7. Magical World

3763 Kata
Langit-langit kamar berwarna kecokelatan, jendela kaca yang terletak di dekat meja belajar sebagai sumber masuknya cahaya, dua tempat tidur yang berada di pojok ruangan berbataskan nakas, dua meja belajar dan dua lemari, kamar mandi yang berada di sudut ruangan—tepatnya di samping lemari, dan rak sepatu yang letaknya berdekatan dengan lemari. Itulah yang ditangkap mata Aqueena kala dirinya memasuki kamar yang bertuliskan ‘207’ di pintu, yang mulai sekarang akan menjadi rumahnya. Tidak ada yang istimewa, sama seperti kamar asrama biasa. Beberapa menit yang lalu, seorang wanita berusia kira-kira akhir 40-an menghampiri Aqueena ketika gadis itu sedang duduk di taman, lalu menyuruh Aqueena mengikutinya. Reaksi pertama saat melihat wanita paruh baya itu adalah terkejut. Bagaimana tidak, wanita itu memiliki tampang bengis, tubuhnya (mungkin) sebesar karung beras isi 100 kg, rambutnya digulung ke atas hingga memperlihatkan wajah bulat serta dagu yang berlipat dua, lipstick merah mengoles bibir tebalnya, dan sepatu hak tinggi yang berukuran kecil di kakinya yang hampir sebenar kaki gajah. Wanita itu adalah Mrs. Berta, kepala asrama perempuan sekaligus satpam asrama perempuan, tetapi bukan tukang cuci dan bukan pembantu, begitulah katanya saat mereka berjalan menuju asrama. Wanita bertubuh besar itu mengantar Aqueena ke kamarnya, lalu memberikan secarik kertas yang berisi mantra, katanya itu adalah kunci kamar Aqueena. Katanya juga, Aqueena tidak boleh melupakan mantra itu, karena setiap kamar memiliki mantra yang berbeda sehingga jika Aqueena melupakannya, maka otomatis kamar Aqueena tidak akan bisa dibuka. Aqueena merebahkan tubuhnya di ranjang yang dibalut sprey berwarna merah marun. Matanya memperhatikan langit-langit kamar. Polos dan kosong, sama seperti suasana hatinya. Tiba-tiba gadis itu teringat mamanya yang berada di dunia manusia. Aqueena yakin jika dirinya tidak pulang barang seharipun, mamanya pasti akan panik luar biasa. Mau bagaimana lagi, nasi telah menjadi bubur, Aqueena takkan bisa pulang. Dia tahu pilihannya salah, akan tetapi Aqueena tak ingin menjadi bahan ejekan masyarakat. Cukup sampai di situ saja penderitaannya, dia tak ingin menambahnya lagi. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Aqueena. Dengan rasa malas, gadis itu membuka pintu kamarnya dengan membacakan mantra. Yang pertama dilihatnya adalah rambut kuncir dua yang berwarna kepirangan. Lalu dia beralih pada wajah mungil yang tersenyum padanya. Gadis itu adalah orang yang sama saat di ruang kesehatan. Dia adalah penjaga ruang kesehatan yang sempat diusir Aqueena dengan berteriak keras. Melihat gadis itu tersenyum kepadanya membuat Aqueena sedikit merasa bersalah. “Kau belum bersiap-siap?” tanya gadis itu dengan ceria. Senyumnya mengembang, membuat Aqueena tak enak hati untuk mengusirnya. “Emangnya mau kemana? Ini udah malam,” jawab Aqueena malas. “Karena ini sudah malam, makanya kita harus pergi ke ruang makan. Malam ini akan diadakan makan bersama dengan para guru dan kepala sekolah. Setiap hari selasa, kita semua wajib berkumpul untuk makan malam bersama. Ini tradisi sekolah. Pasti seru jika kita datang paling akhir. Karena biasanya yang datang paling akhir akan dapat meja paling depan. Biasanya, para pangeran akan berada di meja paling depan bersama anggota OSIS, makanya kita harus bergabung. Mereka semua...” gadis berkuncir dua itu terlalu antusias menjelaskan. Wajahnya tersipu entah kenapa. Aqueena merasa gadis yang satu ini mungkin sedikit miring. “....mereka semua terlalu tampan! KYAAAA!!!” Respon Aqueena hanya ber-oh-ria. Baik dunia sihir maupun dunia manusia, semuanya sama saja. Pasti akan ada pembully yang sok cantik dan lelaki yang dipuja para gadis bagaikan dewa karena ketampanannya. Hal ini benar-benar membuat Aqueena muak. Menolak pergi mungkin Aqueena tak bisa, karena terikat peraturan sekolah, dan pantang bagi Aqueena melanggar aturan. Tak ada salahnya ikut makan malam bersama, setidaknya Aqueena dapat mengenal dan tahu dimana letak ruang makan. Dengan begitu, dia tak perlu repot bertanya dimana letak ruang makan ketika lapar. Aqueena memasuki kamar dan mengganti bajunya, lalu pergi ke ruang makan bersama gadis itu. “Aqueena!” panggil gadis itu tiba-tiba. Aqueena menoleh malas. “Sepertinya kita akan menjadi penjaga ruang kesehatan,” kata gadis itu. “Pasti seru kalau kita berdua bisa bekerjasama menjadi penjaga ruang kesehatan.” “Aku nggak tertarik.” “Kenapa? Kau memiliki kekuatan healing, kita sama-sama bisa menyembuhkan seseorang. Kita adalah tim medis.” “Aku tidak ingin menjadi tim medis.” Bohong jika Aqueena berkata demikian, faktanya dia bercita-cita ingin menjadi dokter sejak berusia 7 tahun. “Sepertinya kau tidak tahu kalau kekuatan healing hanya dimiliki oleh 3 orang di sekolah ini. Artinya, kekuatan itu langka. Dan artinya juga, siapapun yang memiliki kekuatan itu harus menjadi penjaga ruang kesehatan,” ujar gadis itu bangga. “Terserah!” Aqueena berucap lesu. “Kamu.. siapa namamu?!” “Kau lupa namaku? Bukankah tadi aku sudah mengenalkan diriku? Aku saja masih mengingat namamu yang sulit diingat, tapi kau malah melupakan namaku.” “Kamu tahu sendiri, tadi aku seperti orang kesurupan.” “Benar juga!” Gadis itu mangut-mangut. “Namaku Mauryn.” “Namamu juga sulit diingat,” kekeh Aqueena singkat dan berusaha menutupi senyumnya. “Sepertinya aku akan memanggilmu Ryn.” “Kenapa Ryn?” “Karena kalau Mau akan terdengar seperti memanggil ‘Harimau’.” Mauryn mangut-mangut lagi, “Benar juga.” “Tadi katamu healing hanya dimiliki oleh tiga orang saja di sekolah ini, lalu siapa lagi yang memiliki kekuatan Dokter selain kita berdua?” “Pangeran Adrian. Dia adalah Pangeran Swonlerg.” “Pangeran apa? Swonlerg?” “Iya! Apa aku belum menjelaskannya padamu?” tanya Mauryn yang membuat Aqueena menggeleng lesu. “Ah, aku lupa. Sebagai pemandu dan juga rekanmu di tim medis, sudah tugasku untuk menjelaskannya padamu.” “Terserah!” “Aku mulai dari awal, ya.” Mauryn lagi-lagi mengeluarkan jurus senyuman mautnya, membuat Aqueena ingin sekali menumpahkan isi perutnya. “Dunia ini disebut Magical World. Menurut sejarah, dunia ini tercipta karena adanya keinginan manusia untuk menjadi lebih kuat dalam menghadapi kejahatan. Dunia ini terbentuk ketika manusia mulai melakukan pertapaan dan berbaur dengan alam untuk mendapatkan energi. Tidak mudah untuk mendapatkan energy alam, bahkan banyak diantara petapa meninggal karena terpengaruh energi negatif. Alam menyimpan energy positif dan energy negatif. Energi positif bisa berasal dari tumbuhan, hewan, maupun fenomena alam seperti petir, api, air, tanah dan angin. Sedangkan energy negative adalah energy yang berasal dari roh jahat yang masih berada di dunia. Energy negative perlahan akan membuat seseorang lupa diri dan berakhir dengan tragis. Untuk menjadi seorang penyihir, manusia harus mampu mengambil energy positif dari alam dan mengubahnya menjadi sebuah kekuatan.” Dongeng yang mengesankan, batin Aqueena mulai berkomentar. Meskipun malas, namun Aqueena tetap mendengarkan penjelasan Ryn. “Ada seorang petapa yang berhasil mendapatkan energy alam setelah bertapa selama seratus tahun.” “Kebohongan yang hakiki!” ucap Aqueena refleks. “Mana ada manusia yang bisa hidup lebih dari seratus tahun.” “Jangan meremehkan dunia sihir, Aqueena.” Mauryn yang tadinya ceria mulai menunjukkan sisi seram mendengar ucapan Aqueena. “Penyihir pertama memiliki usia hampir seribu tahun.” Aqueena menelan susah salivanya. Melihat raut wajah Mauryn membuat Aqueena bergidik. “Oke, santai!” kata Aqueena berusaha membuat Mauryn santai. Mauryn kembali melanjutkan penjelasannya. “Petapa itu berhasil mendapatkan tujuh elemen alam; air, api, tanah, angin, tumbuhan, petir, dan energy surya yang sangat istimewa. Ketujuh elemen itu diubah menjadi kekuatan yang dikenal dengan tujuh kekuatan elementer. Namun, legendanya, Petapa awalnya hanya dapat menguasai enam elemen. Dia berusaha mendapatkan elemen surya, namun nihil karena energi cahaya sulit diubah menjadi kekuatan. Ada yang berkata bahwa Petapa mampu mengubah energy surya menjadi kekuatan berkat permohonannya kepada Dewa Surya. Berkat pertapaannya selama seratus tahun, Dewa Surya membantunya mendapatkan kekuatan solar.” “Tapi itu hanya legenda dan kejadian masa lampau. Belum tentu cerita itu benar.” Akhirnya Aqueena mulai berkomentar dengan serius. Meskipun Aqueena merasa sejarah dan legenda penyihir pertama itu seperti dongeng belaka, namun di sisi lain hal itu membuat Aqueena tertarik untuk mendengarnya. Karena menurut teori Fisika, energy alam memang dapat diubah menjadi energy lain. “Semua penyihir memang tak tahu kebenarannya, namun selama ini di Centraour Academy itulah yang dipelajari.” “Dipelajari maksudnya?” “Di sini legenda tentang penyihir pertama dipelajari pada mata pelajaran sejarah.” Aqueena menepuk jidatnya pelan. “Kenapa nggak bilang dari tadi!!” “Memangnya kenapa?” “Kan aku nggak perlu dengar penjelasan kamu yang super panjang!” “Oh benar juga!” Aqueena menggelengkan kepalanya. “Baiklah, aku akan masuk ke intinya saja.” Ryn berpikir sejenak kemudian melanjutkan penjelasannya. “Penyihir pertama yang berhasil mendapatkan kekuatan elementer kemudian mengembangkan lagi kekuatannya dengan mempelajari simbol dan membuat kekuatan yang dimilikinya dapat digunakan hanya dengan mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat inilah yang sekarang disebut mantra. Tetapi, hanya dengan mantra tak dapat membuat energy itu muncul. Karena itu, Penyihir Pertama membuat sebuah tongkat yang diambil dari pohon suci. Tongkat itu dipenuhi dengan energy alam sehingga dapat merespon ketika membacakan mantra. Begitulah cara Penyihir Pertama membagikan energy alam pada manusia lain yang tak mampu menyerap energy positif dari alam.” Penjelasan itu membuat Aqueena tertarik. “Lalu?” “Kita sudah sampai. Sebaiknya masuk dulu dan makan. Aku sudah lapar,” kata Mauryn sembari mengelus perutnya. Aqueena berdecih. “Aku penasaran.” “Kenapa kau tiba-tiba penasaran? Bukannya tadi kau bilang kau tidak perlu mendengar penjelasanku yang terlalu panjang karena bisa dipelajari di kelas sejarah?” Aqueena salah tingkah. Pertanyaan Mauryn tepat sasaran dan membuat Aqueena merasa dirinya menelan ludahnya sendiri. “Emm.. bukan gitu... anu...” Aqueena berusaha mencari alasan yang tepat. “...oh iya! Kalau kamu menjelaskan, ‘kan aku nggak kerepotan di kelas sejarah. Jadi aku bisa mengejar ketertinggalan.” “Benar juga. Yasudah, aku akan menjelaskan saat makan nanti.” Selamat, batin Aqueena merasa lega. Ternyata Mauryn sedikit lugu, dia juga gadis yang baik menurut Aqueena. Tepat apa yang dikatakan Mauryn sebelum mereka menuju ruang makan. Siapa yang datang paling akhir pasti akan mendapatkan tempat paling depan. Sekarang, Aqueena dan Mauryn berada pada meja paling depan dekat dengan meja makan para guru. Aneh saja, biasanya siapa yang cepat pasti memilih meja paling depan, namun di sini malah kebalikan. Ya, mungkin saja yang datang cepat ingin mendapatkan meja belakang agar dapat bebas bergosip dan menghujat. Meja makan di ruangan ini ditata sedemikian rupa, berjejer, dan beraturan persis seperti tatanan meja makan kantin. Bedanya, meja makan di sini tak menghadap ke depan sehingga tak ada yang duduk membelakangi guru yang berposisi paling depan. Semua siswa duduk berhadapan menghadap ke kanan dan kiri ruangan. Meja yang ditempati hanya dapat menamping paling banyak delapan siswa, empat di sebelah kiri dan empat di sebelah kanan. “Hai, Aqueena!!” Tiba-tiba, seseorang duduk tanpa permisi di depan Mauryn dan Aqueena. Dia adalah lelaki tadi siang yang sempat berkenalan dengan Aqueena. Aqueena tak menghiraukan, namun Mauryn kelihatan sebal. “Nana!!” Jimmy tiba-tiba memanggil yang membuat Aqueena sedikit berdecih. Lelaki itu melompat dan mengambil posisi duduk di sebelah Andy. Tak lama kemudian Will dan Chelsea menyusul dan mengambil tempat di samping kiri Aqueena. Hal ini membuat Aqueena merasa tak nyama, pasalnya kedua remaja itu malah bermesraan. “Andy, Jimmy, kalian lihat Orlando?” seseorang lagi-lagi muncul dan mengambil duduk di depan Aqueena dan Mauryn tanpa menghirukan Aqueena yang sudah mulai kesal. “Pangeran mah bebas. Palingan dia lagi cebokan di wc,” jawab Jimmy sembarang. “Aku serius. Aku ada keperluan dengannya selesai makan malam.” Lelaki yang baru saja duduk menyadari kehadiran Aqueena. “Kau anak baru?” “Dia yang kubilang tadi siang, Chairman. Cantik, kan?” ujar Andy antusias. “Iya, cantik. Tapi Mauryn jauh lebih cantik,” ujarnya yang membuat semua yang berada di meja menatap Mauryn. “Cantik hatinya.” Semuanya terdiam tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki yang dipanggil chairman itu. Andy dan Jimmy bahkan gagal minum air lantaran ucapan si chairman yang sungguh luar biasa. “Kenapa?” tanyanya yang membuat raut muka semua orang berubah. “Tidak lucu ya?” Semuanya kompak tertawa meskipun terpaksa. Ucapan lelaki itu sangat tak terduga. Hal itu membuat Mauryn sedikit terbatuk dan berdiri dari duduknya. “Candaanmu aneh, Pak Chairman. Hahahaha!!” Jimmy berusaha mencairkan suasana ketika melihat air muka Mauryn yang berubah drastis. “Aqueena, aku ke ruang kesehatan dulu, ya. Kepalaku sedikit pusing.” Demikianlah, Mauryn berlalu pergi meninggalkan Aqueena yang dipenuhi rasa canggung. Aqueena merasa sangat canggung. Dia belum bisa beradaptasi dengan semua yang ada di meja ini. Meskipun Aqueena mengenal Jimmy, namun dulunya mereka adalah musuh karena Jimmy adalah teman baik Bella yang merupakan musuh bebuyutan Aqueena. “Aku sebaiknya—“ belum sempat Aqueena melanjutkan ucapannya, Jimmy terlebih dahulu menyela. “—Pak Chairman, sebaiknya kenalan dulu sama Nana.” “Nana?” kening Chelsea berkerut mendengar Jimmy memanggil Aqueena dengan sebutan Nana. “Aqueena, dipanggil Nana,” Jimmy menjelaskan. “Oh, jadi panggilan kamu Nana, ya!” Chelsea tersenyum. “Panggil Aqueena aja.” “Baiklah, Aqueena. Perkenalkan namaku Orion Rheinol Johansson. Panggil aku Rhein. Aku adalah ketua OSIS di sekolah ini.” Rhein memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan kanannya pada Aqueena. Aqueena tersenyum kaku dan menyalami Rhein. “Kalau ada apa-apa kau bisa Tanya padaku.” “Y-ya!!” Aqueena tak tahan berada diantara orang-orang yang baru dikenalinya. Namun, Aqueena tak bisa pergi karena kepala sekolah sudah mulai membuka acara makan bersama. Hal ini membuat Aqueena mengikuti acara makan malam yang menurutnya sangat aneh. Rasanya canggung makan diantara orang-orang yang baru dikenalnya. Selama ini Aqueena selalu makan sendiri, namun kali ini ada beberapa orang yang berada di sampingnya. Keadaan ini membuat Aqueena merasa tak terbiasa, namun entah kenapa dia merasa sedikit bahagia. Apalagi ketika Andy dan Jimmy rebutan lauk, hal itu menimbulkan kekacauan dan gelak tawa semua yang ada di mejanya. Ditambah lagi pertengkaran Chelsea dan Andy yang berujung terpotongnya uang jajan Andy. Hal itu membuat Aqueena sedikit tersenyum dan ikut tertawa. Meskipun baru mengenal beberapa orang yang bersamanya sekarang, entah kenapa Aqueena merasa mereka semua sangat dekat. Mereka semua tak ada yang mengabaikannya, bahkan mereka berusaha membuat Aqueena nyaman dengan terus mencari topik pembicaraan. Baru kali ini Aqueena merasa makan malam begitu hangat. “Oh, iya, Kak Rhein, itu di dadamu ada simbol...” “Oh ini?” Sedaritadi Aqueena penasaran dengan simbol aneh yang berada di d**a Rhein. Hal itu juga terdapat di d**a Chelsea, Andy, Will, dan Jimmy. Namun, simbol yang ada pada mereka semua berbeda-beda. Simbol yang sama hanyalah milik Chelsea dan Andy. “Belum ada yang menjelaskannya padamu?” Tanya Jimmy yang membuat Aqueena menggeleng. “Nggak apa-apa. Biar Bang Andy yang menjelaskan,” ujar Andy penuh kepedean. “Huekk!!!” Chelsea mengejek dengan pura-pura muntah. “Kamu sama Aqueena seumuran, Kutilem.” “Kutilem?” Will mengerutkan kening. “Kurus Tinggi Lembek!” Semua yang berada di meja itu kompak tertawa, kecuali Andy tentunya yang sekarang dirundung rasa malu. Lelaki itu cemberut hingga bibirnya maju hampir sepuluh senti. “Biar aku yang menjelaskannya.” Rhein ambil alih. “Simbol yang ada di d**a pakaianku adalah simbol kerajaan Swonlerg, kerajaan asalku. Di Magical World terdapat empat kerajaan utama, Everolt, Swonlerg, Victorie, dan terakhir Wasterost. Everolt adalah kerajaan asal Andy dan Chelsea. William berasal dari Victorie. Sementara Jimmy berasal dari Wasterost. Simbol yang berbeda karena kami semua berasal dari kerajaan yang berbeda. Di sekolah ini, kerajaan dan jabatan tak diperhitungkan. Semuanya punya derajat kesetaraan yang sama. Alasan kenapa kami memakai pakaian dengan lambang kerajaan masing-masing malam ini adalah untuk merayakan bersatunya empat kerajaan.” “Karena itu seminggu sekali diadakan makan malam bersama dengan tujuan untuk mempererat ikatan persaudaraan antar kerajaan,” tambah Chelsea. “Oh, iya. Orang yang membawamu ke sini adalah Pangeran Fischer. Dia dari kerajaan Victorie.” William antusias ketika menyebut nama Fischer. Mata Aqueena membuka lebar. Dia tidak menyangka bahwa orang yang dihinanya saat di rumah pohon adalah seorang pangeran. Aqueena lebih tidak menyangka ada seorang pangeran yang begitu sombong. Wajar sebenarnya, mengingat posisi yang tinggi tentunya akan membuat siapa saja berlagak menyombongkan diri. “Kau kenapa?” tanya Rhein setelah melihat ekspresi Aqueena yang berubah drastis. “Nggak apa-apa.”   ψψψ   Malam sudah berganti pagi, Aqueena bersiap-siap untuk memulai kelas pertamanya. Dia membenarkan letak seragamnya yang sangat ribet, hingga suara ketukan pada pintu mengalihkan perhatiannya. Aqueena menghampiri pintu dan membukanya dengan rasa malas. Ya, malas karena pagi-pagi begini dirinya sudah harus bertemu Mauryn yang suka berbicara tanpa memikirkan Aqueena yang bosan mendengarnya. “Selamat pagi!” sapa Mauryn yang berdiri di balik pintu. Tanpa aba-aba gadis itu nyelonong masuk ke kamar Aqueena. “Pagi!” jawab Aqueena setelah mengikuti Mauryn masuk ke kamarnya. “Kenapa kau belum bersiap-siap?” “Aku kesulitan pakai ini.” “Oh! Sini biar aku bantu.” Mauryn membantu Aqueena memakai seragam sekolah yang punya berbagai aksesoris, mulai dari sarung tangan, jubah, hingga sepatu. Menurut Aqueena, seragam seperti ini terlalu mencolok, tetapi biar bagaimanapun ini adalah seragam sekolah yang wajib dikenakan. Jubah berwarna putih, rok kotak-kotak selutut berwarna cokelat yang senada dengan dasi kupu-kupu, baju putih dengan lengan terpisah sehingga menampakkan lengan atas jika tidak menggunakan jubah, serta sepatu tinggi persis seperti sepatu artis dangdut yang sedang manggung. Aqueena dan Mauryn keluar dari kamar Aqueena setelah merasa perfect. Mereka berjalan di koridor menuju kelas sambil berbincang sedikit mengenai sekolah yang bernama Centraour Academy ini. Saat di jalan, mereka dihampiri seseorang yang berlari mengejar, dia adalah teman Mauryn. Aqueena sempat berkenalan dengannya. Namanya Megha, dan hari ini mereka akan berada di kelas yang sama. Karena itu, Megha memilih datang ke kelas berbarengan Aqueena dan Mauryn. Sepanjang jalan, Megha bercerita tentang bagaimana dirinya bisa pindah sekolah ke Centraour Academy. Hal itu karena di sekolah lamanya dia ditakuti oleh teman-teman maupun gurunya, karena dia memiliki kemampuan Soul Control, yaitu suatu kemampuan dapat melihat makhluk halus, atau sering disebut dengan indra keenam. Bukan hanya itu saja, Soul control juga memiliki kemampuan mengeluarkan roh dari tubuhnya dan menjelajah dimensi lain, dengan kata lain kemampuan ini adalah kemampuan seseorang dalam meraga sukma. Tingkat tertinggi dari kemampuan ini adalah seorang pengguna dapat melihat masa depan. Megha bercerita kalau dirinya belum bisa menggunakan kemampuan tingkat tinggi itu. Megha hanya mampu melihat dan berkomunikasi dengan makhluk gaib yang merupakan energy negative dari alam. Bukan hanya seputar kemampuan yang dimiliki Megha, mereka juga bercerita mengenai anak-anak OSIS dan juga para pangeran yang kelewat tampan. Hal itu membuat Aqueena tak ingin ikut dalam pembicaraan yang sangat tidak penting. Sesungguhnya Aqueena bosan mendengar cerita seputar anak lelaki tampan karena menurut Aqueena lelaki tampan itu bukanlah manusia yang perlu dipuja ataupun dikagumi. Wajah tidaklah lebih penting ketimbang bakat dan usaha seseorang. Jalan menuju kelas cukup jauh sehingga memerlukan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, Aqueena terheran dengan beragam warna seragam yang dipakai siswa. Sejak kemaren Aqueena memperhatikan ragam warna yang digunakan siswa di sini. Aqueena menebak, mungkin ragam warna pakaian disebabkan oleh berbedanya tingkatan kelas. Pagi ini Aqueena menyaksikan dua orang siswi yang menggunakan pakaian berwarna merah, usia keduanya berkisar antara tujuh sampai sepuluh tahun, dan mungkin mereka masih menginjak bangku sekolah dasar. “Oh, iya. Aku lupa menjelaskannya padamu, Aqueena.” Mauryn tiba-tiba menyahut setelah selesai dengan urusan fansgirling bersama Megha. “Biar aku aja yang menjelaskan sama Aqueena, ya.” Megha tersenyum, kemudian gadis mungil itu mengambil sebuah catatan dari dalam tas. “Penjelasan Mauryn sulit dipahami ketimbang penjelasanku.” “Memangnya dari kemaren aku menjelaskan, kau tidak mengerti, Aqueena?” Tanya Mauryn polos. “Aku yakin Aqueena masih bingung dengan penjelasanmu. Ya, kau ‘kan selalu menjelaskan setengah-setengah.” Megha membuka catatan kecil dan membacanya sekilas. “Oh, benar juga.” Aqueena menghela napas berat dengan tingkah kedua gadis yang baru dikenalinya itu. “Sekolah ini punya empat tingkatan, Alfa, Beta, Gama, dan Ultra.” Megha mulai menjelaskan. “Seperti abjad Yunani, tapi setahuku ultra tidak termasuk,” kata Aqueena berkomentar. “Benar, memang menggunakan abjad Yunani. Abjad di dunia ini mirip seperti abjad Yunani, hanya saja ada sedikit perbedaan. Anak-anak barusan yang lewat adalah siswi tingkat Alfa, atau di dunia manusia disebut sekolah dasar. Warna pakaian mereka adalah merah hati. Sedangkan anak yang memakai pakaian berwarna biru berada di tingkat Beta, atau sekolah menengah pertama. Dan kita di tingkatan Gama memakai pakaian cokelat.” “Lalu, yang memakai rompi berwarna hijau tua itu?” tunjuk Aqueena pada seorang lelaki yang baru saja lewat di depan mereka. “Penampilannya berbeda dari yang lain.” “Oh, dia berada di tingkatan Ultra atau tingkatan paling tinggi di Academy ini. Mereka memang tak memakai seragam seperti kita. Pakaian yang mereka kenakan bisa dibilang bebas, mereka hanya menggunakan rompi hijau sebagai tanda bahwa mereka berada di tingkatan Ultra. Bisa dibilang, siswa tingkat Ultra setara dengan Mahasiswa.” Aqueena ber-oh-ria mendengar penjelasan Megha. Mereka sampai di kelas setelah lama menyusuri koridor sambil mendengar penjelasan Megha seputar Academy. Megha dan Mauryn duduk di bangku paling depan karena katanya bangku itu adalah bangku tetap bagi mereka berdua. Sementara Aqueena mengambil duduk di kursi paling belakang, karena hanya itulah tempat yang masih kosong. “Ini tempatku!” Suara berat itu terdengar dari samping kiri Aqueena, membuat gadis itu refleks memutar kepala memperhatikan sosok lelaki yang berdiri di samping meja. Aqueena mengenali lelaki itu, karena rambut silvernya terlalu mencolok. “Arthur!” Aqueena membulatkan mata melihat sosok lelaki beriris biru yang pernah ditemuinya di dalam hutan beberapa hari yang lalu. “Jangan sok kenal!” suara Arthur begitu dingin, membuat Aqueena merinding. Belum lagi tatapan matanya mengisyaratkan kebengisan. “Cari tempat lain! Ini tempatku!!” Aqueena sedikit kecewa mendengar ucapan Arthur yang begitu dingin dan juga menyakitkan. Padahal beberapa hari yang lalu mereka sedikit akrab meskipun kenyataannya Arthur memang sosok datar dan dingin. Lagi pula Aqueena masih terkejut atas kehadiran Arthur di sekolah ini. Aqueena ingin bertanya, namun melihat reaksi Arthur membuat dirinya kesal. “Nggak bisa! Aku duluan di sini!” Aqueena mencebik. “Ini tempat pribadiku dari dulu, sekarang kau pergi! Cari tempat lain,” kata lelaki itu dengan suara dingin tak luput juga dengan tatapan datarnya, seakan matanya tak berkedip ketika menatap Aqueena. Terkadang aku heran deh, kenapa aku terus-terusan bertemu dengan laki-laki dingin dan nyebelin? Batin Aqueena meratapi ketidakberuntungannya. “Hei! Kau tidak dengar apa kataku?!” Arthur mengibaskan telapak tangan di wajah Aqueena yang membuat gadis itu tersadar detik itu juga. “Nggak bisa! Sekarang ini tempatku!!” ketus Aqueena tak mau kalah. “Lagi pula bangku ini dibuat untuk dua orang, kenapa aku harus pergi dari sini. Kamu ‘kan bisa duduk di sebelah!” Saat itu juga semua yang berada di kelas menatap Aqueena dengan tajam, kecuali Mauryn dan Megha. Bisikanpun terdengar, meskipun pelan. Aqueena benci berada dalam situasi seperti ini, membuatnya kembali teringat saat dulu dimana dia pertama kali masuk sekolah setelah kematian Claryna. Dia berani sekali. Apa dia sama sekali tidak takut? Pangeran Arthur bisa mengeluarkan badai untuk mengusir orang yang berani duduk di sana seperti yang dilakukannya pada Jimmy dulu. Wah! Baru kali ini aku melihat pangeran Arthur dibentak oleh seorang perempuan. Siapa dia? Dia murid baru? Berani sekali dia membentak pangeran kesayanganku. Aku yakin sebentar lagi kelas kita berubah menjadi tornado. Sebaiknya kita lari sebelum Pangeran Arthur membuat tornado, kekuatan anginnya luar biasa! Aqueena mengernyitkan keningnya mendengar sebutan Arthur yang tak biasa. Kenapa mereka memanggil Arthur pangeran? Apa mungkin Arthur memang pangeran dari empat kerajaan? Aqueena memutar wajahnya, menundukkan kepala agar tidak ada yang melihat ekspresi kesalnya. Lalu gadis itu bangkit dari duduknya dan berniat mencari tempat duduk yang lain, dari pada dia lagi-lagi menjadi korban pembullyan. Apalagi Arthur adalah seorang pangeran, bisa saja Arthur melakukan penindasan terhadap dirinya. Lebih baik Aqueena tidak berurusan dengan lelaki dingin dan arogan seperti Arthur. Ya, Arthur memang arogan. Dari bisikan yang didengar Aqueena, dapat disimpulkan bahwa Arthur adalah lelaki arogan yang tak berperasaan dan ditakuti. “Tunggu!!” Arthur menghentikan Aqueena yang ingin melangkah pergi meninggalkan Arthur dengan bangku pribadinya. “Kau duduk di sana, aku akan duduk di sebelah, aku tidak sudi duduk di tempat yang telah ternodai.” Aqueena kesal bukan main mendengar kata-k********r itu. Bukannya tadi Aqueena bilang bahwa Arthur bisa duduk di sebelah tanpa mengusir Aqueena? Setelah mengusir sekarang malah mencela, dasar tak punya perasaan. Ingin sekali rasanya Aqueena menghantam Arthur dengan tinjunya, namun lebih baik Aqueena menyabarkan diri. Sebaiknya Aqueena tak mencari masalah di hari pertamanya di sekolah. Akhirnya, Aqueena diam dan menurut yang dikatakan Arthur meskipun di dalam hatinya ingin sekali membuat wajah Arthur bengkak. Sesaat kemudian, seorang wanita usia 30-an berwajah cerah memasuki kelas. Saat itu juga suasana kelas yang tadinya ricuh dengan suara-suara tak menentu menjadi tenang. Wanita itu sangat anggun dengan balutan jubah berwarna hitam yang terbuka di bagian depannya, sehingga menampakkan pakaiannya yang berwarna merah. Iris matanya berwarna merah senada dengan rambut blonde merahnya. “Ekhhhemm..” wanita berambut blonde itu berdehem seraya berdiri di meja guru yang berada di depan kelas. Wanita itu meletakkan beberapa buku yang dibawanya di atas meja, kemudian kembali menghadap pada siswa yang baru saja mengatur tempat duduknya. “Baiklah anak-anak sekalian, perkenalkan nama saya Jennifer Lynber. Panggil saya Miss Jenny. Saya akan mengajarkan mantra di kelas ini.” Semua murid yang berada di kelas memperhatikan Miss Jenny dengan perkenalan singkat wanita itu. Kecantikan Miss Jenny membuat para lelaki di kelas itu menggoda dengan rayuan kuno yang sontak membuat Aqueena tertawa. Setelah perkenalan itu, Miss Jenny memulai pelajaran.   >> To be continued <<
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN