Aku Bukan Siapa-siapa

1731 Kata
Entah kebodohan, cinta, atau kau tak punya tujuan lain yang membuatmu tak mampu melepaskan seseorang. Kau tak peduli, meski seisi dunia mencelamu. Yang kau tahu, bila cinta yang dulu pernah ada, pastilah masih terisa di dalam hati dan suatu saat nanti akan kembali memenuhi sanubari. Tak ada cinta yang benar-benar kandas tak berjejak, bukan? Wanita paruh baya itu menatap Amanda nanar. Tak ada yang bisa mengerti hatinya dan ia tak menyalahkan Amanda atas ketidaktahuannya itu. Hanya saja, wanita itu ingin sedikit saja Amanda melihat dari sisinya. Ia tak perlu Amanda mengerti akan keputusannya dan berharap Amanda mampu mengikhlaskan pilihan hidupnya tanpa menghakiminya seperti ini. Di sisi lain, Amanda menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, tak ingin membiarkan kemarahan menguasai dirinya. Ia datang bertemu dengan ibunya hanya untuk memberikan hidup yang menurutnya lebih baik untuk wanita itu, namun wanita itu tak berpikiran sama. Ia bukanlah siapa-siapa bagi wanita yang dipanggilnya ibu. “Diam Ibu nggak bisa menyelesaikan permasalahan.” Amanda berkata gusar, “Sebenarnya aku kembali untuk melakukan tanggungjawabku sebagai seoarang anak. Meski aku nggak diinginkan, aku nggak bisa menepis jika diriku terlahir dari rahimmu.” Amanda menatap wanita itu sendu. Sayangnya, hanya dirinya yang merasa memiliki tanggung jawab. “Bisa Ibu tolong ambilkan tasku. Aku akan segera pergi dan nggak kembali lagi,” ucap Amanda dengan suara bergetar, “Kini aku paham, jika kehadiranku memang nggak pernah diinginkan. Sekuat apa pun aku berusaha, ibu nggak mungkin bisa menatapku seperti dulu lagi.” Bibir bagian bawah wanita paruh baya itu bergetar. Hati kecilnya memaksanya untuk mengulurkan tangan dan memeluk putrinya yang ia tahu membutuhkan kehangatan darinya, namun dirinya tak merasa pantas melakukan semua itu setelah apa yang ia berikan untuk putrinya. Benar apa yang wanita itu katakan, ia telah mengajak Amanda ke neraka. “Ibu membawa tasku, bukan?” Amanda kembali bertanya saat tak menerima respon apa pun dari ibunya. Ia menatap wanita itu meneliti dan bisa menemukan ketakutan di raut wajahnya. Kini ketakutan yang sama turut merasuki sanubari Amanda. Ia tahu dan paham benar arti tatapan ibunya. Pria itu pasti telah menguras habis semua isi tasnya. Tidak, mengapa kejadian ini berulang kali terjadi padanya? Mengapa pria itu tak pernah berubah? Sedang ibunya yang lemah selalu mengorbankannya demi kesenangan pria itu. Demi menjaga harga diri sebagai istri. “Manda … maaf … tadi … ayahmu mengambil …” wanita itu membiarkan perkataannya menggantung di udara. Bukan karena dirinya kehabisan kata, namun amarah yang Amanda tunjukkan membuat lidahnya terasa kelu. Wanita itu memilih untuk menunduk dalam menghadapi kemarahan putri semata wayangnya. Sedang Amanda menggertakkan gigi. Bagaimana bisa ibunya itu membiarkan pria jahat itu membawa semua uang yang ia tarik dari kartu debit tempat di mana Rai mengirimkan semua gaji atas jasanya. Amanda sengaja tak membawa segala kartu yang diberikan Rai dan menguras habis semua pendapatannya untuk diberikan kepada ibunya. Walau wanita itu tak menginginkannya, akan tetapi Amanda tak bisa bersikap sama. Ia ingin ibunya mendapatkan sedikit kebahagiaan, sama sepertinya. “Ibu membiarkannya menguras habis isi dompet dan tasku seperti biasa.” Amanda tahu jika tebakannya benar begitu melihat ibunya mengadahkan wajah dan menatapnya nanar. Tak ada hal baru yang terjadi, semua masih sama, hal sama yang mulai membuat Amanda muak. Dulu, Amanda memang tak suka, bahkan takut dengan perubahan, akan tetapi sekarang tak lagi. Sekarang dirinya begitu mengharapkan perubahan di dalam hidupnya. Kembali ke tempat di mana ia berasal membuatnya sadar, bila perubahan bukanlah hal yang mudah. “Manda … ayahmu hanya khilaf dan ibu akan memintanya mengembalikan uangmu.” Amanda mengeraskan rahang. Ia benar-benar muak dan juga jijik mendengarkan wanita itu menyebut Si monter sebagai ayahnya berulang kali. Ayah mana yang tega menyakiti anak yang seharusnya ia jaga? Ayah mana yang tega menjual putrinya demi beberapa lembar rupiah? Pria itu tak ‘kan pernah menjadi ayahnya dan Amanda tak mau menerima pria itu di hidupnya. “Bukan uang yang menjadi permasalahannya, Bu.” Amanda menatap wanita itu sedih. Berharap sedikit saja wanita itu bisa mengerti hati dan semua luka yang disebabkan oleh pria itu. “Jika perbuatannya selalu disebut dengan khilaf, berarti semua luka yang kuterima pun nggak nyata.” Amanda menatap wanita itu lekat-lekat. “Aneh, karena sakit yang kurasakan begitu nyata, Bu. Dia nggak pernah menginginkan kita dan aku sudah lelah, Bu.” Amanda tak mungkin bisa memaksakan pendapatnya pada ibunya dan membuat wanita itu melihat dari sudut pandangannya karena setiap orang memiliki pendapat berbeda. Kini, Amanda harus sekali lagi mengubur semua mimpi yang dimilikinya. Ia tak mungkin bisa menyelamatkan wanita itu dan membagi kebahagiaannya karena memang wanita itu tak mau bahagia. Hati Amanda seakan teriris perih melihat wajah lelah penuh keriput itu. Mungkin, suatu saat nanti mereka akan bahagia dengan cara masing-masing. “Berikan tasku dan aku mau pergi, Bu,” ucap Amanda pada akhirnya. Ia tak sanggup lagi menghadapi kenyataan pahit tentang hidup yang ia coba hindari. Wanita itu mendadak panik. “Kata dokter. Kamu harus beristirahat beberapa hari, Manda.” Wanita itu berusaha mencengah Amanda yang berusaha duduk, namun gagal dilakukannya karena bagian belakangnya begitu sakit. Ia pun tak mungkin bisa melepaskan jarum infusnya begitu saja. “Aku nggak mau ada di sini lagi, Bu. Aku takut …” Amanda menatap ke dalam manik mata wanita paruh baya itu, “Aku takut akan melihat mayat ibu atau mayatku jika lebih lama berada di dalam neraka yang diciptakannya.” Amanda mampu melihat keterkejutan pada wajah wanita paruh baya yang duduk di sisi ranjangnya. Hatinya seakan teriris perih. Keduanya saling bertatapan dan air mata kembali menghiasi wajah keduanya, dadaa mereka sama-sama sesak. Sebuah suara deheman seorang pria menyadarkan keduanya. Mereka mengarahkan pandangan ke sumber suara dan ibu Amanda segera berdiri saat sadar siapa yang datang ke ruang rawat Amanda. Wanita itu berjalan mendekat, mencengkram lengan si pemuda, dan tersenyum. “Terima kasih atas bantuanmu, Dika. Ibu berjanji akan mengembalikan uangmu secepat mungkin, namun tidak hari ini. Kamu tahu sendiri kalau rumah kami baru saja dirampok dan Amanda telah menjadi korbannya.” Wanita itu menoleh ke arah Amanda dan menatap putrinya untuk meminta pertolongan atas kebohongan yang diucapkannya. Amanda tersenyum tipis, orang bodoh mana yang mau susah-susah merampok rumah kumuh dan miskin seperti itu. “Ah … nggak usah dipikirkan, Bu. Yang penting Amanda baik-baik saja. Saya akan membantu ibu melaporkan pencurian ini jika ibu berkenan,” ucap Si pemuda dengan sopan. Kalimat yang sontak membut wanita paruh baya itu panik dan menggeleng keras. “Nggak perlu, Nak. Ibu nggak mau memperparah urusan ini. Amanda juga pasti nggak menyukai hal yang rumit itu.” Wanita itu kembali menatap Amanda yang melihat wanita itu dengan tatapan tak suka. Melihat semua usaha yang wanita itu lakukan untuk Si monster membuat hati Amanda begitu terluka. Mengapa bisa ada manusia seperti ibunya? Pemuda bernama Dika itu menoleh pada Amanda. “Semoga cepat sembuh, Mbak Manda.” Amanda tersenyum dan mengucapkan terima kasih, lalu ia melihat ibunya mengantarkan Dika pergi keluar dari tempatnya dirawat. Amanda dapat menebak jika ibunya pasti mengemis-ngemis untuk menyelamatkannya. Mereka tak punya asuransi apa pun, hingga dirawat seperti ini pasti membuat ibunya cukup bingung. Dika adalah anak RT tempat yang memang terkenal ramah dan kerap membantu, namun bukan berarti uang yang dipinjam ibunya untuk merawatnya hari ini tidak harus dikembalikan. Amanda memutar otak. Ia tak mungkin membiarkan ibunya berhutang karenanya dan tak mungkin juga menarik uang dari kartu debet yang diberikan Rai untuk keperluan rumah. Amanda tak ingin dikasihani. Ia sebatang kara. Oleh karena itu, ia tak mau terlalu banyak berhutang budi. Tidak ada cara lain. Ia akan meminjam uang dari Rai agar ibunya tak harus merasa tak enak dan mengemis lagi untuknya. Sudah cukup semua derita yang wanita itu terima. Beberapa menit kemudian, ibu Amanda kembali bersamanya. Amanda tak lagi mau membahas hal yang akan membuatnya semakin kesal dan memilih diam. Wanita paruh baya itu paham akan kemarahan Amanda dan memang sudah patut bila Amanda membencinya. Ia menggenggam tangan Amanda, membuat wanita itu menoleh ke arahnya. “Maaf karena ibu nggak pernah menjadi seorang ibu yang baik untukmu.” Wanita itu tersenyum lirih, “Ibu terlalu lemah dan mengabaikan semua kewajiban ibu, tapi suatu saat nanti kamu pasti akan mengerti dengan apa yang saat ini ibu lakukan. Bila kamu mau pergi. Kamu bisa melakukannya besok. Dika sudah membantu membayarkan semua biaya rumah sakit.” Amanda tersenyum tipis. “Tolong berikan tasku dan ibu bisa menjual ponselku untuk menggantikan biaya rumah sakit ini.” Amanda lupa jika ia masih memiliki ponsel pemberian Rai yang ia tahu harganya cukup mahal. Ia yakin, menjual benda pipih itu dan berbohong membuatnya tak harus menerima rasa iba dari Rai. Ia pun bisa membayar hutang ibunya. “Manda … ayahmu mengambil ponselmu juga.” Wanita tua itu menatap Amanda takut-takut. Amanda tersenyum miring, lalu tawa renyahnya terdengar. Apa yang diharapkannya akan tersisa dari dirinya bila ia sudah bertemu dengan monster yang telah merenggut semua yang ia punya. Amanda lupa, jika pria itu tak mungkin membiarkannya bahagia. “Kamu nggak perlu memikirkan uang yang ibu pinjam dari Dika. Ibu akan membayarnya, Manda. Kamu hanya perlu istirahat dan kembali sembuh dengan cepat.” Wanita itu mengeratkan genggaman tangannya. Di saat seperti ini, Amanda sangat berharap bila mereka bisa kembali ke masa lalu, saat di mana hanya ada mereka berdua. Tanpa pria yang menyebabkan semua kekacauan dalam hidup keduanya. “Dengan apa dan bagaimana ibu akan membayarnya jika upah sebagai buruh cuci dan bekerja di restoran yang ibu lakukan itu nggak seberapa?” Amanda menatap tajam ibunya, “Toh ibu hanya bekerja untuk membiayai pria itu saja. Aku nggak akan mau menyusahkan dan menerima kebaikan ibu agar nggak berhutang budi lagi.” Lanjut Amanda sinis. Sesungguhnya, Amanda tak tega menyakiti ibunya dengan kata-kata tak berperasaan yang entah mengapa begitu mulus keluar dari bibirnya. Ia begitu marah, begitu tak berdaya sebagai seorang anak, dan merasa sangat lelah untuk mengikuti langkah ibunya. Wanita paruh baya itu tak lagi merespon. Ia memilih diam dan memberikan tas tangan Amanda yang diminta wanita itu berulang kali. Amanda memeriksa isi tasnya dan juga dompetnya, semua barang berharganya telah lenyap seperti biasa setiap kali pertemuan dengan pria itu terjadi. Akan tetapi kali ini ada sedikit kelegaan karena ia mendengarkan kata hati yang tak membiarkannya membawa beberapa kartu debet yang diberikan Rai untuknya. Kini, ia harus mencari alasan masuk akal untuk menutupi kelakuan bejatt ayahnya yang menguras habis uang dan mengambil ponsel yang diberikan Rai untuknya. Amanda tahu bila tak seharusnya ia terlalu bahagia agar semua kemalangan ini tak lagi menyapanya. Sungguh, tak ada yang peduli padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN