Satu bulan kemudian ... Dengan perasaan hancur dan rasa bersalah yang begitu membengkak lebar, lengkap dengan air mata kepedihan dan napas yang terputus-putus, Sarka terduduk lemas di tanah. Dadanya terasa sakit, dunianya hancur berkeping-keping. Semangat hidupnya nyaris menghilang begitu saja. Marah, kesal, sedih, hancur, kecewa, semuanya membaur menjadi satu didalam ulu hatinya. Semua ini tidak akan terjadi jika bukan karenanya, berulang kali Sarka menyalahkan dirinya, memukul dadanya dengan sangat keras, merutuki dirinya yang begitu bodoh. Karena dirinya, semua ini terjadi, semua terjadi karena Sarka, ia tidak bisa berhenti untuk menyalahkan dirinya. Sesak tidak mau menghilang dari dadanya, tangis Sarka semakin terdengar kencang. Dengan mata sembabnya, Sarka menatap nisan dihadapan

