Kau Memang Menyukai Materi

1799 Kata
Semua orang membutuhkan uang untuk bertahan hidup di dunia ini, meski kau bilang uang bukanlah segalanya, namun ada beberapa hal yang tak bisa kau lakukan tanpa uang. Semua tak bisa kau beli dengan uang berlimpah, namun semua tak bisa kau dapatkan juga tanpanya. Bukan salahmu bila pada akhirnya kau seakan menjadikan uang sebagai dewa yang kau puja. Kau hanya muak dengan kehidupan yang kau jalani, perjalanan yang menuntutmu untuk mencari sedikit lebih banyak uang untuk mendapatkan kenyamanan yang kau impikan. Amanda terbangun lebih dulu dan terpaku menatap wajah polos Rai yang tengah tertidur pulas. Bila ditatap seperti ini, Amanda seakan tak percaya jika pria itu adalah seorang yang kaku dan terlihat tak berperasaan. Ia tahu jika dirinya dengan mudah digantikan dengan orang lain, namun Amanda tak yakin jika dirinya bisa menggantikan pria itu dengan siapapun di dalam hidupnya. Amanda memang wanita murahaan dan banyak orang yang mampu menggantikan tugasnya, namun ia ta menyangka jika dalam tiga hari pria itu sudah mencari pengganti. Kini kenyataan pahit semakin membuatnya tak ingin terbangun dari tidur. Sungguh menyakitkan kehidupan seperti ini. Di mana semua kenyataan hidup membuatmu tak ingin terbagun dan bernapas. Tak ada kebahagiaan sedikitpun, membuatmu ingin menyerah. Amanda tersenyum tipis dan menggeleng. Ia tak boleh menyerah. Masih ada ibu yang harus ia lindungi, meski terus menolak untuk diselamatkan. Ia tak memiliki orang lain selain wanita renta itu. Amanda berdiri dengan perlahan, namun pergelangan tangannya dicengkram, membuatnya menghentikan gerakannya. Ia mengarahkan pandangan pada Rai. Pria itu menatapnya lekat. Amanda tak mampu menebak apa yang ada di pikiran pria itu. “Jangan kemana-mana. Tetap tidur di sini. Mana tahu aku masih mau melakukannya lagi. Sudah tiga hari kamu nggak melayaniku, jadi aku akan meminta jatah lebih.” Ucap pria itu dengan wajah datar yang membuat Amanda langsung kembali berbaring. Secara tiba-tiba, pria itu membawa Amanda ke dalam dekapannya, wanita itu tak mampu mencegah jantungnya yang tak tahu malu dan berdebar tak menentu di dalam pelukan pria itu. Amanda tahu, jika dirinya tak lebih dari seorang wanita bayaran, akan tetapi dirinya pun tak bisa mencegah hatinya yang bergejolak meski ada rasa perih yang turut hadir dan bercampur menjadi satu di dalam hatinya. “Apa kamu nggak bekerja hari ini?” Amanda bertanya tanpa mengadahkan wajah untuk meneliti mimic wajah Rai. Ia terlalu takut untuk melihat kebenaran yang terlukis jelas di sana. “Aku mengambil libur dan kamu jangan ke mana-mana. Aku ingin kita seperti ini untuk lebih lama lagi,” Rai mengeratkan dekapannya. Amanda tersenyum tipis. Pria itu pasti sama sepertinya, orang yang berpura-pura kuat, meski tak sekuat seperti yang terlihat. Pria itu mungkin sama sepertinya, seorang yang tak suka ditinggalkan sendiri. Amanda tak lagi mau berpikir dan menikmati kesemuan itu. Ia seharusnya merasa tersinggung karena diperlakukan seperti seorang yang tak memiliki harga, namun Amanda tahu diri. Ia tak memiliki hak untuk meminta diperlakukan lebih baik lagi pada Rai. Di dalam dekapan Rai, Amanda mampu menemukan kenyamanan yang membuatnya dengan mudah kembali tertidur. Dirinya mulai takut dengan semua keterbiasaan dan kenyamanan yang diterimanya itu. Takut-takut bila suatu hari nanti, ia kehilangan semuanya. Amanda tak mungkin bisa kembali bangkit dan dirinya pun akan semakin hancur. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah dirinya menjatuhkan diri ke dalam jurang dan membiarkan diri mati dengan mengenaskan di dalam jurang kehancuran itu? Amanda terbangun untuk yang kedua kalinya dan ia sudah tak menemukan Rai di sisinya. Pria itu pasti sudah bangun lebih dulu. Perutnya yang berbunyi memaksa Amanda segera membersihkan diri. Ia harus segera memasak untuk mengisi perut mereka. Selang beberapa menit Amanda turun ke lantai satu. Aroma kopi tercium olehnya begitu ia tiba di dapur. Ia menatap ke sekeliling dan tak mampu menemukan Rai di sana. Ia menebak, jika pria itu pasti pergi dari rumah. Belum sempat Amanda berpikir lebih lanjut, suara langkah seseorang yang mendekat membuat wanita itu menoleh ke belakang punggungnya. “Kamu sudah bangun?” Wajah pria itu terlihat tenang seakan tak ada apa pun yang terjadi di antara mereka. Amanda memang bodoh. Memangnya apa yang akan terjadi di antara mereka? Toh, tak pernah ada hubungan yang mengharuskan penjelasan ataupun penyelesaian di antara keduanya. Hal ini adalah wajar. Apa hak Amanda untuk mengharapkan lebih dari hubungan penuh kebohongan di antara keduanya? Mereka hanya saling memanfaatkan satu sama lain. “Tunggulah sebentar dan aku akan memasak untuk kita berdua.” Rai menggeleng. “Nggak perlu memasak karena aku sudah membeli makanan.” Rai mengangkat tangannya yang menenteng plastic dan menunjukkannya pada Amanda. Wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk. Rai duduk di kursi yang berada di balik meja, sementara Amanda mengambilkan peralatan makan untuk mereka berdua. Dalam diam Rai memperhatikan gerak-gerik Amanda. Sungguh, wanita itu membuat pikirannya begitu kacau dengan sikapnya yang semena-mena dan kerap menyimpan rahasia darinya. Seperti sekarang, wanita itu tampak biasa saja dan melayaninya seperti tak melakukan kesalahan. Wanita itu bahkan tak berniat menjelaskan apa pun padanya. “Kemana kamu menghilang beberapa hari ini? Ponselmu pun nggak bisa dihubungi?” Rai tak mampu lagi menahan rasa penasaran yang menyiksa benaknya beberapa hari ini. Amanda tersenyum cangung di hadapan Rai. Ia tak tahu bagaimana dirinya harus menjelaskan apa yang terjadi. Tak mungkin juga bila ia mengatakan jika semua ini adalah ulah ayahnya. Ia tak ingin dikasihani dan tak berpikir juga bila Rai akan mengerti dengan kisah hidupnya. “Aku menjualnya,” jawab Amanda pada akhirnya. Pria itu tercengang sesaat, lalu tawa sinisnya terdengar meyayat hati Amanda. Pria itu meletakkan sendok dan menatap Amanda lekat-lekat. Pria itu seakan tengah menghakiminya dengan tatapan merendahkan itu. “Ya, pasti hanya karena materi. Selalu tentang materi bila itu berkaitan denganmu.” Pria itu tersenyum miring, “Harga ponsel itu nggak murah. Apa yang kamu lakukan dengan uangnya?” Lanjut pria itu seraya menatap Amanda dengan tatapan meneliti. Tak ada apa pun yang bisa Amanda jaga dari dirinya dan tak perlu menepiskan pandangan buruk orang-orang tentangnya karena mereka yang tidak menyukaimu tak akan pernah mau mempercayai kebenaran yang kau sampaikan. Begitupun dengan Rai. Amanda yakin, bila Rai hanya semakin merendahkannya bila tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Jadi … kamu memilih tetap diam dan nggak mau menjelaskan apa pun padaku?” Rai menatap Amanda dengan tatapan penuh tanya, sedang yang ditanya hanya menunduk. “Aku butuh uang,” ucap Amanda dengan sisa keberanian yang ia miliki. Dirinya tahu, bila inilah kesempatan yang ia miliki untuk mendapatkan uang dan membayar semua tagihan rumah sakit. Ia tak ‘kan membiarkan ibunya yang susah itu menanggung semua karenanya. Pria itu tertawa keras, hingga perutnya berguncang. Ia merasa konyol dan begitu bodoh saat berpikir Amanda tak seperti wanita-wanita lain di luar sana. Ia lupa, jika wanita itu memang menyukai uang dan alasan mereka bersama juga karena materi semata. “Kamu perlu uang untuk apa?” Pria itu butuh alasan logis untuk mengerti apa yang sebenarnya tengah terjadi. Ia heran mengapa Amanda selalu terlihat begitu membutuhkan uang. Terkadang wanita itu bersikap seperti ia mampu melakukan apa pun demi uang, namun ada saat di mana Amanda terlihat begitu tulus dan tak memperlukan materi. “Aku hanya butuh. Apa kamu bisa meminjamkanku uang dan kamu bisa memotong dari gaji yang akan kamu berikan padaku setiap bulannya.” Amanda menatap pria itu memohon, berharap pria itu tak banyak bertanya dan memberikan apa yang ia minta. Pria itu tertawa mengejek, namun diabaikan oleh Amanda. Ia tak punya hak untuk merasa sakit hati. Selalu uang yang akan membawa Amanda kembali. “Berapa yang kamu butuhkan?” “Sepuluh juta,” jawab Amanda datar. Ia harus meninggalkan uang untuk ibunya. Mereka terlalu miskin, hingga tak mempunyai asuransi. Dengan uang itu, Amanda juga bisa mendaftarkan asuransi untuk ibunya agar tak perlu berhutang sana-sini hanya untuk mendapatkan perawatan di rumah sakit. Tak mungkin bila Dika bisa terus membantu atau Rai bisa terus-terusan memberi uang tanpa banyak bertanya. Amanda tak bisa bergantung pada orang lain, selain dirinya sendiri. Ia tak punya siapapun di dunia ini. “Apa ada jaminan jika kamu nggak akan menghilang lagi?” Amanda tersenyum miris. Tentu saja pria itu membutuhkan jaminan agar Amanda tak melanggar kesepakatan, namun dirinya tak mempunyai apa pun yang bisa diberikan sebagai jaminan. Ia tak memiliki benda berharga, sesuatu yang bernilai, yang ia miliki hanyalah tubuhnya yang sudah menjadi milik Rai. Amanda menunduk karena merasa bingung. “Kamu nggak memiliki jaminan apa pun, bukan? Bagaimana bila kamu kembali menghilang dan nggak bisa ditemukan? Aku juga rasanya sudah kapok memberimu ponsel karena benda itu seakan tak memiliki fungsi apa pun di tanganmu.” Amanda merasa tersudut dan mengadahkan wajahnya untuk menatap Rai yang menatapnya dingin. Pria itu pasti berpikiran buruk tentangnya. Bila dirinya ada di posisi Rai, mungkin Amanda akan berpikiran sama. Tak ada kebaikan di dalam dirinya. “Aku akan ikut mencicil ponsel yang sudah kujual. Aku akan bekerja keras.” Rai menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. “Apa sesuatu terjadi pada keluargamu sehingga kamu memerlukan uang sebanyak itu?” Rai menatap Amanda dengan tatapan meneliti, sedang yang ditatap hanya bisa bungkam. Ia tak mau Rai tahu apa pun tentang kekacauan yang terjadi di dalam keluarganya. “Kenapa kamu begitu tertarik dengan masalah keluargaku? Nggak bisakah kamu menganggapnya seperti itu dan memberianku uang?” Rai terpaku, lalu segera berdiri. Ia berjalan ke lantai dua rumah mereka, membiarkan Amanda sendiri dengan segala pemikiran yang merasuki benaknya. Ia harus berani demi kelangsungan hidupnya. Ia hanya coba bertahan hidup, sebagaimana manusia pada umumnya. Tidak lama menunggu, Rai sudah kembali ke meja makan dan mengulurkan amplop coklat pada Amanda. “Semua uang cash. Jangan lupakan janjimu untuk bekerja keras dan nggak lagi menghilang. Untuk ponsel itu nggak usah dikembalikan karena kamu sudah membayarnya dengan pelayananmu yang memuaskan.” Ada rasa jijik pada diri sendiri yang menjalar ke sanubari Amanda saat mendengarkan perkataan pria itu tentang pelayanan yang memuaskan. Ternyata, dirinya memang tak bisa lebih dari sekadar wanita bayarann bagi pria itu. “Terima kasih banyak. Aku berjanji untuk nggak pernah lagi menghilang tanpa kabar. Sekarang, aku perlu pergi ke suatu tempat dengan semua uang ini. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan agar aku bisa terus bersamamu dan nggak harus lagi menghilang.” “Kamu akan pergi berapa hari?” pria itu menatap Amanda tajam, “Kamu akan kembali?” Amanda mengangguk. “Kamu bisa memegang janjiku. Aku akan kembali.” Rai terdiam dan menatap Amanda meneliti. Ia tak mempunyai pilihan lain selain mempercayai Amanda. “Temani aku makan sebelum kamu pergi.” Pria itu lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, “Bawa ponsel ini dan angkat telpon bila aku menghubungimu. Jangan mencoba untuk mengabaikanku atau kamu akan menyesalinya,” lanjut pria itu dengan penuh pengancaman. Amanda mengangguk mengerti. Ia tak pernah diberikan pilihan. Amanda mengangguk dan keduanya makan dalam hening. Materi memang bukan segalanya, namun kini Amanda terlihat bagai seorang yang memuja materi. Ia tahu, apa pun yang dikatakannya, tak ‘kan bisa membuat Rai mempercayainya. Inilah dirinya, hanya ada kegelapan di sekitarnya dan ia tak akan pernah menemukan bahagianya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN