33. MAKHLUK JAHAT

1397 Kata
"Ini hantu yang namanya Rose Rose ini kayaknya baik deh dari apa yang kalian ceritakan barusan." Edo menyeletuk setelah menelan bakwan yang dipesan di kantin. Ia menatap Nadine dan Sarka yang juga sedang memakan makanan serupa. Saat ini ketiganya memang sedang berada di kantin. Bukan, sekarang bukan waktunya sedang istirahat. Tapi, sejak dua puluh lima menit yang lalu sekolah sudah dibubarkan. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Waktunya semua murid untuk pulang. Sarka, Edo dan Nadine memilih untuk menepi dulu di kantin. Lagipula, saat ini hujan masih turun dengan deras, ketiganya tidak membawa mantel sebagai pelindung dari air hujan. "Rose emang baik Do," jawab Sarka. "Dia bahkan mewanti-wanti gue buat selalu hati-hati dalam bertindak. Seperti tadi juga, iya nggak Dine?" "Betul tuh," sahut Nadine, mendukung Sarka. Cewek yang memakai bandana berwarna biru itu mengangguk mantap. "Lo juga jangan beranggapan bahwa semua hantu itu jahat. Banyak yang baik kok. Rose salah satunya." "Terus hantu di rumah lo itu siapa Kra namanya? Gue lupa, hantu perempuan yang tinggal di kamar bang Alan." Edo bertanya kepada Sarka, ia sudah berpikir tapi tidak ingat sama sekali. Sarka menjawab setelah menyeruput coklat hangatnya. "Gwen." "Iya itu, baik juga nggak dia?" lanjut Edo. "Awalnya sih gue takut, gue pikir dia jahat gitu. Tapi sebenernya Gwen baik loh Do, tapi ya emang gitu, agak ngeselin dia. Nempel mulu kerjaan dia sama abang gue." Sarka menjelaskan sembari membayangkan wajah Gwen. Dia mendesah pelan, tidak habis pikir dengan hantu satu ini. "Abang lo itu tau nggak Ka kalau di kamarnya itu ada kuntilanak yang demen banget sama dia?" Nadine ikutan bertanya karena penasaran. Sarka menggeleng pelan, yang berarti jawabannya adalah tidak. "Bang Alan nggak tau kalau dia disukai sama hantu," katanya sambil mencomot satu bakwan di piring. "Wah ... Parah lo Sar, abang sendiri loh ini. Kasih tau buruan," ujar Edo seraya menepuk pundak Sarka cukup kuat. "Adek nggak bener lo." Sarka berdecak pelan, ia melempar tatapan sengit untuk Edo. "Nggak gitu juga. Ini kan demi kebaikan gue sama bang Alan juga." Sarka memutar bola matanya dengan malas. "Ibu sama bang Alan belum tau kalau gue bisa lihat hantu, mereka pikir gue masih sama aja kayak dulu. Kalo gue ngasih tau kalo dikamar bang Alan ada penghuninya, bisa-bisa gue ketahuan dong kalo mata gue ini beda dari yang dulu? Itu kalau mereka percaya sama omongan gue. Terus ada hal lain lagi, bisa jadi bang Alan takut dan nggak mau tidur di kamarnya lagi. Terus dia malah ngungsi di kamar gue. Lah ... Gue nggak mau tidur bareng. Kasur gue juga nggak segede itu." Sarka berkata panjang lebar dengan emosi yang membara, tatapan kesalnya ia tunjukkan secara terang-terangan untuk Edo. Belum berhenti sampai di situ saja, Sarka pun melanjutkan. "Lagian nih ya, Gwen pasti bakal marah sama gue kalo hal itu sampai terjadi. Gue juga kan yang kena? Terus gue takut kalau dia marah bisa ngelakuin apa aja, soalnya pas pertama kali ketemu dia, mukanya nyeremin banget." "Buset, dikasih alasan yang detail banget nggak tuh Dine?" Edo berbicara kepada Nadine seraya terkekeh pelan. Sedangkan Sarka langsung mencibir kesal. "Lagian lo kalau ngomong dipikir dulu napa." "Gue cuma becanda Sar barusan, jangan marah sama gue dong." "Siapa juga yang marah sama lo? Gue cuma kesel aja," ralat Sarka. "Ya udah deh maafin gue kalau gitu," pinta Edo sungguh-sungguh. "Hmmm, gue maafin," balas Sarka tulus. Ia sadar jika perkara barusan tidak perlu dibesar-besarkan. "Eh Ka, gue jadi kepikiran sesuatu nih." Nadine memulai, ia berdehem sejenak sembari mengaduk minumannya menggunakan sedotan. Ditatapnya Sarka dan Edo secara bergantian. "Kepikiran tentang apa Dine?" sahut Sarka. "Gini ... Gue kepikiran soal apa yang Rose katakan. Menurut gue, bisa jadi apa yang dia perkiraan bisa saja terjadi. Nggak ada yang tahu, kan?" Sarka mengangguk, "perkataan Rose yang mana satu?" tanyanya penasaran. Kedua alisnya yang tebal hampir bertautan, sementara itu alisnya berkerut menandakan apabila ia tengah bingung dan butuh sebuah jawaban. "Di rumah Vina kemarin, Rose kan katanya lihat perempuan jahat yang makai pakaian serba merah, kan? Dan bersamaan dengan itu aroma bayangan itu muncul. Tapi yang kita lihat cuma aroma bayangan saja. Gue maupun lo nggak lihat keberadaan perempuan yang bikin Rose langsung kabur gitu aja." "Iya, terus?" "Kalau memang benar begitu, artinya dua kejadian sebelumnya bisa jadi hantu perempuan berpakaian merah itu datang juga. Tapi lo nggak lihat," lanjut Nadine. "Ngga ada yang menutup kemungkinan itu, kan?" Sarka terdiam dengan bibir merapat, cowok itu menunduk, memikirkan perkataan Nadine barusan. Ingatannya segera berputar ke arah kejadian sewaktu ia merasakan aroma bayangan pada kematian Metta dan Arial. Sarka mengerjapkan mata, kembali ia mendongakkan kepalanya. Memang, ia tidak melihat ada sesosok makhluk jahat di sekitarnya, tapi apa yang Nadine jabarkan barusan, bisa jadi itu memang yang terjadi. "Tapi menurut gue masuk akal," celetuk Edo tiba-tiba. "Nggak mungkin kan bayangan itu tiba-tiba muncul nggak jelas gitu aja? Maksud gue gini, kok tiba-tiba ada aroma bayangan yang keluar? Kenapa? Pasti ada penyebabnya dong? Lah ... Hantu satu ini mungkin pengendali semua itu." Edo menjeda kalimatnya sejenak, ia kemudian menjentikkan jarinya. "Masuk akal nggak sih? Terus kenapa si Rose Rose itu sampai kabur segala? Ya kalau jawabannya dia emang ketakutan seperti apa yang dia bilang, menurut gue kita semua memang dalam bahaya. Terutama bagi lo Sar, karena pusat semua kejadian ini ada di diri lo. Maaf gue ngomong kayak gini, tapi apapun memang bisa saja terjadi." Kini ditambah lagi ucapan Edo yang sangat masuk akal dan begitu bisa diterima di akal. Sarka semakin takut, nyalinya berubah menciut. Sarka takut tidak bisa menghadapi kemungkinan kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Bagaimana kalau ia sampai gagal dan tertimpa kejadian buruk dan tidak mengenakkan? Sarka tidak bisa berpikir jernih. Semuanya terlalu rumit dan aneh. Bahaya besar sedang mengintainya. "Gue pengin menyangkal ucapan kalian berdua, tapi hal semacam itu memang bisa saja terjadi. Gue nggak bisa mikir, gue takut bakal terjadi sesuatu lagi, bahkan lebih buruk dari ini." Sarka menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, napasnya terhembus panjang. Ia menatap langit-langit kantin sambil memijit pelipisnya. Kepalanya mendadak saja terasa pening. "Terus, Rose yang notabenenya hantu aja sampai ketakutan gitu, apalagi kita yang remaja ini? Gue juga takut kalau makhluk satu ini bisa jadi sangat berbahaya." Nadine menyambung lagi. "Tapi gue nggak akan ninggalin lo Sar, gue janji bakal bantuin lo dan selalu ada disamping lo. Lo jangan takut dan merasa sendiri, ada gue dan Nadine yang akan bantuin lo. Kita cari pusat masalah ini dan jalan keluar bareng-bareng. Gue dan Nadine nggak akan ninggalin lo sebelum semua ini balik dan berjalan normal lagi kayak dulu." Sarka menatap Edo, ia terharu ketika sahabatnya mengatakan hal seperti itu. Kata-kata Edo barusan seolah pembangkit semangat Sarka. Tak ayal, Sarka juga merasa sedikit lebih tenang dan aman. Sarka tersenyum tipis, ia merasa tidak sendirian. Ia punya Edo dan Nadine. Mereka berdua adalah sahabatnya yang akan selalu berada di samping dirinya untuk menyelesaikan perkara ini yang belum tahu titik kejelasannya. Dan Sarka sudah berusaha untuk mencari benang merah dan menariknya. "Kita bakal bantuin lo sampai semua ini bisa ketemu pusat masalahnya Ka. Gue dan Edo pasti bakal bantu sebisa dan semampu kita. Jangan merasa sendiri, jangan jadikan masalah ini hanya masalah lo juga. Kita juga ikut nanggung. Intinya lo percaya aja sama kita, apapun yang terjadi nanti, kita hadapi bersama," kata Nadine serius. Sarka mengangguk. Dadanya menyejuk mendengar Nadine berkata seperti itu. Sekarang ia lebih yakin lagi jika dirinya tidak akan menyelesaikan dan melewati semua masalah ini sendirian. Nadine dan Edo, keduanya benar-benar membuat Sarka percaya bahwa orang baik akan selalu ada. Senyuman Sarka mengembang lebar. "Gue nggak tau harus ngomong apa selain makasih. Makasih karena lo berdua mau bantuin gue atas semua kejadian dan masalah ini. Makasih juga karena kalian kuat dan nggak kabur. Gue merasa bahwa kalian adalah penolong gue. Makasih sekali lagi." "Kita cari pusat masalah ini bareng-bareng Sar, kalau kita berusaha terus, pasti ada jalannya. Lo yang kuat dan selalu waspada aja. Jangan takut, kita hadapi bersama." Edo berbicara lantang dan penuh dengan kata-kata meyakinkan sembari menepuk-nepuk bahu Sarka. "Semangat!" Tangan Edo yang terkepal terangkat ke atas, membuat Sarka terkekeh pelan. Sarka pun kemudian melakukan hal yang sama. "Semangat!" Tak mau kalah, Nadine langsung ikutan menjunjung kepalan tangannya tinggi-tinggi ke udara. "Semangat!" Ketiganya kemudian saling pandang, lalu tawa mereka bersamaan menggelegar keluar. Bersamaan dengan itu, hujan perlahan sudah mereda. Ketiganya pun segera bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN