41. MEMBUKTIKAN

1723 Kata
"Rumah lo jauh nggak Dine dari sekolah?" Sarka mengajukan pertanyaan sembari fokus melangkah menuju parkiran sekolah. Langkahnya cepat dan terburu-buru. Nadine, yang berdiri tepat disamping Sarka, membalas tatapan cowok itu, disusul bibirnya yang terbuka dan langsung menjawab pertanyaan yang sebelumnya Sarka ajukan. "Lumayan, sekitar dua puluh menit kalo naik motor," ujarnya. "Kita harus cepat!" Edo berteriak. Setelah berada di parkiran, Nadine segera mengeluarkan motornya. Sarka dan Edo menyusul Nadine. Kemudian, mereka berkendara dengan kecepatan sedang lantaran tidak mau ada kejadian buruk di jalan. Dipandu oleh Nadine, Sarka mengikuti motor Nadine dari belakang. "Perasaan gue udah nggak enak Do," adu Sarka disela-sela ia fokus menatap ke arah depan. "Menurut lo gimana?" "Gue juga nggak tau," balas Edo cepat dari arah belakang. "kita tunggu dan lihat saja nanti hasilnya kayak gimana. Kita cums bisa berpikir positif dan berharap nggak ada apa-apa." "Gue juga maunya begitu Do," desah Sarka. "Tapi gue ragu ..." Edo menepuk pundak Sarka satu kali, namun ia melakukannya dengan tenaga, yang berakibat pukulannya barusan sangat kencang, membuat Sarka kaget. "Sar, jangan overthingking kayak gini. Kita nggak boleh mikir kejadian buruk. Belum tentu apa yang dipikirin bakal terjadi." Sarka mendesah dalam-dalam. Edo menyambung kalimatnya. "Fokus aja sama jalanan, jangan sampai kenapa-napa nanti." Dan Sarka memilih untuk diam, menurut apa yang dikatakan Edo. Jujur saja, Sarka sangat tidak tenang sekarang ini. Pikirannya menjelajah entah ke mana. Perasaan takut dan was-was masih mendominasi jiwanya. Sarka menggeleng pelan dan menarik napas sebanyak-banyaknya agar ia bisa tenang dan lebih fokus. Di depan sana, Nadine mulai melambatkan laju motornya. Sarka pun mengikuti. Hingga pada akhirnya, selama kurang lebih dua puluh menit di jalanan ibukota yang lumayan padat, mereka sudah sampai di rumah Nadine. "Ayo masuk." Nadine menyuruh Sarka dan Edo untuk mengikuti langkahnya setelah ia mebuka pintu rumah. Sarka mengangguk. "Lo sendirian di rumah Dine?" "Nggak, ada bokap gue. Tapi dia masih sibuk kerja. Nggak pa-pa, langsung masuk aja." Nadine tersenyum tipis sambil membuka pintu lebih lebar lagi. Sarka dan Edo saling bertukar pandang. Edo mengangguk pelan, kemudian ia masuk ke dalam rumah Nadine, disusul oleh Sarka paling akhir. Setelah semuanya sudah berada di dalam, Nadine mengunci pintu. "Mau langsung sekarang atau mau gue buatin minum dulu buat lo berdua?" "Minuman dulu aja Dine!" Edo menjawab dengan semangat, tapi buru-buru ia mengaduh kesakitan ketika Sarka membelalakkan mata sambil menyikut rusuknya. Edo memperhatikan Sarka dengan sebal, bibirnya mencebik. "Iya-iya!" Sarka geleng-geleng kepala, tidak habis pikir dengan sohibnya ini. "Jangan repot-repot Dine, nggak usah. Bisa langsung bawa buku catatan gue nggak?" "Rejeki jangan ditolak Sar harusnya." Edo mengomel kesal. "Waktunya nggak tepat Do." "Nanti gue buatin minuman buat kalian setelah kita lihat buku itu, gimana?" tawar Nadine. "Boleh deh kalau gitu." Edo menyengir lebar, sedangkan Sarka mendengkus kecil. Berdehem pelan, Nadine menatap pintu kamarnya. "Bukunya ada di kamar, ayo kita lihat sekarang." Nadine sudah melangkah, tapi kata-kata Sarka berikutnya sukses membuat langkah Nadine terjeda. "Tunggu dulu Dine!" Menolehkan wajahnya menatap Sarka lengkap dengan kening berkerut, Nadine bertanya pelan, "kenapa Ka?" "Kita ikut ke kamar lo?" "Kenapa memangnya? Buku itu ada di kamar gue kok." Menggeleng pelan, Sarka menjawab cepat, "Nggak, maksud gue bukan gitu. Kita nggak apa-apa ke kamar lo? Lo ... Nggak keberatan?" "Banyak omong lo Sar!" Edo menyeletuk, ia langsung berjalan ke arah Nadine. "Ayo Dine buruan, biar cepet selesai kita ke kamar lo sekarang!" Edo menarik tangan Nadine begitu saja, membuat Nadine yang belum siap langsung kaget. Nadine tertarik ke depan. "Ayo Ka!" Tidak ada pilihan lain, Sarka segera ikut. Nadine menutup pintu kamar setelah Edo dan Sarka ada sudah berada di dalam. Sarka menatap sekeliling kamar Nadine yang sangat rapi. Edo sendiri bahkan berdecak kagum. "Gila, kamar lo nyaman juga Dine ternyata. Nanti malam gue nginep di sini boleh nggak?" Edo bertanya sambil terkekeh. "Omongan lo ini!" Sarka yang menganggap bahwa Edo serius dalam bertutur kata, dengan cepat ia melayangkan pukulan di kepala sohibnya itu. Edo mendelik tidak suka ke arah Sarka. "Lo ngapain mukul kepala gue? Gue cuma becanda elah! Nggak mungkin lo seserius itu." Omelan Edo dibalas dengkusan dari Sarka. Edo kesal setengah mampus lantaran sedari tadi ia selalu salah di mata Sarka, membuatnya lama-lama muak sendiri. Edo memutar bola matanya dengan malas, ia melangkah menjauh dari Sarka. "Males gue deket-deket sama lo Sar, kena pukul mulu gue. Curiga gue kalau sebenarnya lo lagi PMS!" "Jangan sampai sepatu gue melayang ke muka lo ya Do! Sembarang aja kalo ngomong." "Kan kan marah lagi. Ngeselin emang lo Sar! Salah mulu gue dimata lo." "Kan emang lo salah." "Wah ... Lama-lama ngajak ribut nih bocah." Edo menggulung lengan seragamnya ke atas. Nadine menghela napas lelah mendengar kegaduhan Sarka dan Edo yang tidak ada habis-habisnya. Nadine justru yang merasa lelah sendiri. Mendengar ocehan dari kedua temannya itu membuat emosi Nadine perlahan menggelegak keluar. "Kalian berdua bisa diam nggak sih?" Oke, kesabaran Nadine sudah diambang batas, ia lelah dan kesal saat ini. Ditatapnya Edo dan Sarka secara bergantian. Tangannya terlipat didepan dadanya. "Lo berdua jangan berisik dong, gue kesal nih jadinya. Kita niatnya di sini mau buktiin ada nama di buku itu, kan?" "Tujuan kita emang itu," balas Sarka pendek. "Lah terus? Kenapa kalian malah berantem coba? Udah stop! Nggak boleh ada yang becanda lagi di sini. Kita harus fokus dan tenang." Nadine memejamkan mata sembari mengembuskan napas panjang, tatapannya ia alihkan ke Sarka. "Dan buat lo Ka, lo sendiri kan yang ngebet dari kemarin pengin lihat buku itu? Terus kita udah ada di sini, di rumah gue, di mana posisi buku itu berada. Tapi ..." Nadine mendengkus kasar. "Tapi kenapa lo malah ribut sama Edo?" Merasa memang salah, Sarka dan Edo saling membungkamkan mulut masing-masing. Nadine berucap lagi, kali ini dengan nada suara sedikit lebih tenang dan lembut daripada sebelumnya. "Udah, sekarang kita fokus dan serius. Di ruangan sebelah bokap gue juga lagi kerja, jangan sampai suara kita membuat bokap gue keganggu. Tentunya kalian berdua nggak mau kenapa marah, kan?" "Ya udah, kita mulai sekarang." Sarka berdehem pelan, ia maju mendekat ke arah Nadine. "Mana Dine buku itu?" "Bentar, gue ambilin dulu," ucap Nadine sembari bergerak menuju meja belajarnya. Seingat dirinya, ia meletakkan buku milik Sarka di sana setelah melihat dan membaca diary yang ditulis oleh cowok itu. "Loh ... Buku itu kok nggak ada?" Nadine seketika langsung panik ketika tidak mendapatkan apa yang ia cari. Sarka terusik dengan apa yang Nadine katakan. Dengan langkah lebarnya, Sarka menyusul Nadine yang sedang sibuk mencari buku catatan milik Sarka. "Serius Dine nggak ada buku itu?" tanya Sarka, ia merasa was-was. Jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya. "Ketumpuk sama buku lain kayaknya tuh, coba dicek Dine," seru Edo. Nadine mengangguk, ia memindahkan semua buku pelajarannya, lalu mengecek satu-satu apakah ada buku catatan milik Sarka yang terselip di sana. Barangkali ada. "Nggak ada," jawab Nadine dengan suara bergetar. "Gue nggak mungkin lupa, gue ingat banget kalau buku itu gue taruh di meja belajar," lanjutnya panik. "Nggak usah gelisah dulu Dine, coba periksa sekali lagi tumpukan buku lo. Siapa tau tadi kelewat. Lo harus tenang," ucap Sarka memberikan sedikit wejangan lantaran ia melihat Nadine yang wajahnya sudah pucat pasi. Mengangguk mengiyakan, Nadine pun memeriksa sekali lagi. Tapi, tetap saja di sana tidak ada buku milik Sarka. Nadine menggigit bibir bagian bawahnya, kebiasaan ketika ia gelisah. "Nggak ketemu juga Ka," ujarnya pelan. Intonasi suaranya lirih dan penuh dengan nada penyesalan. Sarka menatap sekelilingnya, lalu sorot matanya jatuh ke arah rak buku yang tidak jauh dari posisinya berdiri. "Itu rak buku, siapa tahu ada di sana Dine." Nadine menggeleng. "Seingat gue, gue nggak naruh buku itu di sana," ucapnya. Edo menyeletuk. "Periksa dulu aja Dine, nggak ada salahnya kan dicoba? Siapa tahu lo lupa naruh di sana." "Oke gue periksa." Dengan langkah terburu-buru, Nadine menghampiri rak bukunya. Ia mengecek semua buku di sana, tapi tidak ada satupun buku milik Sarka yang ia lihat. Nadine menelan salivanya dengan getir. "Nggak ada juga Sar, Do. Gimana ini?" "Kita cari di luar kamar lo, ada kemungkinan lo bawa buku itu keluar waktu lo mau makan atau nonton tivi, atau apapun itu. Tapi lo lupa dan nggak sadar, gimana kalau kita cari sekarang?" Nadine ragu atas usul Sarka satu ini. Demi apapun, Nadine tidak pernah membawa buku itu keluar dari kamar. Ia ingat sekali, ia jarang membawa buku keluar dari kamar. Dan Nadine tidak sepikun itu. Tapi, dikarenakan usul dari Sarka bisa dicoba dan tidak terlalu merepotkan, akhirnya Nadine mengangguk saja meskipun ada keraguan di dalam dirinya jika buku itu ada di luar kamar. Mungkin saja ada, barangkali Nadine memang benar-benar sudah pikun. Nadine dan Sarka sudah hendak melangkah keluar dari kamar, sesaat setelah ucapan Edo membuat keduanya berhenti melangkah. "Nah ketemu!" Edo mengangkat buku bersampul coklat tua, buku yang sedari tadi dicari-cari, buku aneh dan misterius milik Sarka. Kedua bola mata Nadine terbelalak terkejut. "Lo nemu di mana Do?" Nadine bergerak mendekat ke arah cowok berkacamata dan bertubuh gempal tersebut. Edo menunjuk kasur Nadine menggunakan bibirnya. "Di bawah tempat tidur lo. Tadi gue iseng ngecek, eh taunya beneran ada di sana." "Kok bisa ada di sana? Aneh banget." "Dibawa tikus mungkin," celetuk Sarka asal, bahunya mengendik. "Yang penting bukunya udah ketemu nih, mau dibuka sekarang?" tanya Edo. "Coba sini Do." Sarka menodongkan tangannya kepada Edo, meminta buku tersebut. Dan Edo langsung menyerahkannya ke Sarka. "Gue buka sekarang, ya?" Sarka menelan ludahnya. Tangannya tiba-tiba bergetar. Ia takut, tapi disisi lain rasa penasarannya semakin melonjak drastis. Memupuk keberanian lebih tinggi, akhirnya Sarka membuka halaman demi halaman buku catatan aneh miliknya itu. Sampai akhirnya ia berada di halaman di mana nama Metta, Arial, Rahmat tertulis di sana. Namun, tidak ada nama lain yang tertulis di sana. Tidak berhenti di situ saja, Sarka membalik satu halaman lagi. Edo dan Nadine ikut menyaksikan. Hingga, ketiganya melotot secara bersamaan. Wajah mereka pucat pasi secara serempak. Ada satu nama lagi yang tertulis menggunakan darah di sana. Nama baru. Sarka langsung menjatuhkan buku itu di lantai. Sesuai tebakan Sarka sebelumnya. Korban selanjutnya adalah orang yang pernah Sarka temui, kenal, dan pernah mengobrol dengan dirinya. Alasan kenapa sekolah dibubarkan karena para guru ingin berziarah ke salah satu guru yang meninggal, guru cantik dan baik hati, guru yang usianya masih muda, guru yang paling Edo sukai dibandingkan guru-guru yang lain, dan guru yang kali ini namanya tertulis di buku catatan milik Sarka. Bu Indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN