"Balikin!"
Jari-jari kuku panjang itu dengan cepat menerobos ke depan, mencekik leher Sarka begitu kencangnya. Perlahan, tubuh Sarka terangkat ke atas. Cowok itu berusaha untuk melepaskan cengkeraman kuat dilehernya ini. Napasnya semakin menipis, tenggorakannya terasa sakit. Dan wajah Sarka semakin memucat. Tidak ada tarikan napas yang keluar masuk lewat lubang hidungnya. Sarka terus meronta, ia menggerakkan tubuhnya sekuat mungkin. Urat-urat lehernya sudah terlihat menyembul keluar. Hingga pada akhirnya, Sarka pun membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat adalah sesosok makhluk menyeramkan dihadapannya. Makhluk yang sama, wajah yang hancur dan bola mata yang dua-duanya tidak ada. Juga pakaian berwarna merah itu lagi. Sarka semakin ketakutan.
Makhluk jahat itu menyeringai puas dengan giginya yang tajam, hitam dan merah. Mulutnya terlihat sobek sampai ke telinga. Sarka merasa bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Pada akhirnya, sesuatu yang buruk pun terjadi, sosok makhluk itu hendak mencakar wajah Sarka dengan kuku jarinya yang runcing.
"TIDAK!"
Dengan napas yang memburu begitu kencang, Sarka terbangun dari mimpi buruknya. Cowok itu terduduk diatas kasur, keringat dingin membasahi leher dan pelipisnya. Kaos yang sedang ia pakai juga basah oleh keringat. Sarka menatap sekelilingnya, ia berada di kamarnya, bukan tempat gelap dan kosong seperti pada mimpinya.
Berusaha mengatur pernapasannya agar kembali bekerja dengan normal, Sarka pun memejamkan matanya rapat-rapat sembari memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Sesaat setelah itu, Sarka mengacak rambutnya. Mimpi itu datang lagi, mimpi yang sangat menyebalkan dan yang paling Sarka takuti. Ia tidak ingin mimpi buruk satu ini datang.
Sarka mendesah panjang, ia menatap langit-langit kamarnya. Saat ini, ia merasa sedikit lebih tenang. Sarka lantas mengambil botol yang berisi air putih, ia segera menenggaknya dengan cepat. Kerongkongannya sangat kering, sekering hatinya Gwen jika Alan tidak ada, membuatnya dengan tidak sabar menghabiskan air dalam botol tersebut.
"Kenapa mimpi buruk itu datang lagi? Bukannya buku itu udah ada di Nadine?" Sarka bergumam lirih. Perlahan, sorot matanya berpindah ke arah jam dinding di kamarnya. Jarum jam menunjukkan angka lima lebih dua belas menit. Sudah terlalu pagi untuk tidur lagi. Membuat Sarka memutuskan memikirkan kejadian tadi.
"Cara Nadine nggak berhasil, meskipun buku itu nggak ada di sini, tapi gue masih bisa mimpi buruk yang serupa," ucapnya lagi kepada dirinya sendiri. Mendesah panjang, Sarka lantas mengubah posisinya menjadi telentang di atas kasur. Bola matanya berpendar, menatap ke atas.
Beberapa detik kemudian, Sarka teringat akan sesuatu. Ia membelalakkan matanya. Membuatnya langsung bangkit dari kasur. Sarka langsung menuju meja belajarnya, ia duduk di kursi sembari mengotak-atik hape yang semalaman ia charger.
"Kalau gue mimpi buruk yang sama lagi, artinya dibuku aneh itu tertulis nama orang lagi." Jantung Sarka berpacu sangat cepat, ia harus menghubungi Nadine sekarang, untuk memastikan apakah hal itu benar-benar terjadi.
Sarka mendial nomor Nadine, ia harap Nadine segera menerima panggilan darinya dan memastikan apakah benar bahwa ada lagi nama seseorang yang tertulis menggunakan darah di buku itu lagi. Dan siapa orang yang akan meninggal kali ini? Sarka semakin merasa gelisah, kakinya terus mengentak kuat di lantai.
Mohon maaf, nomor yang anda hubungi sedang sibuk, coba hubungi beberapa saat lagi.
"s**l!" Sarka mengumpat, ia melempar hapenya ke atas kasurnya. Nadine tidak bisa dihubungi, padahal Sarka ingin memastikan sesuatu yang sangat penting.
Dengan kasar, Sarka berdiri dari duduknya. Ia berjalan mondar-mandir, sesekali mengusap wajahnya. Sarka berharap tidak ada korban lagi kali ini, tapi mengingat kejadian sebelumnya sudah tiga kali terjadi, kemungkinan apa yang Sarka inginkan mustahil untuk ia dapatkan. Hatinya gelisah, siapa gerangan orang yang nyawanya kali ini akan melayang? Sungguh, Sarka tidak kuat lagi menahan semua ini.
"Gue nggak boleh kecolongan lagi kali ini," kata Sarka mantap sembari mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Bibirnya merapat, matanya menyorot penuh dengan emosi. Semakin ke sini, makin banyak korban yang meninggal. Dan Sarka ingin sekali mencegah hal tersebut terjadi. Tapi ia tidak bisa melakukan itu. Bagaimana bisa ia hendak mencegah, sedangkan ia sendiri saja belum mengetahui fakta dibalik insiden semua ini?
Tentu saja, sebelum ia bisa memblokir semua kasus ini, Sarka terlebih dahulu harus menemukan titik kejelasan dari semua ini berasal.
"Siapapun yang namanya tertulis di sana, gue harap dia masih baik-baik saja. Gue nggak boleh kecolongan lagi kali ini. Gue harus berhasil mencegah orang itu meninggal." Sarka berkata dengan serius. Ia kemudian mengambil hapenya lagi, kembali Sarka menghubungi nomor Nadine. Tapi, nomor Nadine masih saja tidak aktif. Yang menjawab panggilan darinya justru mbak-mbak operator, yang sungguh demi apapun, Sarka tidak mengharapkan hal itu!
"Nadine kenapa sih?" Sarka dibuat kesal sendiri. "Kenapa nomornya nggak aktif? Dia ke mana? Nggak mungkin lagi tidur, kan?"
Sarka berkata cepat, ia menoleh lagi ke arah jam dinding. Sudah pukul setengah tujuh lewat, membuat Sarka mendesah. Baiklah, sekarang sudah tidak ada waktu lagi. Terpaksa Sarka harus membicarakan tentang masalah ini di sekolah nanti, bersama Edo dah Nadine tentunya.
Menyambar handuk dibelakang pintu, Sarka lantas keluar dari kamarnya hendak mandi. Hari ini, apapun yang akan terjadi nanti, semoga saja tidak ada kejadian buruk. Walaupun Sarka pesimis akan hal ini. Tapi, sekali lagi Sarka menggeleng dan mencoba berpikir positif. Semoga saja, kali ini Sarka berhasil mencegah kematian seseorang.
Singkat waktu, kini Sarka sudah berada di dalam kelasnya, dan yang membuat ia kesal setengah mati hanya satu hal.
Nadine hari ini tidak masuk ke sekolah, cewek itu absen tanpa ada keterangan apapun. Membuat Sarka sedari tadi pagi sudah gelisah sendiri. Masalahnya, ada hal penting yang akan ia bahas bersama cewek itu. Tapi, dengan ketidakhadiran Nadine kali ini, tentu saja Sarka akan kesulitan. Padahal saja, apa yang dirinya mau bahas menyangkut hidup dan mati seseorang.
Sarka sudah mencoba alternatif lain, berulang kali ia menekan nomor telepon Nadine dan berusaha menghubunginya, berharap ia akan mendapatkan jawaban dari cewek itu. Tapi semuanya sungguh menyebalkan dan sia-sia saja, usaha Sarka tidak berhasil.
Karena nomor Nadine masih tidak aktif dari tadi pagi.
Ini tidak bisa dibiarkan, tapi Sarka bingung mau mengembil tindakan apa dan bagaimana. Ia bingung memulainya dari mana. Jelas tidak mungkin ia membolos hanya untuk mencari Nadine. Hei, lagipula Sarka juga tidak tahu alamat rumah cewek itu.
Kenapa selalu ada saja masalah yang mampir? Sarka kesal sendiri, ia mengerang frustrasi seraya mengacak rambutnya dengan kesal. Dengan putus asa, Sarka menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Kenapa sih lo?" tanya Edo penasaran. Sedari tadi ia sudah memperhatikan gelagat Sarka yang belingsatan, persis cacing yang disiram oleh air garam. Dengan alis yang menukik tajam, Edo menatap Sarka semakin curiga. "Sumpah ya, gue perhatiin dari tadi lo kayak nggak tenang gitu. Ada apaan sih sebenarnya?"
Sarka mendesah dalam-dalam, ia melirik Edo dengan malas. Namun, Sarka masih saja bungkam bibir, ia juga malas untuk menjelaskan sesuatu. Karena saat ini Sarka sudah lelah sendiri.
"Yeee .... Nih bocah malah diam aja!" Edo yang sudah kepalang emosi lantaran pertanyaan dirinya diacuhkan begitu saja oleh sohibnya, lantas tak segan-segan ia segera menoyor kepada Sarka.
Sarka melotot kesal kepada Edo. "Lo tau rasanya sakit tuh kayak gimana nggak! Mau gue toyor balik kepala lo?" ujarnya sewot. Sarka menggertakkan giginya sesaat setelah mengembuskan napas lelah.
"Ya maapin gue Sar, gue kan refleks gitu aja." Edo membela diri. "Lagian lo ngeselin, ditanya bukannya jawab malah diam aja. Aura lo dari tadi bikin gue nggak nyaman."
"Kalo nggak nyaman, sana lo jauh-jauh dari gue."
"Lah ... Ngatur!" Edo mencibir. "Lo aneh Sar, lo ada masalah? Masalah apa? Atau karena Nadine nggak berangkat sekolah, jadi lo badmood gini?"
Pertanyaan terakhir Edo memancing Sarka untuk menatap sohibnya tersebut.
Edo mengerjapkan matanya. "Apa? Jadi benar karena Nadine nggak masuk hari ini yang membuat aura lo sebegini ngeselinnya Sar? Wah ..." Edo bertepuk tangan beberapa kali. "Jangan-jangan lo udah jatuh cintrong nih sama Nadine."
Dengan cepat Sarka menepuk bibir tidak ada akhlak milik Edo. "Mulut lo ini, bismillah dulu napa kalau mau ngomong?" Sarka mendengkus kesal.
Edo mengelus bibirnya yang barusan kena tampol mahadahsyat dari Sarka. "Buset ... Kalau sampai bibir gue koma, siap-siap aja gue sucihin ya muka lo Sar!"
"Makanya kalau ngomong tuh dipikir dulu, asal jeplak aja tuh bibir."
"Kan gue cuma nebak. Yang salah tuh sebenarnya lo Sar, pertanyaan gue nggak lo jawab dari tadi."
"Gue emang lagi mikirin Nadine!" adu Sarka kemudian, memilih untuk mengalah. "Puas lo sekarang dugong?"
"Jadi beneran lo jatuh cin—
"Ya nggak gitu juga Edo!" Sarka langsung mencegat kata-kata Edo yang belum tuntas. Ditatapnya sohibnya itu dengan pandangan kesal. "Sumpah ya Do, lo lama-lama bikin gue tambah emosi tau nggak?"
"Tapi tadi lo bilang emang lagi mikirin Nadine!"
"Emang kalau mikirin aja nggak boleh? Nggak ada hubungannya sama jatuh cinta segala."
"Nih anak ...." Edo gemas sendiri. Ia berusaha tenang, ia menarik napas sedalam mungkin, sebelum akhirnya ia embuskan dengan pelan-pelan lewat mulut. "Okelah gue ngalah kalau lo emang nggak jatuh cinta sama Nadine."
"Siapa yang lagi jatuh cinta?" balas Sarka cepat, sedetik setelah Edo berkata.
"Gue belum selesai ngomong anjir!" Dikeplaknya lengan Sarka dengan sangat kuat. "Dengerin gue dulu nih ya, jangan nyelah dulu." Edo berdehem pelan. "Salah satu tanda-tanda lo jatuh cinta itu, lo mikirin orang yang dimaksud terus-terusan. Nah lo sendiri mikirin Nadine. See?"
"Nggak gitu juga konsepnya sialan." Sarka menggeram emosi. "Sia-sia waktu gue buat dengerin lo ngoceh dari tadi. Gue emang mikirin Nadine, tapi bukan berarti gue suka dan jatuh cinta sama dia. Lama-lama gue cincang juga ya Do badan lo, terus gue lempar ke sekumpulan buaya."
"Mau cosplay jadi psikopat lo?" Edo membelalakkan bola matanya lebar-lebar. "s***s banget pikiran lo."
"Terserah deh Do! Gue capek!"
"Terus ... Bisa kasih tau alasan kenapa lo mikirin Nadine?" Edo kembali bertanya.
Sarka menatap Edo. "Semalam gue mimpi buruk yang sama, dan gue sekarang curiga kalau buku catatan gue munculin nama orang lain lagi. Tapi masalahnya sekarang, buku itu ada di Nadine dan anaknya nggak berangkat. Itu yang gue pikirin dari tadi oncom!"
"BENERAN LO MIMPI BURUK ITU LAGI?" Edo berdiri dari duduknya dengan cepat.
"Nggak, gue lagi bohong sama lo," jawab Sarka setengah malas. "Pake tanya segala lagi, ya ngapain juga gue bohong soal ginian?!"
"Nama siapa yang kali ini bakal muncul di buku punya lo Sar?"
"Makanya itu, gue juga lagi bingung sekarang. Nadine nggak berangkat, dari tadi pagi nomor hapenya juga nggak aktif. Padahal ini penting banget."
"Sar ... Gue ada ide!"
Perkataan Edo sukses memancing Sarka menatapnya. "ide apaan?"
"Bolos aja!"
"Nyaris aja gue muji lo jenius Do." Sarka menatap Edo dengan sorot mata sebal, sebelum akhirnya ia mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Lo sendiri yang bilang kalau lo nggak mau dihukum, tapi lo malah nyaranin bolos. Udah gila lo?"
"Yang bolos kan elo! Bukan gue, ya gue bakal tetep aman di sini."
Sarka tidak ada niatan membalas ucapan Edo. Sahabatnya satu ini benar-benar tidak membantunya sama sekali. Malahan sejak tadi Edo membuatnya pusing tujuh keliling dan emosi bukan kepalang.
Rasa-rasanya Sarka ingin menghajar Edo habis-habisan saat ini juga.