29. SEMAKIN JELAS

1784 Kata
Pikiran Sarka tiba-tiba tertarik ke belakang, lalu memori yang sudah lama mengendap kembali muncul ke permukaan dengan sangat jelas. Sarka memutar kejadian yang sudah lama didalam otaknya, kalau ia tidak salah ingat kejadian itu sudah satu tahun yang lalu. "Totalnya tiga puluh lima ribu rupiah pak." Mbak-mbak kasir supermarket mengatakan total pesanan yang harus dibayar oleh seorang bapak-bapak yang berdiri dihadapannya. Sarka yang berada di belakang bapak-bapak yang ia tidak kenal siapa itu sedang menunggu antrian. Tapi, laki-laki paruh baya dihadapannya ini tidak kunjung pergi. Dari yang Sarka lihat, bapak tersebut sedang mengecek dompetnya. "Mbak, uang saya sepertinya ketinggalan di rumah. Dompet saya kosong, apa boleh saya bayarnya nanti?" ujar bapak-bapak itu lagi. Sarka menunggu dengan kening mengerut. Dalam hatinya ia berujar lirih. Emangnya boleh kayak gitu? Tapi Sarka tetap diam saja, hanya keningnya yang mengerut samar. Sarka menunggu lumayan lama, padahal sebenarnya ia sedang dikejar waktu. Sarka tidak mempunyai banyak waktu karena dirinya harus segera pulang. "Oh, tidak bisa seperti itu pak. Kalau bapak nggak bisa bayar sekarang, bapak juga nggak boleh bawa barang-barang ini keluar." "Tapi saya pasti balik ke sini lagi kok mbak. Saya nggak lagi bohongin mbak." Mbak kasir segera menjawab. "Kalau begitu, bapak silakan keluar dulu dan balik ke rumah buat ambil uang, terus bapak ke sini untuk ambil barang ini dan bayar. Bisa seperti itu pak." Sarka berdiri dengan gelisah, berulang kali ia menoleh ke arah jam tangannya. Hari sudah semakin sore. Sedangkan ia harus buru-buru pulang. Namun, laki-laki tua dihadapannya ini tidak kunjung melakukan transaksi pembayaran. Sarka tentu saja mendengar permasalahan yang sedang dibahas itu karena posisinya tepat dibelakang bapak tua tersebut. Hati kecil Sarka sedikit tergerak. Ia kasihan melihat bapak tua itu. Alhasil, Sarka pun maju ketika mbak kasir menyuruhnya untuk melakukan pembayaran. "Totalnya empat puluh sembilan tujuh ratus rupiah kak." Mbak-mbak kasir menyebut torak belanjaan Sarka setelah menghitungnya. Sarka mengeluarkan uang satu lembar berwarna biru. Ia pun mengulurkannya ke arah depan. "Ini mbak uangnya," ujarnya pelan. Sesekali Sarka melirik bapak di sampingnya yang belum kunjung keluar dari supermarket juga. "Uangnya lima puluh ribu rupiah ya kak." "Iya mbak." "Yang tiga ratus rupiah boleh didonasikan kak?" "Boleh mbak." "Baik kak." Setelah selesai, pasanan belanjaan Sarka ditaruh di plastik seraya dikasih struk pembayaran. Sarka merasa kasihan melihat bapak disampingnya ini karena permintaan bapak itu tidak bisa dipenuhi oleh mbak kasir. Tapi Sarka juga tidak bisa menyalakan mbak kasir juga, karena itu sudah pasti kebijakan supermarket. Sarka kembali mengeluarkan uang dari dalam dompetnya. "Mbak, total belanjaan bapak ini berapa ya tadi?" "Tiga puluh lima ribu rupiah kak." "Oh ini, saya yang bayar saja kalau gitu." Sarka mengeluarkan uang pas, ia menoleh ke arah bapak tua di sampingnya yang menatapnya dengan ekspresi yang bahagia. Sarka mengangguk kecil seraya tersenyum. Setelah itu, Sarka keluar dari dalam supermarket tersebut. Ketika hendak melangkah ke arah motornya, Sarka terhenti lantaran tangannya dipegang oleh seseorang. Dan saat ia menoleh ke belakang, rupanya bapak yang tadi. "Mas, bapak mau berterima kasih karena masnya mau bantu bapak barusan." Sarka tersenyum ramah. "Iya pak, nggak pa-pa kok. Saya juga senang bisa menolong bapak." "Bapak baru pertama kali pergi ke supermarket, rupanya beda ya mas kayak warung biasa. Di sini nggak bisa ngutang dulu." "Beda pak, kebijakan supermarket memang kayak gitu. Saya pamit pergi dulu ya pak? Saya lagi buru-buru soalnya." "Eh mas, tunggu dulu. Nama masnya siapa?" Bapak tersebut mencegah langkah Sarka. "Nama saya Sarka pak. Bapak sendiri?" Sarka balik bertanya. "Nama bapak Rahmat." Di dalam kelas, Sarka masih duduk di bangku dengan tubuh yang terguncang lemas. Wajahnya semakin memucat saja. Ia ingat sekarang, ingat bahwa ia pernah bertemu dengan seorang laki-laki paruh baya bernama Rahmat. Sarka tidak tahu bahwa Rahmat yang dimaksud adalah ayah dari Vina, teman kelasnya. Entahlah, ingatan itu tiba-tiba saja mampir dengan sendirinya. Sarka berkelana dalam pikirannya sendiri. Tatapannya nampak semakin kosong. Bulu kuduknya sudah meremang sedari tadi. Jadi, Rahmat yang dimaksud buku aneh itu adalah ayah Vina, dan Rahmat sudah meninggal. Begitulah informasi yang Sarka dapatkan. Dari sini, Sarka bisa menarik kesimpulan bahwa buku itu memang sangat menyeramkan. Jantung Sarka semakin terpompa jelas. Semuanya semakin jelas saja. Nama siapapun yang tertulis menggunakan darah dibuku catatan Sarka, hal itu sudah pasti orang yang dimaksud akan meregang nyawanya. Dan Sarka semakin ngeri memikirkan hal itu. "Sar, lo kenapa?" Edo mendekat ke arah Sarka seraya mengguncang bahu sohibnya tersebut. "Muka lo pucat banget, lo sakit? Mau gue anterin ke UKS?" Sarka mendongak, menatap Edo dengan sorot matanya yang serius. Menelan ludahnya dengan kasar, Sarka pun berkata. "Gawat Do," ujarnya dengan suara serak. "Gawat kenapa?" tanya Edo dengan air muka yang mendadak ikut serius. Ia ikut duduk di kursi. "Ada apa Sar?" "Ada apaan?" Nadine mendekat ke arah Sarka dan Edo, ia langsung mengajukan pertanyaan karena kedua cowok itu tiba-tiba saja sedang membicarakan sesuatu yang sepertinya serius. "Nggak tahu Dine, tanya Sarka aja tuh. Ada apaan sih Sar?" tanya Edo sekali lagi. "Ayo, kita ke rooftop." Sarka langsung berdiri dari duduknya. Lalu ia menatap Nadine dan Edo seraya bergantian. "Ada hal penting yang mau gue sampaikan sama kalian. Ini perlu dibahas sekarang." Tanpa pikir panjang dan banyak mengajukan protes atau pertanyaan lain, Edo dan Nadine langsung mengangguk begitu saja. Sarka mengangguk pelan. "Kita masih ada waktu," ucapnya pelan sebelum ia berbalik badan dan diikuti Nadine dan Edo dari belakang. Mereka bertiga berjalan dengan langkah cepat. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rooftop sekolah yang pagi hari seperti ini tentu saja sepi. "Kenapa Ka? Apa yang mau lo omongin ke kita berdua?" tanya Nadine sambil menunjuk Edo. Edo mengangguk pelan sebagai pendukung pertanyaan dari Nadine. "Sebelum gue ngomong ke inti masalah, gue mau ngasih tau ke lo berdua kalau ..." Mendadak saja Sarka merasa tenggorakan sangat sakit. Ia kesulitan mengucapkan lanjutan kalimatnya. Menelan ludahnya dengan kasar, Sarka berusaha untuk tenang. "Kalau apa Sar?" sambar Edo, penasaran. Ia menatap Sarka dengan sorot mata lurus, begitupun dengan adine. "Kalau ... Kalau buku itu kembali ke kamar gue." Sarka akhirnya bisa menyelesaikan ucapannya. Ia dapat melihat raut wajah penuh keterkejutan dari Edo dan Nadine. Edo membelalakkan matanya, sedangkan Nadine membekap mulutnya. "Lo serius Ka?" tanya Nadine. "Dine, buat apa gue minta lo berdua pergi jauh-jauh ke rooftop cuma mau bicarain omong kosong doang? Dan tujuan gue ke sini agar pembicaraan kita nggak didengar oleh orang lain." "Tapi kenapa bisa Sar? Buku itu kan udah dibuang ke tempat pembuangan sampah waktu itu. Kenapa bisa ada di kamar lo?" "Buku itu bukan buku biasa," sambung Nadine. "Ya, gue juga berpikiran yang sama. Buku itu memang aneh dan menyeramkan dari awal." Sarka setuju dengan ucapan Nadine, kepalanya mengangguk pelan. "Dan pertanyaan gue cuma satu, kenapa buku itu bisa balik? Gimana caranya?" "Karena itu memang bukan sembarang buku. Jadi nggak aneh lagi kalah buku itu balik lagi ke kamar lo Sar. Bukannya sebelumnya juga gitu, kan?" Sarka mengangguk mantap. "Gue awalnya nggak tahu. Waktu gue sadar, rupanya buku itu ada di meja belajar gue saat gue bangun jam tiga pagi karena mimpi buruk." "Terus?" "Dan lo berdua tahu? Mimpi gue itu sama kayak mimpi yang sebelumnya." Sarka menghela napas panjang. "Mimpi ditempat gelap yang itu, kan? Terus lo ketemu sama hantu jahat yang pakai pakaian serba merah," ucap Nadine. Edo segera menyambung. "Dan hantu perempuan dengan wajah nyeremin itu minta lo balikin sesuatu. Tapi lo nggak paham apa yang mesti dikembalikan karena lo nggak minta apa-apa dari hantu itu." "Ya, lo berdua benar. Mimpi itu lagi yang menyerang gue tadi malam. Persis banget, nggak ada yang kurang sama sekali. Dan gue nggak tau maksud mimpi aneh itu apa." "Terus gimana lagi Sar? Masalah utama yang lo omongin itu apa?" "Gini, setelah gue mimpi buruk itu. Gue niatnya mau pergi ke dapur buat ngambil minum karena tenggorakan gue kering banget. Tapi, saat gue bangun dan mau jalan, gue nggak sengaja nyenggol buku aneh itu sampai jatuh ke lantai. Dan saat itulah gue tahu kalau buku itu kembali ke kamar gue." "Lo kaget nggak Ka?" tanya Nadine. "Bukan kaget lagi, gue langsung ketakutan dan lempar buku itu. Tapi beberapa saat setelah itu gue nyoba nenangin diri gue. Kemudian gue memberanikan diri ngambil buku itu." Sarka menjeda ceritanya untuk mengambil napas. Ia memperhatikan wajah Edo dan Nadine yang semakin serius. "Selanjutnya ... Gue buka buku itu. Dan lo berdua tau? Dibawah nama Metta dan Arial, ada satu nama lagi yang tertulis." Edo langsung dibuat syok, kembali bola matanya membelalak lebar. "Ada lagi?" Sarka menganggukkan kepalanya. Nadine ikut mengajukan pertanyaan. "Terus tulisan nama itu ditulis pake darah lagi nggak Ka?" "Iya, ada nama satu lagi dan ditulis menggunakan darah. Tapi, tulisan itu masih baru banget. Darahnya belum kering, warnanya juga masih merah pekat. Dan baunya emang bau darah Dine, Do." "Itu artinya ... Tulisan itu baru dibuat!" "Tunggu dulu, apa ini ada hubungannya dengan mimpi buruk lo Ka? Secara juga lo baru bangun tidur karena mimpi aneh lo itu, terus buku itu ada dikamar lo. Dan buku misterius itu baru munculin nama orang lain, pakai darah juga, tapi darahnya belum kering. Bukankah itu cukup masuk akal?" Edo memperhatikan Nadine. "Maksud lo, nama-nama orang yang tertulis di buku itu baru muncul setelah Sarka mimpi buruk?" "Iya, itu maksud gue. Bisa jadi, kan? Ya emang belum membuktikan apa-apa ucapan gue. Tapi menurut gue masuk akal kok." Sarka mendesah panjang. "Entahlah, gue nggak tau soal itu. Tapi apa yang lo katakan emang bisa saja alasannya itu Dine." "Terus siapa nama orang yang ditulis di buku itu Sar? Dan buku itu sekarang ada di mana?" "Nama yang tertulis di sana ... Rahmat." "APA?!" secara serempak, Edo dan Nadine berkata dengan keras. Mereka berdua saling pandang sejenak, sebelum akhirnya memusatkan seluruh perhatiannya ke arah Sarka lagi. "Rahmat? Bokapnya Vina?" Nadine mencicit lirih. Edo setuju, ia menganggukkan kepalanya. "Dan bokapnya Vina sekarang udah meninggal. Itu artinya ...." Sarka langsung menyambung. "Itu artinya, siapapun nama yang tertulis pake darah dibuku itu, nggak lama lagi orang itu bakal meninggal dunia." "Benar, itu yang gue pikirin. Dua nama sebelumnya juga udah meninggal dunia. Metta dan Arial, dua-duanya tertulis dibuku itu. Dan sekarang mereka udah nggak ada. Terus muncul satu nama lagi, Rahmat, dan bokapnya Vina udah meninggal." Sarka teringat sesuatu. Ia menjentikkan jarinya. "Dan setiap orang itu meninggal, gue selalu nyium bau busuk dan lihat bayangan hitam." "Sore ini kita sekelas mau pergi berziarah ke rumah Vina," ujar Nadine. "Ya, gue bakal ikut dan juga mau membuktikan apakah aroma bayangan itu bakal muncul lagi atau enggak di sana." Sarka mengucapkannya dengan sangat mantap. "Dan jika memang ada, untuk selanjutnya gue bakal semakin hati-hati. Lo berdua bersedia bantuin gue cari tahu masalah ini berasal dari mana? Dan mengungkap misteri ini?" Edo dan Nadine mengangguk kompak. "Gue bakal bantuin lo Sar." "Gue juga!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN