Takdir yang terlalu kejam kerap membuatmu bertanya-tanya, apakah maksud Tuhan mengirimmu ke dunia ini? Kemalangan demi kemalangan seakan tiada habisnya. Terus menjebakmu dan membuat dirimu semakin hancur. Hingga perlahan, kau tak mampu melihat kebaikan di sekitarmu. Kau pun mulai menyamakan semua orang, menggap mereka semua jahat, semua kejahatan tak bisa melepaskanmu seakan diciptakan hanya untuk membuatmu sengsara. Kau marah, bahkan pertanyaan di hatimu semakin banyak pada-Nya yang sebenarnya selalu memberikan semua yang kau butuhkan, walau bukan yang kau inginkan.
Begitu tiba di kamar hotel, Rai merebahkan tubuh Amanda perlahan ke atas kasur. Tubuh wanita itu tak berhenti bergetar, membuat jantung Rai seakan diremas kuat-kuat, meninggalkan rasa perih dari ketidakberdayaan yang mulai membuat sesak memenuhi dadaanya.
Sedetik kemudian Amanda segera bangkit berdiri dan berlari pelan menuju kamar mandi. Sikap pria itu membuat Rai ketakutan dan khawatir, pria itu segera menyusul Amanda. Di dalam sana, Amanda menyalakan keran air shower dan segera melepaskan semua pakaian yang membalut tubuhnya. Terlalu tergesa-gesa dengan air mata yang kembali turun membasahi pipinya. Amanda merasa jijik dengan tubuhnya sendiri. Ia ingin membersihkan bekas jejak yang pria itu tinggalkan pada sekujur tubuhnya. Berharap air mampu membuatnya merasa bersih.
Kepingan-kepingan gambar mengerikan itu kembali memasuki kepalanya begitu ia berdiri di bawah air shower. Ciuman di leher, sentuhan di pahanya, dan juga d**a. Amanda menggosok tubuhnya dengan shower scrub dengan begitu kasar di setiap tempat yang pria itu sentuh. Ia tak mau ada jejak sentuhan pria bajingannn itu yang tertinggal di tubuhnya.
“Nggak usah sok jual mahal. Semua orang tahu siapa dirimu.”
Suara pria itu kembali terngiang di telinga Amanda, seakan mantra yang membuat hatinya semakin kacau. Amanda menggeleng-geleng, berusaha menghentikan suara yang membuat dadanya sesak bukan main. Tanpa henti Amanda menggosok tubuhnya. Ia bahkan tak mempedulikan rasa petih pada permukaan kulitnya. Ia hanya tak ingin ada sisa jejak yang membuat dirinya merasa begitu jijikk dengan tubuhnya sendiri. Ia tak mau merasa seperti itu.
“Dasar p*****r!” Teriakan itu kembali terdengar, bagai radio rusak yang tak bisa berhenti mengeluarkan suara. Perkataan yang menyayat hatinya. Isak Amanda kembali pecah, dirinya bahkan mulai terisak. Merasa begitu tak punya harga diri dan juga rendah.
Amanda tak lagi mempunyai kekuatan. Kedua kakinya begitu lemah, hingga tak mampu menahan berat tubuhnya. Amanda terduduk lemas di bawah pancuran shower. Mengapa semua ini bisa terjadi padanya? Mengapa tak ada cahaya dalam hidupnya yang gelap? Apa salahnya di masa lalu, hingga hidupnya selalu menderita? Dirinya tak pernah pantas bahagia.
Rai tak mampu lagi melihat pemandangan mengerikan yang membuat hatinya patah. Rai segera mendekati Amanda dengan wajah panik, melihat kehancuran wanita itu membuat bathinnya begitu tersiksa. Amanda tak lagi menyembunyikan kehancurannya dari Rai. Ia tak lagi bisa bersikap manis, seperti dirinya adalah robot yang tak memiliki perasaan. Benteng pertahanannya sudah runtuh begitupun dengan hatinya yang telah hancur.
Rai menarik tangan Amanda dan menempatkannya di belakang lehernya. Kemudian dengan satu sentakan, pria itu berhasil mengangkat tubuh Amanda dalam pelikannya. Sementara Amanda yang pikirannya sudah kacau, tak lagi mau berpikir apa yang coba pria itu lakukan padanya. Semua yang ada di dirinya seakan tak memiliki arti lagi, tak berharga sama sekali. Dirinya begitu kotor yang dengan mudahnya membiarkan pria meninggalkan jejak di tubuhnya.
Rai kembali menempatkan Amanda di tempat tidur, sementara pria itu duduk di tepi dan memandang Amanda dengan sendu. Rai menarik tangan Amanda dan memperhatikan luka gosokan di sepanjang tangan wanita itu. Hati Rai seakan teriris perih dan ia tak menyukai apa yang wanita itu lakukan pada tubuhnya. Ada amarah yang mulai terpancing.
“Apa yang kamu lakukan sama tubuhmu, Da?” Ada kemarahan yang tak lagi pria itu sembunyikan dari Amanda. Ia kesal, mengapa Amanda harus menyiksa dirinya sendiri seperti ini? Tidak tahukan wanita itu, bila perbuatannya hanya akan membuat Rai tersiksa?
Amanda menarik tangannya cepat-cepat, tak ingin Rai mengamati luka yang disebabkannya sendiri pada tubuhnya. Ia melingkarkan tangannya pada kedua kaki yang ditekuk, ia memeluk kakinya erat. Isak tangisnya kembali terdengar tak bisa dihentikannya lagi.
“Apa yang harus kulakukan sekarang, Ma? Apa yang harus kulakukan?”
Tangis Amanda yang terdengar pilu semakin menyiksa Rai. Pria itu menyentuh kedua pundak Amanda dan menatap wanita itu dengan lembut. “Tenang, Manda. Semuanya sudah berakhir dan pria itu nggak bisa lagi menyakitimu.” Rai menarik Amanda ke dalam dekapannya, memeluk Amanda erat-erat dengan sesekali mengusap-usap lembut punggung Amanda.
“Aku ada di sini, Manda. Aku akan selalu melindungimu. Nggak akan kubiarkan siapapun lagi menyakitimu. Jangan takut lagi. Tenanglah, ada aku bersamamu.”
Kalimat yang diucapkan oleh Rai membuat air mata Amanda berhenti berlinang. Amanda meluruskan kakinya dan melingkarkan tangannya pada tubuh Rai untuk membalas pelukan pria itu. Amanda menenggelamkan wajahnya pada dadaaa bidang Rai.
“Aku nggak bisa melupakan apa yang terjadi. Semuanya terasa begitu menjijikkann,” ucap Amanda terisak. Rai melepaskan pelukannya dengan perlahan dan kini menangkup wajah Amanda dengan kedua tangannya. Mata mereka saling bertemu dan Amanda dapat melihat kesedihan yang sama di dalam mata Rai. Kehancuran yang sama, seakan pria itu merasakan apa yang ia rasakan juga. Semuanya terlihat begitu jelas dari mata Rai yang biasanya terlihat hampa.
“Di mana dia menyentuhmu? Apakah di sini?” anya pria itu sembari melayangkan ciumannn pada pipi dan juga bibir Amanda.
“Di sini?” Pria itu meraih tangan Amanda dan mengecupnya.
Amanda menatap pria itu sendu dan mengangguk. Ia membiarkan Rai melakukan apa pun yang ia inginkan pada Amanda. Pria itu menyentuh dan mencium sekujur tubuh Amanda, seakan ingin menggantikan semua jejak mengerikan yang membekas di tubuhnya.
Entah kapan tepatnya, tubuh Rai sudah sama polos dengan dirinya. Pria itu mengambil tempat di atas Amanda. Menciumm wajah, hingga ujung kaki Amanda. Sentuhannya lebih lembut dari biasanya, pria itu memperlakukan Amanda seakan dirinya adalah kaca yang akan pecah bila tak hati-hati dan terjatuh. Pada akhirnya, mereka saling menyatukan diri. Amanda sendiri tak menolak gagasan itu. Hati kecil Amanda berharap Rai dapat membuatnya lupa.
Rai begitu lembut, memastikan Amanda merasa nyaman dengan semua yang pria itu lakukan padannya. Amanda sendiri seakan mencair dengan kehangatan yang pria itu bagi. Semuanya terasa berbeda. Bahkan Amanda bisa merasakan bila penyatuan mereka kali ini bukan sekadar penyatuan hasratt birahii semata. Selepas melakukan hal itu. Rai merebahkan tubuhnya di samping Amanda dan memeluk erat wanita itu. Ia membiarkan Amanda untuk bersandar pada dadanyaa. Kehangatan dari tubuh mereka yang saling bersentuhan, menjalar ke penjuru hati Amanda. Meski napas mereka masih sama-sama memburu, ada ketenangan yang mulai menyelimuti hati Amanda. Ia merasa begitu damai di dalam dekapan Rai.
“Dengan begini hanya ada jejakku yang ada di tubuhmu. Jangan pernah mengingat kejadian buruk itu lagi.” Pria itu mengeratkan dekapannya.
Amanda mengangguk dalam diam. “Bisakah kita seperti ini selamanya, Mas?” tanya wanita itu dalam hati. Tak memiliki keberanian atas pertanyaan yang ia tahu bagaimana jawabannya. Selamanya adalah mustahil untuk mereka yang memulai semuanya dari kebohongan. Setiap cerita pastilah memiliki akhir dan Amanda tak bisa menghindarinya.
Langit masih gelap saat Amanda memutuskan untuk keluar kamar dan meninggalkan Rai yang masih tampak tertidur pulas, Amanda tak ingin menggangu tidur pria itu dan dirinya pun butuh waktu sendiri untuk mencerna dengan baik apa yang saat ini tengah terjadi pada hidupnya.
Amanda memilih menghabiskan waktu di kolam renang hotel, menempati salah satu kursi santai yang berada di bagian paling ujung dan tampak usang, tempat yang ia yakini tak ada seorang pun yang suka memperhatikan bagian yang tampak tak menarik itu. Amanda hanya ingin tak terlihat dan menyendiri untuk sejenak.
Kejadian mengerikan itu masih mengganjal dalam pikiran Amanda. Membuat wanita itu kehilangan semangat bahkan untuk sekadar membuka mata dan menarik napas. Namun apa yang terjadi padanya dan Rai semakin memperjelas jika dirinya sangat membutuhkan pria itu. Amanda mulai merasa ketergantungan pada Rai dan seakan tak ingin semua ini berakhir. Kenyataan itu sungguh mengerikan. Artinya, ia mempunyai ketakutan baru yang tak mungkin bisa Amanda kendalikan. Kini Amanda ketakutan akan kehilangan Rai. Ketakutan yang tak semestinya ada di dalam hatinya karena ia tahu kebohongan itu bersifat sementara.
Amanda tak tahu berapa lama diri berdiam diri di tepi kolam renang. Saat membuka mata, mentari sudah muncul perlahan. Yang artinya, ia menghabiskan malam di tempat itu. Segala pemikiran yang merasuki benaknya, membuat tenggelam dalam semua itu. Ia merasa semakin lemah karena kini dirinya tak mau kehilangan Rai.
Amanda bangkit berdiri dan hendak kembali ke dalam kamar, namun urung dilakukannya begitu ia matanya menemukan Rai yang berdiri tidak jauh darinya. Amanda dapat melihat kepanikan pada wajah pria itu, rasa panik yang Amanda tidak tahu alasannya. Sedetik kemudian Rai segera berlari ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat.
“Aku pikir, kamu menghilang, Manda,” bisik pria itu dengan napas yang terengah-engah.
Amanda tercengang mendengarkan perkataan pria itu. Ada rasa bahagia yang menjalar dan memenuhi sanubarinya. Apa pria itu sama dengannya? Merasakan ketakutan akan kehilangan yang begitu mengerikan? Bolehkah Amanda menikmati kebahagiaan itu, meski apa semuanya hanyalah ilusi yang akan segera berakhir?
Amanda tersenyum dan membalas pelukan Rai tak kalah eratnya. “Aku nggak akan pernah menghilang, Mas.” Janji itu turut Amanda ukir di dalam hatinya. Dirinya tak ‘kan menghilang dari kehidupan pria itu selama yang pria itu inginkan. Ia akan bertahan, meski terkadang berada di sisi pria itu terasa begitu mengerikan, Amanda akan bertahan.
Lama keduanya berpelukan seakan menikmati ketentraman yang menguasi sanubari keduanya. Mereka seakan ingin meyakinkan diri masing-masing jika apa yang ada di hadapan mereka adalah kenyataan yang tak mungkin bisa menghilang begitu saja.
Beberapa saat telah berlalu. Mereka sudah kembali ke kamar dan membersihkan diri, lalu Rai membawa Amanda untuk menyantap sarapan di restoran tepi pantai, di luar hotel. Ia ingin menepatinya janjinya untuk membuat Amanda merasakan liburan. Dengan semua yang terjadi semakin membuat Rai sadar, bila berdiam diri di hotel bukanlah hal yang baik untuk Amanda.
“Bagaimana makanannya? Kamu suka?” Rai memecahkan keheningan di antara mereka. Kini, keduanya kembali seperti awal pertemuan mereka. Mereka tak suka berbagi kata.
Lebih banyak keheningan yang ada di antara mereka, yang membuat Rai paham bila luka wanita itu belum sepenuhnya sembuh dan hal itu yang membuat Rai takut jika Amanda akan pergi, lalu meninggalkannya sendirian. Rai begitu ketakutan saat terbangun dan tak menemukan Amanda di sisinya. Pelbagai pemikiran buruk mulai menguasai benaknya.
Tanpa sadar kakinya sudah melangkah dan mencari Amanda ke berbagai tempat. Ia meneriakkan nama Amanda, mencari tanpa arah, dan terlihat bagai seorang gilaa. Semua penyiksaan itu berakhir, begitu dirinya menemukan Amanda. Ia baru bisa bernapas lega saat melihat wanita itu. Jantungnya berpacu cepat dan ia tak lagi mau menunggu untuk segera memeluk Amanda untuk memastikan jika apa dilihat oleh matanya adalah kenyataan.
“Aku suka. Makan di sini enak.”
Sesungguhnya, Amanda takut untuk terbuai di dalam perubahan yang pria itu tunjukkan. Ia takut terlalu bahagia dan membiarkan dirinya semakin tenggelam. Ia tak mau jika suatu hari nanti, dirinya dipaksa untuk melepaskan apa yang ia genggam terlalu erat itu. Amanda tak tahu bagaimana ia akan bangkit berdiri lagi bila dirinya kehilangan semua itu.
“Setelah makan, bagaimana kalau kita ke Pura Tanah Lot?”
Amanda mengangguk setuju sambil menunjukkan senyum manisnya. “Ke manapun itu, aku mau, Mas. Kamu bisa memilih tempat yang akan kita kunjungi.”
“Kamu pasti akan menyukai tempat itu. Ada pura yang berada di atas batu karang besar dengan latar belakang laut selatan di tempat itu. Batu karang besar itu berada di tengah laut dan saat air pasang, batu karang terlihat terpisah dengan daratan,” Rai menjelaskan, berharap dapat membuat suasana di antara mereka kembali seperti biasa lagi.
Rai paham, jika semuanya butuh waktu. Apalagi setelah apa yang Amanda alami, akan tetapi Rai tak bisa mengendalikan perasaan takutnya saat melihat kesedihan di dalam manik mata Amanda. Ia benci melihat kehancuran wanita itu. Ia tak mau ada kesedihan lagi di sana.
“Aku yakin, tempat itu pasti luar biasa.” Amanda tersenyum dan keduanya saling bersitatap. Begitu banyak rasa yang tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.
Rai mengambil tangan Amanda dan menggenggamnya erat-erat, lalu pria itu memberikan senyum terbaiknya pada Amanda. “Aku akan membuatmu bahagia, hingga melupakan semua luka yang kamu alami. Jangan pernah sekalipun berpikir untuk pergi atau menghilang.”
Apa yang dikatakan pria itu membuat Amanda terlalu takut untuk mempercayainya. Bukan ia menganggap Rai sebagai seorang penipu. Hanya saja, dia menganggap bila dirinya tak pernah pantas untuk mendapatkan kebahagiaan. Dirinya seakan mendapatkan kutukan untuk tak boleh bahagia. Kini, dirinya benar-benar takut.
“Bolehkan aku mengambil resiko ini? Aku pikir, aku nggak pantas bahagia.”
Rai tersenyum dan mengangguk. “Tentu saja, bukankah hidup adalah tentang berani mengambil resiko. Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita ciptakan, Da. Semua orang pantas mendapatkan kebahagiaan di dalam hidup mereka.”
Senyum Rai menular pada Amanda. Wanita itu mengangguk. Dirinya harus berani mengambil resiko. Mungkin kata akhir memang selalu ada dalam setiap kisah, namun bukankah setiap cerita memiliki akhir yang berbeda-beda? Ada akhir bahagia, sedih, dan juga gantung. Yang paling berkuasa untuk menentukan akhir tersebut adalah diri kita sendiri. Kita yang menciptakan akhir yang kita inginkan untuk jalan cerita kita masing-masing.
“Kalau begitu, aku mau mengambil resiko bersamamu, Mas.”
“Rau mengeratkan genggaman tangannya. Kita akan bahagia.”
Janji Rai telah membuat hati Amanda menemukan kedamaian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Hati kecilnya mempercayai janji yang biasanya tak pernah bisa Amanda terima. Baginya, janji hanyalah sekadar kata-kata yang diucapkan bibir tanpa memiliki arti spesial apa pun. Saat angin menerpa kata yang keluar dari mulut, maka janji hanyalah sekadar omong kosong yang tak berharga. Namun kini berbeda. Amanda ingin mengambil resiko untuk mempercayai kembali hal yang terlalu takut untuk dipercayainya.