“Kamu di mana, Serra?”
Serra segera keluar dari kamar rawat ayahnya sambil berbicara dengan suaminya di ponselnya, seusai berbincang-bincang dengan dr. Gio terkait apa saja yang harus dilakukan oleh Elvira untuk merawat sang ayah agar tidak mengalami komplikasi, terutama ketika sudah pulang dari RS.
Wanita cantik itu yakin saat ini pasti sekretaris suaminya, sudah menunggu di parkiran depan.
“Aku baru keluar dari kamar ayah, Om. Sekarang aku sedang melangkah menuju ke parkiran.” Serra menerangkan.
“Buruan, aku juga ada di parkiran!”
“Kenapa Om ikut jemput?”
“Jangan GR kamu! Aku hanya mau makan siang di rumah biar sekalian jalan dan nggak buang-buang waktu.”
“Oh, gitu, ya, Om!”
“Buruan keluar! Jangan lama-lama di dalam rumah sakit! Setiap hari di jam segini kamu sudah menunggu di parkiran.”
“Baik, Om.” Serra menutup panggilan dari suaminya, kemudian berlari kecil menuju ke parkiran di mana sang suami sudah membukakan pintu untuknya, memintanya agar segera masuk ke dalam mobil.
“Naik!” titah Ethan dingin.
“Iya, Om.” Serra langsung naik ke mobil, segera duduk di samping suaminya di kursi belakang.
Farel yang tahu persis kalau Ethan mulai memiliki perasaan yang dalam pada istrinya hanya bisa mengulum senyum sambil membatin geli.
“Sepandai-pandainya Anda menutupi perasaan Anda pada istri Anda, tetap saja saya bisa melihatnya, Pak.”
Farel hanya akan menunggu sampai kapan atasannya akan bertahan dengan sikap dingin dan kasarnya pada istrinya juga gengsinya. Malah ia berniat akan memanas-manasi atasannya dengan besikap ramah dan akrab pada Serra, terutama saat mengantar dan menjemputnya di rumah sakit.
“Bagaimana keadaan ayah Anda, Nyonya?” tanya Farel perhatian.
Serra yang tidak pernah memiliki teman bicara, tentu saja begitu senang mendapatkan pertanyaan penuh perhatian dari Farel. Dengan senyuman indahnya, ia menatap Farel dari balik rear vision mirror, kemudian menjelaskan keadaan sang ayah.
“Ayah baik-baik saja. Aku sungguh bahagia melihatnya bisa membuka matanya dan mengobrol denganku tadi.”
“Tidak terjadi apa-apa ‘kan pada ayah Anda?” tanya Farel lagi sambil melirik Ethan yang mulai cemberut masam, sengaja ingin membuatnya cemburu.
“Tidak terjadi apa-apa pada ayah. Beliau sehat, tapi masih butuh pemantauan dokter sekitar kurang lebih seminggu hingga dua minggu lagi, baru diperbolehkan pulang.” Serra menjelaskan keadaan ayahnya penuh semangat. Ia senang ada orang yang peduli nasib ayahnya.
“Apa Anda bahagia bisa bertemu dengan ayah Anda, Nyonya?” tanya Farel menatap lamat-lamat istri atasannya dari balik cermin segi empat yang ada di depannya.
“Tentu saja, Sekretaris Farel. Aku begitu merindukannya. Rasanya ingin ikut—”
“Sampai kapan kalian akan mengobrol omong kosong begini?” bentak Ethan geram. Tanpa ragu ia memotong pembicaraan istrinya dengan Farel, merasa kesal dan panas melihat keakraban Farel pada istrinya, mengabaikannya begitu saja.
“Maaf, Pak. Kalau begitu saya akan mulai menyetir sekarang,” ucap Farel tersenyum tipis menahan geli melihat kecemburuan Ethan padanya.
Sementara Serra memegangi dadanya, menenangkan debaran jantungnya karena mendapatkan bentakan dari suaminya. Ia langsung berpaling ke arah jendela, menetralkan rasa takutnya dan itu membuat Ethan malah tambah kesal.
“Giliran bicara dengan Farel, kamu bisa tersenyum bahagia. Setelahnya kamu malah mengabaikanku. Dasar sial!” umpat Ethan dalam hati.
Pria blasteran Inggris itu frustrasi, bingung berkomunikasi dengan istrinya karena tidak mau terlihat begitu perhatian seperti yang dilakukan Farel tadi. Bagaimanapun juga ia tetap harus menjaga jarak dan tidak mau terjerumus dan terlibat perasaan romantis dengan istrinya tersebut.
Namun, ia tak dapat membendung kemarahannya saat melihat istrinya akrab dengan sekretarisnya. Pada akhirnya Ethan tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak bertanya pada sang istri. Ia tidak mau hanya diam-diaman begitu saja sampai ke rumah nanti.
“Apa kata dokter tadi?”
Serra refleks menoleh ketika mendengar suaminya bertanya padanya lalu dengan takut-takut ia menjelaskan apa saja yang dikatakan oleh dokter Gio di rumah sakit tadi.
“Apa aku bilang, semuanya akan baik-baik saja. Kamu saja yang berlebihan.” Ethan mengomeli Serra.
“Meskipun semuanya baik-baik saja, tapi aku benar-benar gembira bisa bercengkerama dengan ayah, Om.” Serra menjabarkan perasaannya.
“Ayah kamu nggak curiga ‘kan soal biaya operasi?” tanya Ethan.
“Seperti yang Om minta, aku sudah menceritakan padanya kalau aku mendapatkan pekerjaan di rumah Om selama setahun penuh. Pelan-pelan, aku sudah mengatakan pada Ayah untuk tidak merindukanku selama sekian bulan karena aku harus mengabdi untuk membayar hutang-hutang pada Om.”
“Bagus! Memang itu yang harus kamu katakan pada ayah kamu. Oh, ya, Sabtu dan Minggu aku tidak mengizinkan kamu pergi ke sana.”
Serra spontan memprotes suaminya. “Kenapa,Om? Kan, Om sudah janji tiap hari aku bisa diantar ke sana?"
Ethan menatap garang istrinya. “Orang bekerja itu juga ada liburnya. Farel tidak bisa mengantarmu. Dia harus libur.”
“Aku bisa naik taksi, Om.”
“Nggak akan aku izinkan. Siapa tahu kamu mau kabur?” larang Ethan keberatan.
“Aku nggak mungkin kabur, Om. Ayahku saja masih dirawat di rumah sakit. Aku benar-benar gila kalau sampai meninggalkan ayah, mengorbankan nyawanya hanya demi kabur dari Om. Aku tidak akan ke mana-mana sebelum masa kontrak kita berakhir.”
“Pokoknya tidak. Sabtu dan Minggu kamu harus libur membesuk ayah kamu. Aku saja libur dan aku tidak mau mengantarmu. Aku tidak percaya dengan supir mana pun selain Farel,” tegas Ethan.
Lagi-lagi Farel yang menyetir kendaraan menuju ke kediaman Ethan menahan geli. Ia sudah benar-benar yakin kalau Ethan begitu tergila-gila pada istrinya. Hanya saja gengsinya yang luar biasa, menahannya untuk tidak mengutarakan isi hatinya. Farel sungguh merasa senang. Sedikit demi sedikit, posisi Sarah mulai bergeser.
Farel berharap mudah-mudahan Serra benar-benar bisa menggantikan Sarah di hati Ethan, membuat atasannya bahagia. Bahkan ia berharap Ethan berubah menjadi laki-laki hangat ketika sudah mengakui perasaannya pada Sera nanti.
“Apa boleh buat. Aku harus menuruti kata-kata om Ethan,” rutuk Serra dalam hati.
Wanita cantik itu tidak bisa membangkang. Artinya beberapa hari lagi sebelum weekend, ia harus bicara pada ayahnya dan mengatakan setiap Sabtu dan Minggu ia lembur dan tidak bisa mampir ke rumah sakit. Mau bagaimana lagi, setidaknya setiap Senin sampai hari Jumat ia tidak harus kelelahan mengerjakan semua pekerjaan rumah yang diperintahkan oleh mertuanya.
Suaminya akan berada di rumah setiap weekend dan itu artinya ia akan libur dari kekejaman sang mertua. Untuk saat ini Serra harus bersyukur dengan semua keadaannya.
“Baiklah, Om.” Serra segera membuang muka menatap ke arah jendela.
Ethan merasa malu dengan tingkahnya sendiri. Bisa-bisanya ia menahan Serra untuk tetap berada di rumah setiap Sabtu dan Minggu untuk menemaninya, bermain panas dengannya dua hari berturut-turut. Kegilaannya sudah sampai taraf super maniak di mana ia tidak mau jauh-jauh dari istrinya lagi.
Ini benar-benar gila. Kenapa wanita semungil dan semuda Serra bisa menjeratnya sedemikian rupa?
“Jangan katakan aku sudah jatuh cinta padanya? Tidak mungkin ... tidak mungkin aku bisa melupakan Sarah begitu saja. Walaupun dia telah mengkhianatiku, selama sepuluh tahun ini aku tetap stres memikirkannya. Masa wanita muda ini bisa menggeser posisi Sarah yang begitu aku cintai bertahun-tahun hanya dalam hitungan hari?” batin Ethan bingung akan sikapnya sendiri.
Ethan menepis pikirannya lalu kembali menyugesti dirinya dalam hati. “Mustahil ... ini benar-benar mustahil. Sadar, Ethan! Kamu hanya tergila-gila pada tubuhnya. Pasti hanya karena tubuhnya,”