"Sar ... Lo nggak lagi main-main, kan?"
Sarka menepuk pelan jidatnya. "Ya ampun Do, buat apa sih gue main-main sama lo? Soal ginian gue nggak mungkin bohong. Lo mau buktinya? Bentar, gue ambil bukunya dulu." Sarka langsung mengambil tasnya, membuka resleting, kemudian dilanjutkan mengeluarkan buku catatan pribadi miliknya yang akhir-akhir ini berubah menjadi aneh, mistis dan menyeramkan.
Begitu Sarka mengeluarkan buku bersampul cokelat tersebut, bola mata Edo refleks terbelalak lebar. Untuk memperjelas pandangannya dan memastikan apabila ia tidak salah melihat, Edo kembali mengerjap. Tapi, ia tidak mungkin salah lihat. Napas Edo sedikit tercekat. Ia kemudian menoleh ke arah Sarka dengan raut wajahnya yang masih terlihat kaget.
"Nah sekarang gimana? Lo percaya sama gue, kan? Ini buktinya." Sarka bergumam pelan lantaran teman-teman kelasnya sudah mulai banyak yang memasuki kelas.
Kepala Edo mengangguk. Ia menelan ludahnya dengan kasar sebelum kembali berkata, "tapi bagaimana bisa Sar?" tanyanya bingung. "Kenapa bisa buku itu balik ke meja belajar lo? Siapa yang balikin itu ke sana?"
"Mana gue tau Do," tukas Sarka pendek.
"Kenapa makin serem aja buku lo itu? Gue mulai merinding. Gimana kalau lo buang lagi aja buku lo itu. Gue temenin deh." Edo memberikan saran, yang tanpa pikir panjang langsung Sarka setujui begitu saja. Memang itu yang akan Sarka lakukan, hanya membuang buku itu lagi adalah jalan satu-satunya. Karena Sarka sendiripun takut, ia tidak mau menyimpan buku yang menyimpan hal-hal aneh seperti itu.
"Menurut lo buku ini harus dibuang di mana Do?" Sarka bertanya.
"Terserah, yang penting jauh dari rumah lo agar buku aneh itu nggak bisa balik lagi ke rumah lo. Nyeremin tahu nggak?"
"Gue nggak tau mau buang di mana. Lo ada ide?"
"Bentar, gue mau mikir dulu." Selanjutkan Edo terdiam dengan sorot mata yang mengarah ke mejanya. Ia menunduk, sedangkan otaknya berputar keras untuk mencari ide. Beberapa saat kemudian, cowok itu mengangkat kepalanya dan kembali menyorot penuh kepada Sarka. Sambil melotot, Edo menjentikkan jarinya. "Gue punya ide!"
"Ide apa?" Sarka mendadak antuasias, ia menunggu dengan tidak sabar. Sarka menatap wajah Edo tanpa berkedip. "Lo punya ide apaan Do? Buruan kasih tahu gue!" Sarka mendesak sohibnya itu lantaran Edo tidak kunjung berkata. Membuatnya geregetan sendiri.
"Jadi gini Sar ...," Edo memulai sambil berdehem kecil. "Lebih cepat buang buku itu bukannya lebih baik, kan?"
Sarka menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, terus?"
"Istirahat pertama kita langsung buang aja buku itu."
"Buang ke mana?"
"Tempat pembuangan sampah sudut sekolah. Istirahat nanti gue temenin lo ke sana dan lo buang buku itu di sana. Gue yakin cara ini bakal berhasil, buku itu nggak mungkin balik ke rumah lo lagi. Gimana ide gue? Boleh di coba, kan?"
Ya memang tidak salah sih apa yang Edo katakan. Tapi Sarka masih merasa ragu dan tidak yakin seratus persen bahwa ia akan membuang buku aneh itu di sekolah. Ada ketakutan sendiri yang Sarka rasakan. Entah kenapa ia merasa bahwa sekolah adalah tempat yang tidak aman untuk menyingkirkan buku misterius bersampul cokelat itu.
"Entahlah Do, gue masih ragu."
"Ragu kenapa sih?" Edo langsung menyeletuk. "Ingat Sar, lebih cepat bakal lebih baik. Gue yakin tempat pembuangan sampah di sini adalah tempat yang bagus dan paling tepat. Lagian lo mau buang ke mana lagi buku itu? Bingung juga, kan?"
"Tapi, gimana kalau ada yang ngambil buku ini di sana?" tanya Sarka kemudian. Pertanyaannya itu pun memancing Edo mengeluarkan tawa lebarnya. Melihat Edo yang tertawa ngakak di sampingnya membuat Sarka semakin bingung dan tidak mengerti. "Ngapain lo malah ketawa?"
Edo terkekeh. "Gimana gue nggak ketawa kalau pertanyaan lo itu lucu?"
"Lucu apanya?" Sarka bertanya pelan. Keningnya menciptakan kernyitan tipis.
Menggeleng pelan karena tak habis pikir, Edo pun menepuk pelan pundak Sarka. "Sar, sini gue kasih tahu sama lo. Murid mana sih yang kerjaannya main di tempat pembuangan sampah? Nggak ada! Jadi nggak ada yang bakal nemuin buku aneh punya lo itu. Oh ya, kecuali pak Kumis tentunya yang biasa bakarin semua sampah-sampah busuk di sana. Tapi, lo tenang aja, pak Kumis nggak mungkin ngambil buku itu di sana. Lo juga jangan asal buang, umpetin di sana dan tutupi buku itu dengan tumpukan sampah. Sumpah Sar, ide gue ini yang paling tepat. Lo harus ikuti kata hati gue. Gue jamin bakal berhasil dan buku itu nggak balik ke rumah lo."
Ucapan Edo terdengar sangat membius, membuat Sarka akhirnya percaya juga. Kepalanya pun mengangguk pelan. Ya, tidak ada salahnya untuk dicoba. "Oke, gue bakal ikuti kata-kata lo." Sarka mengangguk mantap. "Lo temenin gue buang buku ini ke tempat pembuangan dan pembakaran sampah sudut sekolah."
"Lo tenang aja, gue bakal temenin lo. Asalkan habis itu, lo jangan lupa traktir gue martabak telur tiga bungkus di kantin."
Perkataan Edo membuat Sarka memutar bola matanya dengan malas. Bibirnya pun mencebik kesal. "Nggak usah diingetin mulu, gue udah bilang kalau gue nggak pikun dodol!" Sarka kesal sendiri.
Sementara Edo merasa sangat tidak bersalah, cowok itu menyengir lebar hingga matanya menyipit. Giginya yang putih dan tersusun sangat rapi pun terlihat dengan jelas. "Kan gue cuma mau ngingetin aja Sar."
"Iya iya, gue ingat." Sarka kembali mencibir.
Sementara itu, Nadine yang sedang duduk di bangkunya Angel untuk mengobrol dengan teman-temannya, sesekali melirik Sarka dan Edo yang terlihat sangat serius membahas sesuatu. Nadine tahu ada hal penting yang mereka katakan. Sudah terlihat dari raut wajahnya. Bahkan, Nadine tidak menyimak apa yang teman-temannya bicarakan karena asik fokus memperhatikan Sarka dan Edo. Tapi sayangnya, Nadine tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Eh, jam pertama udah di mulai tuh." Kiki menyeletuk ketika ia melihat seorang guru cantik masuk ke dalam kelas mereka.
"Gue balik ke bangku gue ya!" Nadine meminta ijin, kemudian ia bergegas berdiri dari duduknya dan sedikit berlari menuju bangkunya berada. Setelah sampai, Nadine pun langsung duduk.
"Bu Indah makin cantik aja, ya?" Edo tiba-tiba menyeletuk, membuat Nadine yang mendengar perkataan cowok gemuk yang duduk didepan bangkunya itu lantas langsung memutar bola matanya.
"Lihat yang mulus dikit aja langsung melotot," ucap Nadine menyindir secara terang-terangan. Edo yang merasa bahwa omongan Nadine ditujukan untuknya, dengan cepat menolehkan wajahnya ke belakang.
"Lah ... Emang bu Indah cantik kok? Jangan cemburu ya karena nggak dipuji sama gue."
"Siapa juga yang mau dipuji cantik sama lo? Gue nggak butuh," ujar Nadine ketus.
"Bilang aja mau!"
"Dih, nggak sudi ya!" Nadine membelalakkan matanya kepada Edo.
Sementara itu, Sarka yang merasa terusik langsung menolehkan wajahnya menatap Edo dan Nadine secara bergantian. "Kalian berantemnya bisa di tunda dulu nggak? Jangan ribut kalau nggak mau dikeluarkan dari kelasnya bu Indah."
"Nggak mungkin, bu Indah nggak segalak dan setega itu." Edo menyangkal pernyataan Sarka.
"Ya tapi lo harus bisa hormati beliau," lanjut Sarka.
Nadine setuju, ia mengangguk mantap. "Nah, setuju tuh!"
Jam pelajaran bu Indah selama tiga jam akhirnya sudah selesai. Dan kini, semua siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas masing-masing untuk menyerbu kantin. Sarka dan Edo saling pandang satu sama lain.
"Gimana Do? Mau sekarang?" tanya Sarka pelan.
Dengan mantap, Edo mengangguk. Tanpa pikir dua kali, ia pun berkata cepat. "Ya sekarang, ini waktu yang tepat. Ingat, istirahat cuma lima belas menit. Dan lo bakal tenang kalau udah buang buku itu di sana."
Sarka mendesah pendek. "Oke, ayo berangkat sekarang." Dengan gerakan cepat, Sarka berdiri dari duduknya. Diikuti oleh Edo beberapa detik setelahnya. Tidak lupa Sarka membawa buku miliknya yang sangat aneh tersebut. Keduanya pun kini berjalan keluar dari kelas.
Sedangkan Nadine yang sedari tadi menguping pembicaraan Sarka dan Edo semakin dilanda penasaran. Nadine sejak tadi pura-pura bermain ponselnya agar kedua cowok itu tidak curiga kepadanya.
Tatapan Nadine mengarah ke punggung Sarka dan Edo yang semakin menjauh dari pandangannya. "Mereka mau ngapain sih? Gue kok jadi kepo." Nadine ingin tidak peduli dengan urusan Sarka dan Edo, tapi hati dan pikirannya kini sejalan dan menyuruhnya untuk segera mengikuti mereka berdua jika ingin tahu.
Oleh karena itu, Nadine pun berdiri dari duduknya dan langsung berlari untuk mengejar Sarka dan Edo. Dan rupanya, mereka berdua pergi ke sudut sekolah, tempat pembuangan dan pembakaran sampah. Nadine semakin curiga bahwa ada yang sedang mereka rencanakan.
Nadine berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan tubuhnya agar tidak ketahuan. Ia bersembunyi dibalik pohon besar. Jaraknya tidak terlalu jauh dari posisi Sarka dan Edo.
"Kenapa mereka ke sini? Mau ngapain?" tanya Nadine pelan pada dirinya sendiri.
Tidak tahan lantaran dirinya tidak bisa mendengar percakapan kedua temannya itu, Nadine pun akhirnya berjalan mendekat. Disaat posisinya sudah semakin dekat, ia melihat Sarka yang baru saja membuang buku tersebut diantara tumpukan sampah daun kering dan plastik.
"Sar, itu ada ranting kayu di sana. Buruan tutupi buku itu." Edo menyeletuk sambil menunjuk sebuah ranting kayu yang teronggok tidak jauh dari kaki Sarka.
Sarka dengan cepat mengikuti kata-kata Edo. Ia mengangguk mantap dan mengambil ranting pohon untuk mengorek sampah dan menutupi bagian buku itu agar tidak terlihat.
"Ada apa dengan buku itu sampai kalian buang ke sini?" Nadine tiba-tiba saja menyeletuk, membuat Sarka dan Edo langsung kaget bukan main.
Kedua cowok itu dengan cepat membalikkan tubuhnya ke belakang. Raut wajah keduanya nyaris sama, kaget dan pucat. Sarka membelalakkan matanya. Napasnya terhenti di tenggorakan, disusul oleh jantungnya yang berdetak sangat kencang.
Dengan bibir bergetar, Sarka berkata lirih. "Nadine, lo nga-ngapain ada di sini?" s**l, lidahnya tiba-tiba saja terasa kaku. Semakin terlihat saja apabila ia sedang menutupi sesuatu.
Nadine terlihat santai saja, tapi sekarang ia semakin percaya jika ada sesuatu yang sedang mereka tutupi. "Bukannya seharusnya gue yang nanya kenapa kalian ada di sini? Kalian tahu? Gue perhatiin di kelas, kalian berdua sedang bahas sesuatu yang kayaknya serius banget. Terus gue langsung ikuti kalian ke sini."
"Emang kita bahas apaan?" Edo menyeletuk. Kemudian ia menatap Sarka yang berdiri tepat di samping kanannya. "I-iya kan Sar?"
"Kenapa kalian tiba-tiba kayak gugup gitu? Lihat muka kalian sekarang, pucat banget! Gue semakin yakin kalau ada yang kalian sembunyiin dari gue."
"Nggak ada!" Secara kompak, Sarka dan Edo berkata cepat dan tegas.
Nadine memicingkan satu alisnya, bukannya percaya, kecurigaan dirinya justru semakin membengkak. Nadine melangkah cepat dan mengambil buku bersampul cokelat yang barusan dibuang oleh Sarka.
"Buku apa ini? Kenapa mau kalian buang?"
"Itu punya gue, sini balikin!"
"Emangnya kenapa sih? Bukannya tadi lo mau buang buku ini, kan?" Nadine menggoyang-goyangkan buku ditangannya. "Emangnya ini buku apaan?"
"Jangan dibuka!" Sarka kembali berkata keras. Ia maju dan ingin merebut buku miliknya yang berada ditangan Nadine, tapi Nadine langsung mengelak. Dan Sarka tidak berhenti sampai di situ saja. Ia berusaha merebutnya kembali.
"Kembaliin buku gue Dine!" Sarka berteriak kencang. Tapi Nadine terlihat tidak menggubrisnya, ia bergerak dengan lincah hingga membuat Sarka kesulitan mengambil buku tersebut.
"Edo, lo ngapain sih diam aja? Bantuin gue buruan!" Sarka berteriak. Dan Edo langsung mengangguk. Kedua cowok itu berusaha merebut buku ditangan Nadine.
Mereka semua saling berebut, hingga akhirnya buku tersebut terlepas dari tangan Nadine, melayang di udara, lalu jatuh di tanah. Buku itu terbuka dan memperlihatkan nama Metta dan Arial yang tertulis menggunakan darah di salah satu lembar halaman.
"Itu apa?" Nadine segera berjongkok dan mengambil buku tersebut. Ia menyerngitkan keningnya ketika melihat nama dua orang tersebut yang tertulis di sana. Merasa ada yang aneh, ia pun menyentuh tulisan tersebut. Mengerjapkan mata, Nadine pun lantas membuang buku itu lagi.
Nadine berdiri di hadapan Sarka dan Edo. Ia menatap keduanya secara bergantian. "Sebenarnya ada apa? Kenapa tulisan itu ..."