"Sarka, ayo buruan pergi. Nanti keburu terlambat." Dari dalam kamarnya, Sarka dapat mendengar teriakan ibunya dari luar. Sarka sedang memilih baju yang pas dan cocok di dalam lemari.
Sarka membalas perkataan Maria tidak kalah keras, "bentar Bu, lagi nyari baju nih. Ibu kalau mau ke rumah tante Kiki duluan juga nggak pa-pa kok, nanti Sarka pergi sendiri," ujarnya cepat. Selanjutnya Sarka tidak mendengar balasan dari ibunya. Ia mengendikkan bahu dan lanjut memiliki baju yang akan ia kenakan untuk datang ke pesta ulang tahun bocah yang baru menginjak umur empat tahun. Ya, bukan masalah besar. Sarka hanya menuruti permintaan Maria. Lagipula tante Kiki katanya juga mau berbicara dengannya.
Terdengar pintu yang dibuka dari luar, ibunya menyembulkan kepalanya masuk ke dalam kamar Sarka. Sarka menatap ibunya bingung.
"Beneran ibu berangkat dulu nih?" tanya Maria, meminta ijin kepada Sarka. "Kamu nggak pa-pa nanti ke rumah tante Kiki sendirian?"
Tanpa menatap ibunya karena sedang memilih baju, Sarka pun bergumam pendek. "Hmmm."
"Kamu yakin?"
Sarka mendesah pelan, ia menoleh ke belakang dan menatap ibunya. "Iya ibu, ibu berangkat duluan aja. Lagian rumah tangga Kiki cuma ada di sebelah. Nggak ada tiga menit juga udah nyampe. Ibu berangkat dulu aja kalau itu yang ibu mau."
"Baiklah, ibu berangkat sekarang aja. Sekalian mau bantu-bantu. Kamu datang loh."
"Iya, pasti datang kok. Ini lagi milih baju dulu."
"Ya udah, ibu berangkat sekarang. Oh iya, kado punyamu ada di meja depan tuh. Nanti ambil sendiri, ya?"
"Iya." Sarka membalasnya singkat. Kemudian Maria kembali menutup pintu kamar Sarka dan langsung pergi dari rumah. Sarka kesal karena belum juga menemukan pakaian yang cocok untuk ia kenakan. Alhasil, a menarik salah satu kaos dengan asal.
"Ah bodo amat deh, gue cuma mau pergi ke ulang tahun anak kecil, bukan mau kencan!" Sarka berbicara pada dirinya sendiri. Ia dengan cepat memakai kaos tersebut. Setelah itu, Sarka menyisir rambutnya. Ya, sudah selesai. Sarka pun keluar dari kamar dan melangkah cepat menuju tempat di mana kadonya berada.
"Loh, katanya ada di meja depan. Kok nggak ada?" Sarka bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap bingung ke arah meja. Matanya mengerjap, kemudian ia menatap sekelilingnya. Sarka mendesah pelan dan menggelengkan kepalanya ketika melihat kado yang sudah dibungkus itu ada di sofa, bukan di meja. "Dasar ibu." Sarka mengomel. Lalu ia memutuskan untuk keluar dari rumah.
Sarka pun akhirnya sampai juga. Sudah ada banyak orang di sana. Dan Sarka merasa bahwa hanya dirinya saja remaja tanggung di tempat itu. Kebanyakan hanya diisi oleh ibu-ibu dan anak-anaknya. Sarka lumayan kenal mereka. Kebanyakan dari tetangga rumah dan satu lingkungan dengannya.
Acara sudah akan dimulai sebentar lagi. Dan Sarka hanya diam, ia seperti terjebak di tempat itu. Tentu saja, tidak ada anak seumuran dengannya di sini. Tidak ada yang dapat Sarka ajak mengobrol. Masa sih Sarka harus mengobrol dengan ibu-ibu yang suka bergosip itu? Sarka tidak yakin, lagipula mau mengobrol tentang apa? Pasti tidak nyambung!
"Pantas aja Edo nggak mau ke sini pas gue ajak," gumam Sarka pelan. Ia duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana. Sarka sedikit merasa bosan. Tapi, ia sudah terlanjur di sini, tidak mungkin ia keluar dan pulang ke rumah. Lagipula ia diundang khusus oleh tante Kiki. Akan sangat tidak sopan apabila Sarka tidak datang. Sarka juga tidak enak tentunya.
"Eh Sarka, kamu datang juga?" Tiba-tiba Sarka terkejut ketika tante Kiki duduk di sebelahnya. Sarka lumayan kaget, ia sedang melamun barusan.
Sarka berusaha tenang dan menguasai dirinya. Ia nyengir pelan, kemudian mengangguk. "Iya tante, kata ibu tante yang nyuruh Sarka datang ke sini, kan?"
"Tante pikir kamu bakal malu di sini, tapi berhubung kamu sudah datang, tante senang kamu ada di sini."
"Iya tan," jawab Sarka sambil tersenyum. Ia menatap sekelilingnya, pesta yang diadakan tante Kiki tergolong mewah. Tidak ayal, tante Kiki orang kaya, suaminya juga pengusaha sukses. Tidak heran jika pesta ulang tahun Arial akan diadakan begitu besar dan meriah. Tempatnya juga luas.
"Rame banget ya tan," ujar Sarka, berbasa-basi lagi. Ia tidak mungkin hanya diam saja. Pasti akan terasa canggung. Ia menatap tante Kiki yang sedang tertawa kecil.
"Iya, ini kan hari spesial buat Arial. Tante pengin Arial seneng, nggak pa-pa ngeluarin duit lebih banyak sedikit." Tante Kiki mengambil jeda sejenak untuk menarik napas, kemudian ia melanjutkan. "Oh iya Sarka, tante mau ngucapin makasih banyak sama kamu, ya? Untung saja ada kamu saat itu, tante nggak tahu gimana jadinya kalau kamu nggak ada di sana. Pasti Arial ...." Tante Kiki menggelengkan kepalanya. "Tante nggak bisa bayangin Sarka. Makasih sekali lagi, ya? Berkat kamu, Arial baik-baik saja."
"Sama-sama tante, nggak masalah kok. Sarka turut senang Arial nggak kenapa-napa tan," Sarka tersenyum lagi. Entah kenapa dadanya merasa sejuk bisa menolong orang lain. Ada perasaan bangga tersendiri.
"Mama!" Seorang bocah dengan pipi tembam dan berpakaian rapi tiba-tiba saja berlari dan berteriak. Itu Arial. Ia menyerbu ke arah tante Kiki dan langsung memeluk mamanya itu.
"Eh Arial, ini kakak ada hadiah buat kamu." Sarka merasa ini waktu yang tepat untuk memberikan sebuah kado yang sudah ia beli malam itu, malam setelah habis mengerjakan tugas kelompok dengan Edo dan Nadine.
"Wah ... Ada hadiah nih. Ayo ambil, itu buat Arial." Tante Kiki berbicara kepada putranya sambil menunjuk sebuah kado yang Arial sodorkan. Dengan malu-malu, Arial pun kemudian mengambilnya juga. Sarka tersenyum lembut.
"Bilang apa dulu sama kakaknya?" Tante Kiki menuntun Arial untuk mengatakan sesuatu.
"Telima kacih," jawab Arial pelan, sebelum akhirnya bocah tersebut berlari dari sana. Sarka dan tante Kiki saling pandang, lalu tawa pelan keduanya mengudara.
"Malu dia tante."
"Iya, malu. Duh ... Kamu seharusnya nggak usah bawa kado segala."
"Enggak pa-pa tante, malah enggak enak ke sini cuma bawa tangan kosong."
"Kamu ini, ya udah deh." Tante Kiki kemudian mengeluarkan dompetnya, lalu menarik beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam sana. "Ini ..." Ia menyodorkannya kepada Sarka.
Sarka yang bingung, lantas menatap uang ditangan tante Kiki dan wajah tante Kiki secara bergantian. Ia tidak tahu maksudnya apa. "Apa tante?" tanya Sarka sopan.
"Sebagai ucapan terima kasih tante karena kamu udah nyelamatin Arial, mohon diterima, ya?" Tante Kiki mengangguk pelan.
Sarka merasa salah jika ia menerima pemberian tante Kiki tersebut. Lagipula, uang itu terlalu banyak. Sarka sama sekali tidak mengharapkan balas budi.
Sarka mendesah panjang, kepalanya menggeleng pelan. Matanya pun terpejam rapat. "Nggak tante, jangan!" Sarka kembali menggeleng-gelengkan kepalanya lebih mantap. "Sarka nggak mau nerima uang itu. Mending tante simpan aja buat keperluan lain. Sarka nolong Arial bukan mau minta imbalan kok tan."
"Tante tahu Sarka, tante paham kok. Kamu anak baik, kamu nolong Arial karena kamu ngerasa wajib menolongnya. Tapi, tante juga pengin ngasih kamu hadiah. Tante mohon jangan tolak ya, biar kita sama-sama enak aja."
Sarka tetap pada pendiriannya. Ia menggeleng lagi. Napasnya terhela panjang. "Nggak tante, Sarka tetap nggak mau. Sarka ikhlas kok nolong Arial. Sarka nggak bisa nerima uang pemberian Tante."
"Sarka ..."
"Tante, jangan dibahas lagi, ya? Udah, tante simpan aja uang itu. Sarka nggak mau nerima. Dan Sarka harap tante Kiki bisa mengerti."
Sarka dapat melihat rante Kiki yang menghela napas panjang. Kemudian kepalanya mengangguk, membuat senyuman Sarka merekah lebar. Wanita muda itu menatap Sarka sambil tersenyum. "Baiklah kalau kamu nggak mau nerima uang ini, tante juga nggak bisa maksa. Tapi Sarka, kalau kamu butuh bantuan, kamu bisa ngomong sama tante. Tante akan semaksimal mungkin bantuin kamu."
Sarka merasa bahwa ini jauh lebih baik. Ia pun langsung menyetujuinya. Anggukan kepalanya sebagai jawaban jika Sarka setuju. "Baik Tante, Sarka bakal ingat itu."
"Sekali lagi tante terima kasih banyak ya Sarka."
"Sama-sama tante."
Tante Kiki kemudian berdiri dari duduknya. "Tamunya udah datang semua kayaknya. Tante mau mulai sekarang aja. Kamu jangan lupa gabung sama yang lain ya Sarka?"
"Baik rante."
Dan kemudian, acara ulang tahun Arial berjalan sebagaimana mestinya. Tante Kiki menyewa MC dan badut agar pesta semakin meriah. Sarka juga turut terhibur dan merasa senang. Dan kini, tinggal acara potong kue dan tiup lilin. Sarka melihat dari kejauhan, tapi ia masih dapat menyaksikannya dengan sangat jelas.
Semua orang tertawa bahagia. Apalagi ketika Arial tidak mau dibantu memotong kue oleh tante Kiki setelah lagu tiup lilin sudah selesai. Arial memaksa ingin memotong kue sendiri. Bocah kecil tersebut sangat mandiri, pikir Sarka.
Pesta ulang tahun tersebut seharusnya berjalan normal, seperti yang diharapkan semua orang. Namun, tidak ada yang tahu kedepannya seperti apa. Kejadian nahas tiba-tiba saja terjadi. Dan itu tidak bisa dielakkan begitu saja.
Lampu mewah penuh berlian begitu besar yang menggantung di langit-langit tiba-tiba saja terlepas begitu saja, lalu jatuh tepat menimpa Arial yang ada dibawahnya. Sebuah teriakan langsung saja menggema.
Sarka sendiri terkejut bukan main. Ia melolot dan menahan napasnya. Teriakan histeris terus berlangsung, dan kini teriakan itu bercampur tangisan pilu. Arial meninggal di tempat karena tubuhnya dijauhi oleh benda yang begitu besar dan berat. Darah dari tubuh bocah kecil tersebut ada di lantai, menggenang begitu saja. Cairan merah tersebut membuat siapa saja pasti ngeri melihatnya.
Semuanya histeris, banyak yang langsung pulang karena merasa takut. Tante Kiki pingsan di tempat ketika melihat anaknya meninggal begitu tragis. Dengan langkah bergetar, Sarka mencoba melihatnya langsung. Dan lutut Sarka langsung lemas, Arial terlihat tidak bergerak dengan lampu berat dan mewah itu menindih tubuh mungilnya.
Sarka bergidik ngeri, ia ngilu sendiri. Bau amis dari darah Arial yang menggenang dilantai membuatnya mual. Sebuah tangisan, teriakan, dan percakapan dari orang-orang yang begitu bising, semakin membuat suasana semakin kacau.
Pesta ulang tahun yang seharusnya berjalan baik, meriah, dan menyenangkan, kini malah berubah menjadikan tragedi yang sangat menyeramkan. Sarka bergerak mundur dengan napas yang terputus-putus. Sarka merasa kejadian ini begitu mendadak dan masih sulit ia terima.
Sampai akhirnya, Sarka terdiam di tempatnya ketika hidungnya mencium aroma begitu busuk. Sarka melotot lebar dan menahan napasnya. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak dua kali lipat lebih besar.
Aroma ini ...
Sarka ingat aroma busuk ini. Sarka rasanya ingin memuntahkan isi perutnya. Ia mual karena bau busuk itu sangat-sangat membuatnya kesulitan untuk bernapas. Tidak tahan, Sarka langsung menutup hidupnya. Tapi sayang, meskipun Sarka sudah menutup keluar masuknya udara, aroma menyebalkan itu masih saja dapat tercium.
Aroma yang Sarka rasakan sekarang pernah Sarka alami sebelumnya. Yaitu pada saat Metta ditemukan meninggal gantung diri di gudang sekolah. Sekarang Sarka benar, dugaannya rupanya tidak meleset. Aroma busuk ini tidak datang dari tubuh Metta yang sudah membusuk. Itu lain! Buktinya saja, sekarang Sarka dapat menciumnya lagi.
Sarka berkali-kali ingin muntah rasanya. Ditengah orang-orang yang masih sibuk dengan meninggalnya Arial yang begitu tidak wajar, Sarka melihat sebuah bayangan hitam yang baru saja berjalan beberapa meter di hadapannya.
"Bayangan apa itu?" Sarka berbicara pada dirinya. Sarka merasa bulu kuduknya langsung meremang. Bayangan yang ia lihat barusan sangatlah besar dan berwarna hitam pekat. Aneh sekali. Sarka baru melihatnya.
Diserang oleh rasa penasaran yang semakin mencekiknya, membuat Sarka memupuk keberanian. Ia kemudian melangkah mengikuti ke mana aroma busuk dan bayangan tadi berjalan. Sungguh, ini sangat aneh dan ganjil. Sarka tidak tahu kenapa hal semacam ini bisa terjadi.
Begitu sudah sampai di luar rumah tante Kiki, bayangan hitam yang sangat besar tadi sudah tidak ada. Bayangan itu menghilang, bersamaan dengan bau busuk yang perlahan sudah mulai sirna. Sarka hendak masuk ke dalam rumah tante Kiki lagi ketika matanya menangkap om Irman, ayah Arial, yang baru saja turun dari mobil dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Lampu mewah yang terbuat dari besi dan berlian itu, lampu yang harganya selangit, lampu yang tidak bisa dimiliki oleh semua orang, sukses membuat orang-orang ketakutan setengah mati karena sudah jatuh dan menghilangkan nyawa seorang anak kecil yang belum tahu apa-apa.
Peristiwa ini membuat Sarka bertanya-tanya. Sebenernya ada apa dengan semua ini?