Serra bergegas menuju ke poli penyakit jantung untuk menemui dr. Gio, yaitu dokter yang merawat ayahnya, dokter yang meminta Serra untuk segera mencari biaya operasi ayahnya karena kesehatan jantungnya semakin memburuk. Terakhir ia bertemu dengan dokter Gio adalah sebelum ia memutuskan untuk menjual dirinya di klub malam hingga akhirnya bertemu dengan suaminya.
Serra tidak tahu bagaimana keadaan ayahnya, juga tidak tahu di kamar mana ayahnya dirawat karena itulah ketika sampai di rumah sakit yang ada di pikiran Serra hanya mencari dokter muda tersebut. Buru-buru ia melangkah ke ruangan dokter tampan itu dan begitu lega kala melihat dokter itu baru saja sampai di ruangannya, mengingat waktu masih terlalu pagi untuk menerima pasien.
“Dokter Gio ....” Serra setengah berlari menghambur mendekati dokter tampan tersebut.
Gio terpana melihat tampilan Serra, membuatnya terpaku, sontak menghentikan langkahnya, menatap lamat-lamat wanita cantik yang sedang berlari ke arahnya.
“Dokter, bagaimana keadaan ayah saya?” tanya Serra tak sabar.
“Ah, kamu sudah datang!” Gio buru-buru mengembalikan kewarasannya.
“Iya, Dok. Maafkan saya. Sudah beberapa hari saya berusaha untuk kemari, tapi pekerjaan saya memaksa saya tidak bisa menjenguk ayah.”
Seperti yang disarankan Ethan, Serra menutupi semua yang ia alami dan akan berusaha menjaga reputasi suaminya.
“Saya tahu, pak Ethan, majikan kamu yang memberitahu soal pekerjaanmu.”
“Iya, Dok.”
“Kalo gitu masuk dulu. Kita bicara di dalam.” Dokter Gio ingin bicara empat mata pada Serra.
Bukan hanya soal ayahnya, tapi juga soal penampilan Serra yang sungguh berubah drastis sejak terakhir mereka bertemu. Serra yang ia tahu adalah sosok gadis sederhana yang memakai pakaian seadanya, banting tulang kerja serabutan di toko juga di pasar untuk menafkahi ayahnya yang sakit-sakitan.
Kini tampilan Serra berubah 180 derajat seperti seorang nyonya. Itu yang menggelitik perasaannya dan bukan itu saja, sungguh Gio terpesona melihat kecantikan yang tersembunyi di balik pakaian lusuh yang selama ini selalu Serra kenakan. Wanita itu sekarang menjelma bak seorang wanita bangsawan, membuatnya terpesona.
“Apa kamu baik-baik saja?”
“Saya baik-baik saja, Dok.”
“Apa Pak Ethan memperlakukan kamu dengan baik?” tanya Gio memastikan.
“Dia memperlakukan saya dengan baik, Dok. Saya benar-benar beruntung bertemu dengannya.” Serra mulai mengarang cerita.
“Ceritakan bagaimana kamu bertemu dengannya dan bagaimana dia bisa meminjami kamu uang senilai 150 juta plus ruang rawat VIP untuk ayah kamu! Itu hampir sama dengan biaya operasi, Serra.” Gio sungguh penasaran.
“Saya hanya benar-benar beruntung bertemu dengan om Ethan. Mungkin om Ethan kasihan melihat saya yang menangis menghiba meminta pertolongan sehingga dia rela memperkerjakan saya kurang lebih setahun di kediaman mamanya untuk menjadi pembantu di sana.” Serra menyesuaikan ceritanya dengan perintah suaminya dan berakting senatural mungkin agar dr. Gio percaya.
“Tapi bayaran sebagai seorang pembantu selama setahun itu terbilang cukup besar. Kamu yakin pak Ethan tidak mengeksploitasi kamu?” selidik Gio sedikit curiga.
“Nggak, Dok. Jiwa sosialnya tinggi. Mama dan adiknya juga begitu baik. Sepertinya bukan soal masalah biaya. Sepertinya dia sungguh kasihan padaku, tapi karena aku memaksa ingin membayarnya dengan tenagaku, makanya dia memberikan posisi pembantu itu padaku.” Sedapat mungkin Serra ingin dr. Gio percaya dengan apa yang ia ceritakan.
Gio berdecak takjub. “Wah, saya nggak pernah menyangka seorang CEO dan pemilik perusahaan sehebat dia memiliki sisi kemanusiaan yang cukup tinggi! Padahal dia terlihat memiliki pembawaan yang dingin dan kasar.”
“Dokter tahu dan kenal baik sama om Ethan?”
“Siapa yang tidak mengenalnya. Perusahaannya itu adalah perusahaan terkenal di negara kita. Hanya saja dia memiliki kekurangan. Pembawaannya yang dingin dan kasar, membuat para wanita enggan mendekatinya. Hingga sekarang dia betah melajang di usianya yang ke-38 tahun.”
Serra menyimak ucapan sang dokter lalu membatin perih dalam hatinya. “Itu karena dokter tidak tahu kalau dia tidak suka memiliki hubungan yang romantis dengan wanita, tapi dia suka meniduri wanita di klub malam. Sekarang dia tidak ke klub lagi karena aku sudah menjadi alat pemuas hasratnya plus mesin pencetak anak baginya. Tapi tidak mungkin aku memberitahukan dokter soal ini dan harus tetap bicara baik soal dia karena bagaimanapun dia sudah membiayai pengobatanku ayahku.”
“Oh, saya kurang tahu soal itu, Dok. Itu karena saya statusnya hanya seorang pekerja di rumahnya,” ucap Serra pura-pura tidak tahu.
“Oke, saya sudah terlalu panjang lebar bertanya hal yang tidak penting. Ayah kamu baik-baik saja. Dia baru saja menyelesaikan operasinya beberapa hari lalu dan sekarang dalam masa pemulihan. Berdoa saja kondisinya semakin membaik dan tidak memiliki penyakit lain di tubuhnya!”
“Maksud dokter? Penyakit lain apa, Dok?”
“Penyakit seperti diabetes, Serra.”
“Saya kurang tahu soal itu, Dok. Setahu saya ayah tidak memiliki luka yang tidak gampang sembuh selama saya merawatnya.” Serra menerangkan.
“Oke, baguslah kalau begitu. Masa pemulihan ayah kamu masih butuh waktu, Serra. Kita harus melihat detak jantungnya, apa memiliki gangguan irama jantung atau tidak pasca operasi, terus juga harus memperhatikan apakah ada gumpalan darah serta infeksi dari luka bekas operasi. Luka luar yang berupa sayatan lebar di d**a itu juga harus diperhatikan agar tidak infeksi.”
Dokter Gio lalu menerangkan semua tentang komplikasi yang mungkin diderita pasca operasi serta apa saja terapi yang akan diberikan selama di rumah sakit serta bagaimana merawat ayah Serra di rumah kurang lebih sepuluh hingga dua belas minggu pasca operasi. Lewat masa dua belas minggu dan tidak terjadi gangguan apa pun, barulah bisa beraktivitas seperti biasa.
Membayangkan ayahnya disayat dadanya dengan pisau bedah sepanjang yang dijabarkan dr. Gio tadi, sungguh membuat hati Serra begitu nyeri.
“Apakah ayah saya akan baik-baik saja, Dok? Kenapa komplikasi pasca operasi begitu mengerikan?”
“Mudah-mudahan ayahmu tidak akan mengalaminya dan sembuh seperti sedia kala. Kami akan merawatnya secara intensif. Saat ini ayahmu baru saja keluar dari ruangan ICU, masih menggunakan bantuan oksigen, tapi sudah berada di di ruang rawat VIP.” Gio menerangkan.
“Bolehkah saya bertemu dengannya, Dok?” Serra tak sabar ingin bersua dengan ayahnya.
“Tentu saja boleh. Mari saya antar ke ruangan ayahmu!” Dokter Gio langsung mengajak Serra melangkah ke ruangan Andi, ayah Serra dan ketika sampai di sana sang ayah masih memejamkan matanya.
“Ayahmu baru saja tidur. Obat-obatan itu sebagian memang membuatnya mengantuk. Itu diperuntukkan agar dia bisa beristirahat. Kalau ayahmu nanti sudah bangun, kamu boleh mengajaknya bicara dan usahakan jangan membebani pikirannya. Andai tidak ada komplikasi yang terjadi dalam satu minggu hingga dua minggu, Ayahmu diperbolehkan pulang,” terang Gio lagi.
“Iya, Dok.” Serra mengangguk menyimak semua ucapan dokter tampan itu.
“Kalau begitu saya pamit. Saya akan datang kembali lagi sebelum jam makan siang untuk memeriksa kondisi ayahmu.”
“Baik, Dok. Terima kasih banyak.” Serra menunduk mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter Gio yang merawat ayahnya dengan baik.
Dokter Gio pun meninggalkan Serra dengan ayahnya. Sementara Serra segera mendekat menarik sebuah kursi lalu duduk di samping ayahnya. Hatinya benar-benar perih melihat perban besar yang ada di dadanya. Tidak bisa ia bayangkan bagaimana prosedur operasinya. Itu pasti sangat mengerikan.
“Ayah ... apakah ayah baik-baik saja? Aku benar-benar rindu sama ayah.”
Serra meraih tangan sang ayah, kemudian menciumnya, begitu lega mendengar penjelasan dari dokter Gio tadi. Meskipun ada terbersit sedikit kegelisahan di hatinya karena seminggu hingga dua minggu ke depan, ayahnya akan diperbolehkan pulang. Siapa yang akan merawatnya di kontrakan nanti, sedangkan dirinya harus berada di rumah suaminya. Tidak mungkin suaminya mengizinkan ayahnya tinggal di kediamannya, kan?
“Aku harus bicara pada om Ethan. Dia harus menyediakan satu orang perawat untuk merawat ayah di rumah nanti. Aku tidak mau ayah sendirian beraktivitas, sedangkan dokter mengatakan kalau ayah tidak boleh melakukan hal-hal berat 10 hingga 12 minggu pasca operasi termasuk mengurusi urusan rumah tangga seperti menyapu dan memasak,” gumam Serra.
Wanita cantik itu akan mencoba bernegosiasi dengan suaminya dan meminta lebih banyak lagi. Sebagai gantinya ia akan belajar bagaimana cara memanjakan suaminya di ranjang. Mau tidak mau ia harus belajar bagaimana cara memuaskan seorang suami agar suaminya mau menuruti semua kata-katanya, bisa memberinya seorang suster untuk merawat ayahnya, serta menjamin makan dan minum ayahnya sampai ia melahirkan putranya nanti.
***
“Apa ada lagi yang mau ditandatangani?” tanya Ethan seusai menandatangani dokumen terakhir di mejanya. Pria blasteran matang itu sudah tak bisa berkonsentrasi lagi. Sejak tadi yang ia pikirkan hanya istrinya.
Meski ia tidak mau mengindahkan ucapan Farrel saat mengantar istrinya ke rumah sakit tadi pagi, tetap saja Ethan kepikiran. Istrinya memang cantik jelita. Pasti akan ada dokter atau staf rumah sakit yang tertarik padanya.
Parahnya Serra memiliki s****l appeal yang menarik laki-laki berpikiran nakal padanya. Itu yang ia rasakan dan entah kenapa ia tak rela Serra diincar pria lain.
“Tidak ada lagi, Pak. Semuanya sudah selesai,” sahut Farel.
“Agenda kita siang ini?”
“Siang nanti kita akan meninjau proyek apartemen dan resort mewah,” jawab Farel lagi.
“Jam berapa?”
“Seperti biasa, Pak. Kurang lebih jam setengah dua.” Farel terus menjelaskan. “Makan siang Anda gimana, Pak? Apa saya pesan atau Anda saya antar ke restoran terlebih dahulu, baru saya menjemput istri Anda?”
Farel benar-benar bingung dengan mekanisme baru yang harus ia jalani sebagai seorang sekretaris plus asisten pribadi Ethan. Ia tidak menyangka akan dijadikan seorang supir pribadi istri atasannya juga. Tentu saja itu mengganggu aktivitasnya dan yang pasti mengganggu jam makan siangnya.
Farel harus benar-benar pintar membeli makanan siap saji yang akan ia makan di mobil saat ia mengantar ataupun menjemput baik Ethan maupun istrinya.
“Kita ke rumah sakit saja sekarang! Aku akan makan siang di rumah bersama istriku,” ucap Ethan tegas, menutupi euforianya yang sebentar lagi akan bertemu istrinya juga bisa mengajaknya bermain sebentar sebelum makan siang.
“Jadi Anda akan ikut pulang?” Farel tak habis pikir.
“Sepertinya begitu.”
Farel langsung curiga dengan keputusan serba mendadak dari Ethan. Jangan-jangan atasannya memang sudah mencintai istrinya sampai mau makan siang di rumah bersama sang istri. Farel jadi berniat menginterogasi CEO-nya.
“Tapi Anda tidak pernah makan siang di rumah karena Anda benar-benar jengah dengan mama dan juga adik Anda.”
Ethan seketika kesal. “Tidak usah ikut campur urusanku. Kalau aku mau pulang, ya, antar saja! Jangan banyak tanya!”
“Saya hanya heran, Pak. Ini adalah kebiasaan baru buat Anda.”
“Biasakan saja! Setiap hari akan seperti ini. Setiap pagi kita mengantar istriku ke rumah sakit. Siangnya kita menjemputnya lagi pulang ke rumah bersamaku. Kamu cari saja makan siang di mana setelah kamu mengantarku ke rumah. Usai jam makan siang baru kita kembali lagi ke kantor. Itu jadwal baru kamu,” tegas Ethan tak mau dibantah.
“Astaga! Ini gila. Ini bukan hanya dugaan. Sepertinya pak Ethan memang sudah benar-benar tergila-gila pada istrinya. Baru tiga hari menikah, sepertinya pak Ethan tidak mau jauh-jauh dari sang istri. Walaupun mulutnya kasar dan garang, bukan berarti aku tidak tahu ada sesuatu yang aneh padanya. Tapi percuma aku mendesaknya. Pak Ethan pasti tidak akan mau mengaku. Sebaiknya aku ikuti saja semua kemauannya sambil terus memantau perkembangan hubungannya dengan istrinya,” batin Farel.
Hanya itu yang bisa dilakukan olehnya karena tidak ada hal yang melenceng saat ini. Jika ada, Farel tentu akan menegur Ethan, apalagi kalau itu sampai mengganggu jalannya perusahaan.
“Baiklah, Pak Ethan. Kita langsung ke rumah sakit saja sekarang.”