Aku Lupa, Manusia Tak Bisa Berubah

2510 Kata
Pernahkah kau mengalami sesuatu kebahagiaan yang membuatmu merasa bila apa yang terjadi hanya sekadar mimpi? Tempat di mana kau tak ‘kan merasakan sakit, semua tersa sempurna, sama seperti yang selalu kau bayangkan. Dunia di mana kau bisa merasa bahagia. Nenek Rai tersenyum melihat wajah ragu Amanda. Ia tahu, mungkin perbedaan yang begitu besar, membuat Amanda masih merasa canggung dengan kehidupan mereka. Ia bisa menebak bila Amanda adalah wanita baik. Oleh karena itu, ia tak perlu mencari tahu tentang Amanda. Ia percaya akan pilihan Rai, cucunya. Wanita tua itu mengambil kalung tersebut dari telapak tangan Amanda, lalu mengenakannya pada leher Amanda. Wanita itu terpaku begitu merasakan dingin di lehernya. Mungkinkah semua ini adalah hadiah atas semua kerja kerasnya? Mendapatkan semua hal yang dianggapnya tak nyata. Amanda mengusap kalung yang sudah melingkar di lehernya dan senyum mengembang. “Sangat cantik dan cocok untukmu,” puji nenek suaminya sembari tersenyum lembut. Tidak lama, Bi Tuti bergabung bersama mereka dengan membawa dua cangkir minuman dan meletakkan di hadapan keduanya. Amanda tersenyum dan mengucapkan terima kasih. “Bukan hanya untuk memberikan kalung saja. Nenek mau mengajarimu resep opor ayam kesukaan suamimu,” ucap wanita tua itu seraya mencolek hidungan mancung Amanda. Dirinya teramat beruntung. Mungkin saja, keberuntungannya masih begitu panjang. “Makasih banyak, Nek. Meski kami saling mencintai, aku belum begitu tahu apa yang disukai Mas Rai,” ucap Amanda malu-malu seraya menunduk. Sejujurnya, bukan karena mereka saling mencintai dalam waktu yang singkat, namun memang tak ada tahap perkenalan dan memantapkan hati yang ada di hubungan keduanya. Tak heran, bila ia tak mengetahui banyak tentang pria yang saat ini sudah sat berstatus sebagai suaminya. “Nenek maklumi. Apalagi, Rai itu orangnya terlalu kaku,” wanita tua itu tergelak, lalu melirik Bi Tuti, “Nenek sudah berbelanja bahan-bahan yang diperlukan dalam perjalanan ke sini dan kita akan mulai memasaknya. Apa kamu sudah memasak untuk makan malam nanti?” Amanda menggeleng. “Aku hanya memasak sarapan dan makan siang, Nek.” Nenek Rai mengangguk puas dan segera berdiri, lalu menggenggam tangan Amanda dan mengajak wanita itu pergi ke dapur diikuti dengan Bi Tuti yang mengamati keduanya dari belakang. Wanita paruh baya itu menenteng plastik berisikan bahan masakan yang mereka beli sebelum datang ke rumah Rai. Begitu di dapur, Bi Tuti menyusun semua bahan di atas meja. Nenek Rai mulai mengajari Amanda tentang memilih bahan masakan yang baik dan juga resep dari Opor ayam kesukaan cucunya. Hati Amanda berdesir hangat. Seharusnya, ia mempelajari semua ini dari ibunya. Bagaimana cara menyenangkan suami dan juga memilih bahan masakan yang baik, namun ia mendapatkan pelajaran berharga itu dari nenek mertuanya. Tak mengapa, mungkin memang tak semua yang kita butuhkan kita dapatkan dari orang yang seharusnya memberikan semua itu pada kita. Mungkin memang begitulah hidup bekerja. Menit berlalu. Semangkuk besar Opor ayam tersaji di meja makan. Amanda dan nenek Rai saling berbagi senyum, kepuasaan terlihat jelas di wajah keduanya. Amanda memeluk wanita tua itu. “Makasih banyak, Nek. Aku jadi mengetahui banyak tentang Mas Rai dan juga banyak kiat menjadi istri yang baik untuk suamiku. Aku memang sangat beruntung, Nek.” Wanita tua itu mengusap-usap punggung Amanda. “Nenek tahu kalau nggak ada orang yang akan mengajarkanmu hal-hal yang sebenarnya sederhana, namun perlu kamu ketahui karena pernikahan nggak akan selalu mudah. Nenek ini bukan hanya miliki Rai seorang, jadi jangan pernah merasa sungkan untuk bertanya apa pun.” Amanda tersenyum seraya mengangguk senang. Wanita itu melepaskan pelukan mereka. “Sekarang nenek harus pulang dan nggak akan lagi menganggumu di sini.” Amanda menggeleng. “Nenek nggak menganggu sama sekali. Apa nenek nggak mau tinggal lebih lama agar kita bisa makan malam bersama? Mas Rai pasti senang saat tahu nenek datang ke rumah. Mungkin sebaiknya nenek menginap beberapa hari bersama kami.” Wanita tua itu tersenyum dan menggeleng. Ia mengusap lembut lengan Amanda. “Nenek masih ada beberapa urusan dan Nenek hanya mau memastikan saja bila dia nggak berulah.” “Nenek nggak usah mengkhawatirkan hal itu karena Mas Rai adalah pria terbaik yang pernah Manda temui.” Tak ada sedikitpun keraguan yang terdengar dari suara Amanda saat mengatakan hal itu. Baginya, memang pria itu adalah pria yang tak ‘kan menyakitinya. “Manda, nggak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Nenek tahu, kalau cucu nenek itu mempunyai banyak kekurangan,” wanita tua itu tersenyum lembut, “Nggak ada pula pernikahan yang sempurna di dunia ini. Oleh karena itu, saat lelah jangan pernah melihat semua ketidaksempurnaan, namun carilah alasan yang membuat kalian sampai di tahap ini.” Amanda terdiam. Benar apa yang wanita tua itu katakan, namun memang bukan kesempurnaan lah yang Amanda cari, akan tetapi segala kerapuhan dan luka Rai lah yang membuat Amanda seakan ingin melebarkan tangan dan memberikan pelukan menenangkan pada pria itu. Mungkin, memang hanya orang-orang yang memiliki lah luka yang akan memahami bagaimana orang bisa bertahan di atas semua kesakitan itu. “Aku akan melakukan yang terbaik, Nek.” Wanita tua itu menatap mata Amanda meneliti. “Nenek harap, kamu nggak meninggalkannya, Manda. Dia nggak pernah mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya, sama sepertimu. Meski, Nenek mencoba menggantikan kekosongan itu, namun tetap saja rasanya berbeda. Nenek hanyalah seorang nenek baginya, nggak mungkin bisa menggantikan peran ayah dan ibu yang tak dimilikinya.” Wanita tua itu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, “Apa pun yang terjadi, Nenek ingin kamu sadar, jika Rai bukan pria sempurna. Dia nggak akan bisa bertahan lagi bila kamu juga pergi dari hidupnya. Jika sesuatu terjadi, bicara pada Nenek dan nenek nggak akan pernah pilih kasih. Nenek nggak akan memandangnya sebagai cucu nenek saat membantu kalian memilah masalah. Itu janji nenek untukmu.” Amanda mengangguk mengerti, meski tak menyetujui perkataan wanita tua itu di dalam hatinya tentang Rai yang tak mungkin bisa bertahan tanpanya, namun ia tak menemukan keberanian untuk mengungkapkan kebenaran. Rai akan baik-baik saja tanpanya bila suatu saat nanti ia menghilang karena hanya Amanda sendiri lah yang merasa takut kehilangan. Pria itu tak merasakan hal yang sama. Hanya dirinya yang hancur, sedang Rai akan kembali menjalani hidup dengan normal, seperti sebelum kehadirannya di dalam hidup pria itu. “Nenek pulang dulu dan sampaikan salam nenek pada Rai.” Wanita itu menggenggam tangan Amanda, kemudian Amanda menuntun wanita itu keluar rumah dan mengantarkan wanita itu hingga ke mobil. Sepanjang perjalanan ke pintu keluar, nenek Rai masih memberikan beberapa wejangan untuk Amanda yang diingat baik oleh wanita itu. Amanda melambaikan tangan dan menunggu hingga mobil yang ditumpangi oleh nenek Rai menghilang dari pandangannya lalu masuk kembali ke dalam rumah yang ditempatinya bersama Rai. Amanda memandang sekeliling kesunyian yang ada di sana. Percakapan tentang orang tua membuat Amanda teringat kepada ibunya. Meski wanita itu tak pernah membelanya dan lebih banyak diam saat melihatnya disiksa, ia tak bisa menepis hubungan yang ada di antara mereka. Hubungan darah tak mungkin bisa putus dan ia tak semestinya mengilang. Amanda mengetikkan sebuah pesan pada Rai. “Aku akan keluar rumah sebentar, Mas.” Wanita itu segera berlari ke lantai atas meski tak mendapatkan balasan apa pun dari Rai. Amanda mengambil semua barang pribadinya dan memesan taksi online. Ia harap, pria itu tak ada di rumah mereka, sehingga ia bisa bertemu dengan ibunya. Ia memang jahat karena meninggalkan wanita itu begitu saja. Dirinya memang egois. Tidak perlu menunggu lama, taksi yang dipesan Amanda sudah tiba dan membawa Amanda menuju tempat yang ingin dikunjunginya. Selama berada di dalam mobil, Amanda mencengkram erat-erat kedua tangannya, berusaha meredakan rasa khawatir yang mulai menjalar ke penjuru hatinya. Bagaimana bila saat tiba di sana, pria itu berada di rumah? Bagaimana bila pria itu kembali melakukan kekerasan padanya? Bagaimana bila Amanda tak bisa kembali ke dunia mimpi yang begitu disukainya? Amanda menggeleng-geleng, mencoba menepis segala pemikiran yang mulai memenuhi benaknya. Perjalan selama tiga puluh menit itu membawa Amanda ke kawasan kumuh yang berada di tengah ibukota. Bila melihat kawasan ini, kau dibuat sadar, jika ibukota tak selalu terlihat germelap dan penuh kemewahan. Di sudut kota, masih ada orang seperti dirinya yang mencoba bertahan hidup dalam kerasnya ibukota. Ada orang-orang sepertinya yang mengais rezeki dari pagi hingga malam, melupakan rasa lelah di tubuh, demi sesuap nasi dan mendapatkan sedikit uang tambahan untuk melanjutkan hidup. Jakarta bukan tentang kemewahan semata. Jantung Amanda berdebar semakin kencang begitu ia sudah berdiri tepat di rumah yang sudah ditinggalinya dalam lima tahun belakangan. Mereka selalu berpindah-pindah dan tempat ini adalah bangun terlama yang mereka tempati. Selain harganya yang sangat murah, letaknya cukup strategis, hingga Amanda hanya perlu berjalan kaki selama sepuluh menit untuk sampai di tempat kerjanya. Di sini, kekerasan dan teriakan biasa terdengar, seakan manusia yang berada di kawasan itu tak mengenal apa arti kenyamanan dan juga kelembutan. Suara batukan yang terdengar begitu mengerikan menyambut Amanda begitu ia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam rumah dengan dua kamar itu. Suara yang berasal dari kamar ibunya membuat langkah Amanda segera menuju ke sana. Suara batuk itu semakin keras seakan sudah lama Si penderita mengalaminya. Ada rasa perih yang menjalar ke penjuru hati Amanda. Seharusnya, ia tak membiarkan hal itu terjadi. Tak sepatutnya, ia meninggalkan wanita itu sendiri dalam neraka yang ia hindari. Amanda mematung sesaat begitu melihat seorang wanita paruh baya yang terbatuk-batuk sembari menutup mulutnya dengan sapu tangan. Napasnya terlihat begitu berat dan pemandangan itu membuat jantung Amanda serasa diremas. “Manda …” suara lembut itu membawa Amanda kembali ke alam nyata. Mata wanita itu tampak berkaca-kaca, sedang Amanda hanya bisa mematung di tempatnya. Wanita itu tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir Amanda melihatnya. Sebagian rambutnya telah memutih dan wajahnya terlihat begitu lelah. Lingkar hitam bahkan menghiasi bagian bawah matanya. Kerutan di sudut mata dan beberapa bagian wajah menunjukkan jika usianya tak lagi muda. Amanda tak lagi mampu menahan gejolak perasaannya dan segera berlari masuk ke dalam dan memeluk erat wanita yang dipanggilnya ibu itu. Tangis Amanda pecah begitu merasakan betapa ringkih tubuh yang dulu selalu menimang-nimangnya dengan penuh kasih. “Kamu pulang, Sayang. Ibu sudah lama menunggumu. Ibu selalu mengkhawatirkanmu dan bertanya-tanya apa yang membuatmu nggak pulang.” Isak tangis wanita itu mengimbangi tangis pilu Amanda. Amanda telah mencoba membenci wanita yang melahirkannya itu, namun dirinya tak mampu. Walau bagaimanapun, Amanda tak mungkin hadir di dunia ini tanpa perjuangan wanita itu. Ia tak mungkin ada bila wanita itu menyerah padanya. “Bu … maafin Manda ya. Seharusnya, Manda nggak meninggalkan ibu sendirian di sini.” Wanita itu menggeleng dan melepaskan pelukan mereka. Ia mengusap air mata Amanda. “Kamu nggak salah, Manda. Ibu yang terlalu lemah, hingga membuatmu terluka. Ke mana kamu selama ini? Apa yang ayahmu lakukan padamu? Dia nggak bertanya saat ibu menanyakan tentangmu padanya. Ibu benar-benar khawatir.” Wanita itu merasa begitu gagal sebagai seorang ibu, namun apa yang bisa diperbuatnya. Dirinya hanyalah seorang istri yang mencoba berbakti pada suaminya. Seorang wanita yang dimabuk cinta dan mengorbankan anaknya sendiri. Mendengar bagaimana ibunya mengatakan pria itu sebagai ayahnya membuat Amanda merasa jijik. Ia rasanya ingin menguras habis darahnya saat sadar jika darah pria itu mengalir di pembuluh darahnya. Sungguh, pria itu adalah monster yang mengerikan, tak pantas disebut sebagai ayah. Pria itu hanyalah bencana yang seharusnya mereka hindari. Amanda menggeleng dan menggenggam erat kedua tangan ibunya. “Sebaiknya, ibu pergi bersamaku. Mari kita pergi dari sini dan tinggalkan semuanya, Bu,” ucap Amanda dengan penuh permohonan. Dengan uang yang didapatkannya setiap bulan dari Rai. Ia bisa menyewakan sebuah rumah yang lebih layak dari ini. Sebuah rumah yang bisa disebut sebagai tempat pulang di kawasan yang lebih baik lagi. Amanda tak mungkin membawa wanita itu tinggal bersamanya dan Rai, namun Amanda bisa menjaga ibunya karena tak lagi bekerja dan perlahan ia bisa membuka diri pada Rai. Mungkin saja, mereka semua akan tinggal bersama dalam kebahagiaan. Wanita itu tercengang sesaat, lalu menarik tangannya dari genggaman Amanda. Ia kembali terbatuk, membuat jantung Amanda seakan diremas. “Bagaimana bisa kamu meminta seorang istri meninggalkan suaminya, Da?” ucap wanita itu lirih. Perkataan wanita itu membuat darah Amanda seakan mendidih. Selalu seperti ini saat Amanda meminta wanita itu pergi melarikan diri bersamanya. Selalu saja penolakan yang diterimanya begitu Amanda hendak membawa wanita itu pergi meninggalkan neraka tempat mereka berada saat ini. “Pernikahan nggak semudah itu, Da. Walau bagaimanapun, dia suami ibu, ayahmu sendiri, dan sekeras apa pun kehidupan, ibu nggak boleh meninggalkannya. Kami telah berjanji untuk sehidup semati, hingga ajal menjemput, dan begitulah pernikahan bekerja, Manda. Kamu nggak mengerti jika pernikahan itu suci, Manda. Ibu nggak bisa meninggalkan suami ibu.” Amanda mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya terpancing. “Pernikahan?” wanita itu tettawa renyah, “Apakah pernikahan adalah neraka bagi orang lain? Apakah hubungan suci adalah salah satu alasan untuk membunuh hati maupun raga orang yang kau cintai? Apa hubungan yang seperti ini Ibu sebut sebagai pernikahan?” Amanda berteriak. Dirinya sendiri tak menyangka bila ia bisa berbicara sekasar ini pada wanita yang melahirkannya. “Apa pernikahan yang ibu maksudkan adalah membiarkanku dibunuh, lalu menunggu giliran ibu untuk dibunuh juga olehnya?” Amanda semakin mengeraskan volume suaranya, suaranya bergetar, napasnya memburu, dan kemarahan terlihat begitu jelas pada sepasang manik matanya. Sedetik kemudian, sebuah tamparan mendarat pada pipinya, membuat Amanda tersadar jika pukulan itu datang dari wanita yang selama ini dicintainya tanpa syarat. Amanda tersenyum sinis dan memegang pipinya yang terasa panas. Bukan karena sakit pada raganya, namun luka di hatinya yang semakin menganga lebar karena apa yang wanita itu lakukan padanya. Sementara wanita paruh baya itu menatap Amanda dadar, bibir bagian bawahnya bergetar, bahkan tangannya yang masih menggantung di udara sama bergetarnya. Keduanya saling berpandangan dengan tatapan penuh luka. “Manda … maafkan ibu. Ibu nggak bermaksud menamparmu,” ucap wanita itu hendak meraih tangan Amanda yang menutupi wajahnya, namun dengan cepat Amanda menghindar. Dirinya salah saat berpikir, tak ada seorang ibu pun yang tak mencintai anaknya. Ia lupa, jika dirinya sebatang kara di dunia ini. Kenyataan menyakitkan itulah yang membuat air matanya mengalir, membuat Si wanita paruh baya itu menangis tersedu-sedu. Terisak dan sesekali meraung, tak seperti Amanda yang menangis tanpa suara menyaksikan kenyataan pahit itu. “Ibu memang nggak pernah mencintaiku. Ibu terlalu membanggakan pernikahan yang menjerat ibu masuk ke dalam neraka. Bukan hanya mengorbankan diri ibu sendiri, tapi ibu turut menarikku masuk ke dalam lubang neraka itu. Yang kuinginkan hanyalah sedikit cinta, Bu.” Amanda mencoba menguatkan diri untuk membawa dirinya pergi dari tempat itu. Ia tak lagi bisa berada di sana. Tak ada yang bisa diselamatkannya dari kerusakan yang ada. Ibunya tak bisa pergi dari jeratan iblis, sedang Amanda ingin menjadi burung yang terbang bebas demi mencari kebahagiaannya. Ibu yang seharusnya melindungi dan mencintainya, sudah tak ada. Amanda tak bisa melakukan apa pun bila yang diselamatkan tak mau menerima penyelamatannya. Ia tak pernah diinginkan. Amanda hendak beranjak pergi dan meninggalkan neraka itu, namun dirinya terlambat. Sedetik kemudian, Amanda dapat merasakan benda keras yang memukul tepat kepala bagian belakangnya, perlahan pandangannya mulai menggelap, dan teriakan histeris ibunya lah adalah suara terakhir yang ditangkap oleh indera pendengarannya. Pandangannya menangkap senyum kemenangan yang menjijikkan dari pria itu yang menatapnya dengan wajah gembira. Amanda tertawa dalam hati, menertawai segala kebodohan yang seakan mendarah daging pada dirinya. Dirinya memang bodoh. Ia memang naif saat berpikir jika manusia bisa berubah. Ia lupa, jika berubah bukanlah sesuatu yang disukai manusia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN