"Bang Alan?!" Vokal Edo naik beberapa oktaf begitu Sarka memberitahu siapa nama yang tertulis di buku aneh miliknya. Edo menatap Sarka lamat-lamat, meneliti lebih dalam raut wajah sohibnya itu. Edo pikir Sarka sedang main-main dan hanya becanda, tapi dalam keadaan genting dan penuh resiko seperti ini, kecil kemungkinan jika Sarka berbohong tentang sesuatu yang tidak perlu. Anggukan kepala Sarka muncul dengan lemah, sorot matanya sayu, dan Sarka tidak tahu harus melakukan apa kali ini. Karena sejujurnya, ia masih terlampau terkejut, tidak percaya, dah tidak terima bahwa nama Alan tertulis di buku s****n itu. "Kenapa harus bang Alan Do?" Sarka bergumam, suaranya terdengar serak. "Gue nggak mau bang Alan nggak ada Do, gue takut. Gue nggak siap ditinggal bang Alan." Menunduk, Sarka berusah

