Sementara atau Selamanya?

2271 Kata
Dalam keadaan terhimpit, kau akan melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Karena begitulah manusia diciptakan, mereka akan beradaptasi dengan keadaan sekitar untuk bertahan hidup. Terkadang, menyesuaikan diri malah membuatmu tenggelam dalam keadaan baru, hingga kau lupa jika yang kau lakukan hanyalah usaha untuk sekadar bertahan. Keduanya segera kembali ke rumah, begitu selesai berbelanja. Ternyata, kebahagiaannya belum berakhir seperti yang ia takutkan. Kembali ke kota di mana mereka memulai semuanya, bukanlah akhir yang ia takuti. Amanda merasa begitu beruntung. “Kamu nggak perlu lagi tidur di kamar terpisah,” ucap Rai begitu Amanda hendak melangkah ke dalam kamarnya yang berada di samping kamar pria itu. Pria itu terdiam setelah mengatakan perkataan yang ia tak percaya bisa keluar melalui mulutnya. Mengapa dirinya mencegah Amanda? Bukankah ia mempersiapkan kamar itu agar mereka tidak perlu tidur bersama dan dirinya tak kehilangan privasinya? Lalu, apa yang membuatnya mengajak Amanda untuk tidur di kamar bersamanya? Apa semua ini karena keterbiasaan saat berada di Bali? Di mana mereka selalu tidur bersama dan ia tak bisa mencegah dirinya yang menikmati wajah Amanda tertidur di sisinya begitu pagi menyingsing. Amanda menoleh ke arah Rai dan menatap pria itu penuh tanya. “Bukankah aku nggak boleh tidur bersamamu? Maksudku hanya waktu-waktu tertentu saja, namun seharusnya aku tidur di kamar yang kamu siapkan untukku, bukan?” Amanda takut bila dirinya salah mengerti dan menyebabkan pria itu kembali marah padanya. Ia tak mau merusak suasana di antara mereka. Ia masih mau menikmati kebahagiaan ini untuk waktu yang lebih lama lagi. “Mulai sekarang, kamu akan tidur denganku setiap malam. Apa kita perlu memindahkan barang-barangmu juga ke dalam kamarku?” Rai menatap Amanda lekat, ingin mengetahui pendapat wanita itu, “Apakah berlebihan?” lanjutnya saat tak menerima respon apa pun. Berlebihan mungkin bukanlah kata yang tepat. Hanya saja, ia masih tak percaya jika semua ini adalah kenyataan. Apakah artinya mulai saat ini mereka benar-benar akan hidup sebagai mana pasangan suami istri yang sebenarnya? Bukan lagi sekadar kebohongan? “Aku hanya berpikir, jika tidur bersamamu membuatku merasa nyaman,” ucap Rai lagi, tak sabar menunggu Amanda yang terus memilih diam. Padahal, ia sudah merasa sangat sulit untuk mengatakan semua permintaannya itu, ia pun takut bila Amanda menolak. Amanda tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja aku mau.” Tak bisa dipungkiri bila dirinya sama dengan Rai yang merasa nyaman dengan kebersamaan mereka. Berbagi kehangatan tubuh setelah mereka saling menyalurkan hasrat. Semua hal mulai tampak berbeda. Kini, selalu ada pelukan setiap kali mereka selesai melakukannya. Terkadang mereka pun kerap berbicara santai, membuat Amanda menyukai berada di tempat tidur yang sama dengan Rai. Tentu saja permintaan pria itu tak berlebihan. “Haruskah kita memindahkan pakaianmu?” Amanda menggeleng. “Nggak perlu, Mas. Biarkan semuanya tetapi di sana karena aku tahu kalau sesekali, kamu pasti butuh waktu untuk sendiri, bukan?” “Inilah mengapa aku begitu menyukaimu.” Rai menyeringai, “Kamu begitu mengerti aku, seakan sudah mengenalku untuk waktu yang begitu lama. Aku nggak perlu menjelaskan apa pun seperti kamu bisa membaca pikiranku. Semua terbukti dengan permainan yang kita lakukan di pusat perbelanjaan tadi. Dengan mudahnya kamu menang dariku.” “Mungkin hanya keberuntungan saja,” Amanda tersenyum lebar lalu menggenggam tangan Rai dan mengajak pria itu masuk ke dalam kamar, “Sekarang lebih baik kita tidur. Kamu pasti capek dan besok sudah mulai bekerja, bukan?” Rai mengangguk dan keduanya masuk ke dalam rumah. Amanda dan Rai segera berbaring di tempat tidur. Rai membentangkan tangannya, memberikan tanda agar Amanda masuk ke dalam pelukannya dan wanita itu melakukan apa yang diminta oleh Rai. Amanda merasa begitu nyaman di dalam dekapan pria itu. “Besok mau sarapan apa, Mas?” tanya Amanda di dalam dekapan Rai. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, menikmati kenyamanan dan kenhangat dari tubuh Amanda. Untuk sesekali, menghabiskan malam seperti itu terasa begitu benar bagi Rai. Entah sejak kapan Amanda mengubahnya. Rai bahkan seakan melupakan niat awalnya menawarkan pekerjaan itu. “Apa aja yang nggak membuatmu repot.” Amanda tersenyum di dalam dekapan pria itu, “Apa suatu hari nanti, kamu akan berbagi sedikti tentangmu, keluarga, atau apa pun itu? Bukankah kita sudah berteman? Seharusnya kamu berbagi dengan temanmu.” Amanda tersenyum tipis. Mendengarkan pertanyaan pria itu membuatnya merindukan ibunya. Bagaimana keadaan wanita itu sekarang? Apakah keputusan Amanda untuk menghilang sudah benar? Bagaimana bila ayahnya melakukan hal lebih buruk saat ia tak ada? Amanda menggeleng, tidak mungkin. Wanita itu pasti memang tak mengharapkannya kembali. “Nggak ada yang menungguku pulang. Itu ringkasan dari semua kisahku.” “Lain kali ceritakan yang lebih panjang lagi.” Amanda tersenyum di dalam dekapan Rai. Ia sendiri tak tahu apakah akan ada kepanjangan dari kisahnya. Mungkin suatu saat nanti. Keduanya tak lagi berbagi cerita. Kehangatan dan kenyamanan yang mereka bagi membuat rasa kantuk hadir dan menjemput keduanya. Mereka seperti dua anak kecil yang terlihat begitu polos dan juga tenteram. Keduanya berpelukan begitu erat, seakan tak ingin melepaskan satu sama lainnya. Berharap waktu dapat berhenti sekarang juga. Fajar menyingsing, cuaca cerah menyambut Amanda yang bangun dengan perasaan yang begitu damai. Amanda segera melakukan semua pekerjaannya sebagai seorang istri. Pagi-pagi sekali, ia sudah membersihkan diri, menyiapkan pakaian kerja Rai, lalu meletakkannya di atas sofa kamar. Setelah menyiapkan keperluan suaminya, dirinya segera memasak sarapan, bahkan membuatkan bekal makan siang untuk Rai. Ia tak tahu apa pria itu mau membawa bekal makan siang yang disiapkannya, setidaknya ia sudah mencoba untuk melakukan yang terbaik. Amanda melirik jam dinding dan merasa heran karena Rai belum juga bangun dari tidurnya. Amanda bergegas menuju kamar untuk membangunkan pria itu, ia tak ingin Rai terlambat dan menyalahkannya. Amanda menaiki anak tangga dan tersenyum tipis melihat Rai yang masih terlelap. Wanita itu berbaring di bagian kosong yang tadi malam ditempatinya, lalu tangannya terhenti begitu ingin membangunkan Rai. Ia ingin sedikit lebih lama menikmati ketampanan pria itu. Betapa hebat bagaimana seorang yang kaku bisa terlihat begitu polos. Bagaimana dengan tidur, mampu membuat seseorang terlihat bagai malaikat? Sadar jika dirinya tak boleh terus tersihir, Amanda menggelengkan kepala, dan melanjutkan niat awalnya masuk ke kamar itu. Wanita itu menggoyangkan lengan Rai. “Mas bangun, Mas. Udah jam tujuh pagi. Nanti kamu terlambat, Mas.” Pria itu menggeliatkan tubuhnya. Saat baru berkenalan dengan Rai. Pria itu selalu bangun jam enam pagi. Melakukan olahraga kecil di halaman rumah, lalu membersihkan dirinya. Mungkin karena liburan kemarin, pria itu terbiasa bangun siang. Setiap bangun pagi, ia selalu berkata pada Amanda, jika tidurnya terlalu nyenyak dan sudah lama ia tak tidur seperti itu. “Jam berapa?” tanya pria itu dengan suara serak khas bangun tidur. “Jam tujuh, Mas.” Mendengarkan jawaban Amanda membuat pria itu segera bangun dengan terburu-buru dan tanpa bertanya banyak lagi, ia berjalan menuju kamar mandi. Amanda segera memindahkan pakaian pria itu yang tadi diletakkannya di sofa ke atas tempat tidur setelah membersihkan ranjang yang tadi malam mereka tempat bersama. Kemudian, Amanda duduk di tepi tempat tidur dan menunggu pria itu dengan diam. Beberapa menit kemudian, Rai sudah selesai membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang disiapkan oleh Amanda dengan tergesa-gesa. Amanda hanya bisa berdiri dan memperhatikan pria itu tanpa berani bertanya. Ia takut, bila Rai akan marah padanya. “Kamu lihat di mana jam tanganku?” tanya pria itu seraya mengedarkan pandangannya ke penjuru kamar, Amanda mengikuti apa yang pria itu lakukan dan mencari benda yang Rai cari-cari. Wanita itu tersenyum begitu menemukan jam tangan Rai di meja dekat sofa. Wanita itu mengambilnya, lalu memberikannya pada Rai. “Ini, Mas,” Rai menerima jam tangan yang diulurkan Amanda untuknya, “Sini aku bantu kenakan dasi dan kamu bisa memakai jammu,” lanjut Amanda seraya memakaikan dasi kepada Rai. Semakin hari, ia mulai memperhatikan Rai, seperti betapa bidang d**a pria itu dan juga otot-otot yang didapatkannya dari olahraga yang disukainya atau ternyata Rai memiliki lekuk kecil di sisi pipi kiri saat tersenyum. Kini, matanya tak pernah bisa berhenti memperhatikan detail kecil tentang Rai. “Semuanya sudah siap,” ucap Amanda seraya menatap Rai lembut. “Makasih, Da. Aku berangkat kerja dulu,” pria itu mengecup bibir Amanda. “Mas kamu nggak sarapan dulu?” Amanda mengikuti Rai yang berjalan dengan tergesa-gesa. Amanda tak menyangka jika membangunkan pria itu di jam tujuh pagi adalah waktu yang begitu mepet. Amanda akan mengingat hal ini agar tak mengalami kejadian serupa. “Kayaknya nggak sempet, Da. Aku ada meeting jam delapan tepat hari ini dan kamu tahu sendiri kalau Jakarta itu selalu macet. Aku akan terlambat,” ucap Rai yang masih terburu-buru. “Maaf aku terlambat membangunkanmu, Mas. Kalau memang nggak sempat makan siang. Tolong bawa bekal makan siang yang kusiapkan.” Amanda segera berlari ke dapur untuk mengambil tas bekal dan segera membawanya keluar tempat di mana Rai sudah berada. Amanda menyerahkan tas itu pada Rai. “Jadikan sebagai sarapanmu biar nggak kelaperan, Mas,” ucap Amanda seraya memberikan senyum terbaiknya. Senyum itu menular pada Rai. Pria itu kembali menarik wajah Amanda mendekat dan mengecup singkat bibirnya. “Makasih banyak, Da. Aku pasti akan memakannya.” “Hati-hati di jalan, Mas,” Amanda melambaikan tangannya mengantar kepergiaan Rai. Wanita itu masih berdiri di teras depan sampai punggung pria itu benar-benar menghilang dari pandangannya. Amanda berharap, waktu bisa berhenti saat ini juga. Di detik 00.01 dan berharap tak bergerak hingga mencapai angka 00.00 di mana semua akan meledak dan berakhir. *** Amanda terpaku di tempatnya untuk sejenak, lalu senyum terukir di wajahnya menjemput wanita tua itu. “Nenek kenapa nggak bilang kalau mau datang ke sini?” ucap Amanda seraya memeluk lengan wanita tua itu dan menuntutnya masuk ke dalam rumah. “Nenek hanya mau mengejutkanmu. Nenek tahu kalau pasti sendirian di rumah, jadi nenek nekad saja karena mau menemanimu,” ujar wanita tua itu dengan senyum di wajahnya yang segera menular pada Amanda. Bi Tuti yang sedari tadi berdiri di belakang punggung nenek Rai iku masuk ke dalam dan mengikuti keduanya. Amanda mempersilahkan mereka duduk. “Akan aku buatkan teh dulu. Nenek dan Bibi mau minum apa?” Nenek Rai menggerak-gerakkan tangannya di udara dan meminta Amanda duduk bersamanya. Bi Tuti segera berdiri melihat keduanya. “Biar Bibi saja yang buat minum. Non Manda silahkan duduk saja bersantai dengan nenek.” Amanda menggeleng. “Bibi nggak usah repot-repot dan biar aku yang membuatkannya.” “Nggak repot sama sekali,” ucap Bi Tuti yang masih berlalu pergi, membuat Amanda tak mungkin lagi bisa menolak. Nenek Rai menggenggam tangan Amanda dan memintanya duduk. “Nggak pa-pa. Bi Tuti itu sudah biasa ke rumah Rai. Sesekali nenek memintanya datang ke sini untuk mengawasi orang yang bersih-bersih rumah dan juga memastikan Rai makan dengan baik,” Nenek Rai tersenyum menenangkan, “Nggak usah khawatir. Dia pasti paham semua perlengkapan dapur di rumah ini. Duduk saja dan bersantai.” Amanda tersenyum, mengangguk, dan duduk di samping wanita tua itu. “Baiklah kalau memang begitu, Nek. Aku penasaran apa yang membawa nenek ke sini?” “Apa nenek nggak boleh mengunjungi cucunya sendiri setelah mereka berlibur lama?” wanita tua itu memasang wajah kesal yang membuat Amanda langsung merasa tak enak dan menggerak-gerakkan sebelah tangannya yang bebas, tak ingin wanita tua itu berpikiran buruk. Wanita tua itu tergelak pelan menlihat kekhawatiran Amanda. “Tenang nenek hanya bercanda denganmu,” wanita itu tersenyum, “Jadi … bagaimana perjalananmu? Apa Rai memperlakukanmu dengan baik? Nenek sudah melihat hasil foto kalian. Benar-benar luar biasa.” Rentetan pertanyaan wanita tua itu membuat Amanda tersenyum. “Perjalanan kami sangat luar biasa, Nek. Mas Rai memperlakukanku seperti seorang ratu, jadi jangan khawatir, Nek.” Amanda mengusap-usap punggung tangan wanita tua itu dan tersenyum. “Syukurlah. Sungguh, nenek merasa lega melihatnya kembali bahagia. Setelah kepergian wanita itu, nenek pikir, dia nggak akan bisa kembali hidup. Oleh karena itu nenek memaksanya membuka hati dan menikah. Nenek nggak mau dia terus-terusan terjebak nostalgia.” Lagi-lagi, nama Amelia selalu dikaitkan akan kebahagiaan dan juga cinta dalam hidup Rai. Amanda tak ingin merasa seperti ini, namun tak mampu mencegah rasa penasaran yang menyelimuti hatinya. Sedalam itukah cinta keduanya dulu? Wanita tua itu mengatakan kepergiaan Amelia, apakah artinya wanita itu lah yang pergi dari kehidupan Rai? “Maaf, nggak seharusnya nenek membahas masa lalu Rai, tapi nenek benar-benar bersyukur dan seakan nggak percaya saat dia bercerita tentangmu dan keputusannya untuk menikah. Padahal, dulu dia bilang nggak akan pernah mau menikah.” Amanda tersenyum lirih. Pantas saja semua orang mengatakan jika cinta dalam hidup Rai hanyalah Amelia, bahkan nenek dari pria itu pun sempat merasa takut apabila Rai tak mungkin bisa kembali bangkit setelah kepergiaan wanita itu. Cinta mereka pasti begitu dalam. Kini, Amanda semakin penasaran, apa yang membuat wanita itu pergi. “Nggak pa-pa, Nek. Terkadang, luka memang sulit disembuhkan. Bahkan Si pemilik luka juga merasa jika lukanya akan terus menetap di dalam hati, akan tetapi waktu akan menunjukkan keajaibannya,” Amanda tersenyum manis, “Nenek nggak perlu khawatir karena kami akan meninggalkan semuanya di belakang dan berbahagia bersama.” Senyum di wajah tua itu semakin lebar mendengarkan ucapan Amanda. Ia mengangguk-angguk, berharap Amanda benar-benar mampu membuat Rai kembali bahagia. “Syukurlah … nenek benar-benar bahagia untuk kalian. Nenek akan meminta fotonya langsung dikirim ke rumah ini begitu selesai dicetak. Oh ya, ambillah ini.” Wanita tua itu mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin bermata hijau kepada Amanda. Wanita itu meletakkannya di telapak tangan Amanda, sedang Amanda tersenyum melihatnya “Apa ini, Nek?” Amanda mengamati kalung di telapak tangannya. “Ini adalah kalung turun temurun yang diberikan pada setiap pengantin di keluarga kami. Sekarang, kalung ini adalah milikmu dan kelak, kamu bisa mewarisinya pada anakmu juga. Sekarang kamu adalah bagian dari keluarga kami,” ucap wanita itu seraya tersenyum lembut, sedang Amanda merasa ragu mengambil apa yang bukan menjadi miliknya. Bolehkah ia mengambil kalung itu meski hubungan di antara mereka hanyalah sebuah kebohongan semata?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN