Dengan cepat Sarka memakai celana panjang dan mengambil jaket. Setelah selesai, ia langsung keluar dari kamar. Tadi saat dirinya sedang mengganti pakaian, abangnya berkata akan menunggunya di depan rumah sambil memanasi mesin mobil sebelum berangkat. Dan sekarang Sarka sudah siap, ia berjalan cukup cepat. Mesin mobil dapat Sarka dengar dari luar.
"Eh Sarka!"
Langkah Sarka dihentikan oleh Gwen yang tiba-tiba saja berseru memanggil namanya. Gwen kini berdiri tepat di hadapan Sarka, menghadang langkah cowok itu. Sarka mendengkus kesal, "kalau mau ngajak ngobrol dan curhat, bisa ditunda dulu Gwen? Aku buru-buru nih!" Sarka menatap Gwen malas, hantu perempuan itu mencebikkan bibirnya.
"Saya cuma mau nanya aja kok, kamu mau pergi ke mana? My bebeb Alan tadi kelihatannya juga mau pergi, nah kamu denger nggak suara mesin mobil di luar?"
"Aku emang mau pergi sama bang Alan, di luar itu suara mobil bang Alan kalo kamu mau tau." Sarka menjawab setengah ogah-ogahan. "Udah, kan nanyanya?"
"Pergi ke mana?"
"Kamu nggak perlu tahu, intinya kita mau pergi. Dan kamu nggak usah takut, akan kupastikan bang Alan udah ada di rumah sebelum pukul dua belas malam." Sarka menjawab sambil memaksakan senyumannya.
"Lama banget itu!" Gwen berseru protes, raut wajahnya berubah mendung, sedangkan bibirnya cemberut. "Memangnya mau pergi ke mana sih?"
"Pergi ke toko buku, nyari komik. Kenapa? Mau ikut?"
"Boleh emangnya kalau saya ikut kalian?" Sepertinya Gwen menganggap serius tawaran Sarka barusan, padahal saja Sarka hanya asal menyeletuk saja. Sarka pikir juga tidak mungkin Gwen bakal ikut pergi. Tapi sekarang, Gwen malah bertanya seperti itu.
Sarka meringis pelan, ia sadar bahwa dirinya salah ambil kata. "Jangan deh, kamu di rumah aja Gwen. Nanti ada maling rumah ini gimana? Kan kalau ada yang macam-macam, bisa kamu tunjukin wujud kamu, pasti mereka bakal takut dan lari terbirit-birit."
"Nggak mungkin ada maling!" Gwen menyela cepat. "Di sini kan aman, bebas maling. Kamu lupa kalau ini kompleks perumahan. Di depan juga ada satpam. Itu tugas mereka, bukan tugas saya. Dan ibu kamu juga pasti bentar lagi pulang dari tetangga sebelah."
Sarka menggaruk belakang kepalanya, ia diam dan berpikir. Tapi sialnya, ia tidak bisa memikirkan apa-apa, otaknya buntu dan sama sekali tidak mengirimkan ide apapun. Otaknya tidak mau bekerja sama. Sarka bingung sendiri.
"Gimana? Saya boleh ikut, kan? Ayolah ..."
"Emangnya bang Alan bolehin kamu ikut?" Pertanyaan bodoh malah keluar dari bibir Sarka. Sarka sadar bahwa dirinya sudah salah bersuara. Pertanyaan macam apa itu?
"Kamu gimana sih? Nggak ada yang bisa lihat saya! Kecuali kamu. Bebeb Alan nggak mungkin tahu, kecuali kamu ngasih tahu. Ayolah, boleh kan saya ikut kalian?"
Sarka masih diam saja, ia berpikir kritis. Sementara di luar sana, abangnya sudah memencet klakson berulang kali. Sarka tahu bahwa itu isyarat dari abangnya agar Sarka cepat keluar agar bisa berangkat sekarang.
"Tuh, abangmu udah nunggu terlalu lama. Mikir apaan lagi? Saya bakal diam aja kok. Saya janji nggak main rusuh. Saya pengin berduaan sama bebeb Alan. Lagipula, saya suntuk di rumah. Saya pengin refreshing sekali-kali biar nggak jenuh."
"Bang Alan biasanya lama banget kalau udah di toko buku. Kamu nggak pa-pa Gwen emangnya?" tanya Sarka.
Tin! Tin!
Di luar sana, Alan kembali memencet klakson mobil, yang membuat Sarka berdecak kesal. Abangnya itu benar-benar tidak sabaran!
"Mau pulang besok ataupun lusa sekalian, saya nggak masalah asalkan ada my baby sweet Alan! Udahlah, nunggu apaan lagi sih? Saya mau ikut!"
"Ya udahlah terserah kamu Gwen!" Sarka akhirnya memilih mengalah juga, ia mengibaskan tangannya. Ia pusing mendengar Gwen yang super duper cerewet seperti tadi. Sarka pun akhirnya menghela napas panjang. Ditatapnya Gwen yang super girang. Senyuman Gwen mengembang lebar, beberapa kali hantu itu melompat karena terlalu bahagia mendapatkan ijin dari Sarka.
"Asiikk! Saya seneng banget, makasih Sarka!" Gwen langsung melayang keluar dari rumah. Sarka mengikutinya dari belakang. Dan akhirnya pun sampai di mobil, sebelum masuk ia melihat Gwen yang sudah duduk di kursi kosong disamping Alan.
Tidak ada pilihan lain, Sarka membuka pintu belakang dan masuk. Ia mencari posisi yang paling nyaman.
"Kenapa di belakang? Kursi depan kan masih kosong?" Alan menoleh ke belakang, menatap adiknya.
Karena ada hantu nyebelin yang sangat tergila-gila padamu bang!
Sarka tersenyum tipis. "Nggak pa-pa bang, di sini aja deh. Biar gue bisa selonjoran hehehe ..." Sarka menyengir lebar. Ia pikir itu adalah alasan yang cukup masuk akal.
Alan mengangguk pelan. "Tadi ngapain aja sih? Lama banget!"
Gara-gara hantu yang duduk di sebelah lo itu bang, cerewet banget dari tadi pengin ikutan pergi.
"Buang air bang, mules perut gue." Sarka berbohong lagi. Dan apa yang ia katakan di dalam hatinya, tidak ia keluarkan. Kata-kata itu tertelan kembali.
"Pantesan lama. Ya udah, berangkat sekarang aja, ya?"
"Oke bang!"
Kemudian, Alan sudah mulai menjalankan mobilnya. Sarka melirik Gwen yang sedang menatapnya sambil nyengir lebar. Sedangkan Sarka mendengkus kesal dan memilih melempar pandangan ke jendela, memperhatikan pemandangan di luar. Selama perjalanan, Gwen lebih banyak diamnya. Syukurlah kalau begitu, Sarka jadi tidak perlu menanggapi ucapannya. Belum lagi pastinya Alan akan curiga dan menganggapnya aneh jika Sarka sedang bercakap-cakap dengan Gwen.
Tatapan Gwen kepada Alan sungguh memuja, Sarka tahu itu. Gwen terlihat sangat menyukai abangnya itu. Tak ayal, Alan memang definisi pacar-able banget. Tubuhnya tinggi, wajahnya tampan dengan hidung mancungnya, kulitnya juga putih bersih. Apalagi Alan orangnya ramah dan baik hati. Usia Alan juga terbilang masih muda, hanya terpaut enam tahun dengan Sarka. Sedangkan umur Sarka saat ini adalah tujuh belas tahun.
"Udah sampai nih," ujar Alan kemudian setelah memberhentikan mobilnya di parkiran toko buku yang luas dan terkenal di Jakarta. Perjalanan tadi cukup memakan waktu. Sekarang sudah pukul sembilan malam.
"Langsung masuk nih bang?" tanya Sarka kepada Alan.
"Iya, langsung aja. Ayo kita nyari komiknya. Semoga aja udah ada di sini. Buruan turun." Alan terlebih dahulu membuka pintu dan beranjak keluar dari mobil, diikuti oleh Sarka. Gwen langsung menembus mobil begitu saja.
Alan berjalan masuk ke dalam toko buku, sedangkan Sarka mencegah Gwen terlebih dahulu.
"Gwen!" Sarka memanggil hantu perempuan itu, yang wajahnya memang sebenarnya cantik jika Sarka teliti lebih jauh lagi. Tapi, Gwen bisa menjadi sangat menyeramkan apabila mengubah wajahnya seperti dulu, waktu pertama kali bertemu dengan Sarka di kamar Alan.
"Kenapa?"
"Ingat ya! Kamu jangan buat ulah di sini." Sarka memberikannya peringatan.
Gwen mengacungkan jempol tangannya sambil tersenyum lebar, kemudian dia melayang cepat, menyusul Alan yang sudah berjalan beberapa meter dihadapannya. Sarka geleng-geleng kepala, ia pun dengan cepat berlari dan mengimbangi langkah Alan.
Komik yang Alan cari rupanya memang ada di toko buku, tapi stoknya sudah sangat menipis. Untung saja Alan masih sempat kebagian. Kata mbak-mbak kasir, komik itu menjadi paling laris selama seminggu terakhir semenjak baru terbit. Pantas saja, Sarka tadi melihat komik itu ada dipapan best seller nomor satu.
Alan dan Sarka, beserta Gwen tentunya, tidak langsung pulang terlebih dahulu setelah mendapatkan komik incaran itu. Mereka pergi dulu ke kafe untuk menikmati makanan camilan dan minum untuk mengusir dahaga.
Sampai akhirnya mereka pulang dan sampai di rumah pada pukul setengah sebelas malam. Entah kenapa Sarka merasa bahwa Gwen bertingkah sangat aneh. Gwen terlihat tidak senang, bibirnya ditekuk. Sepanjang perjalanan pulang, Sarka juga mengamati jika Gwen tidak mau menatap Alan.
"Gwen kenapa?" Sarka bergumam pelan. Hanya dirinya saja yang bisa mendengar apa yang ia katakan. Saat perjalanan pergi tadi, Gwen terlihat sangat bahagia, matanya tidak lepas dari wajah Alan yang tampan. Tapi saat perjalanan pulang sekarang ini, semuanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Barangkali Sarka tidak salah menebak, Gwen menyimpan kekesalan kepada Alan. Tapi kenapa? Apa alasannya? Entahlah, Sarka tidak tahu.
Barulah ketika mereka sudah sampai di rumah, Sarka memangil Gwen. Ia ingin cari tahu, sebenernya apa yang terjadi.
"Aku lihat-lihat, sejak di kafe tadi, kamu kayak nggak seneng gitu Gwen? Kamu cemberut terus? Ada apa sebenarnya?"
Gwen langsung menukas. "Aku kesal karena abangmu itu ngobrol dan senyum terus sama cewek di toko buku tadi."
Ah, tentang itu rupanya. Sarka tersenyum tipis. Rupanya Gwen cemburu. Di toko buku tadi Sarka juga melihat bahwa abangnya terlihat asik dengan perempuan lain. Mereka tidak sengaja menyukai komik yang sama, dan akhirnya mereka berdua mengobrol dan terus tertawa bersama. Gwen yang melihatnya meradang di tempat. Gwen kesal setengah mati. Dan setahu Sarka, tadi abangnya juga terlihat bertukar nomor dengan cewek asing tersebut. Entahlah, Sarka pikir abangnya itu suka dengan cewek yang ia temui di toko buku.
Jika itu memang benar. Gwen akan dipastikan langsung patah hati.
"Oh itu ..." Sarka mengangguk-angguk kepalanya.
"Udahlah jangan dibahas lagi, saya masih kesal. Mending saya tidur aja!" Setelah berkata ketus, Gwen segera kabur ke kamar Alan.
Sarka menggelengkan kepalanya. Ia sendiri juga mulai beranjak menuju kamarnya. Namun, ketika hendak membuka pintu, Sarka mengerjapkan matanya. Ia berpikir tentang kalimat Gwen barusan. "Emangnya hantu tidur juga, ya?"