31. MEMBAHAS

1447 Kata
Tadi malam, Sarka sudah berjanji dengan Nadine lewat telepon bahwa pada saat istirahat pertama nanti di sekolah, mereka berdua akan membahas perkara di rumah Vina waktu itu. Dan inilah saatnya yang ditunggu-tunggu, Edo juga ikut serta untuk bertukar pikiran. Kini, hanya ada Sarka, Nadine dan Edo yang berada di dalam kelas. Semua teman kelasnya berada di luar karena ini sedang jam istirahat. Memutar bangku ke belakang, Sarka pun kini duduk berhadapan dengan Nadine. "Jadi gimana Dine kemarin? Lo lihat juga, kan?" tanya Sarka memulai pembicaraan. Ditatapnya Nadine yang sedang mengikat rambutnya menyerupai ekor kuda. Sebelum Nadine sempat menjawab, Edo terlebih dahulu menyeletuk. "Lihat apaan?" tanyanya sembari menatap Sarka dan Nadine secara bersamaan. Sarka mendesah pelan. "Lo lupa Do apa yang kita bahas di rooftop waktu itu, sebelum kita semua ke rumah Vina untuk berziarah?" "Nah itu kan baru kemarin, masa sih gue lupa?" Edo menjawab capat. "Gue nggak sepikun itu." "Nah, kita lagi bahas itu sekarang," ujar Nadine. "Kita kan emang mau buktiin apakah aroma bayangan yang Sarka sebut muncul atau enggak di sana." "Terus gimana-gimana? Kalian berdua lihat aroma bayangan itu?" Edo bertanya dengan semangat. Tatapan seriusnya sudah ia layangkan untuk Sarka dan Nadine. Sarka memperhatikan raut wajah Nadine. "Kita berdua menjumpai itu Do," adunya kepada sahabatnya itu. "Tebakan gue berarti benar kalau Nadine bisa lihat dan merasakan aroma bayangan itu. Karena Nadine indigo, gue pun juga." "Oh berarti waktu di rumah Vina pas lo teriak katanya lo nyium bau nggak enak itu berarti ..." Edo menggantungkan kalimatnya sembari membelokkan arah pandangannya ke Nadine. Edo mengerjap pelan, kini ia baru sadar. "Jadi ... itu aroma busuk yang Sarka rasakan!" serunya lantang. "Edo! Bisa kecilin dikit suaranya nggak? Jangan kencang-kencang ngomongnya, nanti ada yang denger." Nadine memperingati Edo dengan mata yang melotot. Baru sadar jika dirinya terlalu kuat menyerukan kata-katanya, Edo pun membekap mulutnya. Kepalanya kemudian mengangguk. Edo menyengir kecil. "Maaf, gue terlalu berlebihan. Tapi topik ini benar-benar sangat serius dan menegangkan. Gue terlalu terbawa suasana. Jadi gimana Dine? Lo nyium aroma busuk seperti yang Sarka rasakan pas Metta dan Arial meninggal pada waktu itu? Terus kan lo keluar dari rumah Vina, nggak lama kemudian lo juga keluar Sar." Mengembuskan napas panjang, Nadine pun perlahan mengangguk. "Ya, gue serius kalau gue nyium aroma yang sangat-sangat busuk. Gue nggak bisa deskripsiin baunya kayak apa, karena bau ini sungguh sangat menyengat dan seratus kali lipat lebih busuk daripada bau busuk kayak biasanya. Okelah, mungkin gue terlalu berlebihan saat ini. Tapi gue nggak bohong. Itu aroma terbusuk yang bisa gue rasakan." Nadine menjeda ucapannya untuk menarik napas banyak-banyak. Kemudian ia menatap wajah Sarka. "Sekarang gue bisa tau apa yang lo rasakan Ka. Dan gue juga lebih percaya apa yang lo alami saat ini." "Iya Dine, makasih lo udah percaya sama gue." Sarka tersenyum tipis. "Wah ... Gue jadi penasaran sama aroma busuk itu. Seburuk apa sih bau itu sampai lo berdua kayak gini? Gue jadi pengin tau." "Stress lo emang Do. Lo seharusnya seneng nggak bisa nyium bau itu. Sampai sekarang aja gue ingat sebusuk apa bau itu. Kalau lo bisa nyium aroma itu, nanti lo bakal nyesel senyesel-nyeselnya. Lo beruntung!" ucap Nadine panjang lebar yang ditunjukkan untuk Edo. "Iya deh iya, gue bersyukur nih sekarang." Edo mencibir pelan seraya memutar bola matanya. "Oke, kita serius sekarang. Menurut gue, orang-orang yang nggak bisa lihat hantu kayak gue ini emang nggak bisa nyium bau busuk itu! Nah buktinya kan cuma lo berdua yang merasakan aroma itu pas di rumah Vina. Lah kita-kita yang lain fine-fine aja tuh." Sarka mendecakkan lidahnya. "Kan gue udah bilang Do sama lo, gue udah jelasin ini. Sebelumnya cuma gue yang bisa rasain aroma busuk ini. Dan sekarang Nadine juga bisa. Bukannya semuanya jadi lebih gampang di percaya kalau aroma busuk itu cuma bisa dirasakan oleh orang-orang yang bisa lihat hantu?" "Iya benar sih." Edo mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti Ka, aroma bayangan itu emang muncul lagi atau gimana ya pas di rumah Vina. Kan kata lo aroma bayangan itu bakal muncul pas orang yang meninggal masih ada ditempat, maksudnya belum dimakamkan. Lo paham maksud gue Ka?" "Paham, gue paham kok." Sarka mengangguk mantap. Ia memperbaiki posisi duduknya lebih nyaman lagi sebelum kembali berkata. "Jadi gini Dine, untuk kejadian sebelumnya emang nggak kayak pas di rumah Vina. Gue bisa rasain aroma bayangan itu tepat ketika jasad orang yang meninggal masih ada di tempatnya. Paham kan? Singkatnya gini, aroma bayangan itu muncul sebelum orang yang udah meninggal itu dimakamkan. Jadi jasadnya masih terlihat." "Dan kasus almarhum pak Rahmat beda ya berarti. Walaupun beliau sudah dimakamkan, aroma bayangan itu baru muncul. Atau mungkin sudah muncul tapi kembali muncul untuk yang kedua kalinya." "Nah itu maksud gue Dine!" Sarka langsung menimpali. "Oke Ka, gue paham apa yang lo jelasin tadi. Dan gue masih terbayang-bayang soal ini. Tadi malam gue juga nggak bisa tidur karena kepikiran terus." "Jadi bayangan hitam yang Sarka maksud itu, lo juga lihat Dine di rumahnya si Vina?" tanya Edo, menatap lurus-lurus ke arah Nadine, kedua alisnya hampir menyatu. "Iya, gue lihat. Bayangan yang begitu pekat dan besar. Gue juga nggak bisa berkata-kata, gue takut banget waktu itu." "Terus setelah itu gimana lagi?" Sarka segera menukas pertanyaan Edo. "Bayangan itu lalu bergerak menjauh, gue dan Nadine berusaha melawan ketakutan kita dan ikuti ke mana bayangan itu pergi. Tapi, nggak lama setelah itu bayangan itu hilang entah ke mana." Untuk sesaat, ketiganya mengunci mulut masing-masing dan bergelut pada pikiran sendiri-sendiri. Sarka kemudian teringat dengan Rose, hantu toilet itu langsung pergi dari rumah Vina setelah mengetakan bahwa dia melihat sesuatu. Sarka pun langsung mendongakkan wajahnya. "Dine, lo ingat nggak waktu Rose tiba-tiba ijin sama gue dan lo buat pulang?" "Iya ingat, kenapa?" "Itu Rose katanya habis lihat sesuatu. Terus lo lihat juga kan ekspresi wajahnya kayak ketakutan gitu?" Nadine mengangguk pelan. "Apa jangan-jangan dia lihat bayangan itu juga ya?" Nadine bertanya. "Rose langsung kabur soalnya." "Ini Rose siapa yang lagi kalian bahas nih? Rose bunga mawar? Atau Rose anggota Blackpink? Kok gue nggak dikasih tau?" Edo menyuarakan isi hatinya lantaran ia memang tidak tahu siapa gerangan Rose yang sedang dibahas kedua sahabatnya ini. Telanjur menyebut nama Rose di depan Edo, Sarka pun menatap Nadine. Lalu akhirnya ia pun mendesah pelan. Tidak ada pilihan lagi selain memberitahu Edo yang sebenarnya. "Rose, itu hantu perempuan di kamar mandi cowok. Gue sama Nadine ngajak dia pergi ke rumah Vina kemarin." "Ha-hantu?" Edo tergagap. Nadine menjawabnya cepat. "Iya, hantu perempuan. Dia tinggal di sini, tepatnya di toilet cowok. Gue sama Sarka ngajak dia mau buktiin kalau dia bisa lihat aroma bayangan itu atau enggak." "Iya betul," timpal Sarka. "Gue sama Nadine emang sengaja nggak ngasih tau lo Do, lo kan takut hantu. Tapi tadi karena gue sama Nadine udah keburu bahas Rose, ya udah sekarang lo berhak tau." "Toilet cowok yang mana dia tinggal?" "Toilet yang biasa gue sama lo pakai," sahut Sarka. "Serius yang itu?" Edo menelan ludahnya dengan kasar. "Ogah buang air di sana lagi gue kalau kayak gini caranya. Gue bakal pindah tempat!" "Rose baik kok Do," kata Nadine. "Dia nggak bakal bikin lo celaka." "Hei Nadine, mau baik atau jahat dia tetep setan. Gue juga tetep aja takut. Lagian dia cewek, kan? Ngapain tinggalnya di toilet cowok sih? Ogah lagi gue pakai tuh toilet." "Udah-udah, balik aja ke topik awal." Nadine melerai, ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Menurut gue ya Dine, Rose emang beneran lihat aroma bayangan itu. Kalau enggak, ngapain juga dia ijin pulang? Dan katanya dia juga habis lihat sesuatu, kan?" Nadine menjentikkan jarinya sesaat setelah Sarka selesai berkata. "Nah, sesuatu itu yang belum kita ketahui. Kita tanya Rose aja gimana?" "Sekarang?" "Nunggu apa lagi? Bukannya lebih cepat bakal lebih baik, kan?" "Ya iya sih, tapi bentar lagi kayaknya masuk deh Dine. Lihat, udah mau lima belas menit kita istirahat. Lanjut nanti aja, istirahat kedua kita temuin Rose dan kita tanya tentang ini." "Kalau gitu gue nggak bakal ikutan lo berdua deh, gue takut." Edo bergidik ngeri. "Siapa yang mau ngajak lo?" Nadine terkekeh pelan. Ditatapnya Edo yang tengah mencibirnya. "Nggak usah kepedean deh." "Yang ngajak Sarka. Iya kan Sar?" Edo mencari pembelaan. "Nggak ada tuh, gue nggak ngajak lo. Kapan gue ngomong gitu?" "Ini bocah! Iyain aja kenapa sih?" Edo berdecak jengkel. Cowok itu mendengkus dan melempar sorot mata penuh kekesalan. Tawa Nadine semakin terdengar kencang. "Nah, kan? Nggak ada yang ngajak lo kok di sini. Udah, lo lebih baik diem aja di kelas. Daripada nanti tiba-tiba ngompol di sana." "Nggak usah ngeledek gue ya!" Edo naik pitam. Tawa Sarka dan Nadine menyembur kencang, sedangkan Edo langsung mencibir begitu saja. Menyebalkan sekali kedua sahabatnya ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN