Kilat dan sorot kebencian di mata Feni dan Viona sungguh terlihat jelas saat sarapan berlangsung. Mereka berdua terus-terusan melirik ke arah Serra yang menikmati sarapan dengan ceria. Bagaimana tidak benci dan kesal kalau semalam mereka berdua mendapatkan sebuah berita yang membuat mereka jengkel di mana pengacau cilik itu tidak akan ada di rumah setiap hari dengan alasan ingin membesuk sang ayah di rumah sakit. Itu artinya mereka berdua tidak bisa menyiksa Serra setiap pagi.
Mereka akan kembali berjumpa dengan wanita itu saat jam makan siang, sepulangnya dari rumah sakit. Artinya kesempatan untuk mereka berdua menyiksa Serra hanya kurang lebih tiga jam saja karena jam 04.00 sore, Serra tidak boleh memegang pekerjaan apa pun karena bisa saja Ethan pulang lebih awal. Kalau begitu caranya, bagaimana mungkin Serra bisa cepat meninggalkan rumah itu. Fakta tersebut membuat Feni dan Viona tidak bisa berkonsentrasi menyantap sarapan mereka lagi.
“Kalian berdua kenapa?” tanya Ethan heran saat melihat mama dan adiknya terus-terusan melirik istrinya.
Feni yang menahan kesal sejak semalam langsung balik bertanya. “Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan kami?”
“Mata kalian berdua mengeluarkan sorot kebencian yang begitu nyata. Bisa nggak kalian mulai menyukai istriku? Jangan membuatnya stres? Itu bisa mengganggu kesuburannya. Bukankah Mama sendiri yang menginginkanku segera memiliki anak? Bukankah Mama sendiri yang kebelet pengen menimang cucu?” cecar Ethan berhenti mengunyah makanannya, menatap tajam mamanya.
“Ethan, kamu jangan terus-terusan mempermalukan Mama di depan istri kamu, ya! Siapa yang benci? Mama hanya butuh waktu. Kamu tidak bisa memaksakan keinginan kamu. Semuanya butuh proses.” Feni merasa jengah selalu dipojokkan oleh putranya.
Bukannya Ethan tidak tahu siapa mamanya dan Viona. Ia sudah paham luar dalam. Pasti saat ini keduanya sibuk mengatur rencana masing-masing untuk mempersulit istrinya. Ethan tak ragu kembali mengultimatum mamanya.
“Berusahalah untuk menerima dengan ikhlas pernikahan kami dan jangan berpikir aneh-aneh untuk mencelakakan istriku!”
Feni naik darah. Ia melepaskan sendok dan garpu dengan kasar. Kali ini ia tak dapat membendung kemarahannya lagi hingga ia berhenti mengunyah makanannya diikuti oleh Viona yang menunjukkan aksi protesnya pada sang kakak.
“Kakak jangan keterlaluan sama kami. Kalau Kakak memang ingin kami menerima istri Kakak, setidaknya berikan kedamaian pada kami berdua. Jangan setiap makan, Kakak selalu saja menyindir kami! Kalau Kakak terus melakukan itu, bagaimana mungkin kami bisa menyukai istri Kakak?” Viona mewakili mamanya bicara.
“Tidak usah ikut campur. Turuti saja semua yang aku perintahkan!” bentak Ethan, membuat Viona seketika cemberut, menahan kesal.
Apalagi saat Viona melihat senyuman tipis Serra yang masih mengunyah makanannya, seolah-olah mengolok-oloknya dan sang mama. Serra pasti berhasil merayu kakaknya untuk berada di luar setiap pagi supaya terbebas dari tugas yang akan mamanya perintahkan.
“Apa kamu sudah selesai makan?” tanya Ethan menoleh istrinya, mengabaikan mama dan adiknya yang saat ini menunjukkan raut masam.
Serra segera meletakkan sendok dan garpunya, kemudian menatap lembut suaminya, berakting sebaik-baiknya di depan mama mertua dan adik iparnya.
“Sudah, Sayang.”
“Apa kamu mau berangkat ke rumah sakit sekarang?”
Wajah Serra pun sontak ceria. “Apa aku boleh berangkat sekarang?”
“Iya, setelah aku pikir-pikir lagi, untuk apa aku membuat Farel mondar-mandir dari kantor ke sini dua kali. Baiknya kamu langsung ikut aku saja. Aku akan menurunkan kamu di rumah sakit. Siang nanti Farel akan menjemput dan mengantarmu pulang supaya hemat waktu.”
Ethan juga tak mengerti kenapa ia bisa mendapat ide dadakan untuk mengajak istrinya ikut bersamanya dalam mobil yang sama. “Ayo, kita pergi sekarang!”
Bola mata indah milik Serra berbinar-binar, tak sabar rasanya ingin segera menemui sang ayah. Dengan cepat, Serra segera berdiri, beranjak dari kursinya, kemudian mendekat pada suaminya yang sedang menatap pada mama dan adiknya yang masih cemberut masam.
“Kami berangkat dulu!” Ethan pamit dengan nada dingin.
Viona dan Feni tidak menjawab kata-kata Ethan, membuat laki-laki gagah itu tak buang waktu langsung menarik tangan istrinya menuju ke pintu depan.
Sementara Viona mendengus kesal lalu mengadu pada sang mama. “Dia benar-benar licik, Ma. Dia pasti merayu kak Ethan habis-habisan semalam hingga kakak mengizinkannya untuk keluar setiap hari menemui ayahnya.”
“Kamu benar. Dia memang kurang ajar. Dia sengaja melakukan ini agar Mama tidak menyiksanya lagi. Kalau dia pikir dia akan menang, itu salah.” Feni mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, begitu geram akan kelicikan menantunya.
“Apa yang bisa Mama lakukan lagi, Ma? Orang dia pulang nanti pas jam makan siang. Waktunya jadi cukup singkat untuk memperbudaknya.” Viona tak yakin mamanya bisa menyiksa Serra lagi.
Feni mendengus kesal dianggap tak becus oleh putrinya sendiri. “Kamu jangan remehkan Mama, ya! Mama tidak akan membuatnya makan siang bersama kita. Setelah dia pulang, Mama akan langsung memintanya untuk membersihkan selokan di sekeliling rumah ini.”
“Apa nggak bahaya, Ma? CCTV di luar sana bertebaran, bukan kayak di rumah ini yang hanya berfokus di ruang tamu dan tengah saja.” Viona mengingatkan betapa bahayanya ide sang mama.
“Ya, matiin dulu CCTV-nya sama seperti kemarin dan hidupkan kembali ketika wanita sialan itu masuk ke dalam rumah!”
“Oh, iya. Aku lupa, Ma.” Viona menggaruk-garuk kepalanya. Otaknya yang tidak pintar memang sering membuatnya lupa.
Lahir dari rahim dan dari papa yang sama, tidak membuat Viona mewarisi kecerdasan dari papanya seperti kakaknya. Semua kecerdasan itu diborong oleh Ethan. Itulah sebabnya ia dan mamanya sangat bergantung pada Ethan dan saat ini mereka terancam karena kehadiran Serra.
Sang Mama sudah menyiapkan jodoh yang cocok, anak pengusaha kaya dan penurut yang bisa dikendalikan sehingga harta Ethan tak akan jatuh pada istrinya. Kini, harapan sang mama kandas kala kakaknya tiba-tiba membawa seorang istri yang sepertinya cukup licik.
“Mama tidak akan membiarkan dia terus-terusan bersenang-senang mengalahkan kita. Apa pun akan lakukan untuk mengusirnya dari rumah ini,” ucap Feni penuh tekad.
Sementara di pekarangan rumah, Farel sudah menunggu Ethan di samping mobil dan ketika ia melihat atasannya keluar bersama sang istri, ia langsung menyambutnya dengan hormat.
“Kita berangkat sekarang, Pak?” tanya Farel pelan.
“Kita ke rumah sakit dulu.” Ethan menyampaikan perintahnya.
“Ke rumah sakit?” ulang Farel mengonfirmasi.
“Iya, antar istriku ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat terlebih dahulu, baru kita pergi ke kantor dan sebelum jam makan siang, kamu harus menjemput istriku kembali dan mengantarnya pulang. Ini tugas kamu setiap hari,” titah Ethan.
“Siap, Pak.” Farel langsung membukakan pintu untuk Ethan dan Serra yang begitu cantik jelita.
Istri atasannya tersebut sungguh muda belia lagi cantik rupawan. Mengenakan gaun sepanjang betis berlengan pendek, membuatnya tampil begitu anggun dan sangat serasi bersanding dengan Ethan yang gagah.
Untuk beberapa detik, Farel sempat terpana melihat Serra yang berpenampilan elegan bak remaja sosialita. Apa mungkin Ethan tak akan jatuh cinta pada istrinya kalau fisik dan wajahnya sesempurna itu? Apa Ethan rela melepas wanita seindah itu setahun ke depan? Farel sungguh berharap, Serra bisa menggantikan posisi Sarah di hati Ethan, hingga atasannya tersebut bisa kembali menghangat, tidak dingin, kejam dan kasar seperti sekarang.
Farel mengakhiri ketertegunannya lalu segera menutup pintu dan kembali ke belakang kemudi. Ia pun mulai menyetir dengan tenang sambil melebarkan telinganya, menyimak percakapan Ethan dan istrinya.
“Ingat, kamu tidak boleh mengatakan apa pun pada siapa pun soal kita berdua!” Ethan kembali menegaskan.
“Iya, Om. Aku akan menjaga semua rahasia kita dengan baik. Terima kasih Om sudah mengabulkan keinginanku."
Serra nahan luapan kegembiraannya karena sebentar lagi akan bertemu dengan ayahnya.
Ia memalingkan wajahnya ke jendela, menatap jalanan di luar sana dengan perasaan bahagia.
Sementara Ethan sesekali melirik wajah cantik istrinya dari samping dan menyadari bahwa istrinya memang memiliki kecantikan sempurna. Tanpa mengenakan pakaian terbuka saja, ia selalu saja berhasrat ketika menatap sang istri.
Sungguh di luar nalar. Apa istrinya memang memiliki daya pikat seksual sehingga bisa menarik pria mana saja sehingga siapa saja yang melihatnya pasti menginginkan untuk melakukan hal nakal dengannya? Seketika perasaan cemas menyeruak di hatinya.
“Apa di rumah sakit nanti akan ada laki-laki seperti aku yang ketika melihatnya, langsung tertarik mendekat dan ingin berbuat nakal padanya?” batin Ethan gusar.
Pertanyaan aneh itu tiba-tiba muncul begitu saja di pikiran Ethan, membuatnya gundah. Sedetik kemudian, ia menepis pikiran anehnya lalu mulai mengembalikan akal sehatnya.
“Benar, kenapa aku harus pusing memikirkan itu? Aku harus fokus bekerja.” Ethan menyugesti dirinya, kembali memfokuskan pikirannya, mengingat apa saja yang akan ia sampaikan pada kliennya nanti hingga tak terasa ia pun sampai di parkiran rumah sakit.
“Kita sudah sampai, Pak. Apa Anda ingin mengantar istri Anda ke dalam?” tanya Farel.
“Apa kamu sudah gila memintaku menunjukkan statusku dan istriku di depan umum?” semprot Ethan kasar.
“Jadi, kita turunkan Nyonya di sini saja, Pak?” tanya Farrel tak habis pikir.
“Iya, masa gitu aja nggak ngerti? Biar dia masuk sendiri!” seru Ethan kesal.
Serra bergegas membuka pintu mobil lalu buru-buru keluar, tidak ingin memperkeruh keadaan.
“Tidak apa-apa, Seketaris Farel. Aku bisa sendiri. Kalau begitu aku permisi.” Serra menunduk hormat pada sang suami, kemudian melangkah masuk ke dalam rumah sakit.
Farel menatap langkah Serra hingga hilang dari pandangan. Sungguh ia terpesona pada kecantikan istri CEO-nya tersebut.
“Nyonya cantik sekali, ya, Pak,” puji Farel tak dapat menutupi kekagumannya, membuat Ethan sewot.
“Biasa aja. Semua wanita ‘kan memang terlahir cantik? Tinggal kadarnya saja yang berbeda-beda.”
“Tapi nyonya berbeda. Dia begitu cantik dan elegan. Apalagi setelah mengenakan gaun super mahal itu, Pak.” Farel kembali tulus memuji Serra dan itu membuat Ethan semakin kesal.
“Jangan memujinya!” tegas Ethan jengkel.
Farel yang masih larut dalam keterpesonaan terhadap Serra, tak sadar kalau Ethan sudah naik darah sekarang.
“Kalau bukan saya yang memujinya, kemungkinan para staf dan dokter yang ada di rumah sakit itu yang akan memujinya, Pak.”
“Maksud kamu apa, hah?” sembur Ethan tak bisa membendung kekesalannya lagi. Ia tiba-tiba tak suka mendengar pujian dan pernyataan Farel tentang istrinya.
“Nyonya terlihat seperti anak kuliahan, begitu segar dan cantik berseri. Saya yakin begitu masuk ke lobi rumah sakit, akan ada banyak mata yang memandangnya dan mendekatinya.”
“Cih, siapa yang mau mendekati seorang bocah seperti dia!” Ethan meremehkan.
“Justru wanita seperti dia yang menjadi incaran pria dewasa, Pak.” Farel tak sadar menambah minyak ke dalam api.
Hati Ethan gusar, tapi ia berusaha menepisnya lalu melampiaskan kemarahannya pada sekretaris bawelnya. “Jangan bicara omong kosong! Cepat kita kembali ke kantor! Fokuskan saja ke urusan bisnis, tidak usah mengurusi istriku lagi!?”