Sejak dua hari yang lalu, pada hari dimana Arial dinyatakan meninggal dunia karena disebabkan oleh lampu gantung yang menimpa tubuhnya, semua orang tidak berhenti membicarakan hal itu. Tentu saja, Kematian Arial tidak dapat disangka-sangka, bocah tidak berdosa itu harus pulang ke pangkuan Tuhan. Tante Kiki begitu terpukul sejak putranya meninggal. Beliau tidak berhenti menangis karena ditinggal oleh putra semata wayangnya. Bahkan, tante Kiki seringkali berteriak memanggil-manggil nama anaknya. Tidak hanya itu saja, tante Kiki masih suka pingsan. Om Irman sebagai suami tante Kiki, juga ikut terpukul atas meninggal putranya yang paling ia sayangi, tapi om Irman pandai menyembunyikan rasa sedihnya. Om Irman masih bisa tegar dan memenangkan istrinya dan membujuk rante Kiki agar bisa mengikhlaskan Arial.
"Sarka!" Langkah Sarka terhenti ketika telinganya mendengar seseorang memanggil namanya. Sarka menoleh ke belakang, terlihat Edo yang berjalan sedikit berlari ke arahnya.
"Kenapa Do?" tanya Sarka, kembali melanjutkan langkahnya.
"Gue mampir ke rumah lo ya? Gue mau main, bosen nih di rumah. Habis ini nggak tahu mau ngapain," ujar Edo sambil menyengir. "Gimana? Boleh, kan?" Edo terkekeh pelan.
Sarka mengangguk pelan. "ya boleh-boleh aja, mau langsung mampir?"
"Iyalah langsung, gue mager pulang dulu."
Sarka mengiyakan saja, ia menatap Edo lagi. "Lo nggak mau ganti baju dulu gitu?" tanya Sarka kemudian, ia menatap Edo yang masih memakai sarung, baju kokoh berserta peci. Begitupun juga Sarka yang memakai pakaian serupa karena mereka berdua habis tahlilan di rumahnya tante Kiki.
"Lah kenapa emangnya? Nggak boleh?" tanya Edo. Sedangkan Sarka langsung mendengkus pendek.
Kepala Sarka menggeleng pendek. "Tersesah lo deh Do." Sarka tidak mau memperpanjang masalah yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai dan masuk ke dalam kamar Sarka.
Selagi Sarka mengganti pakaiannya, Edo melepas sarung, menyisakan celana kolor yang ia pakai. Edo kemudian duduk di tepi kasur milik Sarka.
"Eh Sar, bang Alan belum pulang emangnya? Kok rumah lo kelihatan sepi banget barusan." Edo bertanya kepada Sarka yang sedang melipat sarungnya.
Sarka melirik Edo sekilas, sebelum akhirnya ia kembali berkutat pada aktivitasnya. Sarka meletakkan lipatan sarung ke dalam lemarinya lagi bersamaan dengan ia yang membalas pertanyaan dari bibir Edo. "Bang Alan sore tadi udah nelpon gue, katanya ada lemburan. Kenapa emangnya?"
"Oh ... Ya enggak pa-pa, gue cuma nanya aja." Edo menyeletuk, kemudian tidak sengaja matanya menangkap sesuatu yang menarik di atas meja belajar Sarka.
Edo pun lantas beranjak dari kasur dan langsung menyambar sebuah benda yang tidak asing baginya. Dan ingatan Edo kembali terputar pada masa SMP. Edo terkekeh sebentar.
"Sar, lo masih nulis ginian juga ternyata? Gue pikir lo udah nggak minat lagi." Edo mengangkat buku catatan pribadi milik Sarka tinggi-tinggi ke udara. Sarka melotot lebar, buru-buru ia bergerak dan merebut buku tersebut dari tangan Edo.
"Gue nggak nulis lagi sejak lulus SMP. Jangan ngaco deh lo Do," tukas Sarka kesal. Ia malu sendiri diingatkan seperti ini. Wajahnya sudah memanas dan memerah. Apalagi Edo yang selalu membulinya habis-habisan dari dulu tentang kegiatan Sarka yang satu ini.
"Terus? Itu buku kenapa bisa ada di rak lo?" Edo masih saja menaruh rasa curiga. Membuat Sarka bertambah sebal. Sarka memutar bola matanya malas setelah mendengkus panjang. "Halah ... Nggak usah ngeles mulu ah, jujur aja kenapa sih? Sama gue juga, paling banter juga gue ngejek lo." Edo tertawa terbahak.
Sementara itu Sarka mendecakkan lidah dan duduk di bibir kasur. "Sialaan lo, gue nggak nulis tentang diri gue lagi ya dibuku itu. Kalo nggak percaya lo cek aja sendiri. Kemarin gue nemu buku ini di gudang waktu bersih-bersih, terus gue ambil."
"Ah masa? Yang bener?" Edo semakin gencar menggoda Sarka.
"Terserah lo Do, terserah! Gue nggak peduli lagi." Sarka menatap Edo dengan mata sinisnya, sebelum akhirnya ia naik dan merangkak ke tengah kasur.
"Dih ... baper, gue cuma becanda aja Sar. Iya-iya, gue percaya kok sama lo."
"Lo ngeselin Do!"
"Eh Sar, ngomong-ngomong, gue kasihan sama Arial. Dia masih kecil loh, tapi ..." Edo tidak melanjutkan kalimatnya, ia mendesah panjang. Edo pikir, Sarka juga tahu dengan apa yang akan ia ucapkan selanjutnya.
"Takdir nggak ada yang tahu Do." Sarka membalas pelan. "Mau gimana lagi? Kita sebagai manusia nggak bisa ngelak dari takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan." Sarka berbicara sambil merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Edo melakukan hal yang serupa, ia telentang di samping Sarka.
"Bisa gitu ya Sar, gimana sih sebenarnya? Lo kan ada di sana waktu itu. Ayo ceritain ke gue."
Sarka mendesah panjang sebelum memulai. "Ya gitu Do, gue juga kaget dan nggak percaya ketika tiba-tiba aja lampu gantung diatas Arial bisa jatuh gitu aja. Terus Arial meninggal dan semua orang langsung histeris. Sedangkan gue cuma diem aja, tapi lutut gue gemetaran. Sumpah Do, tidak disangka-sangka banget bisa kayak gitu. Kalau waktu itu lo ada di sana, gue jamin lo bakal teriak dan kaget juga kayak yang lain."
"Ya, gue pikir juga begitu. Gue nggak bisa bayangin sih. Tante Kiki dan om Irman pasti terpuruk banget."
"Pastinya." Sarka menyetujui ucapan Edo. Setelah itu, Edo dan Sarka terdiam. Mereka fokus pada pikiran masing-masing. Sampai ketika Sarka mengingat sesuatu. Cowok itu segara duduk bersila di atas kasur.
"Eh Do, gue mau cerita sama lo. Menurut gue ini aneh banget."
"Apaan?" Edo memiringkan tubuhnya, satu tangannya menganggah kepalanya. Ia menatap Sarka serius, menunggu Sarka mengatakan sesuatu.
"Lo tahu, disaat yang bersamaan Arial meninggal. Gue nyium bau busuk itu lagi Do! Sumpah deh, gue nggak bohong sama lo. Aroma yang gue cium itu sama seperti aroma yang gue rasakan waktu lihat Metta gantung diri di gudang! Gue nggak mungkin ngarang Do. Gue lagi serius."
"Bau busuk itu?"
"Iya, tapi lagi-lagi cuma gue yang bisa nyium. Aneh banget Do. Gue nggak bisa mikir. Gue nggak maksa lo buat percaya sama omongan gue atau enggak. Tapi yang pasti, gue ngomong sesuai sama faktanya. Gue nggak lagi main-main."
Edo menarik napas dalam-dalam, kemudian ia ikut duduk. Ditatapnya Sarka lagi. "Dari raut wajah lo, sepertinya /o nggak lagi main-main Sar."
"Gue emang nggak main-main! Gue serius! Buat apa gue bohong kayak gitu? Nggak penting tahu nggak?"
Edo berpikir sejenak, "baunya busuk banget emang?"
"Banget Do, sumpah gue nggak bohong. Gue juga mual banget, gue mau muntah. Untung aja gue masih bisa tahan."
"Tunggu, lo kan ngerasain aroma busuk itu pada saat Arial meninggal juga, kan?"
Sarka membenarkan, ia mengangguk mantap.
"Berarti, bau yang sama pada saat Metta meninggal, bau busuk yang lo rasakan bukan dari tubuh Metta?"
"Kan gue udah bilang, bukan dari Metta asalnya. Kenapa? Ini sebenarnya ada apa Do?" Sarka bertanya, ia meminta pendapat dari Edo. Barangkali Edo bisa mengatakan alasan yang cukup logis.
Namun, Edo mendesah dan menggeleng pelan. "Entahlah Sar, gue juga ikut bingung. Kenapa aroma itu datang pas ada orang yang meninggal. Dan kenapa yang cuma bisa nyium baunya cuma elo doang? Sebenarnya maksudnya apaan?"
"Nggak tahu Do, gue juga pusing. Lo aja bingung, apalagi gue?" Sarka memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening. "Gue takut Do, gue takut ada apa-apa. Lo tahu, ini aneh banget. Okelah, gue yakin lo memang nggak sepenuhnya percaya sama gue. Ini memang nggak masuk di akal. Gue juga nggak percaya sama kejadian aneh ini!"
Edo mengangguk. Memang itulah yang ia rasakan. Ia percaya dengan Sarka, tapi tidak seratus persen percaya begitu saja. Bagaimana tidak, yang Sarka bicarakan seperti hanya omong kosong dan mengada-ngada.
"Oh ya satu lagi!"
"Apa Sar?"
"Pada saat yang bersamaan aroma nggak sedap itu datang, gue lihat ada bayangan hitam besar banget Do!"
"Apalagi itu?"
"Gue juga nggak tahu, bayangan itu tiba-tiba bergerak keluar dari rumah tante Kiki. Besar banget Do. Dan warnanya bukan kayak bayangan biasanya. Lihat tuh bayangan lo sama gue." Sarka menunjukan bayang-bayang tubuhnya dan Edo yang ada di lantai. "Lihat, warnanya nggak terlalu hitam, kan? Ini beda Do, yang gue lihat hitam banget. Kayak ..." Sarka berpikir sejenak, matanya terpejam rapat. "Kayak ... Pada saat mati listrik! Iya, saat mati listrik dan lo ada di kamar. Itu dia Do! Warnanya sehitam itu! Gelap banget!"
"Sumpah Sar, aneh banget tahu nggak?" Edo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Gue percaya sama lo, tapi ... Yang lo omongin ..."
"Kayak omong kosong, aneh, nggak masuk akal, nggak mungkin terjadi, dan mengada-ngada. Itu, kan? Iya Do, gue tahu! Gue tahu ini memang nggak bisa diterima diakal kita. Tapi memang itulah yang kenyataannya! Gue nggak bohong!" Sarka frustrasi sendiri. Napasnya kini tersendat. Sarka mengacak rambutnya. "Aaargh!"
Edo menatap Sarka yang terlihat begitu kesal. Sarka bahkan mencak-mencak diatas kasurnya, sampai tidak sadar bahwa ia menendang buku catatan lusuh miliknya.
"Buku lo jatuh tuh!" Edo mengadu.
Dada Sarka bergerak naik turun. Ia pun segera mengambil buku tersebut yang terjatuh ke lantai dan terbuka. Sarka berhasil mengambilnya. Dan ketika ia melihat lembar buku tersebut. Bola mata Sarka nyaris keluar dari tempatnya, matanya membelalak lebar. Wajahnya langsung memucat dengan tangan yang bergetar. Sarka tiba-tiba saja kesulitan bernapas.
"Sar? Lo kenapa?" Edo melihat gelagat sahabatnya yang tiba-tiba saya terasa aneh. Sarka seperti syok baru saja melihat hantu, menurut Edo. Edo mendekat ke arah Sarka, dan ikut melihat apa yang sedang pelototi Sarka sedari tadi.
Edo ikutan terkejut. Cowok itu nyaris saja terjungkal dari kasur. Ia menatap Sarka dengan pandangan penuh banyak pertanyaan. Bibir Edo bergetar, jantungnya terpompa keras.
Menelan ludahnya dengan kasar, Edo bertanya pelan. "Sar, itu ... Apaan?" tanyanya.
Belum sempat Sarka menjawab pertanyaan dari Edo, ia sudah melempar buku itu ke sembarang arah sampai membentur tembok. Sarka terguncang, keringat dingin sudah mulai membasahi wajahnya.
Sarka menatap Edo. "Ini nggak mungkin Do! Ini aneh!"
"Maksudnya apaan Sarka? Kenapa nama Metta dan Arial tertulis di buku lo itu? Dan kenapa ... Tulisan itu baunya kayak darah?"