25. BUKU ITU

1508 Kata
Sarka terjatuh ke lantai ketika matanya menangkap sesuatu yang tidak asing. Sarka bergerak mundur, ia diam dengan sorot mata yang mengarah ke bawah. Sarka mengerjapkan matanya. Tidak, ini tidak mungkin terjadi. Tapi, Sarka merasa bahwa barusan dirinya tidak salah melihat. Dengan perasaan was-was dan jantung yang semakin berdebar kencang, Sarka pun bangkit berdiri dan menelan ludahnya. Tatapannya ia arahkan kembali ke meja belajarnya. Dan ... Apa yang ia lihat masih ada di sana. Buku catatan pribadi miliknya ada di atas meja, terbuka lebar begitu saja, menunjukkan tulisan Metta dan Arial yang ditulis menggunakan darah. Sarka tidak mungkin salah lihat. Itu jelas memang buku miliknya. Tapi, kenapa bisa ada di meja belajarnya? Ini terasa aneh dan ganjil. Tidak mungkin kan buku itu bisa jalan sendiri? Siapa yang menaruhnya di sini? Sarka ingat betul bahwa buku itu sudah ia buang ke tong sampah. Hal aneh ini membuat kepala Sarka mendadak saja pening. Cowok itu menggeleng berulang kali. Dan Sarka semakin yakin jika buku miliknya ini bukan buku biasa. Tidak, maksudnya buku itu menyimpan sesuatu yang janggal, dan Sarka tidak tahu apa itu. "Nggak, gue harus berpikir positif. Mungkin saja malam itu gue salah buang buku. Ya, pasti gue salah!" Sarka berbicara mantap, meskipun ia sendiri ragu akan ucapan dirinya barusan tersebut. Sarka pun memasukkan buku itu ke dalam tasnya, kali ini Sarka akan membuangnya. Tidak akan salah lagi. Sarka pergi ke dapur untuk sarapan. Kemudian Sarka menatap ibunya. Sarka terdiam sesaat. Apakah ini ulah ibunya? Ya, tidak ada yang tidak mungkin. Sarka berdehem pelan. "Ibu, Sarka mau nanya boleh?" "Nanya apa?" "Kemarin malam Sarka buang buku di tong sampah depan, ibu ambil lagi terus taruh di kamar Sarka lagi nggak?" "Buku? Buku apa? Ibu nggak ambil buku di tong sampah." Maria menjawab jujur. Dan itu artinya, buku catatan milik Sarka itu sangat ganjil dan aneh. "Nggak bu, lupain aja. Cuma buku lama yang nggak penting kok," jawab Sarka. Kemudian ia tersenyum tipis dan mulai sarapan bersama ibunya. Sesaat setelah selesai, Sarka ijin kepada Maria untuk berangkat sekolah. Dengan motornya, Cakra melaju menuju rumah Edo yang hanya berjarak beberapa meter dari rumahnya. Tidak ada tiga menit, Sarka sudah sampai. Tapi sayang, Edo sudah berangkat terlebih dahulu meninggalkan Sarka. Membuat cowok itu mendesah panjang. Edo sepertinya masih sakit hati atas insiden tempo hari. Terpaksa saja Sarka berangkat sendiri ke sekolah meskipun ia merasa aneh berangkat seorang diri. "Gue bakal minta maaf nanti, gue janji." Sarka bergumam lirih sembari fokus pada motornya. Setelah ia sampai di parkiran sekolah dan memarkirkan motornya di tempat biasa, Sarka pun berjalan menuju kelasnya. Tidak butuh waktu lama untuk sampai. Dapat Sarka lihat bahwa Edo tengah duduk di bangkunya. Sarka sempat berhenti melangkah, mendesah panjang, sebelum akhirnya ia kembali mendekat ke arah Edo. Sarka duduk di samping sohibnya itu yang sedang fokus pada layar ponselnya. Edo sama sekali tidak melirik Sarka ketika Sarka baru saja duduk. Edo benar-benar marah. Dan hal ini membuat Sarka tidak tahan, jujur saja. Berdehem pelan, Sarka pun memutar tubuhnya, menyerong menghadap Edo. Ia menatap Edo dengan sorot mata dalam-dalam. "Do ...." Suara yang keluar dari bibir Sarka terdengar serak. Panggilan darinya itu tidak mendapatkan respons dari Edo. Cowok berbadan gemuk itu tidak mendengar panggilan Sarka. Atau mungkin barangkali Edo pura-pura tidak mendengarnya. Dan Sarka lebih percaya pada opsi nomor dua karena itu lebih masuk akal. Sarka menelan ludahnya. "Oke Do, gue sadar kalau gue salah dan sudah kelewatan soal kejadian waktu itu. Gue benar-benar nggak nyangka bakal kayak gini sampai lo marah sama gue. Gue salah Do, gue akui hal itu. Gue emang udah keterlaluan sama lo. Tapi ... Lo harus percaya kalau gue nggak bermaksud ngelakuin itu. Nggak, maksudnya gue nggak sengaja mau bikin lo kesal." Edo mengangkat kepalanya setelah meletakkan ponselnya di meja. Ia menyorot Sarka sambil menghela napas panjang. Tatapan Edo menajam. "Lo keterlaluan Sar." "Iya Do, gue sadar. Gue emang salah sama lo." "Bukannya lo dari dulu udah tahu kan kalau gue takut banget sama yang namanya hantu? Tapi kenapa ..." Edo menjeda kalimatnya. Ia menggeleng pelan dengan matanya yang terpejam. "Gue nggak habis pikir sama jalan pikiran lo Sar. Apa yang lo lakuin ke gue nggak lucu sama sekali. Anggap aja gue pengecut karena takut sama yang begituan, tapi gue nggak peduli. Gue memang penakut. Kenapa?" "Do, maafin gue. Gue janji nggak bakal kayak gitu lagi. Gue janji sama lo Do. Lo mau kan maafin gue? Kita sahabatan dari kecil Do, gue nggak bisa jauh-jauh dari lo. Gue ngerasa nggak nyaman kalau lo mulai menjauh dari gue." Edo hanya diam saja, wajahnya ia palingkan ke depan. Sarka yang sama sekali tidak mendengar jawaban dari Edo lantas bernapas dengan kasar. Ia menepuk pundak Edo satu kali. Apapun caranya, Sarka akan meminta Edo agar maaf darinya diterima oleh sohibnya itu. Sarka benar-benar merasa bersalah dan ingin hubungannya dengan Edo kembali seperti dulu lagi. "Do ... Gue mohon sama lo maafin kesalahan gue waktu itu, ya?" "Martabak telur tiga bungkus." "Ha? Maksudnya?" Sarka mengerjapkan matanya, ia menatap Edo tidak mengerti. Kini, keningnya mengerut bingung. Kenapa tiba-tiba bahas martabak telur? Apa hubungannya? "Gue bakal maafin lo kalau lo traktir gue martabak telur." Edo menyahut lagi, menjelaskan maksudnya barusan. Ia melirik Sarka yang masih diam. Edo melanjutkan ucapannya. "Gimana?" Sarka pun kini paham apa yang Edo maksudkan. Maaf darinya akan termaafkan jika ia mentraktir Edo sebuah martabak telur. Tiga bungkus jangan lupa. Tapi, Sarka meringis pelan. Bayangkan saja, Sarka sendiri memakan satu bungkus saja tidak akan habis, tapi Edo malah meminta tiga bungkus sekaligus. Itu benar-benar porsi yang sangat banyak. Sarka ragu Edo bisa menghabiskannya. "Tiga bungkus Do? Nggak salah?" Sarka bertanya hanya untuk memastikan. "Lo bakal habis semuanya makan tiga bungkus martabak telur? Gue kok jadi ragu." "Kenapa memangnya? Lo nggak mau?" "Bukan gitu, maksudnya gue agak ragu aja. Satu bungkus dulu aja gimana? Nanti kalau lo kurang bisa pesen lagi." "Lo nggak ada duit?" Sarka mendelik, kemudian menggeleng cepat. "Bukan itu, gue ada duit kok." "Terus kenapa nawar segala? Gue mintanya tiga bungkus. Ya udah kalau lo nggak mau." "Iya iya gue bakal traktir lo." "Tiga bungkus martabak telur." "Iya, tiga bungkus martabak telur." "Lo terpaksa Sar?" tanya Edo, ia memperhatikan wajah Sarka sambil menyipitkan matanya. Sarka menggeleng pelan. "Enggak, siapa yang terpaksa." Sarka yang merasa dituduh lantas menyangkalnya disertai gelengan kepala pelan. "Gue ikhlas kok, tadi kan gue cuma minta pertimbangan lo aja, kan sayang kalau martabaknya nggak habis." "Kalau nggak habis kan bisa gue bawa pulang," sahut Edo lagi. "Iya deh, nanti gue traktir pas istirahat. Tapi lo udah maafin gue, kan? Lo udah nggak marah sama gue kan Do?" "Asalkan lo nggak mengulangi perbuatan lo kayak gitu lagi ya gue maafin lo," kata Edo mantap. Mendengar ucapan yang tercetus dari bibir Edo membuat Sarka tersenyum lebar. "Makasih Do, gue janji sama lo nggak bakal main-main sama lo lagi. Gue minta maaf sekali lagi ya?" "Udah gue maafin, tapi jangan lupa martabak telurnya!" "Pikiran lo makanan mulu, gue nggak bakal lupa soal itu. Gue bukan kakek tua bangka yang udah pikun. Lo tenang aja sama gue. Nanti istirahat kita beli martabak kesukaan lo itu." "Nah gitu baru sahabat gue." Edo tersenyum lebar, disusul oleh bibir Sarka yang ikut melengkung ke atas, menciptakan senyuman tak kalah lebar. Sarka terkekeh pelan. "Gue seneng lo mau maafin gue lagi. Gue nggak mau berantem sama lo Do. Gue nggak nyaman, gue ngerasa nggak ada temen. Cuma lo sahabat terdekat gue." "Sebenarnya gue juga ngerasain hal yang sama. Rasanya emang nggak enak banget marahan sama lo gini. Tapi gue minta sama lo nggak bahas masalah ini lagi bisa, kan?" "Kenapa enggak?" tukas Sarka cepat. Kemudian ia teringat akan sesuatu. Sarka kembali menatap Edo, kali ini raut wajahnya berubah serius. "Oh iya Do, ada yang mau gue sampain ke lo. Ini penting." "Tentang apa?" tanya Edo, merasa sudah sangat penasaran. Ia memperbaiki posisi duduknya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Sarka, menunggu sohibnya itu menjelaskan sesuatu. Sebelum menjawab, Sarka menatap seisi kelasnya. Masih lumayan sepi, ia pun memusatkan seluruh perhatiannya ke arah Edo lagi. "Gini Do, lo ingat kan buku catatan gue yang berubah menjadi aneh itu?" "Kenapa dengan buku itu? Kan udah lo buang di tong sampah malam itu." "Nah itu masalahnya Do! Seingat gue buku itu emang udah gue buang di tong sampah," sahut Sarka menggebu-gebu. Edo mendengkus kasar. "Bukan seingat lo Sar, lo emang buang buku itu. Gue yang lihat sendiri kok." "Gue juga ngerasa begitu, gue nggak mungkin salah ambil buku." "Lah ... Gimana bisa salah ambil buku? Orang jelas-jelas lo ambil buku aneh itu di pojok kamar kan setelah lo lempar buku itu? Memangnya di pojok kamar waktu itu ada buku lain sampai lo salah ambil? Seingat gue nggak ada buku lain deh." "Emang nggak ada." "Tapi kenapa? Apanya yang aneh?" Satu alis Edo naik ke atas. "Karena buku itu ada di meja belajar gue lagi!" Sarka pun berkata pada pusat masalah itu. Dan Edo langsung terdiam dengan bibir merapat, bola matanya nyaris saja keluar dari tempatnya. Dan satu lagi, wajah Edo terlihat memucat setelah Sarka berkata demikian. "Sar ... Lo nggak lagi main-main kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN