Hati berdebar, degup jantung yang meningkat, itu yang dirasakan oleh Ethan saat ini kala istrinya memegang tangannya, menatapnya dengan lembut, menghiba, merayunya, membujuk agar ia mau mengabulkan permintaannya. Sebuah permintaan yang tidak sulit sebenarnya, tapi entah kenapa sejak awal ia ingin menguasai Serra, tidak ingin pernikahannya tersebar di depan umum karena itu ia tidak mengizinkan Serra pergi ke mana-mana agar tidak mengumbar statusnya.
Namun, tatapan mata yang begitu lembut dan memelas yang saat ini berada tepat di depan wajahnya, sungguh membuatnya tidak berkutik. Kenapa ia jadi sosok laki-laki kejam yang memisahkan seorang ayah dengan putrinya? Padahal yang perlu ia lakukan hanyalah membungkam mulut Serra agar tidak mengatakan pada siapa pun juga kalau dia adalah istrinya. Hanya itu yang perlu dilakukannya. Kenapa ia membuatnya jadi rumit? Dan kalau semua itu bisa membuat istrinya jadi jauh lebih baik padanya, memperlakukannya dengan ikhlas selama masa kontrak 1 tahun ke depan, apa salahnya, kan?
“Apa kamu yakin bisa menjaga rahasia? Jujur saja, aku belum siap orang-orang mengetahui kalau aku punya istri karena sejak awal aku hanya menginginkan anak, bukan seorang istri,” tegas Ethan lantang.
Serra lagi-lagi harus menahan sakit hatinya atas pernyataan selalu diucapkan oleh suaminya. Ia juga bukannya mau menjadi istri sesungguhnya. Ia hanya butuh uang biaya operasi. Bahkan Serra ingin setahun ke depan berjalan dengan cepat sehingga ia bisa segera pergi dari kehidupan laki-laki yang menurutnya cukup kejam hatinya karena bisa memanfaatkan situasi, menyentuhnya berkali-kali dalam masa pernikahan kontrak berlangsung.
Bukan soal rahim saja, tapi ini soal pelayanan ranjang bersembunyi di balik status istri kontraknya yang membuatnya terikat di mana ia berkewajiban untuk melayani sang suami sampai hamil dan melahirkan. Tidak pernah Serra pikirkan kalau ia akan menjadi seperti ini. Ia terlalu cepat masuk ke dunia dewasa, tapi semua itu sebanding dengan nyawa ayahnya. Sang ayah bisa bertahan dan selamat karena pengorbanannya.
“Aku tidak akan mungkin menceritakan pada siapa pun kalau aku sudah menikah, Om. Aku hanya ingin menemui ayah. Beliau juga pasti akan mencariku dan akan bersedih karena aku tidak hadir di sisinya. Bukankah itu juga akan membuat ayahku terhambat pemulihannya jika dia selalu memikirkanku?”
Ethan menimbang lagi dan akhirnya memutuskan mengizinkan Serra menemui ayahnya.
“Baiklah, kamu boleh menemui ayah kamu sepuasmu sampai kamu hamil.”
“Bolehkah aku menjenguk ayah setiap sampai kehamilanku tidak bisa ditutupi lagi?” Serra mengajukan penawaran.
“Maksud kamu?” Ethan menatap istrinya dengan tatapan bingung.
“Bukankah kehamilan 1 hingga 3 bulan tidak akan begitu terlihat. Aku bisa memakai pakaian besar agar ayahku tidak tahu, Om.”
Ethan spontan menggeleng. “Itu beresiko.”
“Enggak, Om. Aku hanya ingin memuaskan diri untuk bersama dengan ayah sebelum akhirnya mengurus kehamilanku hingga proses melahirkan nanti. Waktunya akan cukup panjang di mana aku harus menghilang dari hadapan ayah selama berbulan-bulan. Anggap saja aku menabung untuk menguatkan batinku terpisah dari ayah cukup lama! Aku mohon, Om. Kabulkan permohonanku!”
Lagi-lagi mata Serra membiusnya, membuat Ethan tanpa sadar sudah mengangguk, menyetujui permintaan istrinya.
“Ya, udah, sebentar saja! Tidak boleh lama-lama. Sebelum jam makan siang kamu sudah harus berada di rumah.”
Serra tak dapat menyembunyikan kegembiraannya. Senyumnya mengembang, membuat Ethan terpana.
“Makasih, Om.” Serra segera melepaskan tangan suaminya lalu berpikir lagi bagaimana caranya ia bisa ke rumah sakit kalau tidak memiliki uang sama sekali.
“Oh, ya, Om! Bolehkah aku meminta biaya transport untuk menemui ayah? Seperti yang Om ketahui, aku tidak memiliki sepeser pun uang sama sekali, Om.”
Ethan lalu mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompetnya. Sudah sepantasnya ia membuat istrinya senang, membiarkannya membeli apa pun yang ia mau dengan kartu itu. Siapa tahu istrinya akan dengan senang hati melayaninya dan membuatnya bahagia selama setahun ke depan.
Bukankah jika istrinya bahagia, dia akan melayaninya dengan baik juga? Win-win solution, kan?
“Pakai saja kartu ini!” Ethan menyodorkan black card pada Serra.
“Ada uang cash aja nggak, Om?” ujar Serra menyambut kartu berwarna hitam itu dengan ragu-ragu.
Ethan mendengus sebal. “Sejak kapan aku megang duit cash? Pakai saja kartu itu! Itu bisa digunakan di mana pun. Untuk urusan antar jemput aku akan menyuruh sekretarisku melakukannya.”
“Itu akan sangat merepotkan sekretaris Om. Bukannya dia harus menemani Om ke mana-mana?” Serra sedikit keberatan diantar jemput.
“Itu urusanku. Kamu tidak usah pusing.”
Serra dengan polosnya segera mengembalikan kartu hitam itu pada suaminya.
“Kenapa dikembalikan?” tanya Ethan heran.
“Kartunya nggak berguna lagi, Om. Kan, aku akan diantar oleh sekretaris Om?” sahut Serra menerangkan.
“Ini bisa kamu gunakan untuk kesenangan kamu,” jelas Ethan.
“Aku tidak suka bersenang-senang, Om. Aku hanya perlu melihat ayah.”
Ethan lama-lama kesal. Apa istrinya tak butuh uang? “Kamu harus memiliki pegangan uang, Serra. Bukannya kamu harus membesuk ayahmu setiap hari dan itu membutuhkan biaya? Setidaknya kamu bisa membeli makanan atau buah-buahan untuknya. Belanjakan juga untuk keperluanmu! Gunakan sebaik-baiknya karena aku hanya akan meminjami kartu itu setahun ke depan. Setelah bercerai, aku akan ambil kartu itu kembali.”
Serra berpikir sejenak. Ada baiknya ia ambil kartu itu dan mempergunakannya sebaik-baiknya. Seperti yang suaminya katakan, ia tidak akan bisa memakai kartu itu sepuasnya lagi setelah mereka bercerai.
“Baiklah aku terima kartunya, Om. Satu lagi, Om.”
“Apa lagi?” Ethan mulai merasa kesal. Apa lagi yang ingin diminta istrinya?
“Tolong katakan pada mama dan juga adik ipar soal rutinitasku menjenguk ayah setiap hari nanti!”
“Kenapa kamu nggak ngomong sendiri?” tanya Ethan curiga.
“Lebih afdolnya Om yang bilang sama mama dan adik ipar. Aku nggak enak mau ngomong soal ini.” Serra sengaja meminta suaminya untuk mengumumkan soal aktivitasnya menemui ayahnya setiap hari nanti agar ia tidak dipersulit oleh dua orang jahat itu lagi.
Jika ia bicara sendiri, sudah bisa dipastikan mama mertuanya akan mengancamnya lagi. Kalau suaminya yang membuat pengumuman, otomatis mama dan adiknya akan menuruti semua perintah Ethan. Serra tidak mau terus-terusan tersiksa. Ia juga butuh mental dan tubuh yang sehat untuk mengandung nantinya.
Karena itu Serra tidak mau ditindas terlalu berlebihan oleh sang mertua. Setidaknya ia sudah mengurangi waktu setengah hari untuk bersenang-senang dengan ayahnya, terbebas dari urusan rumah besar itu dan semua kewajibannya.
"Baiklah, aku akan menyampaikannya pada mama."
“Terima kasih banyak, Om. Oh, ya, sebaiknya Om mandi. Aku akan menyiapkan baju ganti Om. Setelahnya baru kita keluar makan bersama dan mengumumkan pada mama dan adik ipar soal rutinitas baru yang akan aku lakukan setiap hari sampai aku mengandung 3 bulan nanti.”