9. Kekuatan Angin Level Dua

3454 Kata
Deru napas Arthur tak beraturan ketika melihat Aqueena yang tak sadarkan diri. Lelaki itu tak bisa berpikir jernih melihat wajah Aqueena yang pucat. Arthur yakin Aqueena telah terkena sihir ilusi dari bangunan tua yang konon mencari mangsa dengan ilusi. Arthur membopong tubuh Aqueena menuju sekolah dengan perasaan campur aduk. Hal itu membuat Arthur menjadi pusat perhatian semua siswa yang mengikuti kegiatan lapangan mencari tumbuhan obat. Kalau Arthur hanya berlari menuju sekolah mungkin hal itu tak akan menarik perhatian semua siswa, tetapi Arthur menggunakan stream yang merupakan kekuatan angin level dua. Semua siswa terkejut melihat Arthur menuju sekolah menggunakan stream. Arthur melompat dan memfokuskan aliran angin di sekitarnya sehingga terlihat seperti terbang menuju sekolah. Arthur benar-benar panic hingga membuatnya bisa menggunakan stream dengan kecepatan maksimal yang bisa dilakukannya. Tubuh Arthur yang menggunakan stream mungkin tak terlihat karena kecepatannya, tetapi siswa dapat mengetahuinya karena di sekolah ini yang memiliki kekuatan angin hanyalah Arthur. Lagi pula, siswa dengan kemampuan indera super peka mampu melihat Arthur melintas membawa Aqueena. Sebelumnya Arthur tak pernah menggunakan stream di sekolah. Yang diketahui semua siswa, Arthur pernah menggunakan stream ketika mengejar sekelompok Sontan, selebihnya Arthur hanya menunjukkan Swirling yang merupakan kekuatan angin level satu. Peluh dingin bercucuran di pipi Arthur meskipun lelaki itu berada dalam pengaruh angin. d**a Arthur serasa sesak ketika melihat wajah Aqueena yang tak kunjung membuka matanya. Kepala Arthur mulai pusing disertai kepanikan yang melanda pikirannya. Lelaki itu memikirkan kemungkinan buruk yang mungkin terjadi pada gadis yang berada dalam gendongannya. Melihat wajah Aqueena membuat Arthur kembali teringat pada kejadian tiga tahun yang lalu ketika dirinya tak sempat menyelamatkan nyawa orang yang penting baginya. Sejak kejadian itu, Arthur takut bergaul dengan orang lain dan bahkan takut untuk mendekati adik kembarnya sendiri. Arthur sampai di sekolah tanpa masuk dari pagar. Hal itu membuat kehebohan di sekolah. Pasalnya, Arthur melintasi gedung pembelajaran tingkat Beta yang berada di tengah-tengah gedung pembelajaran lainnya menuju ruang kesehatan yang berjarak dua gedung. Seisi sekolah ramai menyaksikan Arthur yang melintas dengan kecepatan maksimalnya. Hal itumembuat para guru yang berada di gedung utama ikut keluar. Tak hanya sampai di sana saja Arthur membuat kehebohan, lelaki itu memasuki ruang kesehatan melalui jendela sehingga membuat siswa yang sedang tiduran di ruang kesehatan terbangung dan keluar dari ruang kesehatan. “Apa yang terjadi?” tanya Dokter Anna panik melihat Arthur membaringkan Aqueena di salah satu ranjang ruang keehatan. Arthur tak menjawab, lelaki itu sibuk mengontrol napasnya yang tak beraturan. Arthur berusaha menahan emosi beserta trauma yang dialaminya. Hal itu membuat Dokter Anna yang awalnya ingin menangangi Aqueena malah berbalik memberikan obat pada Arthur. “Tak usah...” Arthur berusaha mengatur napasnya. Dia menatap Aqueena yang terbaring di ranjang“...tak usah pedulikan aku!” “Sebaiknya kau berbaring dulu!” ucap Dokter Anna seraya mengambil peralatan kedokteran untuk memeriksa Arthur. Tak menghiraukan Dokter Anna, Arthur keluar dari ruang kesehatan dengan langkah tertatih. Hal itu membuat Dokter Anna menyusulnya, namun ketika wanita paruh baya itu keluar dari ruang kesehatan, Arthur sudah melenggang pergi menggunakan wingsboard. Dokter Anna menggelengkan kepalanya melihat punggung Arthur yang sudah menjauh. “Masih saja keras kepala!” Dokter Anna kembali masuk ke ruang kesehatan untuk melihat kondisi Aqueena. Sementara itu, Arthur yang pergi meninggalkan ruang kesehatan mencari tempat sepi. Alasannya tak lain karena tak ingin orang lain melihat sisi lemah dirinya. Sejak dulu Arthur benci dianggap lemah dan selalu ingin membanggakan kekuatan yang dimilikinya. Namun Arthur hanya bisa memamerkan kekuatan angin saja meskipun dia masih punya kekuatan yang lain. Hal ini karena ayahnya yang merupakan Raja Wasterost melarang Arthur menggunakan kemampuan lain yang dimilikinya. Arthur menuju menara gedung utama untuk menenangkan emosinya, karena menara itulah tempat sepi yang paling dekat dengannya sekarang. Menara gedung utama biasanya dijaga oleh seorang penyihir kerajaan untuk memantau situasi dan keamanan sekolah. Namun entah kenapa saat ini Arthur tak melihat adanya penjaga di sana, karena itulah Arthur memutuskan untuk menenangkan diri di menara gedung utama. Arthur meremas kepalanya dan berusaha mengontrol napasnya. Arthur berusaha melupakan kejadian masa lalu yang membuatnya seperti ini. Namun ketika melihat seorang gadis pingsan ataupun sakit, emosi Arthur mulai tak terkendali. Dadanya mulai bergemuruh disertai napasnya yang tak beraturan. Karena hal inilah Arthur memilih menjauhi setiap gadis yang berusaha mendekatinya, dan bahkan Arthur mengabaikan Andara yang jelas-jelas harus dilindunginya. Napas Arthur mulai tenang menskipun sakit kepalanya belum hilang. Namun untuk saat ini Arthur sudah bisa keluar dari menara gedung utama karena merasa tubuhnya sudah mulai normal. Arthur teringata bahwa saat ini dia harus segera menemui Mr. Hawort untuk menanyakan kejadian yang terjadi pada Aqueena. Sebelumnya tak pernah ada kejadian seperti ini. Mungkin saja Mr. Hawort tahu apa yang terjadi pada Aqueena. Arthur melompat dan masuk ke dalam gedung utama lantai dua. Dengan langkah memburu, Arthur sampai di pintu besar ruang kepala sekolah. Arthur memang sering keluar masuk ruangan dari jendela, namun kali ini Arthur memilih masuk lewat pintu karena dia masih memiliki etika bagaimana berhadapan dengan kepala sekolah. Pintu ruangan kepala sekolah terbuka lebar sebelum Arthur mengetuknya. Sepertinya pemilik ruangan mengetahui kedatangan Arthur. “Master, bisakah Anda jelaskan?” tanya Arthur tanpa basa-basi. “Kau masih seperti biasa, tak pernah bisa berbasa-basi terlebih dahulu dengan orang lain!” Mr. Hawort menyeruput segelas kopi panas tanpa mempedulikan Arthur yang sekarang telah berdiri di depannya. Arthur mengepal tinjunya. “Aku yakin Anda sudah tahu apa yang terjadi!” “Duduklah! Sebaiknya jelaskan dengan tenang, bukan dengan emosi!” Arthur pasrah dan memilih duduk dengan tenang di depan Mr. Hawort sembari menunggu pria tua itu menyeruput kopi panasnya. Mr. Hawort menghela napas berat. Memang benar apa yang dikatakan Arthur bahwa Mr. Hawort mengetahui apa yang sudah terjadi, karena itulah kemampuan istimewa yang dimilikinya. Pria tua itu merasakan sesuatu yang besar akan terjadi di Magical World. Mr. Hawort dapat merasakan aura kegelapan sebentar lagi muncul dan menghancurkan dunia sihir. Kegelisahan itu telah dia rasakan sejak dua hari yang lalu, tetapi Mr. Hawort masih tetap tenang agar situasi tidak memburuk. Arthur memulai penjelasannya. “Aqueena dapat membuka pintu menara tua.” Langsung saja mata Mr. Hawort membulat sempurna seakan tak menyangka hal buruk itu begitu cepat terjadi. Bencana akan terjadi lagi, situasi Magical World akan kacau jika memang Aqueena dapat membuka menara tua itu. “Aku sudah tahu apa isi dari menara tua itu.” Tatapan Arthur mengintimidasi, meminta Mr. Hawort menjelaskan. “Sebelumnya tak ada yang dapat membuka pintu menara tua. Jelaskan kenapa Aqueena bisa membukanya! Anda mungkin dapat membohongi orang lain, tapi perlu Anda ingat, Anda dan para Raja tak bisa membohongiku!” Mr. Hawort menghela napas berat. Tak ada gunanya terus tenang dan menciptakan kebohongan untuk mengelabui Arthur. Nyatanya Arthur adalah pangeran yang teliti dengan sesuatu yang terjadi. Lebih baik menceritakan semuanya, mungkin saja Arthur dapat membantu seperti yang dilakukannya selama ini terhadap para Sontan yang sering menculik para remaja. Lagi pula Mr. Hawort tahu bahwa prioritas Arthur adalah melindungi kerajaannya, Wasterost. “Sebelumnya ada satu orang yang bisa membuka menara tua itu selain Aqueena!” Mr. Hawort berterus terang.  “Dia adalah orang pertama yang menyegel sesuatu ke dalam menara itu.” “Aku sudah tahu mengenai cerita itu.” Arthur merasa bosan karena Mr. Hawort tak kunjung berterus terang. “Dia adalah Rhobert...” Mata Arthur melotot ketika mengingat sebuah nama yang telah menyegel sesuatu ke dalam menara tua itu. “Benar!” Mr. Hawort tersenyum tipis. “Bukan hanya orang yang menyegel saja yang bisa membuka pintu menara itu, tetapi orang yang memiliki darah orang yang menyegel tersebut di dalam tubuhnya, dia juga bisa membuka pintu menara tua itu.” “Berarti Aqueena...” Arthur menelan susah salivanya. “Hasthley?” “Benar, dia adalah cucunya!” Mata Arthur semakin melotot disertai kedua tunjunya yang sudah tergenggam erat. “Artinya nyawa Aqueena dalam bahaya!”   ψψψ   Aqueena terbangun dari pingsan dan mendapati dirinya berada di ruang kesehatan yang bernuansa putih. Di sampingnya, seorang wanita berjas putih khas dokter memeriksa keadaan gadis itu dengan menggunakan alat kedokteran, seperti stethoscope. Wanita itu tersenyum ketika Aqueena membuka matanya. Belum sempat Aqueena bertanya dirinya ada di mana, wanita itu terlebih dahulu bertanya pada dirinya. “Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa baik?!” Aqueena mengubah posisinya menjadi duduk dibantu oleh Dokter Anna. Beberapa kali gadis itu mengedipkan mata dan menajamkan penglihatannya. Aqueena sama sekali tidak mengingat apapun sebelumnya. Terakhir kali yang masih diingatnya adalah perisai dan Harimau yang mengejarnya, selebihnya Aqueena tak ingat apa yang membuatnya berada di ruang kesehatan sekarang ini. “Kau sudah baikan?” tanya Dokter Anna sembari memberikan segelas air dan sepotong roti kepada Aqueena. “Minumlah! Agar kau bisa lebih tenang.” “Terima kasih!” ucap Aqueena dengan suara serak dan pelan. Dokter Anna memperhatikan Aqueena—memperhatikan caranya meminum air, tingkah laku, dan kebiasaannya—dengan seksama karena merasa kebiasaan Aqueena mirip dengan seseorang yang dikenalnya. Tanpa disadari, senyuman tersungging di bibir Dokter Anna. “Kau mirip dengan seseorang yang kukenal.” “Apa?” Masih di posisi yang sama, Dokter Anna mengalihkan pandangannya, menundukkan wajahnya agar Aqueena tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. “Kau mirip dengan orang yang sangat kukagumi. Tapi sudahlah, aku tak tahu apakah dia masih hidup atau sudah meninggal.” Aqueena terdiam seraya bibirnya sedikit ditarik untuk menciptakan senyuman manis di wajahnya. Sementara Dokter Anna raut wajahnya mulai berubah. Senyuman yang tadi terlihat di wajahnya berubah seketika menjadi bulir air mata yang sedikit lagi membasahi pipi wanita itu. KREK Suara pintu terbuka membuat Aqueena dan Dokter Anna beralih menatap orang yang berada dibalik pintu. Mr. Hawort tiba-tiba saja mengunjungi ruang kesehatan. Penampilannya masih sama saja, tak berubah dari pertama kali Aqueena bertemu dengannya. Bahkan pakaian sehari-harinya juga sama, seakan Mr. Hawort tak pernah ganti baju. Namun kenyataannya pria tua itu mengoleksi pakaian yang sama agar penampilannya tak pernah berubah. Untuk kali keduanya, Aqueena merasa melihat mata Mr. Hawort berkaca-kaca seakan mengumpulkan bulir air mata. Aqueena memperhatikan pria tua itu yang melangkah mendekatinya, lalu memberikan kode kepada Dokter Anna agar meninggalkan mereka dan mengambil posisi duduk Dokter Anna. “Kau baik-baik saja?” Mr. Hawort memperhatikan Aqueena yang membuat gadis itu merasa risih. Aqueena tidak mengerti, tadi Dokter Anna yang menatapnya seperti memperhatikan seorangkerabat yang telah tiada, dan sekarang kepala sekolah juga melakukan hal yang sama. Aqueena mulai membuka suara. Sesaat dia merasa tatapan Mr. Hawort menunjukkan kebahagiaan, dan sesaat lagi terlihat kepiluan di wajah pria tua itu. “Apa Anda juga berpikir saya mirip dengan orang yang dikatakan Dokter Anna?” tanya Aqueena menghentikan aktivitasnya mengunyah roti. “Ternyata kau benar-benar kembali,” ucap Mr. Hawort sedikit antusias. Aqueena merasa pertanyaannya dan jawaban yang diberikan Mr. Hawort sangat tidak sinkron. Aqueena hanya tersenyum tipis meskipun dalam hatinya merutuki Mr. Hawort dengan kata-k********r yang tak perlu dijelaskan. “Kau benar-benar mirip dengannya, matamu, caramu memakan roti itu, bahkan makanan kesukaanmu sama sepertinya.” Dalam hati, Aqueena merutuki dirinya sendiri yang memilih berada di sekolah aneh ini. Bukan hanya sekolahnya saja yang aneh, tetapi orang-orang di sini juga aneh, bahkan orang nomor satu di sekolah ini juga sangat aneh menurut Aqueena. Memangnya Aqueena semirip itu dengan orang yang dimaksud Dokter Anna dan juga Mr. Hawort? Siapa sih orang itu? Aqueena jadi penasaran dibuatnya. “Bolehkah aku bertanya?” tanya Mr. Hawort dengan mata yang menatap pilu. Entah apa yang ada di pikiran pria tua itu hingga membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata. Hal itu membuat Aqueena tertegun, baru kali ini dia melihat seorang kepala sekolah meneteskan air mata di hadapan seorang siswi sepertinya. “Tentu saja,” balas Aqueena singkat. Aqueena kembali melakukan aktivitasnya menghabiskan roti pandan yang sedari tadi tak kunjung habis. “Apakah Nenekmu masih sehat-sehat saja?” tanya Mr. Hawort yang membuat Aqueena tersedak. Dengan segera, Mr. Hawort menyodorkan air kepada Aqueena. “Memangnya Anda mengenal Nenek saya?” Aqueena tak tahu kenapa Mr. Hawort bertanya tentang neneknya secara tiba-tiba. Setahunya selama ini keluarganya tinggal di dunia manusia, termasuk neneknya, jadi mana mungkin Mr. Hawort mengenal neneknya. “Minora!” Mr. Hawort tersenyum tipis. “Kau cucunya Minora, bukan?” Hebat, ternyata Nenek Minora terkenal di kalangan pria tua. Apa mungkin Mr. Hawort adalah kenalan neneknya di masa dulu? Atau mungkin lebih gilanya, Mr. Hawort naksir pada neneknya? Luar biasa! “Aku adalah teman baik Kakek dan Nenekmu. Dan aku juga tahu selama ini Minora merahasiakan bahwa kamu adalah cucunya Rhobert Hasthley!” Mata Aqueena membulat seketika, dadanya berdetak tak karuan, tenggorokannya serasa tercekat, seluruh tubuhnya menegang, dan wajahnya sudah pasti memerah disertai kekhawatiran; khawatir jika identitas yang selama ini dia sembunyikan diketahui oleh semua orang, khawatir jika amanah dari ayah dan neneknya tidak dapat dijaga, dan khawatir jika identitas keluarganya diketahui khalayak banyak. “Da-dari mana Anda tahu?” tanya Aqueena gelagapan. “Aku sudah menduga dari awal. Sifat tegas dan tegarmu mirip dengan Jonathan, ayahmu. Wajahmu adalah cerminan Evelyn muda, bentuk wajahmu dan ibumu mirip. Caramu berjalan mirip dengan Minora, nenekmu. Dan caramu memakan roti itu mirip dengan sahabatku, Robert.” “Anda mengenal semua keluargaku?” tanya Aqueena, dia tidak mengerti kenapa keluarganya dikenal oleh seorang kepala sekolah di dunia sihir. Dan yang lebih parahnya, Mr. Hawort mengatakan bahwa beliau bersahabat dengan Robert, kakeknya Aqueena. “Tentu saja aku mengenal mereka semua. Pertama kali aku melihatmu, aku mengira kau adalah Evelyn, keponakanku.” Sungguh gila. Ini seperti mengetahui sapi melahirkan anak kambing. Sangat tidak mungkin rasanya jika semua keluarganya dikenal oleh orang aneh yang tinggal di dunia Harry Potter. Lagi pula, dari kecil hingga besar, keluarganya selalu menetap di dunia manusia. Sangat tidak mungkin jika mamanya adalah keponakan Mr. Hawort. Aqueena terkekeh mendengar penjelasan Mr.Hawort. “Candaan Anda terlalu lucu. Mama tidak punya keluarga selain Papa dan juga Nenek. Mungkin Evelyn yang Anda maksud bukan mama saya, hanya kebetulan saja nama mereka sama.” “Apa kebetulan jika Evelyn yang kumaksud memiliki wajah yang sama dengan Evelyn ibumu? Bagaimana jika kukatakan bahwa Evelyn ibumu sama dengan Evelyn keponakanku yang berasal dari dunia ini.” Aqueena merasa tenggorokannya tersekat. Pertanyaan itu sukses membuat salivanya menggantung di tenggorokannya hingga suaranya tak mampu keluar. “Apakah Anda benar-benar pamannya Mama?” tanya Aqueena, suaranya pelan, ragu untuk bertanya, lebih tepatnya ragu untuk menerima kenyataan. “Tentu saja. Mamamu adalah keponakanku dan murid terbaik sekolah ini,” ucap Mr. Hawort. Wajahnya kembali cerah, bibirnya tersungging memperlihatkan senyum yang merekah. “Meskipun terkadang dia sangat ceroboh dan melukai keningnya hingga meninggalkan bekas luka.” Aqueena tersenyum tipis mendengar perkataan Mr. Hawort. Memang benar mamanya memiliki bekas luka di kening kirinya karena terjatuh dari atas pohon dan keningnya membentur batang pohon hingga meninggalkan bekas luka. “Mereka dahulunya tinggal di sini dan berasal dari dunia ini, Aqueena,” ucap Mr.Hawort. “Bahkan kau sendiri dilahirkan di dunia ini.” Aqueena menghela napas berat. “Wajar saja tempat lahirku selalu berubah.” Mr. Hawort terkekeh. “Apa Om Harry juga berasal dari dunia ini? Dia bilang kalau dia adalah teman baik papa, dan—” Aqueena mengingat sesuatu yang pernah dikatakan Harry padanya. “Om Harry pernah bilang jika dia pernah ke dunia sihir.” “Harry Tomblisson Smith?” Mr. Hawort mengernyit. “Apa dia mengatakan itu padamu?” Aqueena mengangguk. “Selera humornya masih tidak berubah.” Mr. Hawort terkekeh. “Kudengar Harry dan Ibumu baru saja menikah, apa itu benar?” “Iya memang benar,” jawab Aqueena. “Oh! Aku harus meminta maaf pada ibumu karena tidak bisa menghadiri pernikahannya.” “Mama pasti kecewa.” “Aku tahu. Mungkin saja dia akan mengubahku menjadi patung,” kekeh Mr. Hawort disertai Aqueena. Kenyataan yang baru saja diketahui Aqueena membuatnya tersadar akan suatu hal yang menjanggal mengenai kematian papanya. Dia ingin bertanya langsung kepada mama dan juga neneknya untuk mengkonfirmasi kenyataan yang baru saja dikatakan Mr. Hawort. Jika memang benar, berarti dia bisa mencari jawaban atas pertanyaan janggal mengenai kematian papanya. Aqueena yakin kematian papanya berhubungan dengan dunia sihir.   ψψψ   Koridor sekolah selalu ramai saat jam istirahat. Bukan hanya jam istirahat saja, koridor akan ramai saat guru tidak memasuki kelas. Aqueena berjalan di koridor sekolah menuju kelas Pengendalian Jiwa yang diajarkan oleh Mr. Rex. Dia sudah terlambat lima belas menit karena Mrs. Bertha menahan dan menceramahinya karena terlalu sering keluar pada malam hari. Aqueena memang sering melakukan hal itu karena merasa sangat bosan di kamar. Aqueena tidak memiliki teman sekamar karena datang ke sekolah sihir—lebih tepatnya terjebak—paling akhir. Aqueena bersama Megha selalu mengunjungi kamar Mauryn karena teman sekamar Mauryn yaitu Aurora yang merupakan senior mereka di sekolah sangat baik dan juga ramah. Karena itulah, mereka selalu berada di kamar Mauryn saat malam hari dan baru keluar saat jam duabelas malam. Aqueena memasuki ruangan bernuansa putih yang cukup kecil—lebih kecil dari kelas biasanya—dengan napas yang memburu disertai peluh yang mengalir di pipinya. Kelas itu telah diisi oleh semua siswa yang duduk bersila dan berjejer. Aqueena membuka sepatunya dan memasuki kelas, terlebih dahulu gadis itu meminta izin Mr. Rex dengan berbisik, karena di kelas pengendalian jiwa dilarang bersuara agar konsentrasi siswa lain tidak membuyar. Aqueena mengambil duduk di bagian paling belakang. Dia duduk di samping Alvaro si ketua kelas yang juga berada di posisi paling belakang. Aqueena memperhatikan Alvaro yang sedang berkonsentrasi sambil memejamkan matanya, lalu beralih dan berusaha mengikuti dengan menutup matanya. “Kau ingin mengetahuinya?” suara bisikan Alvaro membuat Aqueena membuka matanya. Dia melirik Alvaro yang masih memejamkan mata. Alvaro membuka matanya dan menatap Aqueena, lalu berkata, “Menara tua!” Aqueena mengernyitkan keningnya. “Jika kau ingin mengetahuinya kau bisa temui aku di perpustakaan kapanpun kau mau,” ujar Alvaro datar. Lalu lelaki itu kembali menutup mata, membiarkan Aqueena dilanda kebingungan. “Kekuatanmu!” ucap Alvaro secara tiba-tiba setelah memejamkan mata. Aqueena masih tidak mengerti, dia memilih menutup mata dan berkonsentrasi mengikuti pelajaran pengendalian jiwa. Dia mendengar Mr. Rex yang memberikan intruksi, dan tak luput juga wewangian yang dibakar hingga menciptakan aroma yang menenangkan. Aqueena merasakan kehadiran seseorang di samping kirinya. Gadis itu enggan membuka mata, tetapi rasa penasaran mengalahkannya hingga matanya refleks terbuka dan memperhatikan laki-laki yang berada di sampingnya. Lelaki dingin itu lagi, lagi, dan lagi. Aqueena terlambat, sementara Arthur juga sama sehingga lagi-lagi mereka harus duduk bersebelahan. Aqueena merasa hidupnya dihantui oleh Arthur, tidak hanya di dunia nyata, bahkan di mimpi pun dia sering bertemu Arthur. Kemanapun dan dimanapun, ujung-ujungnya, Aqueena selalu bertemu Arthur. Apa mungkin mereka akan berjodoh? Aqueena tidak berharap demikian, karena dia tidak ingin anaknya nanti memiliki sifat dingin dan irit bicara seperti Arthur, apalagi sifat kasar dan sombong Arthur benar-benar menyebalkan. Intruksi Mr. Rex yang menenangkan jiwa membuat semua siswa larut dalam ketenangan. Suara lembut Mr.Rex disertai aroma terapi membawa semua siswa menuju alam bawah sadar. Bayangkan jika kalian berada di sebuah taman yang sangat indah. Taman itu adalah tempat yang paling membahagiakan dalam hidup kalian. Aqueena mengikuti intruksi Mr. Rex. Dia merasa dirinya berada di sebuah padang rumput. Aqueena mengenali padang rumput itu yang tak lain adalah kebun belakang rumah lamanya sekaligus tempat dirinya menghabiskan masa kecil. Kalian bertemu dengan seseorang yang sangat kalian rindukan. Kalian tersenyum bersama orang itu hingga kalian melupakan segala ketakutan dan kegelisahan. Aqueena melihat papanya melangkah mendekatinya, menggendongnya, dan bermain bersama dengannya. Tawanya pecah, dan kebahagiaan itu tak dapat dia jelaskan. Bukan hanya itu, Aqueena juga melihat Claryna yang bernyanyi riang seraya berlari menarik tangan Aqueena. Benar-benar kebahagiaan yang diimpikan Aqueena. Tiba-tiba saja badai datang menghadang dan memisahkan kalian dengan orang yang kalian rindukan itu. Sesaat, Aqueena merasakan suasana padang rumput berubah seketika menjadi hutan. Aqueena melihat dirinya dalam wujud anak usia tujuh tahun terbaring lemah di bawah pohon rindang. Di sampingnya, seorang pria terbaring dengan darah di bibirnya dan beberapa lebam di wajahnya. Perlahan Aqueena kecil membuka mata dan menangis di hadapan pria yang terbaring itu, yang tidak lain adalah papanya. Suasana tiba-tiba berganti seketika. Kali ini Aqueena berdiri di depan sebuah bangunan tua. Dia berusaha membuka pintu bangunan itu. Dilihatnya anak tangga yang teramat banyak, berkelok, dan sangat tinggi bagaikan tak berujung. Aqueena mendengar bisikan yang sama, bisikan seorang wanita yang meminta pertolongan. Dia menaiki anak tangga dan sampai di atas menara. Dilihatnya sebuah peti yang terletak di tengah ruangan. Disekeliling peti itu terdapat sinar ungu yang terlihat jelas, seakan menjaga dan menyegel peti itu. “Keluarkan sesuatu dari sakumu.” Aqueena mengikuti bisikan itu dan meraba sakunya. Dia mengeluarkan sebuah pisau kecil yang diambilnya dari ruang kesehatan. “Sedikit saja, Aqueena.” Bisikan itu semakin menggema. Aqueena meletakkan pisau tepat di telapak tangannya yang sedikit lagi akan menggores tangannya. Di sisi lain, Mr. Rex yang sedang mengontrol semua siswa memperhatikan Aqueena. Matanya tertuju pada bayangan hitam yang mulai mendekati Aqueena. Mr. Rex mengenali bayangan hitam itu hingga membuat kedua bola matanya melotot. Bayangan itu adalah bayangan roh yang berada di ambang kematian, yang tidak mati dan juga tidak hidup. Mr. Rex mengetahui bahwa bayangan itu, roh seperti itu dapat menguasai tubuh seseorang jika tidak segera diusir dari orang tersebut. Mr. Rex melihat Aqueena mengeluarkan pisau dari sakunya. Aqueena meletakkan pisau itu tepat di atas telapak tangannya. Mr. Rex terkejut, dengan refleks pria itu mengahampiri Aqueena dan merebut pisau darinya. Tetapi tidak mudah, karena tangan Aqueena sangat kuat tak seperti tangan anak usia tujuh belas tahun. Jika dipaksakan, telapak tangan Aqueena dipastikan akan tergores dan mengeluarkan darah yang akan dihisap oleh mahluk itu sehingga dapat mengusir roh Aqueena dan mengambil alih tubuh Aqueena. “Aqueena hentikan! Bangun! Kau harus melawannya!” teriak Mr. Rex. Dia berusaha membuat Aqueena sadar. Dia juga melihat bayangan itu tepat berada di atas kepala Aqueena yang bersiap mengambil alih tubuh Aqueena. Semua siswa yang mendengar suara Mr. Rex membuka mata. Mereka terkejut melihat Aqueena yang memegang pisau dan hampir melukai dirinya jika saja Mr. Rex tidak berusaha merebutnya. Arthur yang menyaksikan hal itu berusaha menarik pisau dari tangan Aqueena. Beberapa kali dia menggoncangkan tubuh Aqueena berharap gadis itu sadar agar bayangan itu dapat menghilang. Tetapi yang dilakukannya tidak berguna, Aqueena masih tetap memegang pisau, dan kali ini lengan Arthur sedikit tergores hingga mengeluarkan darah. Mr. Rex mengeluarkan tongkat sihirnya dan membacakan sebuah mantra. Dia mengarahkan tongkat sihir pada bayangan hitam yang tepat berada di atas kepala Aqueena. Dan untunglah, bayangan itu dapat disingkirkannya dengan sihir langka yang dikuasai oleh seorang Master besar seperti Mr. Rex. Tubuh Aqueena langsung terjatuh tepat di d**a bidang Arthur setelah Mr. Rex berhasil melenyapkan bayangan itu. Semua yang menyaksikan kejadian itu membulatkan mata, mereka semua mengetahui tentang bayangan hitam itu yang disebut Souler atau jiwa-jiwa berdosa yang tak hidup dan juga tak mati.   >> To be continued <<
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN