28. DIBAKAR

1747 Kata
Dengan napas tersengal-sengal, Sarka duduk di kasur. Ia baru saja diserang oleh mimpi buruk yang begitu mirip dengan mimpi waktu itu. Mimpi ketika di mana Sarka berada di tempat gelap gulita, lalu ia menjumpai cahaya merah yang rupanya adalah sesosok makhluk perempuan dengan wajah menyeramkan dan berpakaian panjang serba merah. Tidak hanya itu, yang paling Sarka tidak tahu maksudnya adalah sesosok perempuan itu meminta Sarka mengembalikan sesuatu. Sesuatu apa yang dia maksudkan? Sarka tidak tahu. Jantung Sarka masih terpompa dengan cepat. Ia melirik jam dinding, pukul tiga pagi. Sarka mengelap keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Sumpah, mimpi itu sangat menyeramkan. Sarka bahkan masih merasa takut sendiri. "Gue harus tenang, itu cuma mimpi." Sarka berkata pada dirinya sendiri, meyakinkan apabila ia tidak perlu repot-repot memikirkan soal mimpi itu lebih lanjut. Ya, itu hanya mimpi, Sarka tidak mau memikirkannya lebih jauh lagi. Sarka menarik napas dalam-dalam agar dirinya bisa tenang. Setelah lumayan menguasai diri, cowok itu menyibak selimut. Tenggorakannya terasa kering, Sarka perlu ke dapur untuk mengambil air minum. Tadi malam ia kelupaan membawa gelas ke dalam kamar. Dan ketika Sarka hendak melangkah, tidak sengaja pinggangnya menyenggol buku yang berada di atas meja belajarnya hingga buku itu jatuh di lantai. "AAAAAAAA!" Sarka refleks berteriak kencang lantaran terkejut. Ia mundur ke belakang sampai jatuh tersungkur. Tatapannya mengarah ke buku yang terjatuh di lantai. "Ini nggak mungkin!" Sarka berkata dengan bibir bergetar. Ketakutan mulai menerjangnya lagi. Sarka bergerak mundur. Buku itu sudah kembali ke sini. Kali ini Sarka tidak mungkin salah ingat dan salah membuang buku. Buku catatan aneh miliknya sudah dibuang ke pembuangan sampah yang ada di sekolah. Tapi kenapa buku itu bisa balik ke sini lagi? Barulah sekarang Sarka lebih percaya lagi bahwa ada yang tidak beres dengan bukunya itu. Sarka tidak mungkin salah lihat. Tarikan napasnya memberat, tubuhnya bergetar dan mendadak saja Sarka merasa bahwa bulu kuduknya meremang. Sarka masih diam di tempat. Ia tidak bergerak karena merasa takut sendiri. Hingga pada akhirnya, ia mengumpulkan keberanian. Sambil memejamkan matanya, Sarka menyedot napas sebanyak mungkin. Lalu ia pun menggeser posisinya untuk mendekat ke arah buku itu. Tidak salah lagi, itu memang buku misterius miliknya. Menelan salivanya susah payah, Sarka perlahan membuka buku tersebut. Ia hanya ingin memastikan saja apabila buku itu masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada nama lain yang tertulis menggunakan darah di sana. Tapi, begitu Sarka membuka buku tersebut, tercium bau amis dari darah. Jantung Sarka semakin terpompa cepat. Tatapannya tidak mau lepas dari buku ditangannya ini. Detik berlanjut, hingga akhirnya Sarka membuka halaman di mana nama Metta dan Arial tertulis di sana. Dan kini, dibawah nama kedua orang yang sudah meninggal tersebut, tertulis satu nama lagi. Sarka kaget, napasnya sempat berhenti ditenggorakan. Dengan mata melotot dan bibir pucatnya yang bergetar, Sarka perlahan menutup buku itu lagi dan melemparnya jauh-jauh. "Rahmat? Dia siapa?" Sarka bergumam pelan. Ya, buku itu menampilkan nama Rahmat di bawah nama Arial. Seperti sebelumnya, tulisannya pun dibentuk menggunakan darah. Bedanya, nama Rahmat kali ini darahnya masih segar dan tercium sangat tajam. Warnanya juga merah kental. Bahkan, karena darahnya masih cair, tulisan itu meleleh ke bawah. Sarka buru-buru keluar dari kamar lantaran ketakutan. Ia berlari pergi ke dapur dan mengambil minum. Sarka duduk di kursi meja makan. Ia menenggak habis minuman dari dalam gelasnya. Dengan was-was, Sarka menolehkan wajahnya ke arah belakang, ke arah kamarnya berada. Buku itu masih berada di dalam. "Rahmat siapa yang buku itu maksud? Gue nggak kenal." Kembali Sarka berbicara pada dirinya sendiri. Ia menunduk dengan pikirannya yang melayang entah ke mana. Sarka sudah berpikir lebih dari sepuluh menit untuk mencari tahu dan mengingat-ingat apakah ia pernah berkenalan atau bertemu dengan orang bernama Rahmat. Tapi, hasilnya tidak membuahkan apa-apa. Nihil. Sarka merasa bahwa ia tidak kenal dengan nama itu. "Itu artinya Rahmat ini bakal meninggal dunia?" ujar Sarka pelan. Ia membelalakkan matanya. Kemudian kepalanya menggeleng cepat. "Nggak, itu belum tentu terjadi. Nggak, gue harus berpikir positif." Sarka meyakinkan dirinya sendiri. Namun, dari dalam lubuk hatinya ia merasa terganggu dan tidak yakin dengan ucapan dirinya barusan. Bagaimana tidak, dua bukti sebelumnya menentang ucapan Sarka saat ini. Metta dan Arial meninggal dunia dan nama keduanya tertulis dibuku tersebut. Sedangkan sekarang, Rahmat pun tertulis di buku miliknya. Bagaimana Sarka bisa berpikir positif? Semuanya terlalu kacau. Jika memang orang bernama Rahmat ini akan meninggal, itu artinya ... Buku itu benar-benar harus segera dilenyapkan, bukan hanya sekadar dibuang saja. Mendadak saja sebuah ide brilian masuk ke dalam tempurung kepada Sarka. Cowok itu berdiri dari duduknya dan kembali ke dalam kamar. Dengan cepat, ia menyambar buku aneh yang masih tergeletak di lantai. Sarka kemudian keluar dari kamar lagi dan pergi ke dapur untuk mengambil korek api. Selajutnya, setelah ia menemukan apa yang dicari, Sarka langsung keluar dari rumah. Sekarang jam sudah menunjukan pukul empat pagi kurang sepuluh menit. Sarka melawan rasa takutnya. Sesaat setelah posisinya sudah berada di luar rumah, cowok itu menyalakan korek api dan membakar buku itu. Karena hanya membuangnya saja buku misterius itu bisa kembali, melenyapkannya adalah pilihan yang bisa diambil satu-satunya. Dan Sarka akan melakukan itu. Ia akan membakar buku aneh ini hingga lebur menjadi abu. Ya, ini adalah ide yang bagus dan masuk akal. Dengan ini, buku itu tidak akan bisa kembali lagi karena wujudnya sudah tidak ada. Senyuman Sarka mengembang lebar ketika buku itu sudah sepenuhnya dilahap oleh si jago merah. "Gue harap, kejadian nggak mengenakan nggak bakal terjadi lagi." Sarka berbicara sepelan mungkin. Tidak mau berlama-lama di luar karena udara terasa sangat dingin, Sarka pun kembali masuk ke dalam rumah. Setelah itu, Sarka memutuskan untuk tidak tidur lagi karena sebentar lagi subuh, tanggung jika Sarka harus memejamkan matanya. Cowok itu duduk di meja belajarnya. Sekelebat ia kembali memikirkan buku aneh itu lagi, tapi buru-buru Sarka menggeleng. Ia harus mengenyahkan pikiran itu. Sebagai bahan pengalih pikiran, cowok itu mengambil ponselnya yang berada di laci meja belajarnya. Sarka teringat akan kejadian kemarin sore, waktu itu ia tidak sengaja keceplosan mengatakan bahwa Nadine adalah seorang anak indigo dihadapan Edo, padahal ia tahu bahwa Nadine tidak mau orang lain tahu akan fakta itu. Tapi Sarka sudah telanjur mengatakannya. Dan Sarka berniat untuk meminta maaf soal itu. Sarka : Dine, gue mau minta maaf soal gue yang waktu itu keceplosan dihadapan Edo. Gue nggak sengaja, lo mau kan maafin gue? Ketika sudah berhasil mengetik pesan, Sarka pun langsung mengetuk tombel send. Pesan pun terkirim kepada Nadine. Diluar perkiraan Sarka, Nadine mengirim pesan balasan. Nadine : Iya, nggak pa-pa kok. Udah telanjur juga. Yang penting Edo udah janji nggak bakal ngasih tau siapa-siapa soal ini. Sarka : Iya, makasih lo udah mau maafin gue. Soal Edo, gue yakin dia bisa jaga rahasia. Gue kenal dia kayak apa orangnya. Lo tenang aja, lo nggak perlu khawatir. Nadine : Oke, sip deh. Ngomong-ngomong lo kok udah bangun? Sarka ingin mengetik pesan balasan untuk Nadine, memberitahu kepada cewek itu bahwa baru saja ia bermimpi soal mimpi yang sama seperti yang ia ceritakan kepada Nadine pada waktu itu. Juga ingin memberitahu bahwa buku itu kembali ke rumahnya, lalu ada nama Rahmat yang tertulis menggunakan darah segar yang masih bau amis di sana, juga tentang bahwa dirinya sudah membakar buku tersebut. Singkatnya, Sarka ingin membeberkan semua hal-hal yang ia alami satu jam ke belakang tadi. Tapi, Sarka urung melakukan itu. Mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu Nadine. Juga Sarka sendiri sebenernya malas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang pasti akan Nadine lontarkan. Jadilah Sarka memilih membalas pesan Nadine seadanya. Sarka : Udah biasa sih gue bangun jam segini. Sudah, Sarka mematikan ponselnya dan meletakkannya di atas meja belajarnya. Kemudian ia keluar lagi dari dalam kamar ketika suara adzan subuh berkumandang. Hari ini, Sarka dan Edo sampai di sekolah agak terlambat daripada biasanya. Hal itu dikarenakan Edo tidak menemukan buku paket bahasa Inggris. Tentu saja memerlukan waktu untuk mencari buku paket tersebut hingga akhirnya ketemu di lemari baju cowok bertubuh gemuk itu. Untung saja mereka masih sempat datang tepat waktu. Jika tidak, alamat mereka akan dihukum berjemur ditengah lapangan sambil hormat ke arah sang merah putih. Atau mungkin harus berlari keliling lapangan basket sebanyak sepuluh putaran. Atau yang lebih parah lagi, mereka berdua harus membersihkan toilet yang baunya bikin siapapun ingin mengeluarkan isi perutnya. "Sumpah ya, kalau tadi kita terlambat dan dihukum, gue bakal makan lo hidup-hidup Do." Sarka mengomel sambil berjalan menuju ke kelasnya, ia menatap Edo dengan tatapan kesal. "Ya maaf Sar, gue juga nggak ada niatan gini. Lagian kenapa dah buku paket gue ada di lemari baju? Aneh banget." "Makanya, lo harus udah nyiapin jadwal malam-malam, biar nggak keteteran kayak tadi. Udah tahu pak Usman bakal ngeluarin murid kalau nggak bawa buku paket. Lain kali lo harus lebih disiplin lagi." "Iya iya, nggak bakal terulang lagi kok." Edo menjawab dengan bibir mencebik dan matanya yang memutar malas. "Buset dah, berasa diceramahi gue." "Gue serius Do!" "Lah ... Gue juga Serius Sar. Lo tenang aja, yang kayak gini nggak bakal terulang lagi. Ayo ah buruan jalannya!" Edo langsung menarik tangan Sarka, menyeretnya begitu saja. Hingga akhirnya, mereka sudah sampai di dalam kelas. Sarka melihat teman-teman kelasnya sedang pada berkumpul membentuk kerumunan. Sarka menoleh ke arah Edo, "pada ngapain mereka Do?" tanyanya penasaran. Merasa tidak tahu, Edo mengendikkan bahunya. "Kenapa malah nanya gue? Gue juga nggak tau. Ayo kita ke sana!" "Oke!" Sarka mengangguk kecil. Kebetulan Sarka melihat Nadine yang posisinya tidak jauh darinya. Cewek itu juga terlihat sedang berada di kerumunan. Sarka mencolek bahu Nadine. Ketika Nadine menoleh dan sedikit tersenyum, Sarka langsung mengajukan pertanyaan. "Dine, ada apaan sih?" tanya Sarka ingin tahu. Edo menyambung. "Kok pada fokus banget kayaknya. Ada hal penting memangnya?" "Iya, kita lagi rundingan." "Rundingan?" Edo dan Sarka menjawab secara bersamaan. Keduanya saling pandang. Edo dengan keningnya yang menyerngit bingung, sedangkan Sarka menaikan satu alis tebalnya. "Soal apa?" tanya Sarka lagi, diperkuat oleh anggukan kepala dari Edo. "Kita semua rencananya mau ke rumah Vina." "Memangnya ada apa di rumahnya Vina?" Edo langsung menyerobot. Intan, salah satu teman kelas mereka, yang mendengar pembahasan itu langsung ikut nimbrung. Ia berkata pelan. "Pak Rahmat, ayahnya Vina meninggal dunia. Vina hari ini juga nggak berangkat. Dan kita semua berencana pergi ziarah ke rumahnya." "Iya, betul itu." Nadine menambahkan. "Pak Rah-Rahmat?" Mendadak saja mulut Sarka kering. Cowok itu menelan ludahnya dengan susah payah. "Ayah Vina meninggal dunia? Nama ayahnya pak Rahmat?" tanya Sarka. Intan dan Nadine menganggukkan kepalanya secara bersamaan. Dan saat itulah lutut Sarka langsung lemas. Wajahnya terlihat memucat. Tak kuat menahan tubuhnya, Sarka ambruk. Ia terduduk lemas di kursi. Pikiran Sarka langsung kosong.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN