32. PERNYATAAN ROSE

2182 Kata
Seperti apa yang sudah dijanjikan sebelumnya, kini Sarka dan Nadine tengah melangkah menuju tempat di mana Rose berdiam diri. Ya, toilet cowok. Tempat tinggal hantu perempuan tersebut. Edo tentu saja tidak ikut dengan alasan yang sudah bisa dimaklumi oleh Sarka maupun Nadine. Karena tidak mau memaksa, jadilah mereka pergi berdua saja. Lagipula Sarka hanya ingin bertanya kepada Rose tentang kejadian kemarin di rumah Vina. Cuma itu saja, tidak ada hal lain yang perlu dibicarakan selain hal-hal yang memang perlu dibicarakan. Dan Sarka tidak ada niatan berlama-lama di toilet. Selain akan menimbulkan kecurigaan orang lain, Sarka dan Nadine juga memang harus segera balik ke dalam kelas lantaran ada tugas yang harus segera dikerjakan. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah Rose. Di depan pintu toilet, Sarka menoleh ke belakang, menatap Nadine sejenak. "Gue panggil Rose keluar aja kali, ya? Kita bicarain di luar toilet aja. Takutnya kalau gue dan lo sama-sama masuk, terus ada yang lihat kita bakal terjadi kesalahpahaman," kata Sarka kepada Nadine, yang langsung disetujui oleh cewek itu. Mengangguk pelan, Nadine berujar cepat. "Iya, lebih baik emang kayak gitu." "Oke, gue masuk dulu dan nyuruh Rose buat keluar." Setelah berkata maksud tujuannya, Sarka pun lantas dengan segera melangkah ke depan, membuka pintu toilet, lalu masuk ke dalam. Setelah berada di dalam, Sarka mendapati toilet yang terasa kosong dan lembab. Sarka tidak menjumpai keberadaan Rose di sini. Atau mungkin hantu perempuan itu sengaja tidak menunjukkan wujudnya? Entahlah ... Sarka tidak tahu. Menatap sekelilingnya, Sarka masih belum merasakan tanda-tanda kehadiran Rose. Hal itu membuatnya mendesah pendek. Tak mau hanya diam dan menunggu saja, Sarka akhirnya memilih untuk berseru, memanggil nama hantu perempuan yang sekarang entah berada di mana posisinya. "Rose!" panggil Sarka. Ia diam setelah itu, menunggu tanda-tanda kemunculan teman hantunya itu. Tapi tidak ada apapun. Di dalam sini terasa hening dan pengap. Juga pencahayaan yang remang-remang. "Rose, kamu di mana? Aku di sini mau ngomong sama kamu." Sarka berusaha sekali lagi. Ia berbicara lebih panjang. "Rose? Ayolah muncul, ini penting. Ada yang pengin aku tanyain sama kamu." Masih saja belum ada jawaban, membuat Sarka mendecakkan lidahnya. "Dia kemana?" bisiknya lirih. Lelah sendiri, akhirnya Sarka memutuskan beranjak dari toilet. Ia keluar lagi, menemui Nadine yang sedang menunggu di depan toilet. Sarka memperhatikan wajah Nadine. Lalu kepalanya pun menggeleng. "Nggak ada Rose di dalam. Udah gue panggil beberapa kali tapi dia tetep nggak jawab. Mungkin lagi pergi." "Kalau enggak ada, terus pergi ke mana dia?" tanya Nadine sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Mengendikkan bahunya, Sarka berkata singkat. "Gue juga nggak tau. Kita balik ke kelas aja kalo gitu, nanti ke sini lagi. Siapa tahu Rose bakal ada pas kita balik lagi ke sini." "Yuk lah!" Nadine langsung setuju. Sarka pun mengangguk, tapi dari arah depan tiba-tiba mereka berdua melihat Rose yang sedang melayang ke arah Nadine dan Sarka. "Lah itu dia balik," kata Nadine kepada Sarka seraya menunjuk sosok yang sedari tadi sedang dicari dan ditunggu-tunggu keberadaannya. "Dari mana dia?" Sarka menyambung. Kedua remaja tersebut berhenti melangkah untuk menunggu Rose. Setelah keberadaannya berada tepat di depan Sarka dan Nadine, Rose merasa bingung sendiri. Ia menatap kedua temannya itu dengan sorot mata ingin tahu. "Kalian berdua kok di sini?" Rose memulai pembicaraan sambil menunjuk Nadine dan Sarka. "Lagi nyari saya?" Jadi telunjuknya yang panjang kemudian menunjuk dirinya sendiri. Sarka mengangguk, memang itu alasan kenapa dirinya dan Nadine ada di sini, di depan toilet, hanya untuk menunggu hantu perempuan yang entah ke mana sempat menghilang. Mendesah singkat, Sarka menyeletuk. "Kita ke sini memang mau nyari kamu Rose." "Iya, ada yang mau kita berdua tanyakan sama kamu," lanjut Nadine. Rose tampak bingung. Matanya yang bulat mengerjap berulang kali. "Mau nanya apa memangnya?" "Sebelumnya aku mau nanya dulu, kamu barusan pergi ke mana? Tumben nggak ada di rumah," tanya Sarka dengan kening berkerut. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Rose menyengir, menampakkan giginya yang berwarna hitam. "Saya suntuk banget di rumah, saya niatnya mau jalan-jalan, biasa .... untuk refreshing biar nggak bosen. Eh kebetulan banget, tadi kelas sebelah lagi jam kosong tuh. Mereka ngadain konser dadakan. Lebih pasnya lagi, lagu Blackpink sempat di putar, buehhh ... Saya langsung girang bukan main. Saya ikut joget-joget sama anak-anak situ. Mantep banget deh pokoknya!" ujarnya menggebu-gebu. Sarka sulit membayangkan sesosok hantu perempuan dengan pakaian serba putih yang sedang menari, menggoyangkan pinggulnya ke sana dan ke mari. Imajinasinya tidak sampai. Ia dan Nadine pun saling pandang. Kemudian Sarka menggeleng. "Oke, tapi sekarang kamu nggak sibuk, kan?" tanya Nadine. "Sibuk ngapain?" "Ya aku nanya sama kamu. Sekarang nggak ada kegiatan lain kan habis ini?" Nadine mengulang pertanyaannya lebih jelas lagi dan lebih rinci lantaran Rose kurang paham. "Oh ... Enggak sih." Rose menggeleng pelan. "kenapa? Tadi kalian katanya mau nanya sesuatu. Tentang apaan memangnya?" Sarka mendesah singkat, ia pun mulai fokus menatap Rose. "Gini Rose, ini soal kejadian kemarin ketika kita datang ke rumah temanku. Kamu nggak mungkin lupa, kan?" "Itu baru kemarin, mustahil saya bisa lupa secepat itu." Rose berkata cepat, "kenapa memangnya?" "Kenapa kamu langsung lari terus menghilang waktu itu?" tanya Sarka, memulai pertanyaan yang ia ajukan. "Kamu langsung cabut sesaat setelah ijin pulang. Aku heran, kenapa begitu tiba-tiba?" lanjutnya lagi. Sarka lebih fokus menatap wajah Rose yang kini terlihat tegang. Nadine buru-buru langsung melanjutkan. "Ada sesuatu yang kamu lihat di sana Rose?" "Saya mendapati sesuatu di sana. Ya, itulah alasan saya kenapa saya kabur dari tempat itu. Karena saya ketakutan ketika melihat dia. Jadi saya langsung ijin ke kalian berdua untuk pulang terlebih dahulu." "Apa yang kamu lihat Rose?" Rose tidak langsung menjawab, hantu perempuan dengan rambut dikepang tersebut menatap sekelilingnya terlebih dahulu. Lalu, dengan wajahnya yang kelewat serius, ia menyorot wajah Nadine dan Sarka. Dengan suara pelan, Rose berbisik lirih. "Saya melihat makhluk yang menakutkan. Makanya saya kabur dari situ." "Kenapa kamu takut?" tanya Nadine, kedua alisnya nyaris bersentuhan. Ditatapnya Rose lebih dalam lagi. "Dan makhluk apa yang kamu lihat itu?" Sarka segera menyambung. Sejenak ia menoleh ke samping, menatap Nadine dengan sorot mata penuh pertanyaan, barangkali sahabatnya itu tahu sesuatu. Nadine juga tidak tahu, membuatnya refleks mengendikkan bahunya dan menggeleng. Sebenarnya Sarka sudah menduga tentang aroma bayangan itu, tapi kembali lagi bahwa dirinya tidak tahu apa-apa, Rose juga belum melanjutkan kata-katanya lagi. "Jangan mengira saya tidak takut apapun. Saya memang sudah nggak hidup lagi di dunia ini, dan dunia saya dengan kalian juga udah berbeda. Saya sadar kok kalau saya ini udah bukan manusia lagi. Saya hantu yang selalu ditakuti orang-orang. Tapi, walaupun saya hantu, saya juga takut hantu. Dan salah satunya makhluk yang saya lihat di rumah teman kalian itu!" Rose berkata lebih cepat daripada sebelumnya. Begitu menggebu-gebu hingga membuat Nadine maupun Sarka sedikit kewalahan mencerna kalimat yang Rose utarakan barusan. Sebelumnya Sarka juga mengetahui tentang fakta satu ini dari Gwen, hantu perempuan di kamar abangnya itu. Gwen juga mengatakan bahwa dirinya takut dengan hantu yang tinggal di pohon besar tetangga rumah. Kalau Sarka tidak lupa dan tidak salah menyebutkan namanya, hantu perempuan yang dimaksud adalah Siti. Ya, Gwen takut kepada Siti yang katanya sangat nyeremin. Padahal mereka berdua satu produk, alias sama-sama kuntilanak yang bikin orang-orang langsung lari ketar-ketir ketika melihat sosok mereka yang sedang melayang maupun tertawa cekikikan. Sarka mendengkus seraya menggeleng pelan. Kembali ia memusatkan seluruh perhatiannya ke arah Rose. "Apa yang kamu lihat Rose? Kasih tau aku sekarang, makhluk apa yang kamu lihat?" "Perempuan menyeramkan." Secara bersamaan, Nadine dan Sarka langsung saling pandang dengan sorot mata bertanya-tanya. "Perempuan? Perempuan menyeramkan bagaimana Rose? Bisa deskripsiin lebih jelas dan teliti lagi?" tanya Nadine. Rose menjawabnya cepat. "Perempuan itu tinggi, pakai pakaian berwarna merah, dan wajah dia hancur. Kedua bola matanya juga nggak ada. Saya takut! Jujur saja, perempuan itu sangat berbahaya karena saya sudah merasakan hawa-hawa negatif di sekitar situ," jelasnya. Sarka dan Nadine terdiam, bergulat pada pikiran masing-masing. Nadine kemudian menyeletuk, "tapi aku nggak lihat tuh perempuan yang kamu maksud?" katanya, kemudian ia memperhatikan Sarka. "Lihat nggak Ka?" "Nggak lihat juga," sahut Sarka, disertai gelengan untuk memperkuat jawabannya. "Tentu saja kalian nggak melihatnya!" Rose langsung berkata tegas dan keras. "Awalnya saya juga tidak melihat makhluk menyeramkan itu, tapi hawa negatif yang saya rasakan itulah yang membuat saya jadi lebih fokus menatap sekitar saya. Dan begitu saya lebih fokus lagi, saat itu juga saya melihat keberadaan sosok makhluk itu!" "Tunggu dulu!" Sarka mengangkat tangannya ketika otaknya tiba-tiba terpikirkan sesuatu. "Ada apa Ka?" Sarka menunduk sembari mengerjapkan matanya, ia berpikir sesaat, dan begitu sesuatu menghantam pikirannya, ia langsung mengangkat wajahnya. Bola matanya nyaris saja keluar dari tempatnya ketika Sarka melotot. Sarka menelan ludahnya dengan susah payah. Tiba-tiba saja ia merasakan sesuatu yang panas menjalar di punggungnya. Sarka merinding, tubuhnya juga terasa kaku secara mendadak. Sungguh, apa yang ia pikirkan saat ini memberikan efek yang sedahsyat itu. Dengan bibir bergetar, ia menatap Rose lagi. Sebelum sempat berkata, Sarka terlebih dahulu mengontrol dirinya agar tetap tenang dan stabil. Sarka meraup oksigen sebanyak mungkin di sekitarnya. "Aku ingat sesuatu." Akhirnya, setelah mengambil sikap untuk tetap tenang, Sarka berani berkata lagi. Ia berdiri tegak, "apa yang kamu katakan Rose, itu nyaris mirip seperti apa yang aku alami dalam mimpi." "Mimpi?" "Aku mimpi bertemu dengan sesosok makhluk seperti apa yang kamu sebutkan tadi Rose. Kalian berdua mau percaya sama aku atau enggak, itu terserah kalian, hak kalian juga. Tapi aku ngomong jujur sekarang," ujar Sarka menjelaskan. "Terus gimana lagi?" Nadine mendesak. Sarka menarik napas dalam-dalam sebelum berkata. "Aku ... Aku bertemu dengan makhluk jahat itu. Semua ciri-cirinya persis apa yang tadi dikatakan oleh Rose. Perempuan itu jahat, dia nggak punya mata, terus wajahnya juga hancur. Dia pakai pakaian merah panjang. Dan satu lagi, kuku jarinya panjang. Itu semua persis seperti apa yang Rose katakan barusan." "Apa jangan-jangan makhluk yang saya lihat sama seperti apa yang kamu mimpikan Sarka?" Rose berpikir tentang kemungkinan satu ini. "Nggak ada sesuatu yang tahu, kan? Bisa jadi memang begitu, sosok perempuan beraura negatif yang saya lihat bisa jadi memang perempuan yang sama di mimpi kamu." "Aku juga ingat banget dimimpi kalau makhluk itu jahat banget. Dia suka menyerang dan berkata berulang-ulang." "Berkata apa?" "Dia minta aku balikin sesuatu, tapi aku nggak tahu apa yang dia maksud dan inginkan." Ketiganya kemudian sama-sama diam. Hingga akhirnya Roae menyeletuk lagi. Hantu perempuan itu menatap Sarka, "saya tidak tahu pasti Sarka, tapi feeling saya mengatakan kamu sedang dalam bahaya sekarang. Saya juga tidak tahu pasti, saya cuma mau mengingatkan kamu untuk selalu hati-hati. Ada banyak sekali bahaya yang mungkin dapat datang kapan saja, kamu harus bersedia dengan itu." "Makasih Rose, aku akan jaga diriku baik-baik. Kalau memang aku dalam bahaya saat ini, itu artinya aku harus lebih waspada lagi pada sekitar." Rose mengangguk mantap. "Bagus, saya tak yakin dengan makhluk perempuan berpakaian merah itu, tapi sepertinya dia memang sedang mengincar sesuatu." "Semoga saja nggak ada kejadian buruk untuk kedepannya," ucap Nadine kemudian. "Ya, semoga saja Dine," lanjut Sarka. "Hanya itu yang mau kalian tanyakan? Nggak ada sesuatu yang lain?" Sarka dan Nadine menggeleng secara bersamaan. "Oke, kalau gitu gantian saya yang nanya sama kalian." "Nanya apa?" sahut Nadine. "Tujuan kalian berdua ngajak saya ke tempat itu sebenarnya untuk ngapain? Kalian tidak mengatakannya dari awal." "Aku hanya ingin membuktikan apakah kamu bisa melihat apa yang aku dan Nadine lihat di sana. Secara juga kamu kan berada di dunia yang berbeda dengan kita berdua. Ya, cuma mau mastiin itu aja." Sarka menjawab dengan jujur. "Tapi, sebelum kita berdua sempat menunjukkannya, kamu malah kabur terlebih dahulu. Jadi gagal deh." "Memangnya kalian berdua mau nunjukin saya hal tentang apa?" tanya Rose penasaran. "Aroma bayangan." Rose melotot. "Sebelum sempat pergi meninggalkan tempat itu, saya memang sudah melihat bayangan besar berwarna hitam pekat yang kalian maksud ini." "Jadi kamu melihatnya juga Rose?" "Saya lihat itu, saya juga merasakan aroma yang sangat busuk." "Itu tujuan kita berdua kenapa ngajak kamu ke sana. Kamu tahu tentang itu Rose?" Rose menggelengkan kepalanya. "saya tidak tahu itu. Saya juga baru lihat bayangan hitam seperti itu. Tapi ... Apa mungkin ini semua ada hubungannya dengan makhluk berpakaian merah itu?" "Kenapa kamu berpikiran seperti itu Rose?" Sarka bertanya. "Saya nggak tahu pasti, tapi apapun bisa terjadi, kan?" "Tapi kamu memang benar Rose. Bisa jadi semua ini ada hubungannya satu sama lain. Pasti ada benang merah yang mengikat semuanya." Nadine berspekulasi. "Jika memang bayangan pekat dan bau busuk itu berhubungan dengan makhluk jahat berpakaian merah itu, pasti ada alasan dibalik semua itu." "Ya, bisa saja memang seperti itu. Oh ya, kalian kan ngajak saya untuk ikut ke rumah teman kalian itu, kan? Buat membuktikan apakah saya bisa lihat aroma bayangan itu juga atau nggak." "Iya Rose, memang itu tujuanku," sahut Sarka. "Nah ... Berarti kamu udah tahu kalau bayangan itu bakal muncul di sana?" "Aku cuma menebak dan membuktikan apakah itu benar atau enggak." "Berarti alasan apa yang mendasari kamu berpikir seperti itu? Gini deh, berarti kamu udah merasakan hal serupa sebelumnya?" Rose mencecar Sarka dengan pertanyaan lain. Tidak ada alasan bagi Sarka selain memberitahu Roae kejadian yang sebenarnya sedang terjadi. Dan detik berikutnya, Sarka mulai menceritakannya dari awal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN