Bisakah Selamanya Seperti Ini?

2246 Kata
Dua orang yang menyimpan luka yang begitu besar hingga sulit dilupakan bukanlah sebuah kombinasi yang baik. Kebersamaan mereka akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapanpun itu. Saat semuanya terjadi, maka semua pun berakhir. Tak seharusnya kau bersama dengan dia yang terluka, kalian hanya akan saling menjilatii luka yang tak bisa mengering. Tak semua orang memiliki kehidupan yang damai dan juga bahagia, ada beberapa orang seperti Amanda yang seakan dunia tak pernah mengizinkannya untuk bahagia, meski dirinya sudah berusaha. Namun kini, dengan ajaibnya, dunia seakan berpihak padanya dan memberikan semua kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan tak peduli sekeras apa ia berusaha. Namun sayang, perasaan yang menggebu ini, justru membuatnya semakin takut. Waktu begitu cepat berlalu saat hatimu merasa gembira, itulah yang orang-orang katakan dan kini Amanda mengalaminya sendiri. Ia tak pernah menyangka jika detik bisa terasa seperti tengah berlari, hingga tak terasa sudah seminggu lama mereka berada di Bali. Mereka telah mengunjungi banyak tempat, mulai dari pura, pantai, berbelanja, dan juga gunung. Semua hal mereka lakukan layaknya sepasang suami istri yang tengah menjalani bulan madu. Tak ada lagi kedinginan di antara keduanya, terlihat semakin tak nyata bagi Amanda. Mereka suka berkecupann lembut, dan berciumann penuh hasrat di malam hari. Beberapa hari ini mereka habiskan dengan begitu bahagia, kebahagiaan yang terliha tak nyata bagi Amanda. Kini saatnya, mereka kembali ke dunia nyata. Hal yang membuat Amanda takut bila apa yang dialaminya di Bali akan berubah begitu saja. Ingin rasanya ia tak kembali dan tinggal lebih lama di dalam dunia mimpi bersama Rai, namun hal itu mustahil untuk ia ungkapkan. “Kenapa kamu melamun?” tanya Rai yang segera menggenggam tangan Amanda. Wanita yang sedari tadi menatap lurus itu dibawa kembali ke alam nyata, Amanda menoleh pada Rai dan memberikan senyum terbaiknya untuk pria di sampingnya itu. Ia menghela napas panjang. “Aku hanya merasa kalau semua ini mimpi. Bukankah mimpi indah akan berakhir?” Jika memang semua ini adalah mimpi, ia tak ingin dibangunkan dan kehilangan semuanya. Rai tersenyum dan menggeleng. “Itu tandanya, kamu sangat menikmati liburan kita. Nanti, kalau aku ada waktu lagi. Aku akan mengajakmu kembali berlibur. Kamu bisa memilih tempat mana yang mau kunjungi dan aku akan menurutinya.” Rai mengusap lembut puncak kepala Amanda dan tersenyum hangat. Amanda dengan mudahnya mempercayai setiap kata yang keluar dari mulut Rai. Tak ada keraguan sedikit pun di dalam hatinya untuk pria itu. “Kalau begitu, kamu berhutang liburan denganku, Mas.” Rai tergelak pelan dan mengangguk. “Ya, aku berhutang padamu.” Amanda tersenyum senang. Hati kecilnya akan mengingat apa yang pria itu katakan hari ini. Ia ingin mereka berlibur bersama agar Amanda bisa meyakinkan dirinya sendiri jika apa yang ada di antara mereka bukan sekadar mimpi belaka. Semua ini adalah kenyataan. “Kita harus segera ke pesawat,” ucap Rai seraya menarik tangan Amanda dan menggenggamnnya, kemudian keduanya berjalan beriringan sembari menggeret koper masing-masing. Keduanya kembali bertukar cerita dan sesekali berbagi canda. Senyum bahagia menghiasi wajah keduanya. Tak ada lagi kecanggungan ataupun dingin yang Rai tunjukkan. Perjalanan keduanya berakhir dan mereka sudah tiba di rumah. Amanda melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik. Ia meminta Rai segera membersihkan diri sementara dirinya membereskan semua barang-barang mereka. Rai sempat menolak, namun Amanda memaksa. “Aku nggak akan membongkar barang-barang pribadimu. Aku hanya akan memindahkan pakaian kotor ke keranjang agar besok bisa dicuci dan menyimpan kembali pakaianmu yang masih bersih,” ucap Amanda seraya tersenyum, berharap Rai tak lagi memperlakukannya begitu asing setelah apa yang mereka jalani bersama. Mereka tak perlu kembali ke titik awal, bukan? Rai terpaku menatap Amanda sebelum mengangguk dan pergi masuk ke dalam kamar mandi. Apa yang Amanda harapkan dari hubungan mereka? Meski berjanji untuk menciptakan kebahagiaan bersama, namun hubungan mereka dimulai dengan cara yang salah. Amanda tak bisa berharap bila waktu mampu mengubah apa yang ada di antara mereka. Bukankah sebuah awal adalah hal yang akan menentukan bagaimana akhir yang akan kau miliki? Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuyarkan lamunan Amanda. Wanita itu segera menatap ke sumber suara dan menemukan Rai dengan bagian bawah tubuh yang dililit handuk. Pria itu mengambil berjalan ke arah lemari, sedang Amanda tak mampu menghentikan dirinya untuk tak mengamati gerakan pria itu. Bolehkah ia berharap, ada kata selamanya bagi mereka? Bisakah seorang istri bohongan, menjadi istri yang sebenarnya? “Kamu nggak mandi?” tanya Rai yang melihat Amanda masih mematung di tepi tempat tidur. Wanita itu terkejut dan tersenyum kikuk, takut-takut Rai sadar bila dirinya sedari tadi mengamati pria itu. Amanda segera berdiri, mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Amanda menyandarkan punggungnya pada daun pintu yang telah tertutup rapat dan meraba dadanya, tempat di mana jantungnya berada. Ia dapat merasakan betapa kencang debaran jantungnya saat ini, akhir-akhir ini selalu berdebar seliar ini. Rasa takutnya terasa mengerikan. Amanda takut tenggelam dengan kenyamanan dan kebahagiaan yang meliputinya, sehingga ia lupa bahwa hubungan mereka dimulai dengan sesuatu yang tidak baik. Pertanyaan tentang apakah semua ini akan baik-baik saja kerap muncul dan menguasai benaknya. Namun Amanda hanya ingin bersikap egois dengan menjawab semua pertanyaan itu dengan jawaban; tidak tahu dan tak peduli. Amanda ingin menjadi seperti orang-orang tamak di sekitarnya. Kehidupan mengajarkannya, bila kau harus mendapatkan keuntungan sebesar mungkin selagi memiliki kesempatan. Oleh karena itu Amanda ingin menikmati semuanya sebelum semuanya berakhir. Lagipula, ia tak ‘kan pernah tahu, apakah mungkin ini memang rencana Tuhan untuk membuatnya mengenal arti dari kata bahagia. Hidup bersama Rai terasa begitu serba salah, terlalu takut untuk dinikmati dan terlalu egois untuk dilepaskan. Amanda tak lagi mau berpikir, ia memutuskan untuk menikmati apa yang masih bisa dinikmatinya. Amanda segera membersihkan diri dan ingin segera bergabung bersama dengan Rai. Selepas membersihkan dirinya, Amanda tak lagi menemukan Rai di dalam kamar. Ia pun turun ke lantai bawah untuk menemukan pria itu. Amanda tersenyum begitu melihat Rai sedang berada di ruang keluarga dan sibuk dengan laptopnya, hingga tak menyadari kehadiran Amanda. Senyum di wajah Amanda menghilang saat dirinya melihat apa yang tengah pria itu lakukan di laptopnya. Tak seperti apa yang diperkirakan sebelumnya. Pria itu bukan sedang bekerja. Rai tampak tenggelam dalam pikirannya saat melihat foto seorang wanita yang terpampang jelas di layar. Amanda tersenyum tipis. Baru saja ia berpikir untuk menikmati apa yang kini ia dapatkan, namun lagi-lagi kenyataan menampar keras pipinya. Membangunkannya dari mimpi indah yang tengah dialaminya dengan mata terbuka. Amanda tak mampu mencegah rasa perih yang menjalar ke penjuru hatinya, namun ia tahu bukan haknya untuk terluka. Semua orang punya masa lalu dan Amanda tahu jika wanita itu pastilah Amelia, wanita yang diceritakan Jansen sebagai satu-satunya wanita yang Rai cintai. Amanda tersenyum miring. Apakah itu berarti kini Amanda mengharapkan cinta dari hubungan yang dimulai secara tidak baik ini? Dirinya benar-benar serakah, bukan? “Sejak kapan kamu berada di sana?” Suara laptop yang ditutup kasar beserta pertanyaan Rai membuyarkan lamunan Amanda. Wanita itu tersenyum kikuk. “Baru saja, Mas,” Amanda berusaha terlihat baik-baik saja, lalu mengitari sofa dan duduk di samping Rai, “Mau makan apa? Aku akan memasak untukmu.” Rai menggeleng. “Bahan masakan sepertinya sudah habis. Bagaimana kalau kita makan di luar sekalian berbelanja,” Rai menatap jam dinding, “Masih jam lima sore dan kita harus menikmati beberapa menit yang tersisa ini. Bagaimana menurutmu?” Amanda mengangguk setuju. “Ide yang sangat baik. Kalau begitu, aku ganti pakain dulu.” Rai mencengkram pergelangan tangan Amanda begitu wanita itu hendak pergi meninggalkannya. Pria itu menggeleng. “Nggak perlu mengganti pakaian. Bukankah pakaianmu sekarang udah bagus?” Amanda meneliti pakaiannya. Kini ia hanya menggunakan kaos putih kebesaran yang dipadukannya dengan celana jeans pendek. Entah mengapa, ia merasa tak percaya diri bila harus jalan berdua bersama Rai tanpa merias diri. Pria itu terlalu tampan dan berkarisma, sedang dirinya hanyalah itik buruk rupa. Ia tak ingin orang-orang menatap Rai dengan tatapan sedih karenanya. Ia tak mau mempermalukan suaminya itu. “Aku nggak pede berpakaian biasa seperti ini untuk jalan bersamamu, Mas.” Rai tersenyum seraya menggeleng-geleng. “Kamu cantik,” puji pria itu yang membuat Amanda tersipu malu. Meski semua itu hanya tipuan atau kata menenangkan, semua itu mampu membuat Amanda merasa senang. Keegoisan Amanda perlahan membuat dirinya semakin bodoh yang ingin menikmati semua hal semu yang membuatnya merasa sangat bahagia. “Kamu nggak perlu pakaian bagus hanya untuk membuatmu tampil cantik. Kamu harus percaya diri dengan dirimu sendiri, Manda.” Pria itu mengusap lembut wajah Amanda, “Aku ambil dompet dan kunci mobil dulu. Kamu tunggu aja di sini ya.” Amanda mengangguk. Amanda kembali melirik laptop yang sudah tertutup dan tersenyum miris. “Maaf. Aku akan mencoba mengabaikan kehadiranmu dan menikmati kebersamaan kami. Mungkin kali ini takdir berbaik hati padaku dan menjadikanmu sebatas masa lalu. Biarkan aku kembali mempercayai hal yang selalu kutakuti. Aku ingin percaya jika ada alasan di balik pertemuan kami. Maaf jika aku memang begitu egois.” Gumam Amanda pelan. “Yuk!” Suara Rai membuat wanita itu kembali mengukir senyum di wajahnya. Ia segera berlari pelan ke arah Rai dan memeluk lengan pria itu. Amanda ingin menenggelamkan diri dalam kebohongan yang membuatnya bahagia. Biarlah dirinya menikmati perannya. Perjalanan yang memakan waktu tiga puluh menit itu membawa mereka ke sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya saling bergenggaman tangan. Setelah makan di restoran, keduanya pun melanjutkan kegiatan dengan berbelanja bahan masakan untuk esok hari. “Telur?” Amanda menoleh pada Rai, pria itu segera menggeleng dan kembali mendorong troli belanjaan. Kini giliran Amanda yang menoleh ke suatu sudut, lalu Rai akan menebak benda apa yang tengah dipikirkan oleh Amanda. Rai yang mengusulkan permainan ini untuk membuat kegiatan belanja mereka lebih menarik, sedang Amanda menebak jika Rai berusaha mengerti apa yang ada di dalam pikirannya. Ia memang besar kepala saat berpikir pria itu ingin mengertinya. “Apakah ikan?” pria itu menatap Amanda meneliti, memastikan Amanda tak berbohong dan lagi-lagi berkata jika tebakannya salah, namun dirinya tak mampu menemukan ekspresi yang menunjukkan bila Amanda berbohong saat dirinya menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Rai. Pria itu menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Pria itu tak berhasil menebak satupun dari permainan mereka, sedang Amanda mampu menebak empat benda benar dari lima tebakan yang sudah mereka lakukan. Ini menandakan bila memang membaca pikiran Amanda adalah perkara tersulit. Wanita itu terlalu pintar memasang wajah datar, sama sepertinya. Akan tetapi, Amanda selalu mampu memahaminya. “Sepertinya, aku memang nggak pernah bisa mengerti caramu berpikir. Menebak pikiranmu seakan menebak apa saja isi samudera,” ucap Rai dengan nada putus asa, sedang perkataan pria itu membuat Amanda tergelak pelan. Sesungguhnya, tak perlu merasa heran karena memang tak ada perasaan yang pria itu miliki untuknya. Kau tak mungkin bisa mengerti seseorang yang tak mampu menyentuh hatimu, berbeda dengan dirinya yang memiliki rasa terlarang yang diberikannya untuk pria itu. Semudah inilah perbedaan mereka. “Kenapa kamu masih begitu ingin untuk mengenal dan mengetahui tentangku?” Rai mengendikkan kedua bahu tak acuh. “Entahlah. Mungkin aku ingin mencari tahu alasanmu selalu terlihat terluka. Mungkin juga, aku ingin mencari seberapa banyak kesamaan kita yang membuatku merasa begitu nyaman saat berada di sisimu.” Pria itu tersenyum manis. Amanda menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. “Sudah kubilang kalau kamu nggak perlu mencari tahu apa pun tentangku, Mas. Lagipula, kenapa kamu terlihat begitu tertarik untuk mencari tahu? Apa hanya sebatas rasa penasaran saja?” Rai tertawa kecil. “Tentu saja. Apa menurutmu ada hal lain yang membuatku tertarik.” Perkataan pria itu membuat Amanda tercengang sesaat. Keduanya bersitatap dalam diam. Amanda tahu bila dirinya terlalu gila dengan berpikir jika Rai mungkin saja merasa tertarik dalam arti yang tertentu pada dirinya. Keegoisan tak hanya membuatnya mengambil peran antagonis dengan baik, namun membuatnya selalu berhalusinasi. “Entahlah. Jangan berusaha terlalu keras dalam mengetahui tentangku. Aku takut, kalau hasil yang kamu dapatkan nanti malah akan membuatmu kecewa.” Amanda kembali melanjutkan perjalanan mereka yang sempat terhenti, sedang Rai kembali mendorong troli. Amanda memasukkan beberapa bahan pangan ke dalam troli dan Rai melakukan hal yang sama. “Bagaimana kalau sekarang menebak tulisan?” Amanda tersenyum melihat usaha Rai. “Boleh. Aku yang mulai?” Rai mengangguk setuju, kemudian Amanda melihat ke suatu arah dan membaca satu kata di sana, lalu menoleh pada Rai yang dengan segera melihat ke tempat yang Amanda lihat tadi. “Sayuran segar?” tebak pria itu dengan nada percaya diri. Amanda lagi-lagi tertawa. “Salah lagi?” tebak pria itu dengan wajah frustrasi yang membuat Amanda kembali tertawa. Ia benar-benar tak menyangka jika pria itu selalu kalah dalam permainan mereka. “Sudah, anggap saja aku pemenangnya. Bukankah yang menang harusnya mendapatkan hadiah?” Amanda tak ingin pria itu selalu merasakan kekalahan dan lebih baik mereka menghentikan saja permainan di antara mereka. “Beritahu jawabannya, lalu aku akan memberikan hadiah apa pun yang kamu mau.” Amanda tersenyum lebar. “Buah-buahan,” jawab Amanda singkat. Rai mengacak rambut gusar, tak menyangka jika permainan menebak ini bisa menjadi begitu menyulitkan jika melawan Amanda. “Baiklah, sekarang apa yang kamu inginkan?” Amanda mengusap dagunya dan tampak berpikir keras, kemudian ia berkata. “Apa bisa aku menyimpan hadiahnya untuk lain kali?” tanya wanita itu dengan tatapan memohon. “Sedang nggak ada yang kamu inginkan saat ini?” Amanda mengangguk. Ya, tak ada lagi yang ia inginkan saat ini karena Rai telah memberikan semua yang ia inginkan. Pria itu memberikan apa yang tak pernah ia miliki dan semua ini sudah lebih dari cukup, ia tak ingin menjadi lebih serakah lagi. “Ya, untuk saat ini belum ada yang kuinginkan.” Pria itu tersenyum dan mengangguk. “Baiklah, kalau begitu ingatkan aku, jika aku berhutang satu permintaan padamu. Kamu bisa menagihnya kapan pun yang kamu mau.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN