35. AKHIR PEKAN

1718 Kata
Hari ini akhir pekan, Sarka niatnya ingin menghabiskan waktunya di kamar, bermalas-malasan sambil rebahan, main hape, atau mungkin membaca komik milik abangnya yang belum ia selesaikan. Padahal, komik itu memang seru, alurnya keren dan tidak bikin mata cepat mengantuk. Tapi dikarenakan akhir-akhir ini Sarka banyak sekali masalah, membuat cowok itu tidak bisa fokus membaca komik. Fokusnya selalu saja terbelah. Oleh karena itu, Sarka tidak ingin membaca komik itu dalam keadaan tidak mood. Dan minggu pagi ini, Sarka ingin sekali bermalas-malasan. Melakukan apapun yang ia mau tanpa memikirkan masalah yang menghantuinya. Semakin Sarka memikirkan tentang kejadian semua itu, semakin pusing pula kepalanya ini. Tapi Sarka percaya, semua permasalahan pasti ada jalan keluarnya jika dirinya berusaha dan mencoba mencari titik terangnya. Semua tergantung dengan usahanya. Dan semoga, semua jawabannya akan segera ia dapatkan. Karena satu hal, Sarka tidak kuat lagi jika ada orang-orang yang meninggal, apalagi namanya sampai ditulis dengan darah di buku miliknya. Bukannya itu jadi membuktikan lebih jelas lagi jika Sarka berhubungan dengan itu? Tapi sampai detik ini pun, Sarka tidak tahu kenapa semua itu bisa terjadi. Sarka tidak punya jawaban yang tepat dan pasti. Membuatnya semakin kesal. Sarka berkutat di kamarnya sudah cukup lama. Dan ketika ia sudah membaca komik milik bang Alan sampai habis, jam di dinding sudah menunjukkan angka sembilan lebih sepuluh menit. Sarka pun memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia lapar, perutnya keroncong, butuh sesuap nasi agar cacing-cacing didalam perutnya diam. Sarka sengaja membawa komik abangnya sekalian. Sebenarnya Sarka malas pergi ke kamar Alan, pasti dia akan ketemu dengan Gwen yang sangat menyebalkan. Selain itu, Sarka malas melihat Gwen dengan tatapan super kagumnya kepada abangnya itu. Sangat menyebalkan. Tapi sekarang, mau tak mau Sarka memang harus menginjakkan kakinya di dalam kamar Alan untuk mengembalikan komik dan meminjam season duanya yang waktu itu dibeli di toko buku. Karena season yang pertama, ceritanya sungguh menggantung, masih ada konflik yang belum diselesaikan oleh si pengarang. Makanya Sarka harus lanjut ke season dua. "Bang Alan!" Sarka mengetuk pintu kamar Alan ketika posisinya sudah di depan kamar abangnya itu. Hanya satu kali lantaran jawaban dari dalam sana segera Sarka dapatkan. "Masuk aja, pintunya nggak gue kunci." Alan menjawab. Membuat Sarka langsung saja mendorong pintu itu ke dalam. Ketika posisinya sudah berada di dalam kamar abangnya itu, Sarka melihat Alan yang tengah berkutat di meja kerjanya. Tatapan Alan terlihat begitu fokus menatap layar laptopnya. Sarka pun mendekat. "Kerja bang?" tanyanya pendek. "Hmmm," jawab Alan pendek tanpa melirik Sarka sama sekali. Abangnya itu begitu fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan. Menganggukkan kepala, Sarka pun menukas lagi karena ia sempat bingung. "Ini kan waktunya libur, kok masih kerja aja? Di rumah pula tuh." "Nggak lama kok, bos gue tadi minta buat buat cek ulang kerjaan gue sebelum di input datanya." Alan menjawabnya. Kemudian ia beralih menatap Sarka. "Kenapa memangnya?" Sarka menyengir kecil, giginya yang putih dan tersusun dengan rapi sampai terlihat. "Ya enggak pa-pa sih, cuma nanya aja. Oh ya, ini gue mau balikin komik punya lo." "Udah selesai?" "Baru aja selesai tadi." Sarka menjawab. Alan mengangguk. "Berapa lama lo habisin baca tuh komik? Kok kayaknya lama banget. Nggak seru ya ceritanya menurut lo?" "Bukan gitu," ujar Sarka sambil menggeleng cepat, "Seru banget kok komiknya, ya tapi akhir-akhir ini gue banyak tugas dan ulangan, gue nggak sempat baca jadinya. Dan ini baru gue selesaikan." Sarka menjawab, ia berbohong. Dalam hati Sarka memuji dirinya yang baik sekali dalam memberikan kebohongan kepada Alan. Begitu lancar tanpa ada kendala. Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya sedang melancarkan sebuah alibi. "Oh gitu, gue kira nggak bagus ceritanya. Makanya lo lama nyelesainya." Alan melanjutkan lagi. "Ya udah, taruh aja di lemari." Sarka langsung bergerak ke lemari komik dan memasukkan komik tersebut ke celah yang kosong. Sambil melihat-lihat judul yang lain, Sarka menyeletuk lagi. "season duanya udah dibaca bang? Yang beli waktu itu?" tanyanya. "Udah selesai, cari aja tuh kalau mau pinjam lagi." "Emang mau pinjam bang, kan cerita di komik pertama belum selesai. Gantung banget alurnya." "Ya memang gantung, tapi lo bakal nemuin jawabannya di buku yang kedua kok. Ditambah ada konflik baru yang bikin lo tambah geregetan sendiri." "Wah ... Makin seru aja nih kayaknya." Raut wajah Sarka berbinar cerah. Ia menatap deretan komik di lemari untuk mencari komik tersebut. "Ini dia ketemu bang." "Ya udah, ambil. Gue yakin lo bakal ketagihan. Menurut gue nih ya, alurnya lebih kompleks dari yang season satu. Lebih keren lah pokoknya. Ilustrasinya bahkan lebih bagus dan mendetail." Mendengar penjelasan Alan membuat Sarka jadi tidak sabar. Ia tersenyum seraya membolak-balik halaman komik season dua tersebut. "Jadi tambah nggak sabar buat baca bang. Gue pinjam lagi, ya?" "Iya ambil aja." "Eh bang, kok kayaknya season dua ini lebih tebal ya bukunya dari yang pertama." "Emang lebih tebal. Lebih seru malahan. Gue jamin lo bakal ternganga waktu diakhir cerita. Plot twist-nya gila banget. Nggak ketebak sama sekali." "Serius?" "Serius dah." "Kalau gitu gue harus cepat-cepat baca ini. Bakal ada season tiga nggak bang?" tanya Sarka lagi. "Pengarangnya belum ngasih tau sih. Tapi ending buku kedua itu ..." "Gantung lagi?" tanya Sarka langsung, menebak begitu saja sebelum Alan sempat mengatakannya. Alisnya hampir bersentuhan. "Bukan gantung. Tapi open ending. Paham kan maksud gue? Muncul konflik baru lagi diakhir cerita. Dan gue rasa, bakal berlanjut ke buku selanjutnya. Season tiga." "Wah ... Parah emang." "Baca dulu aja tuh, tunggu pengarangnya ngumunin tentang lanjutan bukunya. Penggemarnya sudah mendesak pengin dikasih tau soalnya. Tapi si pengarang masih bungkam sampai detik ini." "Oh gitu ...." Sarka mengangguk paham. "Ya udah deh, gue keluar dulu, ya? Gue mau sarapan. Lo udah sarapan bang?" "Udah kok, sana sarapan." Sarka pun akhirnya hendak keluar dari kamar Alan, tapi ia urung melakukannya ketika melihat Gwen yang rupanya sedang duduk di tepi ranjang, tepat di samping Alan. Rupanya Gwen sedari tadi di situ, Sarka baru melihat keberadaannya. "Keluar dari tadi kek, ganggu waktu saya sama ayang beb aja, dasar pengganggu." Gwen berbicara kesal kepada Sarka. Membuat Sarka melotot kepada hantu super super nyebelin tingkat akut itu. Sarka ingin mengeluarkan balasan untuk Gwen, tapi ia sadar bahwa ada Alan di sini, abangnya itu akan bingung dan mungkin saja curiga jika Sarka tiba-tiba saja berbicara. Oleh karena itu, Sarka hanya menggerutu, berdecak, dan melotot kepada Gwen. Menyebalkan sekali kuntilanak satu ini. "Bang Alan." "Kenapa?" "Mending lo pakai baju deh bang, takutnya ada yang bahagia banget," jawab Sarka sambil melirik Gwen yang terlihat menahan kekesalannya. Sarka tersenyum masam, rasain tuh hantu jelek! "Maksud lo?" Alan kurang paham sepertinya. "Siapa tau di kamar lo ada hantu cewek yang genit gitu. Lo pakai baju buruan, itu saran gue." Setelah berucap seperti itu, Sarka akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Alan. Setelah berada di luar kamar Alan, Sarka mendengar teriakan Gwen dari dalam sana. "Sarka! Dasar nyebelin ya kamu! Gara-gara kamu my baby Alan lagi nyari baju di lemari. Tunggu pembalasan saya ya kamu! Lihat saja nanti! Dasar pengganggu!" Sarka terkekeh geli. Ia bodo amat. Sarka memilih tidak menghiraukan apa yang Gwen katakan. Ia mengendikkan pundaknya, kemudian lanjut pergi ke kamar untuk meletakkan komik. Setelah itu barulah Sarka pergi ke dapur. Pada saat itulah, Sarka melihat ibunya yang sedang duduk seorang diri. Sarka berjalan mendekat. Maria tidak menyadari kehadiran Sarka. Wanita paruh baya itu tengah duduk sambil melihat sebuah bingkai foto yang sedang dipegangnya. Sarka mengerutkan keningnya. Ia sempat melihat bingkai foto tersebut. Di sana, terlihat wajah ibunya yang sedang bersama satu perempuan lain yang Sarka sendiri tidak kenal. Posisi Sarka saat ini tengah berada di belakang punggung Maria. Tentu saja ibunya itu tidak menyadari kehadiran Sarka. "Ibu ..." Maria terkejut mendapati panggilan dari Sarka. Ia refleks saja membalikkan bingkai foto tersebut. Kemudian menoleh ke belakang. Maria tersenyum kepada anaknya itu. "Eh Sarka, kamu udah bangun?" "Udah dari tadi pagi bu, tapi Sarka baru aja keluar dari kamar. Ibu lihat foto apa?" tanya Sarka ingin tahu. "Bukan apa-apa kok. Kamu mau sarapan?" Sarka mengangguk. Memang itu tujuannya pergi ke dapur, untuk sarapan pagi walaupun saat ini hari sudah beranjak siang. Maria tersenyum, lalu wanita itu berdiri dari duduknya. "Biar ibu siapkan sarapan buat kamu." "Eh bu, Sarka bisa sendiri kok," cegah Sarka. Tapi Maria tetap pada pendiriannya. Wanita itu tersenyum manis. "Nggak usah, biar ibu yang nyiapin buat kamu. Sarka duduk aja." Tidak mau membantah lagi, akhirnya Sarka pun memilih untuk mengalah. Ia mengambil duduk selagi ibunya menyiapkan sarapan untuknya. Sarka menatap ibunya, lalu senyumannya mengembang. Ia bahagia sekaligus bersyukur mempunyai ibu yang sayang sekali kepadanya. "Ini udah siap, dimakan ya! Habisin, kalau perlu nambah lagi. Tuh lauk sama nasinya masih banyak." "Terima kasih bu." "Sama-sama." Maria mengusap puncak kepala Sarka. "Ayo makan buruan. Mau ibu temenin?" "Boleh deh." Sarka menatap wajah ibunya, lalu ia mengusung senyuman lebar. Setelah sarapan pagi sudah selesai, Sarka lanjut untuk mandi dan mulai membaca komik lagi. Hingga akhirnya, hari sudah menjelang tengah hari. Sudah jam satu lebih saat ini. Dan Sarka tetap berkutat pada komik ditangannya. Dari pukul sekitar jam sepuluh pagi, Sarka sudah mulai membaca komik season dua yang ia pinjam dari abangnya. Dan sedikit lagi Sarka sudah akan menyelesaikannya. Apa yang dikatakan abangnya itu memang benar, season dua lebih seru dan menegangkan. Sarka bahkan bisa menyelesaikan ceritanya lebih cepat dari apa yang ia bayangkan sebelumnya. Saking fokusnya, tau-tau ia malah sudah rampung. Menghela napas panjang, Sarka menutup komik tersebut. "Selesai juga akhirnya," ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Lalu Sarka menengok jam, masih ada sisa waktu cukup banyak sebelum hari menjelang malam. Sarka meletakkan komik milik abangnya di meja belajarnya. Biarlah di situ dulu, nanti akan Sarka kembalikan ketika ia hendak pinjam komik lagi. Biar tidak perlu bolak balik, pikirnya. Selanjutnya Sarka ingin keluar dari dalam rumah, tapi sesaat setelah ia hendak membuka pintu kamarnya, dari arah luar pintu tersebut sudah dibuka terlebih dahulu. Sarka terkejut bukan main. Rupanya ibu pelakunya, Sarka merasa jantungnya hampir copot saja. Mengelus dadanya, Sarka berusaha untuk tenang. "Ibu ngagetin aja!" Maria tersenyum. "Maaf, ibu nggak bermaksud kok." Sarka menggeleng pelan. "Ibu mau ngapain? "Itu ada Edo di depan." Maria memberitahu langsung. "Ada satu lagi, perempuan. Buruan gih temuin." "Perempuan siapa bu?" tanya Sarka kemudian, lengkap dengan raut wajah yang menandakan jika cowok itu tengah merasakan bingung. Keningnya mengerut. Pikiran Sarka sudah negatif saja. Ia tidak tahu siapa perempuan yang ibunya maksud. Sarka menggeleng lagi, berusaha mengusir pikiran buruk yang bersarang di dalam tempurung kepalanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN