30. AROMA BAYANGAN

1510 Kata
Semua teman kelas Sarka sudah sepakat bulat-bulat bahwa pulang sekolah akan langsung pergi ke rumah Vina untuk berziarah. Semua anak juga sudah mengumpulkan uang sumbangan. Dan inilah waktunya, setelah sekolah dibubarkan, semuanya sudah bersiap-siap. Termasuk Sarka sendiri. Sarka hendak keluar dari dalam kelasnya, bergabung bersama teman kelasnya yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju parkiran sekolah. Pergerakan Sarka terhenti ketika pundaknya di tepuk dari belakang, ia pun menoleh, rupanya Nadine pelakunya. "Kenapa Dine?" tanya Sarka pelan dengan kening mengerut, disusul oleh kedua alis tebalnya yang nyaris menyatu. "Gimana, lo jadi mau ngajak Rose ikut kita?" tanya Nadine. "Jadi kok." Sarka menjawab pelan, diiringi oleh kepalanya yang mengangguk mantap. "Gue udah ngomong sama Rose, dan dia mau pas gue ajak," lanjutnya. Keduanya kemudian melangkah secara bersamaan keluar dari dalam kelas. Sarka dan Nadine berjalan bersebelahan. Nadine kembali menoleh ke arah Sarka. "Terus reaksi Rose gimana? Dia nggak mungkin ngiyain ajakan lo gitu aja, kan? Pasti dia tanya ini itu." Sarka menggangguk lagi. "Ya, gue udah jelasin ke dia. Tapi gue nggak ngomong keseluruhannya. Gue cuma minta dia buat ikut dan mastiin dia bisa lihat seperti apa yang gue lihat atau nggak." "Bagus kalau gitu." "Gue juga nggak mungkin jelasin semuanya, gue nggak mau Rose ikut terlibat soal masalah ini. Entah itu nanti, tapi untuk saat ini dia nggak perlu tahu aja. Lagipula, akan makan terlalu banyak waktu jika gue cerita semuanya." Sarka melanjutkan. "Gue setuju sama lo," ujar Nadine mantap. "Biar aja Rose tenang, lo bisa minta bantuan kalau lo emang butuh bantuan banget. Jadi kita mampir ke toilet dulu nih? Rose masih di sana, kan?" "Iya, kita ke toilet dulu aja," sahut Sarka. "Eh Dine, lo nggak ngasih tau Edo kan soal ini?" "Enggak lah!" Nadine segera menyangkalnya sambil menggeleng. "Bisa-bisa tuh anak kabur kalau gue kasih tau kalau ada hantu yang ikut ke sana." Sarka terkekeh pelan. "Ya kan siapa tau lo lupa gitu, terus lo keceplosan ngasih tau Edo." "Enggak mungkin." "Iya deh, gue percaya sama lo kok." "Lagian nggak ada untungnya gue bohong sama lo." Keduanya terus melangkah, hingga akhirnya Nadine dan Sarka tiba di tujuan. Rupanya, hantu penunggu toilet yang tak lain dan tak bukan adalah Rose, sudah berdiri setengah melayang di pintu toilet. "Udah nungguin tuh kayaknya," ujar Sarka pelan kepada Nadine ketika matanya menemukan Rose, dengan pakaian putih lusuhnya dan rambut yang dikepang. "Ayo buruan, sebelum dia marah karena terlalu lama nungguin," seru Nadine sembari mempercepat langkah kakinya. Sarka menyetujuinya begitu saja. Sarka dapat melihat Rose, dengan wajahnya yang pucat, seperti biasa. Sarka melirik Nadine sembari meringis pelan. Dari raut wajahnya, Sarka menemukan bahwa Rose terlihat menahan marah dan kesal. Bibirnya mencebik dan matanya juga menatap Sarka tidak bersahabat. Kalau begini caranya, Sarka menjadi takut sendiri dengan Rose. Hantu itu terlihat seperti hantu sungguhan sekarang. Tidak, bukan berarti sebelumnya Sarka menganggap Rose adalah hantu jadi-jadian. Tapi sebelumnya, Rose lebih manusiawi aja, dan sekarang Rose malah terlihat layaknya hantu pada umumnya. "Kalian berdua dari mana saja sih? Saya sudah nungguin loh dari tadi di sini. Capek nih melayang terus. Kalau nggak jadi ya ngomong dong. Jangan digantungin kayak gini." "Eh Rose, kita jadi kok mau ngajak kamu. Ini kita di sini kan mau nyusul kamu." Nadine menyeletuk, kemudian ia menoleh ke arah Sarka. "Iya nggak Sar?" "Iya, betul kok. Kita mau berangkat sekarang. Tadi ada keperluan sedikit di kelas, jadi agak terlambat. Kita minta maaf." "Ya saya sebenarnya nggak marah-marah banget sih. Tapi nunggu itu nggak enak loh. Saya kira kalian nggak jadi ngajak saya pergi. Kan kalo nggak jadi, saya bisa latihan koreografi lagunya Blackpink lagi biar tambah hapal." "Entar aja latihan laginya. Kita pergi sekarang aja, udah ditungguin tuh sama yang lain di parkiran sekolah," ujar Sarka menjelaskan. "Ayo kita pergi sekarang, kita nggak punya banyak waktu soalnya." "Ayo!" Nadine menjawab sambil mengangguk. Kemudian, ia berbalik badan, diikuti oleh Sarka di belakangnya. Dengan kaki yang tidak menyentuh lantai, Rose mengejar Sarka dan Nadine. Hantu berwajah pucat tersebut lantas bertanya lagi. "Kita nggak cuma bertiga aja?" "Nggak, kita bertiga puluh. Satu kelas ikut semua," sahut Sarka. "Kamu kenapa Rose? Takut?" Rose menggeleng pelan. "Bukan itu maksud saya, saya kira kalian berdua itu perwakilan buat berziarah. Eh taunya satu kelas ikut semua. Jadi rame banget ya nanti." "Iya rame, tapi kamu kan nggak kelihatan. Jadi nggak ada yang bisa lihat kamu kecuali aku dan Nadine, tenang aja kok." Diakhir kalimatnya, Sarka tersenyum tipis ke arah Rose. "Oke-oke, saya paham." Rupanya, Nadine dan Sarka sudah ditunggu oleh teman kelasnya di parkiran. Mereka berdua terlambat, tentu saja karena tadi keduanya harus menemui Rose terlebih dahulu. Setelah semuanya sudah kumpul, dengan hati-hati mereka semua mulai berangkat menuju ke rumah Vina. Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di rumah duka. Vina terlihat terkejut ketika mendapati teman kelasnya muncul di rumahnya. Tapi tak ayal cewek yang baru saja ditinggal pergi oleh ayahnya itu merasa senang dan terharu lantaran semua teman-temannya peduli dengannya. Kata Vina, almarhum ayahnya sudah dikebumikan tadi pagi, hal itu membuat Sarka langsung melirik Nadine yang berdiri di sampingnya. Sedangkan Rose melayang tidak jauh dari mereka berdua. Posisi Sarka dan Nadine berada di barisan belakang, hal itu langsung dimanfaatkan Sarka. Ia menoleh ke arah Nadine, disusul berbisik pelan. "Dine, gue rasa bayangan itu nggak bakal muncul deh." Nadine menautkan kedua alisnya, tatapannya ia torehkan ke arah Sarka. Langsung saja cewek itu bertanya, "Yakin? Lo nggak lihat apa-apa di sini?" "Gue yakin," balas Sarka mantap sembari mengangguk. "Gue dari tadi juga udah lihat-lihat nggak ada bayangan itu." Untuk beberapa detik Nadine terdiam dengan bibir merapat, otaknya berpikir lebih keras lagi. "jadi? Asumsi lo tentang bayangan yang muncul pada saat orang meninggal itu nggak tepat berarti?" "Bukan, menurut gue bukan nggak tepat Dine. Tapi waktunya aja yang menurut gue salah," jawab Sarka. Ia kemudian menggeser duduknya lebih dekat dengan Nadine. Kembali Sarka memelankan nada suaranya agar tidak ada yang mendengar. "Gini Dine maksud gue, sebelumnya nggak kayak gini. Untuk kasus almarhum bokapnya Vina agak berbeda." "Maksud lo?" "Waktu Metta meninggal, bayangan itu muncul. Terus saat Arial meninggal juga, bayangan itu juga muncul. Tapi jasad mereka masih ada, posisinya belum dimakamkan. Sedangkan sekarang? Lo tau maksud gue, kan?" "Berarti bayangan hitam itu nggak akan muncul kalau jasadnya udah dikebumikan." "Menurut gue bukan nggak muncul Dine, tapi bayangan itu udah muncul sebelum almarhum dimakamkan." "Jadi ..." Nadine menggantungkan ucapannya, sebelum ia sempat berkata kembali, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang asing. Cewek itu mengendus, lalu ia secara refleks menutup hidung dan mulutnya secara bersamaan menggunakan tangannya. "Bau busuk apaan ini?" ucapnya dengan intonasi nada suara yang kencang. Membuat semua pasang mata langsung menatap cewek itu. Nadine mau muntah, ia mual bukan main. Isi perutnya seolah memaksa ingin keluar. Nadine langsung berdiri dari duduknya. "Maaf semuanya ..." ujarnya, sebelum akhirnya ia berlari keluar dari rumah keluarga Vina. Nadine butuh udara segar, ia tidak tahan lagi mencium aroma busuk yang entah berasal dari mana itu. Namum sayang, apa yang hidungnya rasakan ini belum kunjung berhenti, bau menyengat itu sungguh menyiksa Nadine. "Nadine!" Sarka berseru sambil berjalan tergopoh-gopoh mendekat ke arah Nadine. Setelah sampai berada di dekat cewek itu, dengan refleks Sarka langsung meremas kedua pundak Nadine. "Lo nyium bau itu juga?" tanya Sarka dengan bola mata terbelalak. "Ini aroma nggak enak yang gue maksud." "Ha?" Mulut Nadine terbuka setengah. Ia menatap Sarka lebih teliti lagi, kedua matanya mengerjap. "Jadi ini aroma yang lo maksud itu." "Iya, bau busuk ini. Dan kalau aroma busuk ini udah muncul, itu artinya ...." Sarka tidak sanggup menyebut kalimat selanjutnya. Cowok itu merasa ngeri sendiri. Menelan ludahnya dengan susah payah, Sarka berusaha untuk tenang dan tidak perlu merasa panik secara berlebihan. "Artinya apa Ka?" Nadine mendesak Sarka. "Itu artinya ..." Sarka kembali berkata, tapi sungguh s**l bibirnya ini, sangat sulit untuk mengucapkan sesuatu. Lidahnya tiba-tiba terasa kaku dan kelu. Hal itu membuat tingkat keingintahuan Nadine semakin melonjak drastis. "Sarka, maksud lo apaan? Buruan kasih tahu gue, kalau aroma busuk ini muncul, artinya apaan?" Nadine kini mengguncang tubuh Sarka. Sarka membuka mulutnya lagi. Sebelum ia sempat mengeluarkan sebuah penjelasan dari bibirnya, Rose tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua dengan wajahnya yang pucat. Hantu perempuan itu terlihat sangat ketakutan, ekspresi wajah yang diperlihatkan sungguh kentara. "Sarka, Nadine, saya harus kembali ke rumah, saya tadi lihat sesuatu di sini. Saya takut, saya pengin pulang saja sekarang. Sampai jumpa lagi besok di sekolah." Tanpa ba-bi-bu dan menunggu respons dari Sarka dan Nadine, Rose langsung melayang menjauh dengan cepat. Tidak lama kemudian hantu itu tidak terlihat wujudnya. Kembali menatap Nadine, Sarka langsung melotot ketika melihat sebuah bayangan hitam yang berada persis di belakang Nadine. Napas Sarka langsung tercekat di tenggorokan, tubuhnya menegang, dilengkapi dengan bulu romanya yang tiba-tiba saja berdiri dengan tegak. "Dine, yang gue maksud ada di belakang lo." Sarka berbicara, suaranya terdengar serak. Nadine pun refleks menoleh ke belakang. Kemudian, langsung saja cewek itu membekap mulutnya dan melangkah mundur. Nadine tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat di hadapannya ini. Sebuah bayangan raksasa berwarna hitam pekat membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa takut dengan cepat merambat di sekujur tubuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN