cemas di hatinya mendengar kata-kata istrinya soal sakit perut tadi. Pria matang itu segera membawa sang istri duduk di tepian ranjang untuk memeriksa kondisinya, sementara Serra benar-benar ketakutan. Ia ngeri suaminya akan melakukannya lagi dengannya. “Aku nggak apa-apa. Jangan khawatirkan aku!” seru Serra cepat, ingin segera kabur ke kamar ganti. “Aku bukan mengkhawatirkan kamu. Aku mengkhawatirkan rahim kamu. Kan, aku sudah menyewanya setahun ke depan?” Ethan menutupi perhatiannya. Ia gengsi dan tak ingin dianggap terlalu perhatian pada sang istri. Lagi-lagi hati Serra benar-benar sakit mendengar ucapan yang dilontarkan oleh om Ethan. Ia tahu dirinya adalah sebuah alat, tapi tidak harus dipertegas setiap waktu, kan? Setiap kali suaminya mengatakan itu, hati Serra selalu teriris-iris, merasa tidak berharga dan tidak berarti juga merasa hina. Sebegitu murahkah serta hinakah tubuhnya di mata laki-laki itu? “Aku baik-baik saja, Om. Aku hanya sakit perut saja. Sudah biasa begini, kok. Kalau begitu aku permisi dulu. Aku mau ke ruang ganti. Sebentar kita akan keluar untuk makan malam.” Serra langsung beranjak ingin ke ruang ganti, tapi tangannya tiba-tiba dicekal suaminya. “Tunggu! Aku belum memintamu pergi. Jangan asal meninggalkanku!” tegas Ethan kesal lalu menarik tangan Serra agar tidak beranjak dari tempat tidur. “Ada apa, Om?” tanya Serra, berharap suaminya tidak melakukan hal gila lagi. Ini waktunya jam makan malam. Ia juga butuh istirahat. Serra butuh jeda waktu. Sungguh ia benar-benar merasa sebagai alat pemuas. Hidupnya benar-benar hancur. Rasanya ingin menjerit saat ini juga, tapi ia tahu tidak bisa melakukan itu. Ayahnya satu-satunya alasan yang membuatnya harus kuat bertahan menjalani ini. Ethan meraih paperbag di atas nakas lalu memberikannya pada Serra. “Ambil ini!” Dengan tatapan bingung, Serra menanyakan apa yang ada di dalam paperbag tersebut. “Ini apa, Om?” “Kamu nggak punya ponsel, kan?” Ethan balik bertanya. Serra mengangguk. “Enggak, Om. Aku sudah menjualnya untuk biaya membawa ayah ke rumah sakit.” “Kalau begitu ambil ponsel ini untukmu!” ucap Ethan dingin. Mata Serra membulat. “Ini serius untukku, Om?” “Bukalah!” pinta Ethan tegas, membuat Sera segera membuka paperbag itu dan menemukan ponsel keluaran terbaru yang membuatnya tercengang. Ponsel itu seharga satu buah motor. Bagaimana mungkin suaminya memberikan ini begitu saja padanya? Apa yang terjadi di sini? “Ini beneran untukku?” Serra mengonfirmasi sekali lagi. “Kamu tahu harga ponsel ini?” “Aku tahu. Aku pernah melihatnya di internet sebelum aku menjual ponselku.” Serra menuturkan. “Karena itu gunakan sebaik-baiknya. Kamu sudah tahu harganya mahal, maka kamu harus membalas kebaikanku.” Serra tercengang lalu membatin dalam hati. “Ternyata tepat dugaanku. Dia memberikan kemewahan, berharap aku memberikannya kesenangan. Apa lagi yang dia minta dariku? Bukankah aku siap sedia selalu melayaninya.” “Kamu tahu maksudku, kan?” ulang Ethan mengonfirmasi. “Aku akan berusaha, Om. Tapi Om tidak bisa memaksaku karena aku bukanlah wanita malam yang biasa melayani laki-laki. Aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri. Aku juga masih muda dan belum berpengalaman sama sekali untuk urusan itu. Jadi, kalau Om minta yang aneh-aneh dariku, aku tidak yakin aku bisa,” tutur Serra menyuarakan keberatannya. Entah kenapa mendengar kata-kata istrinya tadi membuat hati Ethan trenyuh. Bisa-bisanya ia meminta layanan memuaskan dari sang istri, padahal tanpa melayaninya, tanpa memberikan servis seperti wanita jalang yang ada di klub malam saja, ia sudah merasakan kepuasan yang begitu besar dari istrinya. Istrinya berdiam diri dan memejamkan mata saja, sudah bisa membuat batinnya puas dan merasakan kenikmatan luar biasa. Kenapa ia malah menginginkan servis nakal dari sang istri? Dirinya benar-benar sudah tidak waras. “Aku tidak memaksamu untuk menjadi liar dan sama seperti wanita jalang, walaupun sebenarnya aku ada keinginan ke arah sana.” “Itu yang aku tidak bisa, Om. Maafkan aku! Aku sungguh tidak bisa,” ucap Serra menggelengkan kepalanya. “Oke, aku tidak meminta hal aneh-aneh itu darimu, tapi bisakah kamu menikmati semua permainanku? Jangan terlihat seperti tersiksa karenanya!” pinta Ethan gamblang. Serra menjerit dalam hati. “Bagaimana mungkin aku menikmatinya, Om? Om tahu persis kalau aku tersiksa melakukan itu, tapi aku harus tetap bertahan dan tidak boleh menunjukkan kesedihanku di depan Om ketika melakukannya karena aku takut Om akan menghentikan aliran dana untuk pengobatan ayahku. Bagaimana aku mengatakan ini pada Om?” Serra sungguh menahan beban dan kesedihan di hatinya. “Aku tidak tersiksa, Om. Aku sudah belajar menerima kenyataan kalau ini harus aku lakukan demi ayahku. Hanya saja aku tidak bisa melakukan apa yang Om minta, seperti menunjukkan keliaran serta kebinalan seorang wanita malam yang aku tidak pernah lakukan sebelumnya. Sekali lagi maaf, Om. Kemungkinan aku tidak akan pernah bisa?” Ethan tercekat, tak bisa membantah kata-kata istrinya. Kenapa juga ia meminta hal aneh-aneh pada bocah ingusan yang baru mengerti dunia dewasa? Cukuplah baginya menikmati tubuh indah dan nikmat setiap malam. Tanpa melakukan usaha apa pun saja, faktanya ia tetap bisa merasakan kenikmatan yang luar biasa. Ethan akhirnya memutuskan untuk berhenti memaksa Serra. Ia hanya akan meminta istrinya belajar ikhlas menerimanya. Bukankah ia dan istrinya akan melakukan hubungan suami istri berulang-ulang hingga Serra mengandung dan melahirkan nanti? Itu prosesnya cukup lama. Ia sungguh tidak ingin istrinya merasa tersiksa dan ia tidak ingin menjadi seorang laki-laki pemaksa. “Baiklah aku tidak akan menuntut itu lagi. Yang aku ingin kamu lakukan adalah ikhlas terima aku apa adanya dan layani aku sebaik-baiknya! Aku rasa itu tidak begitu sulit bagimu, kan?” Dengan berat hati Serra menganggukkan kepalanya. “Saya akan melakukan yang terbaik sampai perjanjian kita selesai, Om.” “Oke, ponsel itu pergunakan sebaik-baiknya! Suatu waktu aku akan menghubungi kamu, memantau keadaan kamu dan jangan heran juga kalau aku akan pulang sewaktu-waktu.” Ethan menegaskan keinginan nakalnya. “Maksud Om?” tanya Serra tak habis pikir. Jangan katakan om tampan ini akan mengajaknya bermain di siang hari bolong juga? Itu gila namanya. “Aku ini laki-laki dewasa. Terkadang di saat aku pusing dan penat, aku butuh seseorang untuk melampiaskan semua stresku. Selama ini aku selalu menyalurkannya ke wanita jalang dan kini aku sudah memiliki istri. Aku tidak akan mungkin membiarkannya begitu saja. Aku akan memanfaatkan status istri yang melekat padamu untuk kepuasanku untuk membantuku menghilangkan penatku sehingga aku bisa menjalankan perusahaan dengan baik,” urai Ethan blak-blakan sambil menahan rasa malu di hatinya. Karena ia tak pernah segila ini sebelumnya. Tidur dengan wanita malam pun bukan setiap malam. Karena itulah Ethan jadi heran, kenapa sekarang ia jadi super nakal. Otaknya dipenuhi wajah dan tubuh istrinya. Bahkan, ia tak konsen bekerja karena terus-terusan memikirkan istrinya. Serra menahan getir di dalam hatinya. Namun, ia tidak mau dikekang oleh keadaan. Ia tidak mau terus-terusan jadi korban di sini. Karena ia sudah terlanjur menjadi kupu-kupu malam yang halal untuk suaminya, maka ia juga akan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya. Serra akan meminta dan mengemis agar diperbolehkan menemui ayahnya agar bisa terhindar dari pekerjaan rumah yang dibebankan mama mertua dan adik iparnya. Dengan nekat Serra memberanikan memegang tangan suaminya lalu menatapnya lembut, berusaha merayu suaminya agat membiarkannya keluar setiap hari menemui ayahnya, terutama sebelum ia hamil. “Om ...” panggil Serra pelan. Suara lembut Serra merasuk ke dalam sukma Ethan, membuatnya berdebar-debar dan semakin mabuk kepayang. “Aku akan melakukan yang Om minta tadi. Aku juga akan belajar menjadi seorang istri yang bisa melayani suami dengan baik. Aku akan belajar ikhlas menerima, tapi aku juga ingin meminta sesuatu sebagai seorang istri. Boleh nggak, Om?” Ethan terbuai kata-kata manis yang diucapkan oleh istrinya hingga tanpa sadar ia mengangguk. “Apa yang ingin kamu minta dariku?” “Aku tidak akan minta hal lain selain menjenguk ayahku setiap hari sebelum aku hamil. Bagaimana aku bisa melayani Om, bagaimana aku bisa tersenyum bahagia ketika Om menyentuhku, kalau nyatanya pikiranku nyalang dan selalu memikirkan ayahku. Please, Om! Berikan aku kesempatan untuk menemui ayahku! Aku hanya butuh satu hingga dua jam saja setiap hari, setelah itu aku akan pulang. Tolong kabulkan keinginanku, Om! Aku mohon!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN