36. HARI MINGGU

1858 Kata
"Perempuan siapa bu?" "Ibu baru lihat dia, tadi sempat nyebut nama di depan, siapa ya tadi?" Maria berpikir sejenak sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di pipi. "Siapa? Nadine?" tebak Sarka dengan asal. "Nah itu dia! Iya benar, namanya Nadine." Maria mempertegas bahwa jawaban Sarka tidak salah. "Ayo keluar, jangan biarin mereka nunggu." Sarka mengangguk singkat. Ia pun lantas berderap keluar dari kamarnya dan sempat bertanya-tanya dalam hati. Nadine dan Edo ngapain juga pergi ke rumahnya sore-sore begini? Sarka mengendikkan bahunya tidak tahu, alhasil ia pun memilih untuk menemui mereka saja. "Ibu ke dapur dulu ya, mau buatin minum dulu," ujar Maria, pamit ijin kepada Sarka. "Iya bu," balas Sarka singkat dan seadanya. Lalu, cowok itu melanjutkan langkah pergi ke ruang tamu. Tapi Nadine dan Edo tidak ada di sana. Kedua alis Sarka bertautan. "Lah ... Kok nggak ada? Udah pulang mereka?" gumam Sarka sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Sedetik kemudian, ia mendengar percakapan seseorang dari luar rumah. Segera saja Sarka cabut untuk memeriksa. Dan rupanya, kedua sahabatnya itu berada di kursi teras. Edo dan Nadine sedang mengobrol sewaktu Sarka datang. "Nah tuh dia Sarka." Edo menyeletuk ketika sorot matanya menemukannya Sarka yang baru saja muncul dari pintu utama. Tak ayal, posisi kursi yang sedang Edo duduki memang menghadap ke arah pintu. Sarka melangkah mendekat ke arah mereka. Ketika Nadine menatapnya sambil tersenyum dan melambaikan tangan, Sarka membalasnya dengan senyuman tipis. Sarka mengambil duduk di kursi yang sisa satu. Meja di teras rumah berbentuk bulat dengan tiga kursi. "Kalian berdua ngapain ke sini?" tanya Sarka sembari memperhatikan wajah Nadine dan Edo secara bergantian. "Pertanyaan lo enggak banget Sar, gue sama Nadine ke sini ya mau main lah!" Edo membalasnya seraya mencibir pelan. "Ya gue tau Do, tapi tumben banget gitu. Ada Nadine juga." Sarka melanjutkan. "Gue suntuk aja sih di rumah, jadi kepikiran aja gitu pengin main ke rumah lo. Gue belum pernah ke sini juga, kan? Sekalian lah biar tahu rumah lo letaknya di mana Ka," ujar Nadine mengatakan maksud tujuannya. Sarka mengangguk, ia ber-oh panjang. "Lo lagi nggak sibuk kan sekarang Ka?" tanya Nadine kemudian. "Sibuk apaan Sarka? Nggak Dine, lo nggak ganggu kok, dia banyak waktu luang. Sama sih kayak gue hehehe ...." Edo menyeletuk terlebih dahulu, padahal saja Sarka hendak angkat suara untuk memberikan Nadine sebuah jawaban. Mulutnya yang sudah setengah terbuka kembali terkatup. Sarka mendesah pelan. "Ya gitu deh, gue kalau sudah akhir pekan ya gini-gini aja. Gue nggak sibuk, lo tenang aja." "Gue kira lo lagi sibuk atau apa gitu? Gue beberapa kali telpon nomor lo, tapi lo nggak angkat panggilan dari gue." Nadine mengadu lagi. "Serius?" "Iya serius." "Duh sori Dine, gue nggak bermaksud buat mengabaikan panggilan dari lo. Tapi dari tadi pagi gue emang belum megang hape. Terus hape gue juga dalam mode silent. Gue nggak tau kalau lo nelpon." "Nggak pa-pa kok. Gue cuma mau minta lo buat share lokasi rumah lo. Tapi karena lo lama ngangkat panggilan dari gue, ya gue langsung nelpon Edo aja." Nadine menjeda ucapannya, ia menatap Edo sambil tersenyum tipis. "Gue baru ingat aja kalo rumah lo sama Edo kan nggak jauh. Ya gue hubungi Edo aja. Kebetulan Edo langsung ngangkat panggilan dari gue." "Memangnya lo ngapain aja Sar?" "Gue lagi baca komik punya bang Alan sih, eh terus kalian datang," sahut Sarka. "tapi udah selesai bacanya, berarti kalian nggak ganggu." Dari dalam rumah, Maria datang membawa nampan yang diatasnya berisi satu toples biskuit kering, tiga buah gelas, dan satu teko berisi limun segar. Melihat makanan, bola mata Edo langsung terbuka lebar. Dapat Sarka lihat bahwa sohibnya itu senyum-senyum tidak jelas sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Sarka mencibir pelan mendapati hal itu. "Tante buatin kalian minum dan camilan nih biar ngobrolnya makin tambah seru." Maria berbicara sangat lembut sembari meletakkan semua barang bawaannya di atas meja. Setelah selesai, ia melanjutkan lagi. "Jangan lupa di makan ya, dihabisin kalau bisa. Tante malah seneng." "Tante nggak perlu repot-repot seharusnya, kita datang ke sini cuma mau ngobrol aja kok." Nadine berucap dengan sopan. Maria tersenyum. "Jangan gitu, kalau ada tamu kan harus di jamu." "Betul tuh, ini rezeki loh." Edo mengambil satu biskuit dari dalam toples dan menggigitnya tanpa tahu malu. "Rezeki nggak boleh ditolak kan tante?" "Betul!" Ibu Sarka menjawab seraya mengacungkan jempolnya. "Tuh dengerin Dine, makan aja nggak pa-pa." Nadine tersenyum kepada Maria. "Makasih tante." "Sama-sama, tante tinggal dulu ya kalau gitu, lanjutin lagi ngobrolnya." Sesaat setelah kepergian ibunya, Sarka mendesah pelan dan menatap Edo tidak suka. "Yang ada dipikiran lo makanan mulu ya Do?" Sarka geleng-geleng kepala, tak habis pikir. "Pantes aja perut lo makin hari makin melar aja. Orang kerjaan lo makan mulu gini." "Ya masa gue harus anggurin nih minuman sama biskuit yang udah dibuat nyokap lo. Kasihan dong tante Maria kalau kita nggak makan. Udah buat susah-susah, malah nggak dimakan," balas Edo membela diri. "Lama-lama perut lo kayaknya bisa dijadiin lapangan bola deh Do kalau gini caranya." "Udah udah, makan aja nih!" Edo mengibaskan tangannya, ia tidak peduli dengan apa yang Sarka katakan. Edo kemudian menatap Nadine. "Dine, ayo makan. Masih banyak tuh." "Iya, entar gue makan kok." "Jangan malu-malu," lanjut Edo. "Siapa yang malu? Enggak kok." Nadine menyangkal tuduhan Edo. Sebagai pembuktian, ia mengambil gelas dan mengisinya dengan limun yang sudah disiapkan oleh ibunya Sarka. "Nih, gue mau minum," lanjutnya sembari mengangkat gelasnya yang sudah terisi limun tinggi-tinggi ke udara. Lalu kemudian ia menenggaknya hingga habis setengah. "Sekarang udah puas kalau gue nggak malu?" Edo menyengir kecil seraya memberikan Nadine sebuah acungan jempol. "Bagus deh kalau gitu, lanjutkan Dine. Makan juga tuh biskuit." "Iya, nanti gue bakal makan kok. Tapi gue nggak buru-buru kayak lo. Tujuan gue ke sini kan bukan buat makan. Memangnya gue itu lo apa?" Nadine mencibir kecil seraya memutar bola matanya dengan malas. "Udah-udah, jangan berantem deh lo berdua." Sarka melerai. "Mending bahas apaan gitu yang lain! Ngobrol apa kek gitu, terserah aja. Buruan cari topik Do!" "Kok gue?" Edo menunjuk dirinya sendiri. Sarka mengeluarkan napas lewat mulutnya. "Ya siapa tau lo ada topik." Edo berpikir sejenak, tak lama setelah itu ia menjentikkan jarinya. Ia membelalakkan matanya sembari menatap Sarka dan Nadine. "Oh ya gue ingat, kemarin kan buku misterius punya lo ada di Nadine. Gimana tadi malam Sar? Lo ngimpi nggak? Ada kemajuan nggak?" tanyanya beruntun kepada Sarka. Edo melanjutkan, kini ia menoleh menghadap Nadine. "Kalau lo gimana Dine? Udah lihat buku itu nggak? Ada nama lain yang tertulis di sana?" "Tadi malam gue nggak mimpi apa-apa," jawab Sarka atas pertanyaan Edo. "Tadi pagi gue juga udah lihat buku Sarka, tapi nggak ada juga tuh tulisan nama orang lain lagi. Masih tetap nama-nama sebelumnya." Nadine ikut menjawab setelah Sarka. Edo menjentikkan jarinya lagi. "Itu artinya ada kemajuan yang berarti. Ide Nadine berarti manjur!" "Belum tentu Do," bantah Nadine cepat. "Baru satu hari, nggak ada yang menjamin kalau ini semua bakal berhasil." Sarka mendukung, kepalanya mengangguk mantap. "Betul tuh." "Walaupun satu hari, yang penting ada kemajuan, bukannya itu baik juga, kan?" "Ya betul sih, tapi gue masih belum yakin seratus persen. Baru kalau udah beberapa minggu atau mungkin satu bulan ke atas nggak ada kejadian itu lagi, baru gue percaya kalau ide Nadine memang manjur," jelas Sarka. "Kalau gitu kita berdoa saja, kita harus berpikir positif dan selalu optimis. Semoga saja cara ini memang berhasil," kata Nadine. "Semoga saja begitu Dine," sahut Sarka. "Oh ya Dine, kan buku itu bukan sembarang buku sih sebenarnya. Itu buku catatan pribadi milik Sarka, bisa disebut diary sebenarnya." Edo kemudian menyeletuk, keluar dari jalur tentang topik yang sedang dibicarakan. Membuat Sarka terkejut dan langsung melotot. Hei, bisa-bisanya Edo berkata seperti itu? Sial. Edo sungguh sangat menyebalkan. "Edo!" ujarnya keras, menegur sahabatnya itu agar tidak menyerocos terus-terusan. Tapi sepertinya Edo tidak peduli, cowok bertubuh gemuk dan berkacamata itu hanya melirik Sarka, ia tidak peduli, malahan Edo terus saja berkata dengan Nadine, membuat Sarka semakin malu. Rasa-rasanya Sarka ingin menggeplak kepala Edo dengan toples biskuit dihadapannya. Sungguh, mulut Edo halal sekali untuk dilakban. "Iya Dine, diary yang biasa ditulis oleh cewek-cewek. Lo nulis juga nggak? Sarka biasa nulis gituan di buku itu waktu SMP. Apapun kejadian yang dia alami, bakal dituangkan dibuku itu. Apapun! Curhatan, impian, harapan, dan rahasianya ada dibuku itu semua." Edo membeberkan semuanya kepada Nadine, ia lagaknya seperti pemilik buku itu yang tahu semuanya. Ketika Nadine menoleh ke arahnya, Sarka rasa-rasanya ingin menenggelamkan dirinya saja di laut. Ia malu, wajahnya kini memerah. Sarka memalingkan wajahnya. Tidak ada waktu untuk menyangkal Edo, semuanya sudah telanjur. Nadine juga sudah tahu, bahkan mungkin saja sebelum Edo mengatakan hal ini Nadine sudah membacanya. "Tapi sekarang Sarka nggak nulis diary lagi sih. Itu pas SMP aja, eh atau mungkin lo masih nulis Sar?" "Gue nggak nulis gituan lagi!" Sarka membalasnya telak seraya melotot tajam kepada Edo. "Kan gue nanya, siapa tahu gue nggak tau, kan?" "Itu cuma pas SMP aja, sekarang gue nggak nulis diary lagi," ujar Sarka masih menyangkalnya. "Gue udah baca kok," aku Nadine kemudian. Ia menatap Sarka sambil tersenyum. "Ya belum semuanya sih, masih sebagian aja. Awalnya gue kaget aja, rupanya lo suka nulis Diary begitu." "Jangan ngejek gue Dine," ucap Sarka malu. "Nggak usah malu sama gue, nggak apa-apa kok. Gue juga pernah nulis diary kayak gitu. Bukan sesuatu yang aneh kalau cowok nulis diary. Kalo nulis diary bikin seseorang itu tenang dan bisa menyalurkan emosinya, kenapa nggak? Iya, kan?" Sarka sedikit bisa bernapas lega ketika Nadine tidak ikut mengejeknya seperti Edo. Ia tersenyum tipis. "Nggak pa-pa Ka, jarang-jarang loh cowok kayak lo ini. Keren!" Nadine memberikan Sarka dua acungan jempol. Sarka menjadi lebih tenang dan rileks sekarang. "Makasih Dine." "Gue nanti boleh baca lagi? Kalau gue diijinkan ya gue bakal baca, kalau lo nolak ya gue bakal turutin kemauan lo." "Nggak pa-pa kok baca aja, lagian itu catatan pribadi gue pas SMP. Gue udah nggak peduli lagi. Walaupun ada rahasia disitu, tapi paling cuma rahasia kecil, paham nggak maksud gue? Taukah rahasia bocah SMP itu kayak gimana. Bukan rahasia-rahasia besar. Kalau rahasia yang nggak mau gue beberkan sama orang lain, ya nggak mungkin gue tulis di situ," ujar Sarka panjang lebar. "Makasih, nanti gue lanjut baca deh." Nadine terkekeh pelan. "Oh ya, sebelumnya gue mau minta maaf karena udah lancang baca. Gue nggak tau kalau buku itu rupanya buku diary lo. Gue awalnya nggak sengaja baca, eh taunya gue malah keterusan." "Iya nggak pa-pa Dine," balas Sarka lagi. "Dine, lo tau nggak? Kemarin sore pas pulang sekolah, waktu lo nawarin ide supaya buku itu disimpan di rumah lo, sebenarnya Sarka memang setuju. Tapi dia ragu karena dia takut lo baca catatan pribadi milik dia." Edo mengeluarkan fakta satu lagi tentang Sarka. Dasar Edo! Mulutnya bocor banget. "Oh, ya?" "Sarka takut kalau lo bakal baca, makanya dia lama buat mutusin setuju atau enggak atas ide lo itu. Sebenarnya Sarka ya memang setuju. Cuma takut aja kemarin." Nadine menoleh ke arah Sarka. "Betul begitu Ka?" Sarka menyengir lebar. Kepalanya perlahan mengangguk. "Ya begitulah hehehe ...," ujarnya sedikit malu, lalu Sarka melotot kepada Edo lagi. Sungguh, Edo halal untuk dimaki-maki. "Tapi nggak pa-pa Dine, sekarang udah nggak masalah lagi kok. Lo boleh baca sepuas lo." Sarka berkata dengan percaya diri. Sudah telanjur juga, mau bagaimana lagi? Lagipula Nadine tidak mengejeknya. Sarka juga percaya Nadine.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN