Sarka pikir, tiga minggu belakangan ini ia akan baik-baik saja, hidupnya sudah tertata kembali, tidak ada tekanan yang serta merta membuatnya menjadi hancur, ia bahkan sudah kepalang bahagia lantaran semua kejadian yang menimpa dirinya perlahan sudah mulai menyusut, melebur, lalu menghilang. Tapi nyatanya, pagi ini Sarka dikejutkan oleh sesuatu. Sekitar jam lima pagi, mimpi itu datang lagi menyerangnya setelah tiga minggu tidak menghantui Sarka. Sarka tentu saja kaget, jantungnya langsung berdetak cepat. Dengan irama napas yang memburu kencang dan keringat sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya, Sarka segera beranjak dari kasurnya. Tangan Sarka bergetar hebat ketika ia menggapai buku catatan miliknya. Bahkan, saking takutnya membuka lembar halaman buku itu, tangan Sarka sempat kra

