Bunyi bel terdengar nyaring di telinga para siswa Centraour Academy. Jam yang ditunggu-tunggu oleh semua siswa, jam istirahat. Makan siang adalah prioritas utama bagi manusia, begitupun penyihir, mereka juga membutuhkan makanan layaknya manusia biasa karena penyihir sebenarnya adalah manusia yang memiliki kemampuan luar biasa.
Sepanjang koridor sekolah, terlihat siswa-siswi yang berlalu lalang sembari membawa tas dan beberapa buku di tangannya. Tak luput pula pertunjukan kecil yang menjadi pusat perhatian; kupu-kupu yang berterbangan layaknya atraksi sulap, rayuan siswa lelaki yang membuat histeris para gadis, hingga aksi pamer kekuatan dan pamer otot yang sebenarnya sangat tak berfaedah. Dan juga yang tak kalah pentingnya, seseorang yang mengambil gambar dengan menggunakan kamera digital, dia adalah seorang half-blood yang tidak lain tidak bukan adalah Jimmy dan Andy.
Half-blood adalah sebutan bagi penyihir yang tak berasal dari keturunan murni. Mereka adalah penyihir yang punya darah manusia atau pun makhluk mitos lainnya karena hasil dari pernikahan. Namun demikian, half-blood bukanlah penyihir lemah, mereka bahkan lebih kuat dibanding penyihir lainnya. Contohnya saja Chelsea dan Andy. Mereka memiliki ayah seorang penyihir dan ibu seorang manusia. Namun, di sekolah Chelsea adalah penyihir wanita terkuat yang berada di urutan dua pada tingkat Gama karena kekuatan petirnya tak bisa dikalahkan dengan mudah. Urutan penyihir wanita pertama tingkat Gama masih dipegang oleh Stevie yang merupakan putri dari kerajaan Swonlerg. Posisi Chelsea bisa berubah jika Andara yang merupakan putri dari kerajaan Wasterost kembali ke sekolah.
Aqueena sebenarnya sama sekali tak tertarik dengan hal-hal aneh yang disebut sihir, meskipun sebenarnya dia sendiri memiliki kekuatan sihir yang tanpa sengaja membuatnya terjebak di dunia aneh ini. Aqueena merasa kekuatan yang dimilikinya sangat tidak wajar. Bagaimana mungkin selama seminggu dia berada di dunia sihir, Aqueena telah memiliki empat kekuatan.
Pertama, saat Aqueena bersama Fischer. Kedua, saat Mr. Hawort memberinya sayap yang membuatnya mengeluarkan perisai karena masih belum mau mati. Ketiga, saat dia tanpa sengaja dapat membuat gelas yang berada jauh darinya mendekat. Ya, mirip sejenis magnet yang menarik besi. Dan terakhir, kemaren saat Aqueena sangat lapar, tanpa sengaja dia mengubah pensilnya menjadi cokelat batang.
Di dunia sihir ini, biasanya penyihir hanya punya satu kemampuan sihir. Misalnya Jimmy yang menguasai kemampuan cahaya bulan dan Andy yang menguasai thunder. Tapi berbeda kasus dengan Aqueena yang menguasai empat kemampuan sihir. Sejak empat kekuatan sihirnya keluar, Aqueena sering mendengar bisikan orang-orang di sekitarnya. Ada yang takut dengan kemampuan yang dimilikinya, ada yang mengagumi, dan ada juga yang mengatakan bahwa dirinya adalah penyihir terkutuk. Dapat diprediksi Aqueena, setelah ini mungkin saja dirinya akan menjadi korban bully yang dijauhi semua orang.
Karena tak ingin terus menjadi bahan hujatan, Aqueena mengasingkan diri di beberapa tempat sepi seperti atap sekolah atau gudang, dan terkadang dia mengasingkan diri di belakang sekolah. Menurutnya, dengan terus terlihat dimana-mana akan membuat semua orang makin membencinya, jadi lebih baik menjadi misterius dan tak berbaur dengan orang lain, kecuali Mauryn dan Megha, mungkin hanya mereka berdualah yang tak menjauhinya.
Selama berada di Academy, Aqueena tak pernah melihat Fischer lagi. Terkahir kalinya mereka bertemu adalah ketika Aqueena mengamuk di ruang kesehatan, setelahnya Fischer tak pernah terlihat dimanapun. Ingin rasanya Aqueena bertemu Fischer dan makan es krim dengan lelaki itu, namun sampai saat ini keberadaan Fischer tak diketahui. Bertanya pada Jimmy atau pun Rhein si ketos juga tak ada gunanya, mereka seakan menyembunyikan sesuatu dari Aqueena.
Matahari bersembunyi di balik awan yang membuat cuaca menjadi mendung. Aqueena melangkah gontai menuju atap sekolah untuk menenangkan dirinya dari pikiran negative. Lagi pula cuaca hari ini mendukung untuk mengasingkan diri di atap sekolah. Tempat sepi dengan hembusan angin menerpa wajahnya dapat memberikan kesejukan tersendiri. Pemandangan kota yang terlihat dari gedung sekolah yang bertingkat seakan mampu menyegarkan mata. Hijaunya hutan mampu membuat mata Aqueena serasa tercuci.
Ada hal yang menarik perhatian Aqueena ketika berada di tempat tinggi, tak lain adalah sebuah bangunan tua yang berdiri kokoh dengan tinggi yang belum dapat diprediksi karena puncaknya ditutupi awan sehingga tidak pernah ada yang mengetahui tinggi bangunan itu, kata Megha.
Aqueena berdiri di pinggir atap sekolah memandangi bangunan tua itu. Gadis bernetra hazel itu sering memandangi menara tua akhir-akhir ini, seakan menara tua itu menghipnotis Aqueena untuk selalu diperhatikan. Kadang Aqueena merasa seseorang dari bangunan tua itu memanggilnya. Bukan hanya itu, setelah Aqueena memperhatikan bangunan tua itu dari kejauhan, Aqueena sering pingsan dan terbangun di kamarnya ataupun ruang kesehatan dan ruang kelas. Seakan dengan memandangi bangunan tua itu membuat Aqueena merasa bermimpi, padahal Aqueena yakin apa yang dilakukannya bukanlah mimpi.
Pertama kali Aqueena mengalami hal aneh ini adalah ketika dirinya pertama kali mengikuti pelajaran di Academy. Aqueena yang terbiasa berada di atap sekolah saat makan siang melakukan hal yang sama di sekolah sihir. Seperti yang dilakukannya saat ini, Aqueena berdiri di pinggir atap sekolah menyaksikan tingginya bangunan sekolah. Lalu perhatiannya tertuju pada bangunan tua itu. Aqueena memandangi bangunan itu tanpa mengedipkan matanya. Entah firasatnya entah memang benar adanya, Aqueena merasa mendengar suara seorang wanita berbisik di telinganya saat dia memandangi bangunan itu. Sejak saat itulah, rasa penasaran Aqueena memuncak, dia sering memandangi menara tua itu untuk mencari tahu kebenaran dari bisikan, dan sejak saat itu pula Aqueena selalu mendengar bisikan itu ketika memandangi bangunan tua.
“Apa kau sangat menyukai bangunan itu?” suara laki-laki yang dingin dan datar mengusik Aqueena. Siapa lagi yang punya suara menyebalkan yang dingin dan datar kalau bukan Arthur.
Aqueena memutar bola matanya menatap si empunya suara, lalu beralih memandangi bangunan itu lagi. “Bukan urusanmu!”
Arthur melangkah mendekati Aqueena yang berdiri di pinggir gedung merasakan hembusan angin. Lelaki itu berdiri di samping Aqueena, membuat konsentrasi Aqueena dalam memandangi bangunan itu terganggu. Arthur memejamkan matanya merasakan hembusan angin seakan dia telah menyatu dengan angin. “Apa kau lelah?” Tanya Arthur yang membuat Aqueena bergidik ngeri.
Aqueena menelan salivanya. Suara Arthur begitu lembut, berbeda dari biasanya yang selalu kasar dan dingin ketika berbicara. Hal itu membuat Aqueena bergidik. Apa mungkin Arthur telah terhipnotis oleh bangunan tua itu?
“Angin adalah bagian dari alam yang paling mudah menjadi sahabat. Angin juga bisa menghapus rasa lelah dengan terpaannya.”
Busyet! Aqueena tak mengerti dengan Arthur saat ini. Dari caranya bicara, Aqueena yakin Arthur telah terhipnotis oleh bangunan tua itu. Sejak Aqueena masuk ke sekolah ini, tak pernah sekalipun Arthur berbicara lembut padanya seperti sekarang. Apalagi berbicara tentang angin dan rasa lelah. Sepertinya Arthur bukan tipikal lelaki yang puitis tentang masalah alam.
“Sepertinya kau sangat menyukai bangunan itu.” Arthur memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang semakin kencang menerpa rambutnya. Senyumnya terkembang, meskipun samar tapi Aqueena mampu melihat adanya kenyamanan pada lelaki itu.
Memandang Arthur dengan wajah dingin memang mengerikan, tetapi memandang Arthur yang sedang tersenyum dengan mata terpejam seperti sekarang jauh lebih mengerikan. Tetapi jika dilihat-lihat dari dekat, Arthur semakin tampan. Lebih tampan ketimbang saat pertama kali mereka bertemu di hutan.
Arthur membuka matanya, membuat Aqueena berusaha memalingkan wajah dari Arthur. Malu saja kalau Aqueena tertangkap sedang memandangi seorang lelaki, karena selama ini Aqueena belum pernah memandang lelaki lain dengan kekaguman meskipun ketampanannya sepantaran dengan artis Korea. “Kau tahu? Bangunan tua itu menyimpan seribu kisah dan seribu tanda tanya.”
Aqueena menatap lurus ke depan, menyaksikan bangunan itu yang entah kenapa terasa berbeda dari biasanya. “Apa maksudnya?”
“Bangunan itu dulunya menjadi tempat seorang penyihir melakukan praktik sihir hitam. Hal itu diketahui oleh orang-orang kerajaan sehingga tubuhnya dikurung di menara itu dan roh-nya berkeliaran mencari tubuh yang dapat menjadi inangnya.”
Aqueena mengernyitkan dahinya hingga kedua alisnya hampir menyatu. Baru kali ini Aqueena bingung dengan penjelasan orang lain. “Apa yang sebenarnya terjadi?”
Arthur menatap Aqueena, begitupun gadis itu yang telah memalingkan wajahnya dari menara tua. Sekejap, Aqueena menangkap kilauan manic biru yang menatap matanya, begitu dalam dan... penuh dengan emosi yang tak dapat dijelaskan.
“Tak ada yang tahu.”
ψψψ
“Semuanya siap?” tanya Mr. Dalvis sembari berkacak pinggang sambil memegang beberapa tumbuhan.
Semua siswa yang mengikuti kelas ramuan yang dipandu Mr. Dalvis bersiap-siap mengikuti petualangan di alam bebas dengan membawa tas punggung yang berisi alat-alat keperluan mereka masing-masing. Mr. Dalvis memerintahkan siswa-siswi berkumpul di hutan bagian barat sekolah. Tujuannya adalah untuk menemukan berbagai jenis tumbuhan obat yang sekiranya banyak ditemukan di bagian barat sekolah.
“Ketua kelas! Atur barisan!” Perintah Mr. Dalvis.
Alvaro sang ketua kelas berdiri di depan semua siswa mengatur barisan hingga benar-benar rapi. Setelahnya, barulah Mr. Dalvis menjelaskan apa saja yang harus mereka kerjakan saat mengikuti petualangan alam bebas.
“Kalian lihat tumbuhan ini?” Mr. Dalvis memperlihatkan satu persatu tumbuhan. “Ini adalah tumbuhan obat. Tugas kalian di sini adalah mencari tumbuhan ini dan kumpulkan sebanyak-banyaknya.”
“Hanya tumbuhan itu saja? Kecil!” ucap Andy meremehkan, lelaki itu bersedekap sehingga kelihatan seperti orang hebat padahal sebenarnya dia salah satu dari duo i***t.
“Khusus Andy, kau harus membawa akar wangi!” Detik yang sama, tawa semua siswa yang mengikuti petualangan alam bebas menggema menyoraki Andy. Sementara Andy, laki-laki itu terdiam, menganga, dan membulatkan matanya, disertai bibirnya yang bergetar tak percaya.
“Master, ini tidak adil! Akar wangi sangat sulit didapatkan di hutan ini,” keluh Andy yang langsung mendapat tatapan tajam dari Mr. Dalvis sehingga membuat Andy menutup mulutnya rapat dengan kedua tangan. Master adalah panggilan istimewa bagi Mr. Dalvis, karena beliau adalah lulusan terbaik Academy yang mampu menemukan lebih dari lima puluh ramuan sihir di usia muda.
“Mau membawa akar wangi atau jamur perak?” ucap Mr. Dalvis dengan cengiran khasnya. Tawa semua siswa kembali menggema mendengar tugas Andy lebih berat ketimbang tugas yang lainnya. Belum lagi jamur perak yang dikatakan Mr. Dalvis adalah sejenis tumbuhan yang kemungkinan ditemukan di dunia sihir adalah satu berbanding seratus ribu tumbuhan akar wangi.
“Ampun, Master!”
“Sekarang bubar! Dapatkan tugas yang saya berikan. Dan ingat! Jangan sampai ada yang keluar jalur.”
Semua siswa membubarkan barisan dan berbondong-bondong menuju hutan mencari tanaman obat yang ditugaskan oleh Mr. Dalvis. Aqueena, Megha dan Mauryn bersama-sama mencari tanaman obat di pinggir sungai menjauhi keramaian. Sebenarnya Mauryn tidak menyukai situasi hening, gadis itu lebih menyukai keramaian. Tetapi kedua temannya malah sebaliknya, Megha dan Aqueena tidak menyukai keramaian sehingga Mauryn harus terpaksa mengikuti temannya.
“Kau mendapatkannya?” tanya Mauryn padaAqueena yang masih sibuk mencari tanaman obat.
“Aku sudah mendapatkannya,” jawab Aqueena memperlihatkan tumbuhan yang didapatkannya.
Sementara Megha, gadis itu berdiri di pinggil sungai berbicara seorang diri. Sebenarnya dia berusaha berkomunikasi dengan arwah yang menghuni sungai itu, berharap arwah itu dapat membantu mereka mencari tumbuhan obat yang diminta Mr. Dalvis.
Mauryn menarik pergelangan tangan Megha agar gadis itu menjauhi sungai. Bagi Mauryn yang tidak bisa melihat arwah menganggap Megha seperti orang gila yang berbicara sendiri. Dia menganggap kekuatan yang dimiliki Megha sangat aneh dari kekuatan lainnya. Biasanya para penyihir akan memiliki kekuatan yang berhubungan dengan alam ataupun berbuhungan dengan benda dan pikiran.
“Kita ke arah utara!” ucap Megha, lalu melangkah lebih dulu, diikuti kedua sahabatnya.
“Memangnya kita mau kemana?” tanya Mauryn merasa aneh dengan sikap Megha.
Megha terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, “Di sana banyak tumbuhan yang kita cari. Para arwah itu mengatakan padaku. Mereka lebih mengetahui hutan ini daripada kita.”
Aqueena dan Mauryn serempak menghentikan langkah saat mendengar kata ‘arwah’. Mereka merasa merinding, ngeri, dan takut jika arwah itu mengikuti mereka dan mencelakakan mereka.
“Megha, bisakah kita tidak mendengarkan ucapan arwah? Kita mencarinya sendiri saja.” Kali ini Mauryn yang berbicara. Dia memberanikan diri mengatakan apa yang dirasakan tanpa membuat Megha merasa kecewa.
Terukir senyuman tipis di wajah Megha, gadis itu mengetahui kegelisahan kedua sahabatnya. “Tenang saja, mereka tidak berbahaya”.
Ketiga gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka—yang dipenuhi tumbuhan liar—berharap menemukan tumbuhan obat. Aqueena menajamkan penglihatannya saat melihat tumbuhan yang berada sedikit lebih jauh dari mereka.
“Di sana!” tunjuk Aqueena antusias.
Ketiga gadis itu mendekati tumbuhan yang ditunjuk Aqueena. Dan benar, mereka menemukan populasi tumbuhan obat. Di sana terdapat banyak tumbuhan obat yang dapat membuat hati Mr. Dalvis luluh seketika. Guru ramuan itu akan sangat bahagia jika dia mendapatkan banyak tumbuhan obat, karena sang Master sangat mencintai ramuan dan sangat senang membuat ramuan.
“Lihat itu!!” Mauryn membulatkan matanya melihat spesies tumbuhan, seakan tumbuhan itu berkilau di mata Mauryn.
Aqueena dan Megha mengikuti arah yang ditunjuk Mauryn, dan seketika keduanya juga membulatkan mata.
“Akar wangi!” ucap Megha antusias.
Kegitanya kompak berlari menuju spesies akar wangi yang sangat langka. Jika mereka menemukannya, sudah pasti nilai jelajah alam kali ini akan aman. Wajah ketiganya berubah cerah dengan senyum yang tersungging indah ketika melihat akar wangi yang tumbuh subur di sana. Tetapi senyuman itu tidak bertahan lama, karena tiba-tiba saja seekor beruang mengancam keselamatan mereka.
“Be-be-ru-ang!” suara Mauryn terbata-bata setelah melihat beruang hitam besar yang menatap mereka sengit.
“Bukan Beruang!” Megha menatap beruang itu dengan wajah pucat. “Pan-da!”
“Mau Beruang mau Panda, yang jelas sekarang kita...” Aqueena menggantungkan ucapannya saat melihat mata beruang itu yang semakin tajam. Salivanya sulit melalui tenggorokan saking gugupnya melihat hewan liar yang siap memangsa.
“LARIIII!” Mauryn berlari terlebih dahulu, diikuti Megha lalu Aqueena. Karena Mauryn memiliki tubuh yang mungil ketimbang Megha dan Aqueena membuat tubuh gadis itu mudah bergerak sehingga larinya lebih kencang. Hewan liar itu mengejar mereka yang berlari dengan cepat meskipun tubuhnya sangat besar.
Napas ketiganya tak beraturan karena ketakutan terhadap beruang yang terus mengejar. Mereka terus berlari tak menentu hingga menyeberangi sungai. Seharusnya, area sungai adalah kawasan terlarang yang tak boleh dilalui. Namun, karena ketakutan dan tak ada jalan lain selain melewati sungai, akhirnya mereka memilih menyebang sungai tanpa peduli arus sungai yang cukup deras. Untung saja tak ada yang hanyut terbawa sungai, akan tetapi bukannya selamat dari hewan liar bertubuh besar, mereka malah bertemu hewan yang lebih buas.
“Sepertinya kita…” Megha menelan susah salivanya ketika melihat hewan yang jauh lebih buas dari hewan sebelumnya. “..kita keluar jalur!”
Deru napas ketiganya semakin kencang. Jantungnya berpacu berusaha mengalahkan rasa takut. Namun, rasa takut itu tak kunjung hilang. Apalagi sekarang hewan buas itu mengaum pada mereka.
“Harimaunya…” Aqueena berusaha mengeraskan suaranya. “Apa kalian bawa tongkat sihir?”
“Aku tak membawanya,” ucap Mauryn gugup.
“Aku membawanya,” ucap Megha disela rasa takutnya. “Tapi aku belum bisa menggunakannya.”
“Coba gunakan!” Aqueena member dorongan, namun Megha tetap tak berani menggunakannya. “Aku yakin kamu bisa.”
Megha merapalkan sebuah kalimat sihir. Seketika, sebuah api kecil muncul di ujung tongkat sihirnya, lalu menghantam tubuh Harimau buas yang sedang memperlihatkan taring pada mereka. Tetapi sayangnya, sihir yang digunakan Megha tak berpengaruh sedikitpun pada Harimau itu. Wajar saja, Megha baru beberapa bukan berada di dunia sihir sehingga belum bisa menggunakan sihir seperti kebanyakan penyihir lainnya. Belum lagi pada ulangan harian nilai mantra Megha berada di bawah nilai rata-rata.
Harimau yang terkena sedikit percikan api mengaum keras, membuat Aqueena, Megha dan Mauryn kehilangan nyali. Harimau itu mulai menerkam, untung saja Aqueena bisa membuat perisai sehingga untuk saat ini mereka terselamatkan. Aqueena sedikit bersyukur karena punya kemampuan dapat melindungi diri dan juga orang lain. Namun rasa syukurnya tak bertahan lama karena perisai energy yang diciptakannya mulai retak akibat hentaman Harimau yang begitu kuat.
“Megha lakukan sesuatu!!” Mauryn bergetar hebat, wajah gadis itu pucat dan seluruh tubuhnya hampir tak bisa digerakkan lagi.
Megha sudah berusaha merapalkan mantra, namun usahanya sejak tadi tak membuahkan hasil. Begitu pula dengan Aqueena yang sejak tadi terus berusaha mengeluarkan kekuatannya. Aqueena berusaha mengeluarkan kemampuan magnet yang dia miliki, namun sayangnya tubuh di sekitar sana tak ada yang bisa ditariknya, jangankan besi yang biasanya ditarik magnet, batu pun tidak ditemukan di sekitar mereka. Aqueena juga sudah berusaha mengeluarkan kemampuan perubahan molekul, berharap dia dapat merubah Harimau ganas itu menjadi permen kapas, namun nihil karena energinya tak mencukupi.
“Baiklah!” Aqueena berusaha menenangkan diri. “Kita nggak bisa berbuat apa-apa sekarang. Sebentar lagi perisaiku juga bakal hancur. Yang bisa kita lakukan sekarang adalalah lari.”
Megha dan Mauryn mengangguk.
“Kalian larilah terlebih dahulu. Aku akan berusaha menebalkan perisai agar Harimaunya nggak bisa lewat.”
“Tapi, Aqueena…” Megha merasa bersalah karena menjadikan Aqueena umpan agar dirinya bersama Mauryn bisa lari.
“Nggak usah pedulikan aku. Aku bisa kok jaga diri.” Aqueena berusaha tersenyum meskipun dia belum tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. “Sekarang pergi!!”
“Hati-hati, Na!” Mauryn berusaha tegar. “Kamu harus segera menyusul kami!”
Aqueena mengangguk singkat. Dia memperhatikan Megha dan Mauryn yang telah berlari menjauh. Aqueena berusaha mempertebal perisai yang dibuatnya agar Harimau ganas itu tak bisa lewat. Meskipun dia tahu akan hancur karena hentaman kuat berkali-kali yang dilakukan Harimau, Aqueena tak menyerah dan terus berusaha. Karena dengan inilah dia bisa melindungi Megha dan Mauryn yang sekiranya sudah menjadi orang yang berharga baginya.
Aqueena merasakan energinya mulai menipis, jika dilanjutkan sudah pasti Aqueena akan pingsan detik ini juga dan menjadi makanan enak bagi Harimau. Dari pada mengambil risiko, Aqueena lebih memilih lari meskipun merasa kelelahan. Setidaknya Harimau itu butuh waktu beberapa detik untuk menghancurkan perisai yang dibuatnya. Aqueena berusaha berlari menjauh, dan beberapa detik kemudian dia mendengar suara pecahan. Artinya, Harimau itu telah berhasil menghancurkan perisai yang dibuatnya.
Aqueena terus berlari meskipun rasanya dia sudah tak tahan lagi. Di depan sana, persimpangan menunggunya untuk dipilih. Hal ini benar-benar merepotkan. Aqueena tak tahu bagian mana yang dipilih Mauryn dan Megha. Namun demikian, Aqueena tetap harus memilih, pilih yang kiri ataupun yang kanan, hasilnya tetap sama, Aqueena akan tetap berhadapan dengan hutan. Akhirnya Aqueena memilih jalan bagian kanan.
Harimau besar itu menghentikan larinya saat melihat Aqueena memasuki jalan bagian kanan. Entah kenapa Harimau itu berhenti mengejar Aqueena, yang jelas, Aqueena dapat bernapas lega dan beristirahat untuk mengumpulkan energi.
Aqueena merasakan denyutan yang menyakitkan kepalanya. Dia memegangi kepalanya yang mulai pusing, matanya berkunang-kunang, dan penglihatannya mulai gelap. Napasnya sesak disertai peluh dingin yang lagi-lagi muncul dari kepalanya. Seketika itu juga, Aqueena merasa mendengar sebuah suara.
“Ikuti suaraku!”
Tak tahu kenapa, Aqueena yang tadinya lelah disertai sakit kepala tiba-tiba terbangun dari duduknya. Aqueena tak tahu kenapa tubuhnya seakan tak mengikuti perintahnya. Dia merasa seperti ada seseorang yang mengendalikan tubuhnya untuk terus berdiri dan berjalan mencari sumber suara yang berbisik. Langkah Aqueena gontai karena sakit di kepalanya. Aqueena berusaha menajamkan pendengarannya dan waspada terhadap suara itu. Aqueena sampai di sebuah menara tua yang sangat tinggi. Kali ini, suara itu terdengar sangat jelas di telinganya.
“Buka pintu itu dan selamatkan aku!”
Suara itu berulang kali terdengar dan mengganggu di kepala Aqueena. Gadis itu membuka pintu besar bangunan tua secara perlahan. Meskipun penglihatannya mulai memburam, Aqueena masih dapat melihat isi ruangan itu. Dilihatnya tangga yang berkelok menuju atas bangunan. Bangunan itu terdiri dari ribuan anak tangga yang menjulang ke atas. Aqueena tahu, bangunan itu bukanlah bangunan biasa. Namun Aqueena tak bisa menggerakkan kakinya untuk tidak menaiki anak tangga.
“Naik ke atas! Temukan dan selamatkan aku!”
Suara itu merintih seakan merasakan sakit. Entah kenapa, rintihannya membuat seluruh tubuh Aqueena merasa sakit. Aqueena melangkah, menginjakkan kakinya pada anak tangga yang pertama. Sesaat, kepalanya langsung dipenuhi dengan suara yang tidak menentu yang membuat kepalanya semakin pusing. Gadis itu meneruskan langkahnya menuju anak tangga yang kedua. Belum sempat kakinya mendarat pada anak tangga yang kedua, pergelangan tangannya terlebih dahulu ditarik oleh seseorang.
“Hampir saja!”
Aqueena masih merasakan sakit yang teramat di kepalanya. Seakan merasakan kepalanya akan meledak, dia berusaha melawan rasa sakit itu dan terus berusaha membuat matanya terbuka. Hal pertama yang dilihat Aqueena adalah sepasang manic biru yang menatapnya penuh amarah.
“Apa kau tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau menaiki tangga itu, hah?!” suara Arthur terdengar samar, namun dari ekspresinya Aqueena tahu lelaki itu sedang memarahinya. Arthur menyentuh kedua bahu Aqueena dan berusaha membuat Aqueena tersadar. “AQUEENA!! Kau kenapa?! SADARLAH!!”
Aqueena meremas kepalanya, suara bisikan itu masih terdengar dan masih merasuki kepalanya. Penglihatannya semakin memburam, Aqueena bahkan tak yakin jika yang di depannya benar-benar Arthur.
Arthur yang menyadari Aqueena merasakan sakit di kepalanya berusaha membuat kesadaran Aqueena tetap utuh. Arthur meremas bahu Aqueena dan menggoncangkan tubuh Aqueena.
“Aqueena! Kau masih mendengarku?! AQUEENA!!”
Aqueena tak sanggup lagi menahan rasa sakit di kepalanya. Bukan hanya rasa sakit di kepalanya, Aqueena hampir kehabisan energy yang membuatnya tak bisa bergerak. Akhirnya Aqueena terjatuh di d**a bidang Arthur. Lelaki itu terkejut dan berusaha membangunkan Aqueena, tetapi usaha yang dilakukannya sia-sia. Gadis itu tetap memejamkan matanya hingga Arthur harus membawanya kembali ke sekolah.
>> To be continued <<