Hal Menakutkan yang Mengikuti

1782 Kata
Saat kau berpikir segala sesuatu di dunia ini sudah direncanakan, maka kau mulai bertanya-tanya akan banyak hal yang terjadi di hidupmu. Berusaha menemukan benang merah antara satu peristiwa ke peristiwa lain. Sebuah pertemuan singkat, bahkan sepasang asing yang tak sengaja bertemu di jalan, begitu banyak yang takdir lakukan pada hidup kita. Membuat kita berpikir, apakah memang jalan hidup kita harus seperti ini? Bagaimana bila saat itu kau tak berada di tempat yang tepat, akankah kau masih bisa bertemu orang-orang yang ada di dalam hidupmu saat ini? Kau terlalu lelah menerka permainan takdir dan pada akhirnya memilih untuk menyerah. “Lihatlah, dia pulang mau memberikan uang banyak untuk kita,” ucap pria itu dengan tawa menjijikkan. Pria itu sibuk membongkar isi dompet wanita yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai seakan wanita itu tak berarti apa pun untuk Si pria. Ia membuka setiap celahh untuk menemukan lebih banyak rupiah lagi. Mata pria itu memerah, bau alcohol tercium dari sekujur tubuhnya, aroma yang kerap membuat banyak orang menghindarinya. Wanita yang sedari tadi duduk lemah segera berusaha berdiri begitu melihat pria itu menendang tubuh anaknya yang sedang tak sadarkan diri. Air mata wanita itu mengalir semakin deras. Dengan sisa tenaga, wanita itu menggeret tubuhnya, memeluk kaki Si lelaki agar tak melanjutkan apa yang tengah diperbuatnya. Hanya ini yang bisa ia lakukan sebagai seorang ibu. “Mas hentikan. Cukup! Jangan sakiti Amanda,” wanita itu terisak. Memohon pengampunan dari seorang yang telah menulikan telinganya. Pria dengan wajah bengis itu menarik rambut panjang Si wanita, hingga kepalanya tertarik ke belakang. Bukan merasa iba, ia malah tertawa penuh penghinaan. “Cih … aku nggak akan menyakiti dompetku. Bilang pada anakmu itu kalau aku mengambil uangnya. Suruh dia menjual dirinya agar bisa memberikan lebih banyak uang untukku. Pelanggannya yang terakhir pasti sangat kaya, hingga dia bisa membawa uang sebanyak ini.” Tawa kembali terdengar. Si wanita tak bisa melakukan apa pun selain menatap nanar pria itu, “Kau juga. Lebih baik jual dirimu saja bila memang nggak lagi bisa bekerja untuk memberi nafkah bagi kita!” lanjut pria itu sembari menendang perut Si wanita paruh baya yang membuatnya tersungkur di lantai. Tubuh lemahnya seakan tak berdaya diperlakukan demikian, namun ia tak bisa membenci pria itu. “Ponselnya juga sepertinya mahal. Aku akan menjualnya,” ucap pria itu antusias dan mengambil semua barang berharga dari dalam tas Amanda. Tanpa rasa bersalah dan tawa yang masih terdengar mengerikan, pria itu pergi meninggalkan kedua wanita yang tampak tak berdaya. Ia merasa begitu beruntung, pulang lebih awal dan tak tahunya menemukan uang banyak yang bisa digunakannya untuk membeli minuman dan bermain judi. Kali ini, ia pasti akan menang dengan modal sebanyak itu. Ia akan mempertaruhkan semua uang itu. Sepeninggalan Si pria, wanita paruh baya itu segera menghampiri Amanda. Pecahan dari botol kaca masih berserakan di dekat Amanda. Si wanita mengusap-usap lembut wajah Amanda. “Manda … bangun, Nak. Ini Ibu. Bangun, Sayang. Bangun …” isak tangisnya terdengar memilukan. Jika saja dirinya bisa lebih kuat dan berani, maka semua ini tak ‘kan terjadi. Wanita itu mencoba mengangkat kepala Amanda dan betapa terkejutnya dirinya saat merasakan darah yang kini menghiasi telapak tangannya. “Tidak, Manda … tolongg … tolongg …” teriak wanita itu dengan histeris. Ia menggunakan seluruh sisa tenaganya untuk bangkit berdiri dan meminta pertolongan pada siapapun yang ditemuinya. Dirinya memang adalah ibu yang buruk. Tidak, ia tak kan membiarkan sesuatu terjadi pada anak semata wayangnya. Cukup dirinya yang menderita dan tak seharusnya, ia turut menarik anaknya untuk masuk ke dalam lubang neraka bernama pernikahan yang dibanggakannya. Tak mengapa bila dirinya yang mati karena semua itu, jangan anaknya. “Tolong bantu anakku,” ucap wanita itu terisak begitu menemukan seorang pemuda yang tengah berlalu di depan rumahnya. Pemuda itu tak lagi berpikir dan segera masuk ke tempat yang diberitahukan oleh Si wanita. Beberapa orang mulai hadir dan membantu, namun bantuan yang diterimanya tak juga bisa membuat air mata wanita itu berhenti. Ia masih menyalahkan dirinya. Amanda digotong oleh beberapa orang dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat. Wanita paruh baya itu membawa barang pribadi Amanda yang tersisa di dalam tasnya, mengunci pintu rumah, lalu ikut bersama dengan Amanda. Sepanjang perjalanan, wanita itu tak berhenti memanjatkan doa untuk keselamatan putrinya. Ia tak ingin ada kata terlambat di antara mereka. Dirinya hanya ingin anaknya itu diberikan kesempatan untuk menemukan kebahagiaan dan juga cinta yang selama ini tak bisa wanita itu berikan untuknya. Hanya satu kesempatan saja. *** Amanda masih mengingat saat teman-temannya membicarakan pernikahan dan membayangkan betapa indahnya pernikahan, Amanda malah tak mengingkan hal penuh ilusi itu. Bila ada yang bertanya, kapan ia akan menikah, maka mudahnya Amanda akan menjawab jika ia tak ingin menikah. Hal yang tentu saja banyak membuat orang menatapnya heran. Bahkan beberapa rekan kerjanya mulai mengejek dan mengatainya. “Sayang sekali wajah cantikmu nggak diturunkan kepada anak-anakmu nanti.” Lalu Amanda akan merespon dengan senyum seakan tak peduli dengan semua perkataan orang-orang akan impian sederhananya. Orang-orang yang tak pernah melihat sekacau apa pernikahan, akan berpikir jika tujuan menikah hanyalah untuk beranak cucu. Mereka lupa, jika seumur hidup bukanlah waktu yang singkat untuk kau habiskan bersama seorang yang salah. Menikah bukan hanya untuk membebaskanmu berhubugan intim untuk memiliki anak, namun arti pernikahan yang suci itu kerap dinodai oleh mereka yang tak paham akan ikatan itu. Amanda tak pernah takut dengan pernikahan, dirinya hanya takut salah memilih. Memilih pasangan yang salah untuk menghabiskan sisa hidup bersama akan berakhir fatal. Ibunya adalah bukti nyata bila salah memilih pasangan hidup, bisa membuatmu terjebak dalam neraka yang tak bisa kau hindari. Perlahan kau kehilangan semua kebahagiaan dan hidupmu bagai neraka. Semua orang mulai mengolok-olok Amanda yang tak mempunyai mimpi tentang pernikahan. Dirinya pun mengawali pernikahannya yang sekarang bukan karena ia mempercayai hubungan itu atau berpikir jika Rai adalah pilihan yang tepat. Wanita itu hanya tersudut, tak diberikan pilihan, hingga mengambil apa yang ada di depan matanya. Ia seorang yang pasrah. Kini, dirinya terbangun di sebuah ruangan serba putih dengan bau obat menyengat. Tanpa berpikir keras, ia tahu jika dirinya tengah berada di rumah sakit. Amanda mencoba mengingat apa yang terjadi dan tersenyum lirih. Hal buruk apa lagi yang terjadi pada dirinya? Semua ini pastilah perbuatan pria itu, monster yang tak pernah lelah melukiskan duka di atas kanvas kehidupannya. Pria yang seharusnya menjaga dan mencintainya sepenuh hati telah memperlakukannya bak sampah. Amanda tersenyum miring. Apa yang diharapkannya akan ia dapatkan untuk kembali ke neraka itu? Menyadarkan ibunya bila ada kebahagiaan di luar sana? Sebuah tangan yang menggenggam tangannya erat, menyadarkan Amanda bila dirinya tak sendiri. Kehangatan dari tangan lemah dan berkeriput itu membuat sanubarinya tersiksa. Ia menoleh ke sisi kiri dan mendapati ibunya tertidur dengan kepala yang disandarkan pada ranjang. Tangan wanita itu menggenggam tangannya erat-erat seakan takut jika wanita itu akan kehilangan dirinya. Amanda sungguh tak pernah bisa mengerti jalan pikiran ibunya. Apa yang membuat wanita itu masih bertahan? Cinta, kesetiaan, atau pengabdian? Orang itu tak pantas mendapatkan semua yang ibunya berikan dan mengapa begitu sulit membuat ibunya mengerti akan hal mudah ini? Apa mereka yang dimabuk cinta memang sebodoh ini? Ah … dirinya sendiri hampir sama dengan ibunya. Membiarkan diri sendiri tenggelam dalam semu. Dalam diam Amanda menatap wajah tua yang tampak begitu lelah. Wanita itu mungkin terlihat bodoh, namun tak pernah sekalipun meninggalkannya. Wanita itu memang tak pernah membelanya, namun tak pernah sekalipun membuangnya. Dulu, setelah pria itu pergi dari kehidupan mereka karena kebangkrutan, mereka berdua tampak bahagia walau serba kekurangan. Walau tak ada pria itu di dalam hidup mereka, keduanya bisa tersenyum. “Kenapa kita nggak bisa berdua aja, Bu?” gumam Amanda lirih, “Kenapa harus ada dia yang mengacaukan semuanya? Bukankah kita bahagia saat kita masih berdua saja?” lanjut Amanda dengan tangis yang semakin menjadi-jadi. Rasa sesak membuatnya kesulitan bernapas. Sakit di bagian belakang kepala bahkan tak terasa karena semua kepedihan yang mendominasi hatinya. Mengapa takdir harus menuliskan kisah sesedih ini untuk mereka? Tangan wanita paruh baya itu mulai bergerak, membuat Amanda segera mengusap air matanya dengan kasar. Ia tak ingin wanita itu menyamakan dirinya dengan wanita yang lemah itu karena dirinya berbeda dan tak ‘kan mungkin bisa dihancurkan lagi. Wanita itu mengangkat wajah, lalu menatap Amanda dengan tatapan khawatir. Wanita itu hendak mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Amanda, namun dengan cepat wanita itu berpaling, tak sudi disentuh oleh wanita yang membuatnya hidup di dalam neraka bertahun-tahun lamanya. Wanita yang sadar bila Amanda tak ingin disentuh segera menari tangannya dan tersenyum lirih. “Bagaimana keadaanmu, Da? Apakah bagian belakang kepalamu masih sakit? Atau ada bagian mana lagi yang sakit? Beritahukan pada Ibu biar Ibu bisa memberitahu dokter.” Amanda tak mau bersusah payah menoleh pada wanita itu dan masih memasang aksi diam. Ia tahu, bila kata-kata yang diucapkan ta ‘kan mungkin bisa membuat wanita itu sadar. Tak ada kalimat maupun perbuatan yang akan membuat wanita itu paham, jika berlari adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Tak semestinya wanita itu bertahan. Wanita itu tersenyum tipis melihat penolakan Amanda. Hal yang wajah. Anak mana yang tak membenci ibu sepertinya? “Manda … Ayahmu hanya sedang tersesat dan tugas ibu adalah untuk membawanya kembali pada kita. Dia nggak berniat melakukan hal ini padamu dan ibu harap kamu mengerti akan hal ini, Da. Walau bagaimanapun, dia ayah kandungmu.” Perkataan wanita itu membuat Amanda lagi-lagi merasa jijik dan ketakutan. Apakah pantas pria itu dipanggilnya ayah? Amanda heran, mengapa wanita itu selalu saja menghibur diri sendiri bila pria itu akan kembali menemukan jalan pulang. “Bu … saat ayah kembali ke dalam kehidupan kita, harusnya ibu sadar kalau semuanya nggak akan pernah bisa kembali seperti semula,” ucap Amanda seraya mengalihan pandangannya ke arah wanita yang tengah menatapnya sendu, “Kita sama-sama tahu bagaimana akhir kisah ini, Bu. Antara Ibu yang mati di tangannya atau aku? Sampai kapan Ibu mau terus membelanya yang telah menghancurkan semuanya? Bukankah saat dia pergi, hidup kita jauh lebih baik? Kenapa dia harus kembali dan mengacaukan semuanya?” Amanda menangis tersedu-sedu, begitupun dengan wanita paruh baya itu. Hanya isak tangis yang menghiasi ruang rawat itu. Tak cukup hancurkah kehidupan mereka karena satu orang pria? “Aku nggak bisa terus-terusan di dalam neraka bersama Ibu dan itu yang harus Ibu mengerti.” Hati Amanda semakin perih. Mengapa ibunya tak mau juga mengerti. Wanita itu tersenyum. “Pergi dan jangan kembali lagi, Da. Biarkan ibu menjalani neraka ibu sendiri. Bila sudah menikah nanti dan jatuh cinta, kamu pasti memahami perasaan ibu.” Ada kemarahan yang menguasai sanubari Amanda. Wanita itu menggeram kesal dan menggeleng. “Aku bukan ibu dan aku nggak akan pernah menjadi seperti ibu,” ucap Amanda dengan penuh penekanan, “Kengerian memang akan selalu mengikutiku, tapi aku nggak akan menjadi sebodoh ibu. Semua hanya tinggal menunggu waktu sampai dia menghabisi kita, Bu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN