34. CARA BARU

1472 Kata
Nadine hendak memakai helm karena ia akan melakukan perjalanan pulang ke rumahnya. Saat ini, gadis itu sedang berada di parkiran sekolah. Beberapa meter darinya, ia melihat Sarka dan Edo yang sedang melakukan hal serupa. Nadine sempat melirik kedua cowok itu. Setelah pengait helm sudah terpasang, Nadine lanjut beranjak naik ke motornya. Entah kenapa ia tiba-tiba terpikirkan sesuatu. Nadine menjeda pergerakan untuk menyalakan motornya. Kembali ia melirik Sarka dan Edo yang sudah bersiap-siap pulang. Mengerjapkan mata, Nadine pun dengan cepat turun lagi dari motornya. Cewek cantik tersebut lantas berteriak dengan lantang. "Sarka! Edo!" panggilnya. Suaranya yang menggema lantaran parkiran sekolah sudah sepi membuat Edo maupun Sarka tidak susah untuk menangkap suara Nadine. Nadine tersenyum tipis ketika kedua sahabatnya itu menoleh ke arahnya. Bagus, itu artinya keduanya mendengar panggilannya. Langsung saja Nadine tidak buang-buang waktu lagi. Ia berlari menghampiri posisi Sarka dan Edo. Sarka yang hendak menyalakan motornya sampai tidak jadi karena panggilan Nadine membuatnya urung melakukan tersebut. "Mau ngapain Nadine?" Diboncengan belakang, Edo bertanya setelah menepuk helm Sarka. Sarka juga tidak tahu, membuatnya refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Nggak tau juga tuh," ujarnya. Keduanya menunggu Nadine yang tengah berjalan setengah berlari ke arah posisi mereka berdua. "Ada apa Dine?" tanya Sarka begitu Nadine sudah berdiri tepat di samping motornya. "Motor lo bermasalah?" tebaknya asal. Kepala Nadine menggeleng lemah. "Bukan itu," ujarnya. "Ada sesuatu yang mau gue sampaikan ke lo berdua, terutama lo Ka." "Kenapa Dine memangnya?" tanya Edo penasaran. Ia ikutan nimbrung, ditatapnya Nadine yang terlihat sangat serius. "Barusan aja gue kepikiran sesuatu. Dan gue punya ide, menurut gue ide ini nggak buruk-buruk amat. Bisa dicoba kalau lo berdua setuju dan ikut sependapat dengan gue." Nadine pun menjelaskan maksud tujuannya. "Ide apaan Dine? Bersangkutan dengan semua kejadian tak masuk yang gue terima akhir-akhir ini?" sahut Sarka, keningnya memunculkan gelombang tipis, diikuti oleh kedua alisnya yang saling bertautan. Semakin lama Sarka semakin penasaran. Nadine masih diam, membuat Sarka membuang napasnya dengan kasar. "Dine? Lo punya ide apa? Jangan bikin gue penasaran." "Iya betul, gue juga penasaran." "Entah kenapa tadi gue kepikiran gini," ucap Nadine memulai. "Kenapa buku catatan milik lo yang aneh itu nggak simpan di tempat gue aja Ka? Maksud gue biar gue yang bawa pulang. Mungkin cara ini bisa berhasil, gue nggak tau pasti, tapi menurut gue bisa dicoba." Nadine mengangguk mantap. "Gimana menurut pendapat lo berdua?" Sesaat kemudian, Edo dan Sarka saling diam memikirkan ide dari Nadine. Hingga pada detik kesepuluh, Edo yang sedang duduk di jok belakang langsung menjentikkan jarinya. "Gue setuju! Kenapa nggak dicoba saja Sar? Bukan ide yang buruk kok. Lagian, buku aneh itu nggak bakal ilang. Buktinya lo udah buang dan bakar tuh buku, tapi malah balik ke rumah lo lagi." "Yakin bakal berhasil?" celetuk Sarka. Nadine menukas kilat. "Ya gue juga nggak yakin, ini kan usul gue aja. Kita kan belum nyoba, mana tau hasilnya kayak apa, kan? Gimana menurut lo? Bisa dicoba nggak?" Sarka berpikir sejenak. "Buku itu nanti bakal balik ke kamar gue lagi nggak ya kayaknya semisal lo bawa pulang?" tanyanya. Yang langsung membuat Edo dan Nadine mendecakkan lidahnya. "Eh Sar! Kita belum nyoba usul dari Nadine yang satu ini. Bisa-bisanya lo langsung ngasih pertanyaan yang jawabannya belum pasti. Kesel sendiri gue jadinya ah!" Edo mengomel sembari menggeplak helm yang dipakai oleh Sarka. Tidak berhenti sampai di sana saja, Edo melanjutkan lagi. "Makanya ini dicoba dulu, mana tau nanti ada hasilnya. Lo paham nggak sih sebenarnya apa yang sedang kita bahas sekarang?" Tidak mau disalahkan, Sarka segera berkata. "Ya gue paham maksud Nadine tuh apaan. Gue cuma nanya kemungkinan yang mungkin aja bakal terjadi." "Kan belum dicoba, ya pertanyaan lo itu tetap nggak ada jawabannya lah! Lo mah suka bikin gue emosi ya Sar." Edo kembali mendebat, napasnya sedikit tersendat. Edo ngos-ngosan. Ia berusaha menormalkan tarikan napasnya yang terganggu itu. "Ya semuanya tergantung sama keputusan lo aja sih Ka, gue cuma mau ngusulin ini." Nadine mengendikkan bahunya. "gimana menurut lo? Kalau iya ya bagus, kalau enggak ya it's oke. Nggak pa-pa kalau lo nolak." "Buruan jawab ya elah! Lama bener lo." Amarah Edo memuncak lagi. "Menurut gue usul Nadine nggak buruk, bahkan memang layak buat dicoba tuh. Selain ngetes buku itu bakal balik ke rumah lo lagi atau enggak, juga lo bisa mastiin yang lain juga." "Mastiin apa?" "Ya mastiin aja, bisa jadi tanpa kehadiran buku aneh itu di kamar lo, lo nggak mimpi buruk lagi, terus nggak ada nama orang lagi yang ditulis pake darah di buku itu. Nah ... Malah bagus nggak sih? Kalo berhasil, kita bisa mencegah satu ini." "Kalo enggak?" tanya Sarka. "Kalo enggak ya enggak pa-pa. Kan niatnya emang nyoba, siapa tahu berhasil." Nadine menjawab, ia terus memperhatikan wajah Sarka. Dan Nadine melihat ada keraguan dari mimik wajah sahabatnya itu. Mendengkus pelan, Nadine melanjutkan kata-katanya lagi. "Kayaknya lo masih ragu, dari raut wajah lo udah ketebak Ka. Ya enggak pa-pa sih, nggak masalah juga, kan gue ngasih usul aja. Semua keputusan emang ada di tangan lo." "Banyak mikir lo Sar emang!" Edo jengkel. "tinggal kasih aja tuh buku ke Nadine. Terus beres dan kita bisa pulang sekarang. Lihat, langit mendung lagi tuh. Lo sih kelamaan mikir. Nggak mau kehujanan dijalanan kan nanti?" "Iya-iya, gue setuju nih." Sarka mendesah panjang, diambilnya tas dari pundaknya. Langsung saja cowok itu membuka resleting tas dan mengeluarkan buku aneh itu dari dalam sana. Kemudian setelah sudah berada ditangannya, Sarka menyerahkan buku tersebut ke arah Nadine. "Nih Dine bukunya." "Kelihatannya lo kok kayak nggak ikhlas gitu ya Sar? Lo keberatan?" selidik Edo. "Enggak, siapa yang keberatan? Gue setuju kok sama ide Nadine." Sarka menyangkal tuduhan Edo. "Yakin nih nggak pa-pa Ka?" Nadine memastikan sekali lagi, barangkali Sarka memang sebenarnya keberatan, lalu karena Edo mendesaknya, ia jadi mengikuti saja ide yang Nadine jabarkan. Bisa jadi memang seperti itu, kan? Nadine menunggu respons dari Sarka. Tapi, yang ia dapatkan justru gelengan kepala. Cowok itu artinya setuju. "Oke deh kalau gitu, nanti kita cari tahu apa yang akan terjadi setelah buku ini ada di tangan gue," ujar Nadine seraya menggoyangkan buku aneh, tua, misterius dan bersampul coklat milik Sarka "Gue harap ada kemajuan di sini." Sarka melanjutkan, "makasih Dine, lo mau bantuin gue." "Nggak masalah kok." Nadine menyunggingkan senyuman tipis. Cewek itu kemudian memasukkan buku misterius itu ke dalam ranselnya. "Gue pulang dulu ya kalau gitu. Kalian juga mau pulang, kan?" "Iya, itu langit udah mau hujan lagi kayaknya. Jangan sampai kita kehujanan di jalan." Edo menjawab pertanyaan Nadine. "Yuk Sar pulang, gue nggak mau sampai basah di tengah jalan." Sarka diam saja, tidak menanggapi perintah dari sohibnya itu. Sebagai gantinya, cowok itu menganggukkan kepalanya. Lalu dilanjutkan menyalakan mesin motor, menstaternya, lalu kembali menatap Nadine. "Kita balik duluan ya Dine? Lo mau balik juga, kan?" "Iya, ini gue mau balik kok. Dah ..." Nadine perlahan menjauh dari posisi Sarka dan Edo. Cewek itu tersenyum manis seraya melambaikan tangannya. Hingga akhirnya, Sarka pun langsung tancap gas, motornya kini melaju keluar dari parkiran sekolah. Beberapa saat kemudian, Sarka mengatakan sesuatu. "Sebenarnya gue nggak ragu atas ide Nadine itu Do," akunya. "Gue cuma ... "Cuma apa?" balas Edo tidak sabar Sarka mendesah pelan. "Gue cuma takut Nadine baca-baca catatan harian gue pas SMP. Gue kan jadi malu kalau Nadine baca itu." Sarka pun akhirnya membeberkan semua keluhan dirinya di parkiran tadi. Tawa Edo menggelegar keras. "Oalah, karena itu lo terus tanya ini itu dan memperpanjang waktu. Lo ragu dan takut. Kenapa gue nggak kepikiran soal itu, ya?" Edo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan. "Ya gue malu aja." "Kalo malu dan keberatan, tadi kenapa lo malah diem aja? Harusnya lo ngomong sama Nadine supaya dia nggak usah buka buku itu." Sarka membalasnya langsung. "Lah justru Nadine malah tambah penasaran kalau gue larang! Makanya gue milih cuma diem aja." Edo menghela napas pendek. "Ya tapi seenggaknya lo jujur aja dan ngomong baik-baik ke Nadine kalau di dalam buku itu ada keluh kesah, curhatan dan rahasia lo semasa SMP. Terus lo bilang dan mohon sama Nadine supaya nggak baca tuh catatan punya lo. Gue yakin dia bakal ngerti kok." Setelah Sarka pikir-pikir lagi, ucapan Edo ada benarnya juga. "Mau gimana lagi? Udah terlambat sekarang." "Nggak terlambat Sar! Lo bisa kasih tahu Nadine pas kita udah nyampe di rumah. Lo telpon Nadine, terus kasih tau semuanya. Beres deh masalah lo." "Iya-iya, nanti bakal gue coba." Sarka mendecakkan lidahnya. "kalau gue punya keberanian buat ngomong soal ini." "Ya elah nih anak, susah amat dibilangin. Gue ngomong gini karena gue peduli sama lo, dikasih tau juga. Terserah lo deh kalau gitu." "Bukan gitu Do, tapi malunya itu loh. Ah ... Lo nggak tau apa yang gue rasain sekarang. Karena lo nggak ada diposisi gue." "Ya jelas gue nggak tau, gue kan nggak nulis diary kayak lo itu," jawab Edo cepat. Dan Sarka memilih untuk diam setelahnya karena sudah terlanjur kesal sendiri dengan Edo.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN