40. TARGET SELANJUTNYA

1323 Kata
"Udahlah Sar, Nadine kan nggak sepenuhnya salah. Dia juga nggak tahu kalau lo nyoba hubungi dia karena hapenya rusak. Kalau nggak rusak, udah pasti Nadine juga bakal ngangkat panggilan dari lo." Edo berbicara panjang lebar, "coba sekarang bayangin, posisi lo dibalik sama Nadine. Bakal sama aja Sar. Lo nggak bisa egois gini, gue tahu kalau lo kecewa, tapi ya nggak gini juga Sar. Nadine bukan sengaja ngelakuin itu semua." Jam istirahat kali ini, Edo memosisikan diri sebagai penengah untuk meredakan ketegangan antara Sarka dan Nadine. Edo paham kalau Sarka sedang menahan amarahnya, tapi menurut Edo, Sarka juga tidak bisa menyalahkan Nadine begitu saja. Edo mendesah panjang, ditepuknya pundak Sarka sekali lagi. "Jangan egois Sar, kita selesaikan masalah ini baik-baik dan pikirin jalan keluarnya bareng-bareng." Sarka mengusap wajahnya dengan frustrasi, napasnya terhembus dengan panjang dan kasar. Kemudian ia menoleh, menghadap ke arah Nadine yang tengah menundukkan wajahnya, cewek itu merasa sangat bersalah. Sadar bahwa dirinya memang mementingkan diri sendiri dan berlaku seenaknya, Sarka pun akhirnya memutuskan untuk meminta maaf kepada Nadine. Lengkap dengan suara seraknya, Sarka berkata, "Dine, maafin gue yang egois, ya?" ujarnya tulus sembari menjulurkan tangannya ke arah Nadine, menunggu sahabatnya itu menjabat tangannya. Edo yang melihat hal itu lantas menahan senyumannya. Edo merasa bangga lantaran dirinya sukses menghentikan sikap dingin Sarka kepada Nadine. "Gue sadar kalau di sini gue emang salah, gue terlalu egois sampai gak mikirin perasaan lo sama kejadian sebenarnya. Sekali lagi, gue minta maaf sama lo Dine," lanjut Sarka dengan kata-kata lebih panjang agar lebih meyakinkan. Nadine belum juga kunjung merespons, membuat Sarka kembali berusaha berbicara lagi. "Dine? Gue minta maaf sama lo, boleh?" Perlahan, Nadine mengangkat wajahnya, detik berikutnya tatapan dirinya dan Sarka saling bertubrukan. Nadine pun akhirnya menerima jabatan tangan Sarka. Nadine tersenyum tipis, "maafin gue juga Ka, di sini gue juga salah. Dan gue udah ngecewain lo tentunya." Sarka ikut mengusung senyuman. "Gue bakal maafin lo kalau lo mau terima maaf gue terlebih dahulu Dine." "Iya, gue maafin lo." "Maaf dari lo, juga gue terima," sahut Sarka. Edo bertepuk tangan pelan, "nah, gini kan enak jadinya. Jangan marah-marahan, justru malah semakin susah dan lebih lambat mecahin masalah kalau saling perang dingin." "Gue terlalu takut Dine, gue nggak mau ada korban jiwa lagi akibat buku itu. Gue niatnya mau mencegah siapapun yang nyawanya terancam gara-gara gue." Sarka menunduk lesu, napasnya terhela panjang. "Bukan gara-gara lo Sar, lo kan nggak tau apa-apa. Lo nggak bisa mencegah dan mengendalikan mimpi buruk itu. Karena memang sudah takdirnya seperti itu. Mau berbuat apapun semuanya tetap bakal terjadi." "Tetep aja, gue adalah penyebab orang-orang meninggal." Sarka mendesah berat sekali lagi. "Kalau aja gue bisa dihubungi pagi itu, mungkin kita emang bisa mencegah kematian seseorang. Gue yang salah sebenarnya." Nadine menelan ludahnya dengan kasar, kembali menyalahkan dirinya sendiri. "Jangan gitu Dine, lo nggak salah dan nggak tau apa-apa." Edo memperingati. "Nggak Do," sangkal Nadine sembari menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Coba aja hape gue nggak rusak dan gue bisa ngangkat panggilan dari Sarka waktu itu." "Udah, jangan bahas masalah itu lagi. Yang udah berlalu biarin aja, gue minta kalian fokus sama masalah saat ini? Gue minta tolong." "Nanti pulang sekolah kalian mampir ke rumah gue aja gimana? Kita lihat bareng-bareng buku aneh itu. Kita lihat nama siapa yang tertulis di sana. Syukur-syukur kalau nggak ada korban lagi kali ini." "Gimana Sar?" Edo yang merasa setuju dengan usul dari Nadine, lantas ia menoleh ke arah Sarka. "Gue sih mau-mau aja, lo sendiri?" "Ya, gue setuju sama ide lo Dine. Pulang sekolah ini kita bakal mampir ke rumah lo." Nadine mengusung senyuman tipis. Kepalanya perlahan mengangguk. "Gue sadar satu hal sekarang." "Apa Sar?" "Orang yang meninggal gara-gara mimpi buruk gue itu, selalu orang yang gue kenal. Metta, Arial, pak Rahmat. Tiga-tiganya gue pernah ketemu dan pernah ngobrol juga. Fakta satu ini membuat gue semakin takut kalau korban selanjutnya adalah orang yang gue kenal juga." "Kalau memang benar begitu ..." Edo menggantungkan kalimatnya, sedetik kemudian kepalanya menggeleng telak. "Nggak Sar, lo nggak boleh ngomong kayak gitu. Belum ada bukti yang mendasar kalau itu memang benar." "Tapi dari korban-korban sebelumnya semuanya yang gue kenal Do. Bisa jadi kan korban selanjutnya orang yang gue kenal juga? Ada banyak kemungkinan di dunia ini Do." "Dan lo jangan terpaku sama kemungkinan itu Sar!" Edo membantah. "Sekarang kita belum tahu apa-apa, kan? Buku itu masih di rumah Nadine. Kita belum tahu siapa korban selanjutnya." "Gue harap nggak ada nama siapapun lagi," celetuk Nadine. "Menurut gue mustahil, setiap mimpi buruk itu datang, buku itu selalu munculin nama orang, terus orang itu meninggal. Udah ada tiga korban, nggak mungkin kali ini nasibnya bakal berbeda Dine." Sarka menyangkal ucapan Nadine. "Seenggaknya kita harus berpikir positif Ka." Sarka menatap Nadine dengan sorot mata dalam-dalam. Ia diam sembari memikirkan ucapan Nadine, yang semakin ia renungi ada benarnya juga. Sarka memejamkan matanya rapat-rapat. "Gue bingung." "Jangan khawatir, semua masalah ini pasti akan ada jalan keluarnya Sar." "Mau sampai kapan gue kayak gini Do?" Sarka menahan napasnya. "sampai kapan masalah ini dapat teratasi? Gue takut kalau kejadian ini bakal selamanya terjadi dan menghantui hidup gue terus-terusan." Mendengar ucapan Sarka, Nadine segera berkata dengan aksen cepat. "Nggak boleh ngomong kayak gitu Ka. Masalah ini pasti ada ujungnya dan bisa teratasi. Kita kumpulin bukti dan cari tau ada apa dibalik ini semua. Pasti ada alasannya, kan?" "Gu— "Mohon perhatian semuanya!" Sarka tidak jadi menyelesaikan ucapannya ketika dari arah depan kelas terdengar suara keras dan penuh dengan tenaga. Terpaksa Sarka menutup bibirnya lagi, tidak jadi menyambung kalimatnya. Semua murid segera menolehkan kepalanya, menatap Ilham—si ketua kelas, yang sepertinya hendak menyampaikan informasi. "Tadi gue ke ruang guru buat nemuin wali kelas, kegiatan belajar mengajar akan dihentikan sam— "Sekolah dibubarkan?" Salah satu siswa langsung menyeletuk sebelum Ilham sempat menyelesaikan kalimatnya. Ilham mengangguk mantap. "Iya, kita semua boleh pulang sekarang." Begitu kata-kata Ilham meluncur, kelas langsung gaduh dan bising. Semua bersorak heboh. Semuanya bergegas mengambil tas masing-masing. Edo dan Sarka saling pandang, sebelum akhirnya cowok bertubuh gempal itu naik ke atas kursi, melongok ke luar lewat jendela kelas. "Beneran dibubarin Sar kayaknya, tuh di luar udah rame banget pada mau pulang." Kening Sarka berkerut, ia merasa ada yang janggal di sini. Tidak mungkin kan pihak sekolah membubarkan kegiatan belajar mengajar begitu saja tanpa ada alasan tertentu? Ilham juga belum mengatakan alasan yang sebenarnya. Langsung saja Sarka angkat tangan. "Ham, kenapa sekolah dibubarin?" Ilham menarik napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Sarka. "Guru-guru pada mau ziarah, ada salah satu guru di sini yang meninggal dunia." Sarka menahan napasnya. "Siapa Ham?" Nadine ikutan bertanya karena penasaran. "Bu Indah." "Oh Bu Indah ...." Edo manggut-manggut mengerti. Detik berikutnya, ia tersadar sesuatu. Edo langsung berdiri tegak dengan mata melotot lebar. "BU INDAH?!" teriaknya begitu kencang dan keras. Edo mendapatkan jawabannya ketika Ilham menganggukkan kepalanya. Dan itu artinya benar. Edo terduduk di kursi lagi. Guru yang sangat ia kagumi karena masih muda, cantik, dan baik hati tersebut sudah tiada hari ini. Edo sangat tidak menyangka. Sementara murid-murid lain sudah berhamburan keluar dari dalam kelas, Sarka, Edo dan Nadine masih setia duduk di kursi masing-masing. "Gue nggak mau berpikir buruk, tapi gue nggak bisa ngilangin ini dari dalam otak gue ...." Sarka menelan ludahnya dengan susah payah. Ia melanjutkan ketika mendapati tatapan Edo dan Nadine penuh dengan pertanyaan. "Bisa jadi, nama orang yang tertulis di buku itu adalah ... Bu Indah." Edo berdiri dari duduknya, lalu ia segera menarik tangan Sarka, "ayo kita buktiin kalau itu belum tentu benar." Sorot mata Edo berpaling ke arah Nadine. "Dine, kita ke rumah lo sekarang!" Bergegas, ketiganya langsung bersiap-siap untuk membuktikan apakah ada nama bu indah di dalam buku catatan milik Sarka. Jika nama bu Indah memang beneran ada dibuku misteri itu, maka tebakan Sarka tidak meleset sama sekali. Orang yang menjadi korban adalah orang yang pernah Sarka temui dan kenal sebelumnya. Hal ini semakin membuat kadar ketakutan Sarka meningkat drastis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN