22. SARKA MENGAKU

2273 Kata
"Maksudnya apaan Sarka? Kenapa nama Metta dan Arial tertulis di buku lo itu? Dan kenapa ... Tulisan itu baunya kayak darah?" Pertanyaan dari bibir Edo membuat Sarka tidak bisa menjawab. Jangankan Edo, Sarka sebagai pemilik buku itu juga tidak tahu apa maksudnya. Sarka menggeleng berulang kali. Ia memeluk lututnya. Edo mendekat ke arah Sarka. Ia memegang kedua pundak sahabatnya itu. "Sar ... Bisa lo ngomong sesuatu sama gue? Itu apaan yang tertulis di sana? Gue butuh jawaban dari lo." Sarka masih saja diam. Bibirnya bergetar semakin kencang, wajah Sarka juga terlihat lebih pucat lagi. Ia menggeleng keras. Tubuhnya semakin dipenuhi oleh keringat. Edo dapat merasakan tubuh Sarka sangat dingin. Benar-benar ada yang tidak beres di sini. "Sar, lo kenapa? Kenapa sejak tadi lo diam aja alih-alih jawab semua pertanyaan dari gue? Metta? Arial? Maksudnya apa? Mereka dua orang yang udah nggak ada, dan kenapa dibuku lo ada tulisan nama mereka? Dan yang lebih aneh lagi, kenapa tulisan itu baunya darah!" Edo semakin kuat mengguncang tubuh Sarka. "Gue ..." "Jawab pertanyaan gue Sarka!" "GUE JUGA NGGAK TAHU EDO!" Sarka berteriak kencang tepat di depan wajah Edo, ia mendorong Edo ke belakang. Napasnya semakin memburu kencang. Sarka merasa kepalanya semakin pusing saja. Ia pun akhirnya turun dan membuka jendela kamarnya agar udara segar bisa masuk. Sarka berdiri di depan jendela dengan mata terpejam, berusaha untuk tenang dan berpikir dengan kepala dingin. Sarka menatap ke luar jendela yang gelap. "Gue juga nggak tahu Do, gue nggak tahu kenapa ada nama mereka di sana," ujar Sarka tanpa menatap wajah Edo. "Sebelumya cuma ada nama Metta doang waktu gue lihat di gudang. Dan gue belum cerita soal ini sama lo. Tapi sekarang, ada nama Arial juga di sana. Jangan tanya gue karena gue juga nggak tau apa-apa." "Tapi itu buku punya lo Sar. Nggak salah kalau gue tanya sama lo. Kenapa bisa gitu? Gue bener kan kalau tulisan itu ditulis menggunakan darah? Tapi udah kering." Ucapan Edo menarik Sarka untuk berbalik badan. Perlahan, kepalanya mengangguk. "iya, gue pikir juga itu darah." "Kenapa Metta dan Arial?" "Gue nggak tahu!" "Dan kenapa cuma mereka doang yang ditulis di sana? Dan kebetulan lainnya, Metta dan Arial sudah nggak ada. Apa memang begitu? Tulisan itu muncul saat ada orang disekitar kita yang meninggal?" Sarka menggelengkan kepalanya sambil menunduk. "Bukan lo yang nulis kan Sar?" "Gila! Gue nggak mungkin nulis begituan! Buat apa? Lagian pakai darah apa gue nulisnya?" Kini, gantian Edo yang terdiam dengan bibir yang merapat. Sarka kembali mendekat ke arah Edo, ia duduk di kursi meja belajarnya. Sarka melirik buku catatan miliknya yang ia lempar tadi. Buku itu teronggok di sudut ruangan. Sarka tersenyum kecut. "Gue sadar kalau ada yang nggak beres selama ini semenjak gue bisa melihat lagi. Dari gue yang bisa lihat hantu, mimpi buruk yang aneh, nyium aroma busuk, lihat bayangan hitam pekat, sampai tertulisnya nama-nama orang yang meninggal dibuku gue. Ini aneh, tapi nyata! Gue nggak tahu gue udah buat kesalahan apa sampai-sampai gue bisa kayak gini. Gue muak Do! Terserah kalau lo nggak mau percaya sama gue." Edo mengerjapkan matanya, "tunggu Sar, barusan lo bilang apa? Lo bisa lihat han-hantu?" tanyanya takut-takut, ia menatap sekeliling kamar Sarka yang tiba-tiba terasa mencengkram. Tidak, ini hanya perasaannya saja. Edo menggeleng-gelengkan kepalanya, kembali ditatapnya wajah Sarka. "Sar? Kok diem aja? Gue nanya sama lo. Lo sekarang bisa lihat hantu emangnya? Lo Indihome?" "Indigo Do, bukan Indihome!" ralat Sarka. Kemudian ia mendesah kasar, sudah telanjur keceplosan, akhirnya Sarka mengaku juga. Kepalanya bergerak naik turun. "Iya, gue bisa lihat hantu." "APA LO BILANG?!" Edo refleks berteriak kencang. "Lo ... Lagi nggak bercanda kan Sar?" "Ini serius Do, dari tadi gue serius. Semenjak dapat donor mata, gue emang bisa lihat mereka yang nggak bisa lo lihat. Gue bisa lihat hantu." "Sar, lo bikin gue merinding! Bagaimana bisa lo bisa lihat hantu? Lo nggak takut?" "Gue sendiri pun bingung kenapa bisa kayak gini. Awalnya cuma perasaan gue aja, tapi tau-taunya emang gue bisa lihat hantu. Soal takut, gue pun takut sebenarnya. Tapi perlahan gue udah terbiasa dengan mereka." "Kenapa lo baru ngomong sekarang?!" "Karena gue nggak mau lo parno. Lihat? Sekarang lo yang malah ketakutan." Edo mendengkus. "Itu artinya, saat gue nyalin tugas lo sendirian di kelas waktu itu, dan lo keluar ninggalin gue, terus lo bilang kalau gue nggak sendirian di kelas, berarti itu benar Sar? Gue di kelas sama hantu?" "Iya, ada dipojok kelas. Lo berduaan sama dia waktu itu," jawab Sarka jujur. "Gila lo Sar!" Raut wajah Edo langsung memucat. "Gue nggak nyangka berduaan sama hantu waktu itu." "Nggak usah takut berlebihan gitu. Cuma anak kecil kok, dia juga diam aja di sana." "Ya tetap aja dia hantu dodol! Lo kan tahu sendiri gue takut yang begituan! Ah, lo mah ngeselin!" Edo tiba-tiba merajuk. Ia memalingkan wajahnya ke samping dengan tangan terlipat di depan d**a. "Oh ya Sar, gue ingat waktu lo katanya lihat nenek-nenek di pinggir jalan waktu pulang sekolah. Terus beberapa menit kemudian lo lihat nenek yang serupa." "Oh yang waktu itu." "Iya! Lo ingat, kan?" "Iya ingatlah." "Nah, bisa jadi nenek itu hantu! Gue nggak lihat soalnya. Kan katanya lo Indihome." "Indigo Do." "Eh iya, kan lo Indigo, jadi bisa jadi nenek itu beneran hantu." "Gue pikir juga begitu," sahut Sarka. "Lo ingat waktu pertama kali gue berangkat sekolah dan gue lihatin guru, yang kata lo guru baru, terus lo bilang namanya bu Indah." Edo mengangguk. "Iya ingat, terus-terus?" "Yang gue lihat bukan bu indah, tapi ..." "Tapi apa?" Edo penasaran, ia sudah menelan ludahnya dengan kasar. "Tiga anak kecil, wajahnya pucat semua, bukan cuma wajahnya sih, tapi semua badannya pucat kayak ditaburi bedak. Terus kepalanya plontos, dan telinganya agak panjang. Mereka becanda sambil ngikutin Bu Indah jalan." "ITU TUYUL MBAK YUL!" Edo langsung membekap mulutnya penuh dramatis. "Gila lo Sar, gue nggak kebayang kalo jadi lo yang tiba-tiba bisa lihat hantu. Aaargh! Bisa stress gue!" "Jangan keras-keras ngomongnya, entar datang." Sarka berbisik, yang segera dituruti Edo dengan cepat. Edo mengangguk setuju. "Duh Sar, gue jadi takut nih. Lo sih ah kenapa bisa lihat hantu segala?" "Lah ... Mana gue tahu? Gue juga nggak minta." "Jangan-jangan, di kamar lo ada hantunya juga lagi!" Edo menatap horor sekitarnya. Ia menelan salivanya lagi. Sarka geleng-geleng tak habis pikir dengan Edo, ia tersenyum tipis. "Tenang aja, di kamar gue aman kok. Di kamar bang Alan noh ada." "Di kamar bang Alan? Hantu apaan?" "Gue nggak mau nyebut, gue kasih ciri-cirinya aja deh." "Apaan Sar?" Sarka langsung menjawab. "Pakai pakaian panjang warna putih, rambutnya warna hitam panjang sampai punggung, bisa melayang." "ITU MBAK KUNTI!" Edo refleks berteriak lagi. Membuat Sarka melotot lebar karena Edo sudah berkata keras-keras seperti itu. "Hei, udah gue bilangin juga jangan teriak-teriak!" Sarka memperingati sambil menggeplak lengan Edo. "Nanti Gwen denger dan datang ke sini baru tahu rasa kamu." "Gwen?" "Itu namanya." "Sumpah Sar, rasanya gue mah pingsan aja kalau kayak gini. Kenapa sih lo bisa lihat mereka? Gue nggak suka!" Edo cemberut sambil mencak-mencak di atas kasur seperti cacing yang baru saja disiram air garam. "Gue takut yang begituan, tapi sahabat gue malah bisa lihat mereka. Nasib apa lagi ini ya Tuhan!" "Santai aja Do, tenang." "Nggak bisa!" Edo menyeletuk cepat. "Ngomong-ngomong bang Alan tahu nggak?" "Tahu kalau ada Gwen di kamarnya?" "Iya." Edo mengangguk. "Nggak tahu. Gue nggak ngomong, gue takut kalau abang gue takut kayak lo ini. Lagian gue sama Gwen temenan." "Lo temenan sama hantu? Dasar aneh!" "Dia baik, awalnya sih gue emang takut. Tapi Gwen enak diajak ngobrol, ya udah gue terima aja tawaran dari dia buat temenan." "Sumpah Sar, gue nggak bisa bayangin!" Sarka hanya terkekeh pelan. "Lo tahu Do, Gwen suka sama bang Alan." "Bang Alan disukai sama mbak Kunti?" "Jangan keras-keras, Gwen ada di kamar sebelah. Entar denger, lo habis sama dia. Dia nggak suka kalau disebut hantu, setan, atau sebagainya. Kalau marah, bisa kena juga lo Do." Sarka sengaja menggoda Edo. Ditakut-takuti seperti itu semakin membuat bulu kuduk Edo meremang. Cowok bertubuh gempal tersebut duduk mepet ke arah Sarka. "Lo jangan bikin gue makin takut Sar." "Tapi gue ngomong yang sebenarnya, Gwen nggak suka disebut kayak gitu." "Oke-oke gue paham. Tapi dia beneran suka sama bang Alan?" "Iya, makanya dia jadiin kamar bang Alan sebagai rumahnya. Naksir berat loh dia. Gwen selalu ngintip kalau abang gue lagi mandi, terus dia suka usil kalau bang Alan lagi tidur. Caper lah intinya, pengin diperhatiin. Dia lupa kalau bang Alan nggak bisa lihat dia." Sarka terkekeh pelan diakhir kalimatnya. Bergidik pelan, Edo berusaha untuk tenang dan tidak panik. "Gue nggak bisa bayangin kalau ada hantu yang suka sama gue." "Emangnya ada yang mau?" "s****n lo Sar!" Edo mengusap wajah Sarka dengan cepat. "Gini-gini juga gue pasti banyak yang suka, tapi cewek-cewek yang suka sama gue malu buat ngungkapin perasaannya. Nasib jadi cowok ganteng mah gini." "Pedenya nggak bisa didiskon ya kayaknya," sindir Sarka. "Udah deh Sar, jangan bikin gue takut lagi." "Oh ya Do, satu lagi yang harus lo tahu. Pohon besar punya pak Omar lo tahu, kan? Tetangga kita. Di sana juga ada loh." "Sarka g****k! Kenapa gue malah di kasih tahu dodol? Entar gue pulangnya takut anjir! Nggak mau tahu, lo harus temenin gue sampai rumah!" "Yeeee lo ini, badan segede gaban, nyalinya seupil. Iya iya, entar gue temenin pulang." Tidak mau diejek seperti itu, Edo membela diri. "Punya rasa takut kan berarti gue normal. Lagian siapa suruh lo cerita begituan? Udah tahu kalau gue ngeri, malah dibeberin semuanya. Dasar!" "Nanti Do, jangan pulang dulu, ya? Entar gue antar sampai rumah. Lo tenang aja. Gue masih bingung nih tentang buku gue itu. Bisa jadi kan nanti ada nama yang muncul lagi di sana? Yang ini gue beneran takut sumpah Do!" "Bisa jadi emang gitu Sar. Nanti kalau ada yang meninggal di sekitar kita, nama orangnya tertulis lagi di buku lo itu. Bukannya nyeremin?" "Lo ada saran nggak?" "Buang aja gimana? Lo udah nggak butuh buku itu lagi, kan? Kecuali kalau lo sayang buku itu dan masih suka nulis begituan." "Enggak! Gue nggak sesayang itu sama buku itu dan gue udah nggak nulis keseharian gue lagi di sana. Jadi, saran lo sepertinya bisa di pake." "Tunggu apa lagi? Buang sekarang aja!" Edo memerintah. "Sekarang?" "Emangnya mau kapan lagi?" Benar juga, Sarka pun langsung bergerak lincah dan mengambil buku catatan miliknya yang tergeletak mengenaskan di lantai. "Ayo Do, gue antar pulang sekalian mau buang buku ini." "Oke!" Edo melompat dari kasur Sarka, kemudian mereka berdua keluar dari kamar. Rumah sepi, ibunya Sarka masih di rumah tante Kiki. Sebelum sempat keluar dari rumah, langkah Sarka terhenti ketika mendengar sesuatu. "Sarka!" Sarka melihat Gwen yang berjalan ke arahnya. Tidak, Gwen melayang karena kakinya tidak menyentuh lantai. Sarka melihat Edo sekilas. "Iya Gwen, kenapa?" Mendengar Sarka yang menyebut nama Gwen, Edo langsung belingsatan. Cowok itu melotot kepada Sarka, dengan cepat ia berdiri di balik tubuh Sarka. "Saya mau nanya sama kamu, ini udah malam tapi abangmu kok belum pulang, ya? Saya sudah kangen sama my bebeb Alan tersayang." Gwen cemberut. "Bang Alan ada lemburan malam ini, balik tengah malam. Kamu tunggu aja sana di kamar," ujar Sarka. Sementara Edo yang merasa bahwa Sarka seperti sedang ngobrol dengan angin menganggap bahwa Sarka sangat aneh. Karena Edo tidak bisa melihat keberadaan Gwen! Edo tidak memiliki mata seperti Sarka. Tapi, tetap saja Edo merasa takut karena saat ini ia begitu dekat dengan hantu. "Duh ... Masih lama dong, ya? Ya udah lah, mau bagaimana lagi, kan?" Gwen pasrah, kemudian ia melihat Edo yang bersembunyi dibalik tubuh Sarka. "Itu siapa dibalik tubuhmu Sarka?" "Oh ini, dia Edo, temenku." Sarka menjawab, Edo melotot lebar. Edo menelan ludahnya dengan susah payah. "Dia kenapa?" "Takut sama kamu Gwen." "Takut? Apa-apaan itu? Saya cantik begini kok ditakuti, kalau takut mah sama Siti aja. Dia jauh lebih garang. Ya udah deh, saya balik ke kamar dulu kalau gitu." Gwen langsung berbalik badan, melayang masuk kembali ke kamar Alan, tanpa menunggu balasan dari Sarka. Sedangkan Sarka mengendikkan bahu tak peduli. "Gwen udah balik ke kamar Do," kata Sarka. "Udah aman." "Itu tadi lo beneran lagi ngomong sama hantu?" Edo seolah masih tidak percaya jika sohibnya ini memilik keahlian lain. "Gue ngerasa kalau lo kayak ngomong sama angin, )o ngomong sendirian. Lo kayak orang gila!" "Halah, nggak percaya ya udah. Ayo gue antar pulang." "Tapi ..." Sarka langsung menarik tangan Edo, menyeretnya keluar dari rumah. Hingga kemudian Sarka membuang buku catatan miliknya ke arah tong sampah yang ada di teras rumahnya, lalu ia melanjutkan mengantar Edo untuk balik ke rumahnya. "Gue kira lo cuma pura-pura waktu ngomong minta dianterin sampai rumah, eh tahunya beneran." Sarka menyeletuk sambil geleng-geleng kepala. "Kebangetan Do!" "Gue beneran takut dodol! Emangnya tadi Gwen ngomong apaan? Kenapa lo sebut-sebut gue segala?" Karena penasaran, Edo pun mengajukan pertanyaan. "Gwen nanya kenapa bang Alan belum pulang juga, ya udah gue jawab kalau bang Alan ada lemburan malam ini. Terus Gwen lihat lo yang ngumpet di belakang gue. Katanya lo salah tempat kalau mau takut, kata Gwen seharusnya lo nggak usah takut sama dia, yang harus lo takuti adalah mbak Kunti yang ada di pohon pak Omar, karena dia jauh lebih menakutkan daripada Gwen. Gwen sendiri aja takut." Bersamaan dengan itu, langkah mereka terhenti ketika menatap ke arah pohon yang dimaksud. Siti tidak ada di sana, entah ke mana hantu itu berada saat ini. Edo yang menyadari Sarka melihat ke arah pohon, lantas ia sudah merasa tanda-tanda tidak enak. "Sar, lo lihatin apaan? Jangan bilang kalau lo ..." "Udah, nggak ada apa-apa kok. Ayo lanjut jalan." Sarka menarik tangan Edo, kembali melanjutkan langkah menuju rumah cowok berbadan bengkak tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN