39. KEKESALAN SARKA

1527 Kata
Nadine meregangkan otot-otot tubuhnya. Kini ia sudah merasa enakan. Hari ini ia berniat berangkat sekolah setelah kemarian ia libur satu hari dikarenakan sakit. Kemarin Nadine merasa tidak enak badan, yang membuatnya harus tetap di atas kasur sepanjang hari. Nadine tidak tahu kenapa sakitnya datang tiba-tiba seperti ini, tapi ia menduga bahwa dirinya kelelahan. Namun, sekarang Nadine sudah sehat. Ia bisa berdiri dan berjalan dengan mudah, tidak seperti kemarin yang baru saja duduk sepuluh detik, kepalanya terasa berat bukan main. Membuat Nadine cepat-cepat merebahkan tubuhnya lagi diatas kasurnya yang empuk dan nyaman. Sekarang Nadine sudah siap untuk berangkat ke sekolah, ia mengambil hapenya di atas nakas. "Kenapa pake rusak segala sih!" Nadine bergumam kesal, memandangi hapenya yang sekarat, layarnya juga pecah. Hal itu disebabkan karena kemarin malam hapenya terbanting. Tidak ada pilihan lain, Nadine pun memasukkan benda pipih itu ke dalam laci. "Nanti deh gue coba bawa ke konter," ucapnya lagi, dengan pelan. Kemudian ia pun melangkah keluar dari kamar. Sebenarnya, rusaknya hapenya tersebut bukan perkara yang sangat disayangkan oleh Nadine. Hape itu memang sudah tua, bekas ibunya dulu sebelum meninggal. Tapi, dikarenakan masih bisa digunakan, Nadine pun memutuskan untuk memakainya. Padahal ayahnya sudah menawarkan Nadine untuk beli hape baru, tapi Nadine menolaknya. Ia berkata bahwa hape bekas mendiang ibunya masih bisa digunakan dengan baik. Alasan lain sebagai pendukung yang ia ucapkan kepada ayahnya adalah Nadine ingin mengenang ibunya dengan hape tersebut. Ia berkata akan selalu ingat ibunya jika memandangi hape tersebut. Oleh karena itulah Nadine terus memakai benda tua itu, tapi sekarang, hapenya sudah rusak. Nadine melenguh, napasnya terhela panjang. Tanpa pikir panjang lagi, ia pun berangkat sekolah setelah berucap dengan nada suara kencang untuk meminta ijin kepada ayahnya bahwa dirinya akan berangkat, tapi yang Nadine dapatkan justru kesunyian. Tidak ada sahutan apapun dari ayahnya. Dan hal itu sudah lumrah terjadi. Sesuatu yang tidak asing lagi bagi Nadine. *** "Gue yakin Sar kalau Nadine berangkat hari ini." Edo menenangkan Sarka yang sejak kemarin terlihat sangat kalut. "Kalau enggak?" "Ya tunggu aja sampai dia berangkat. Hapenya masih nggak aktif kan sampai sekarang?" "Gue nggak bisa sesabar itu Do." Sarka mendengkus panjang. "Ini menyangkut tentang nyawa seseorang loh. Gue nggak bisa biarin gitu aja." "Ya kita tunggu aja kalau gitu, mau lo loncat-loncat, jungkir balik, kayang, ataupun roll depan sekalipun, kalau dasarnya Nadine nggak datang ya lo mau apa? Tunggu aja deh, jangan emosi terus." Sarka melirik Edo, perkataan sohibnya itu memang benar, yang bisa Sarka lakukan sekarang hanyalah menunggu kedatangan Nadine. Berharap bahwa cewek itu datang, agar Sarka bisa langsung bertanya dan menjelaskan situasi yang sedang terjadi sekarang ini. Berusaha tenang dan duduk di bangkunya sembari terus mengawasi pintu kelasnya, Sarka berharap Nadine akan datang hari ini. Jika terlalu lama membahas dan mencari titik terang tentang masalah ini, Sarka takut sesuatu yang buruk akan segera terjadi. "Gue yakin pasti Nadine datang kok Sar," ujar Edo, sambil menepuk pundak Sarka satu kali. "Kemarin dia kan udah absen, tanpa keterangan pula tuh. Nadine pasti nggak mau absen lagi. Gue yakin Sar, lo tenang aja!" "Gue juga bisa aja yakin kalau Nadine berangkat hari ini, tapi memang ada sesuatu yang menjamin hal itu? Lo cuma yakin Do, belum tahu seratus persen kalau Nadine hari ini fiks buat datang." "Ya gue emang nggak bisa jamin apapun. Tapi seenggaknya lo berpikir positif lah Sar, jangan gini." Edo membela dirinya. Ia tidak merasa bersalah pada posisi sekarang ini. Sarka membuang kasar napasnya lewat mulut dan hidung secara bersamaan. Ia memilih untuk diam saja, menyahut ucapan Edo lagi akan membuatnya semakin lelah. "Tuh anaknya datang!" Suara Edo dengan nada tingginya, membuat Sarka langsung membulatkan matanya lebar-lebar, lantas saja ia menolehkan mukanya ke arah depan. Betul saja, Nadine berangkat hari ini. Sarka segera berdiri dari duduknya. Diikuti oleh Edo. Sarka keluar dari bangkunya, otomatis tubuhnya yang tinggi itu menghalangi langkah Nadine. Sarka memegang lengan Nadine dengan kuat, "ayo ikut gue sekarang." "Mau ke mana?" sahut Nadine bingung. Ia mendongak, menatap wajah Sarka dengan kening terlipat karena bingung. Tidak ada jawaban dari Sarka, membuat Nadine menoleh ke arah Edo. Tapi, Edo juga sama-sama diam. "Udah, ikut gue aja dulu. Ini penting. Kita harus cepat sebelum bel masuk berbunyi." Nadine menganggukkan kepalanya. "Ya udah minggir, gue taruh tas dulu." "Nggak usah Dine, kelamaan." Kali ini Edo yang menyahut. Tidak ada pilihan lain, Nadine pun akhirnya setuju-setuju saja. "Ayo!" Sarka berjalan memimpin di depan, diikuti oleh Nadine dan Edo dibelakangnya. Sampai akhirnya, mereka bertiga kini berdiri di taman sekolah yang masih sepi karena masih pagi. Hanya ada segelintir siswa di sini yang kelihatan. "Memangnya ad— "Kenapa lo kemarin nggak berangkat sekolah?" tanya Sarka cepat, memotong ucapan Nadine begitu saja. Nadine yang masih menggantungkan lidahnya, memilih untuk diam lagi dan berdehem. Ia menatap Sarka lurus-lurus. "Gue kemarin sakit, kepala gue pusing banget. Berdiri aja gue langsung limbung." "Terus hape lo kenapa nggak aktif Dine?" sambung Edo kemudian, ikutan bertanya. Nadine segera menjawab. "Oh itu, hape gue jatuh, terus nggak bisa nyala sampai sekarang. Kenapa? Kalian nelpon gue?" Sarka mendesah kasar. "Gue telpon lo dari kemarin pagi Dine. Tapi nomor lo nggak aktif," ucap Sarka. "Yakin Dine hape lo cuma jatuh? Hape gue beberapa kali jatuh, udah puluhan kali kayaknya, kok nggak apa-apa tuh? Kebal-kebal aja hape gue," seloroh Edo. "Ya gue nggak tahu, entah karena hape lo mahal aja atau emang masih bagus. Beda Do sama hape gue, tuh hape punya nyokap yang udah lama banget. Maklum kalau jatuh langsung rusak. Hape lama." "Oh ..." Bibir Edo membulat sembari mengangguk-angguk kepalanya setuju. "Tapi lo salah sih Dine, hape gue nggak semahal itu kok." "Udah, kenapa malah keluar dari topik gini?" Sarka melerai setengah kesal. Diedarkannya sorot matanya untuk Nadine. "Ada hal penting yang mesti gue kasih tahu sama lo Dine." "Tentang apa?" Sebelum menjawab, pertama-tama Sarka menarik napas sedalam mungkin. "Seharusnya ini menjadi pembahasan kemarin, tapi karena lo nggak berangkat ..." Sarka memejamkan matanya sembari menggeleng pelan. Tidak, ia tidak mau bertele-tele lagi. Ia menatap Nadine, lebih serius dan fokus daripada sebelumnya. "Lusa kemarin, gue mimpi yang sama lagi." "Mimpi yang itu?" Sarka mengangguk lesu. "Ya mimpi yang itu, dan kenapa gue nyoba hubungi lo, karena buku itu dibawa sama lo Dine." Sarka diam sejenak untuk mengambil napas. "Berarti, ide dari lo nggak mempan juga Dine. Meskipun buku itu jauh dari gue, mimpi itu masih aja datang." "Terus gimana?" Nadine berkomentar. "Lo bawa buku itu, kan? Lo udah lihat di sana? Ada nama yang tertulis lagi?" "Buku itu dilaci meja belajar gue, gue nggak bawa Ka." Pernyataan Nadine membuat Sarka langsung mengusap wajahnya frustrasi. Cowok itu menatap Nadine kecewa. "Kok bisa sih lo nggak bawa?" "Ya karena gue nggak tahu." "Terus ini mau gimana? Gue takut kalau ada korban lagi. Gue niatnya mau mencegah itu, tapi kayaknya udah nggak bisa sekarang. Kita harus lihat apakah ada nama orang lain di buku itu." Sarka mengembuskan napas dalam-dalam. "Kalau sejak kemarin lo bisa dihubungi Dine, kita bisa langsung bertindak. Tapi ...." "Gue nggak tau, gue minta maaf Ka," ujar Nadine, menyesal. "Gue niatnya mau mencegah kematian orang yang tertulis di sana. Tapi sekarang gimana? Gimana mau mencegah kalau gue aja nggak tahu siapa korban selanjutnya? Dan mungkin aja, kali ini gue bakal kecolongan lagi." "Ka, gue minta maaf sekali lagi sama lo. Gue nggak sengaja ngelakuin itu, hape gue emang rusak. Gue nggak tahu kalau lo nyoba hubungi gue, belum lagi gue juga sakit." "Ya kalau ada korban lagi gimana Dine? Lo mau bertanggung jawab? Ini menyangkut tentang nyawa orang lain. Kita nggak bisa biarin ini terjadi. Kalau korban selanjutnya orang-orang terdekat gue gimana? Gue kecewa Dine ..." Sarka menatap Nadine dengan kilatan mata penuh rasa kecewa dan marah. "Seharusnya memang dari awal gue nggak ngikut sama ide lo itu. Seharusnya gue nggak setuju dan tetep membiarkan buku itu ada di gue." Sarka segera berbalik badan, berderap pergi dari taman, meninggalkan Edo yang bingung mau ikut Sarka atau tetap bersama Nadine. Sedangkan Nadine sendiri, ia berdiri di tempat dengan bibir bergetar dan tubuh terguncang. Kedua mata Nadine sudah berkaca-kaca. Edo yang melihat wajah Nadine memucat, lantas langsung mengambil sikap. Edo menepuk bahu Nadine. "Lo nggak pa-pa Dine?" tanyanya, sedetik kemudian Edo menyadari jika Nadine menangis. Air matanya luruh dari pipinya. "Dine, lo nangis?" Edo menggeleng-gelengkan kepalanya, ia memperhatikan punggung Sarka yang semakin jauh dari pandangannya. "Wah ... Nggak bener tuh bocah udah bikin anak orang nangis gini." Edo kembali memusatkan seluruh perhatiannya ke arah Nadine. "Udah Dine, lo nggak usah nangis. Biar gue nanti ngomong sama Sarka. Lo nggak usah takut, oke? Lo bakal baik-baik aja." Nadine mengangguk mengiyakan sembari mengusap pipinya yang banjir oleh air mata. "Makasih Do. Tapi posisi gue sekarang emang salah." "Terlepas dari salah atau enggak, Sarka seharusnya nggak boleh gini Dine. Dia seharusnya bisa ngomong baik-baik sama lo." "Gue yakin Sarka bersikap gitu karena capek Do. Sarka pasti udah kepikiran tentang ini dari kemarin. Itu yang membuat kesabarannya habis, gue yang tetap salah di sini." Edo memilih untuk mengalah, ia tidak lagi mendebat. "Oke, kita balik ke kelas sekarang. Bahas tentang perkara ini kita tunda dulu, kita lanjut pas istirahat saja." Nadine menyunggingkan senyuman tipis. "Makasih Do." Edo mengangguk, "parah sih Sarka emang."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN