Hanya Sebatas Hasrat

1721 Kata
Mimpi indah kerap membuatmu tak mau terbangun dari tidur, kau berharap bisa selamanya memejamkan mata hanya untuk melihat ilusi yang tercipta. Namun sayang, tak seperti itu mimpi dan tidur bekerja, akan ada saat di mana kau terbangun dan kehilangan semuanya. Meski berat, kau tak bisa menghindar, kau harus bisa menerima apa kenyataan itu. Sudah tiga hari Amanda di rawat di rumah sakit dan ibunya dengan setia merawatnya, meski Amanda tahu bila wanita itu sedang tak sehat. Amanda terus-terusan mendengarkan batuk wanita itu yang membuat hati Amanda semakin teriris perih. Mengapa ibunya terus menyiksanya seperti ini? Mengapa ia tak mau membiarkan Amanda menyelamatkannya? “Aku akan keluar rumah sakit hari ini, Bu. Aku harus segera kembali bekerja,” ucap Amanda memecahkan keheningan di antara mereka. Wanita itu menatap Amanda sekilas dan mengangguk, lalu ia menyuapi Amanda denagn bubur yang disiapkan pihak rumah sakit. “Kata dokter juga luka di kepalaku sudah mulai mengering dan aku bisa rawat jalan.” Amanda menimpali, “Aku hanya butuh obat luar untuk kepalaku. Beruntung saja pria itu sedang mabuk dan nggak bisa memukul dengan benar, jika tidak aku mungkin sudah meninggal,” lanjut Amanda menyindir. Ia meneliti ibunya yang langsung menunduk dan tak berani menatapnya. Amanda menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. “Bila aku ada uang, aku akan mengirimkannya pada ibu, tapi aku nggak akan mau kembali ke rumah itu lagi, kecuali ibu mau pergi bersamaku.” Lanjut Amanda. Ia tahu, bila kembali ke tempat itu tak pernah berakhir baik baginya. Tak ada yang peduli, sedang Amanda tak bisa menjadi sama seperti mereka. “Maafkan Ibu.” Ucap wanita itu setengah berbisik. Amanda mampu merasakan keputusasaan dalam nada suara wanita itu. Setiap orang pastilah dihadapkan dengan pilihan dalam hidup mereka dan mungkin ini sudah menjadi pilihan ibunya. Setiap orang pastilah tahu sebab dan akibat dari pilihan yang mereka ambil, Amanda yakin ibunya pun tahu akan hal itu. “Nggak ada yang perlu dimaafkan karena ibu nggak bersalah. Aku yang bersalah,” Amanda tersenyum kecut, “Aku nggak bisa membahagiakan Ibu.” Wanita itu meletakkan piring di meja samping ranjang dan menggeleng. Ia menggenggam tangan Amanda erat-erat. “Pasti berat sekali ya, Da.” Air mata wanita itu mengalir deras, “Pasti berat bagimu memiliki ibu seperti ibumu ini. Jika di hidup yang akan datang itu benar adanya, tolong jangan memilih untuk menjadi anak ibu.” Wanita itu semakin terisak. Amanda pun tak mampu mencegah air matanya ikut jatuh. “Aku mau makan lagi, Bu.” Amanda tak ingin merespon perkataan wanita itu. Ia tahu, wanita itu tak bersalah. Semua kekacauan dalam hidup mereka terjadi hanya karena pria itu. Monster yang kembali dengan segala kegilaan yang membuat mereka perlahan kehilangan semua arti hidup dan semangat. Mungkin inilah jalan hidup mereka. Kenyataan yang tak mungkin bisa dihindari, meski kau berusaha sekuatmu untuk pergi dari kenyataan itu. Amanda menikmati sisa-sisa kebersamaan dengan ibunya itu dalam kesunyian. Dalam hati kecilnya ia berharap kelak, mereka berdua akan kembali seperti dulu, saat pria itu pergi dari hidup mereka dan membuat keduanya merasakan kebahagiaan. Ya, andai waktu bisa diputar. Langit senja telah berpulang saat Amanda tiba di rumah yang sudah ditinggalkannya tanpa kabar selama beberapa hari. Ada rasa takut yang merasuki sanubarinya untuk masuk ke dalam sana. Otaknya pun terus memikirkan berbagai alasan yang bisa digunakan sebagai alasan untuk kepergian dirinya, namun ia tak mampu menemukan satu alasanpun. Lagipula, ia tak yakin bila Rai merasa kehilangan atau mencarinya. Toh hanya dirinya sendiri yang larut dalam semu. Amanda menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Ia memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah. Kegelapan menyambutnya begitu ia membuka pintu rumah, menandakan pria itu belum kembali dari kantor. Amanda meraba tembok dan menyalakan lampu ruangan. Rumah itu masih rapi seperti biasa, menandakan pemiliknya menyukai kerapian. “Bagaimana aku harus menghadapinya? Alasan apa yang bisa kuberikan?” Amanda bergumam pelan, lalu dirinya memutuskan untuk tak lagi berpikir. Amanda segera berjalan ke arah kamar yang diberikan Rai untuknya dan terkejut saat kamarnya tampak berantakan. Mengapa hanya kamarnya yang tampak begitu kacau? Ah … mungkin pria itu berpikir Amanda akan lagi dari kesepakatan mereka, hingga memeriksa semua barang-barangnya. Tampaknya, tak banyak yang berubah dari hubungan mereka. Amanda tersenyum tipis, lalu mulai membersihkan kamarnya. Memasukkan kembali beberapa pakaian ke dalam lemari dan merapikan tempat tidurnya yang tampak kacau. Amanda tak berani besar kepala dengan berpikir jika selama kepergiannya, pria itu tidur di kamarnya. Setelah membersihkan kamar. Amanda memutuskan untuk pergi ke kamar Rai yang tampak rapi seperti biasa. Hanya pakaian kotor yang sudah memenuhi keranjang yang ada di kamar mandi. Amanda mengambilnya, memasukkan semuanya ke dalam mesin cuci, dan hendak melakukan pekerjaannya dengan baik. Pria itu pasti marah saat menemukan dirinya yang tiba-tiba kembali hadir setelah pergi tanpa kabar. Andai saja, ia masih memiliki ponsel, maka ia bisa memberitahukan kepergiannya kepada pria itu. Ada rasa bersalah yang mengganjal hatinya. Sembari menunggu pakaian di mesin cuci selesai dicuci, Amanda menyiapkan makan malam untuk pria itu. Ia tak tahu apakah pria itu masih mau menyentuh makanannya. Yang pasti dirinya harus melakukan semua kewajibannya. Selang beberapa menit, semua pekerjaan Amanda sudah selesai. Wanita itu memutuskan untuk duduk di ruang tamu dan menunggu Rai. “Sudah jam sebelas malam? Tumben Mas Rai belum pulang.” Ujar Amanda seraya melihat jam dinding di ruang tamu. Ada rasa khawatir yang menguasai sanubarinya. Amanda terus memikirkan berbagai cara bagaimana ia bisa meminjam uang pada Rai, alasan yang akan diberikannya pada Rai, dan mengapa pria itu tak juga kunjung kembali. Terlalu banyak berpikir membuat kantuk menjemput Amanda. Otaknya tak mampu lagi memikirkan banyak hal. Suara pintu yang terbuka membangunkan Amanda dari tidurnya. Dengan cepat wanita itu mengubah posisi yang entah kapan menjadi berbaring. Senyum yang sempat Amanda ukir di sudut bibirnya menghilang begitu melihat Rai masuk bersama dengan seorang wanita. Mereka bersitatap untuk beberapa detik, Amanda tengah menganalisa apa yang tengah terjadi. Siapakah wanita yang kini bergelayut manja di lengan Rai dengan pakaian yang begitu minim? “Kamu di sini,” Ujar Rai membuyarkan fokus Amanda. Wanita itu tersenyum tipis dan mengangguk. Wanita di samping Rai mengamati Rai dan Amanda secara bergantian. Rai mengeluarkan dompet dari saku celananya, lalu mengulurkan beberapa lembar uang ratusan pada Si wanita yang merengut saat sadar jika jasanya tak lagi diperlukan oleh Rai. “Pergilah,” ucap Rai dengan menambah lembaran ratusan lainnya yang membuat senyum wanita itu mengembang. Si wanita mengecup sekilas pipi Rai dan berlalu pergi meninggalkan mereka. Rai dan Amanda kembali bersitatap. Amanda terlalu kaku untuk menggerakkan kakinya. Semua pemikiran yang sempat mengacau benaknya pun mendadak hilang, digantikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang kini mengiris sanubarinya. “Siapa wanita itu?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Amanda, ia sendiri tak menyangka jika dirinya memiliki keberanian untuk menanyakan hal yang tak seharusnya ia tanyakan. Ia tahu, bila dirinya tak ada hak untuk mencampuri urusan pribadi Rai. Rai tersenyum miring, lalu berjalan mendekat. Kini keduanya saling berhadapan. “Apa hakmu untuk bertanya?” Ada nada kesal dalam suara Rai yang Amanda tak tahu alasannya. “Aku hanya penasaran,” ucap Amanda sembari menantang mata Rai. Rasa bergejolak di dalam hatinya, membuatnya tak mampu memikirkan alasan logis untuk membenarkan pertanyaannya barusan. Ia tak mungkin mengatakan jika dirinya adalah istri Rai, hingga memiliki hak untuk bertanya tentang wanita yang tampak mesra dan dibawa pulang oleh Rai. Pria itu tersenyum miring, kemudian berlalu pergi untuk meninggalkan Amanda, sedang Amanda pun mengikuti pria itu dari belakang. Tidak lama berjalan, mereka tiba di kamar pria itu. Rai menatap sekeliling dan entah mengapa hatinya terasa begitu kacau. Masih sama kacaunya saat sadar jika wanita itu pergi meninggalkannya, menghilang tanpa jejak. “Jika kamu penasaran. Wanita itu yang tadinya akan menggantikan tugasmu untuk memuaskanku.” Perkataan Rai begitu dingin, menampar keras pipi Amanda. Jika memang dirinya tak lebih dari sekadar wanita pemuas nafsuu. Kembali ke rumahnya dan melihat kekacauan di sana, membuatnya berpikir jika tempat ini berbeda. Di rumah pria itu, dirinya bisa selamanya terjebak dalam mimpi indah dan tak lagi terbangun. Ia merasa begitu nyaman dan terlindungi di tempat yang harusnya tak pernah ia jadikan tujuan untuk pulang. “Karena sekarang, kamu sudah di sini. Kamu harus melakukan tugasmu.” Pria itu memutar tubuh untuk menatap ke arah Amanda, “Sekarang buka semua pakaianmu dan layani aku. Sudah berapa hari kamu nggak melakukan tugasmu itu.” Perintah Si pria dengan datar. Amanda tersenyum kecut. Inilah kenyataan yang ada di antara mereka. Perkataan Rai dan semua kelembutan yang pria itu bagikan untuknya, sempat membuat matanya gelap, hingga mengabaikan kebenaran yang ada. Mengapa pria itu selalu membuatnya merasa diinginkan dan direndahkan di saat yang bersamaan? Dirinya hanyalah seorang pelacurr yang dibayar untuk memuaskan hasratt birahii, tak pernah lebih dari itu. Tak mungkin ada kebahagiaan untuknya. Amanda menuruti perintah Rai dan membuka semua pakaiannya, sedang Rai terdiam dan mengamati Amanda. Tangannya terus memperhatikan tubuh wanita itu hingga tak ada sehelai benang pun yang melindungi tubuhnya. Kini, Amanda berdiri pakai patung, tak punya harga diri. Mungkin memang seperti itulah dirinya bagi semua orang, tak berharga. Namun semua ini sudah lebih dari cukup, setidaknya masih ada yang menginginkannya. Tanpa aba-aba, Rai segera mendekati Amanda, melumat bibir wanita itu. Tak ada kelembutan dalam ciuman pria itu. Lidahnya memaksa masuk dan mengajak lidah Amanda beradu, sedang tangan Rai sibuk melucuti pakaiannya sendiri hingga mereka sama-sama polos. Kehangatan dari tubuh mereka yang bergesekan mampu membuat Amanda merasa tenang. Amanda benci mengakui ini, namun dirinya merasa kecanduan dengan sentuhan Rai. Ia mulai menikmati setiap penyatuan mereka yang dulu dibencinya. Ia tak beda dari seorang munafik yang sok polos dan tak mau mengakui kenikmatan atas dosa yang diperbuatnya. Masih dengan bibir yang saling berpagut, Rai menggendong Amanda dan membawa wanita itu ke tempat tidur. Rai segera mengambil tempat di atas Amanda. Memberikan kecupan-kecupan kecil di sekujur tubuh wanita itu, Amanda tak mampu mencegah erangan yang lolos dari bibirnya saat kepala Rai sudah berada di antara pahanya. Amanda merasa mabuk kepayang. Saat Rai menyatukan kedua tubuh mereka dan mata mereka saling bertemu, Amanda dapat melihat kerinduan yang begitu besar dalam manik mata pria itu saat menatapnya. Gerakan pria itu yang semula kasar dan tak terkendali pun perlahan melembut. Aneh, mengapa pria itu bisa menatapnya sedemikian rupa? Apa untuk kembali mengoloknya? Dengan terlihat begitu menginginkannya, lalu sedetik kemudian kembali menyadarkannya jika apa yang tengah mereka lakukan hanyalah sebatas penyatuan hasrat birahii yang memberontak untuk disalurkan. Penyatuan itu hanyalah hubungan fisik tanpa perasaann di dalamnya. Tak lebih dari nafsuu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN